Apakah bukan keturunan Nabi? Kalau keturunan pasti banyak pendukungnya dan mudah mendapat kursi.
[image: width=] <https://www.avast.com/sig-email?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail> Virusfri.www.avast.com <https://www.avast.com/sig-email?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail> <#DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2> On Thu, Aug 11, 2022 at 2:54 AM Chan CT <[email protected]> wrote: > Written by*A43* <https://www.pinterpolitik.com/author/a43/> > Wednesday, August 10, 2022 21:30 > > https://www.pinterpolitik.com/in-depth/anies-bukan-soal-arab-jawa/ > Anies: Bukan Soal Arab-Jawa > [image: anies bukan soal arab jawa] > > *Lagi-lagi, persoalan identitas dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan > dipersoalkan. Kali ini, politikus PDIP bernama Ruhut Sitompul mempersoalkan > identitas ras dan etnis Anies setelah mantan Rektor Universitas Paramadina > menikahkan putrinya, Mutiara Baswedan, dengan tradisi ala budaya Jawa.* > ------------------------------ > > *PinterPolitik.com* <https://www.pinterpolitik.com/> > > *“I just wanna be free. Not a slave to the stereotype” – Logic, “Black > SpiderMan” (2017)* > > Bagi mereka yang gemar mendengarkan musik rap dan hip-hop, nama Logic > mungkin bukanlah nama asing lagi. *Rapper* (penyanyi rap) satu ini > terkenal dengan lirik-liriknya yang juga menyoroti isu-isu sosial di > Amerika Serikat (AS). > > Mungkin, kutipan lirik di awal tulisan bisa menggambarkan apa pesan-pesan > yang ingin disampaikan oleh Logic kepada penggemarnya, yakni bagaimana > stereotip dan kategorisasi berdasarkan identitas ras bukanlah hal yang > melambangkan kebebasan. > > Namun, siapa sangka bahwa pesan-pesan yang disampaikan Logic dalam > lirik-liriknya ternyata juga didasarkan pada pengalaman pribadinya? > Terlahir sebagai seorang *biracial* – tergolong dalam dua ras berbeda > sekaligus, Logic merasa selalu dimasukkan ke kategori kelompok ras > masing-masing – entah itu sebagai kelompok orang kulit putih atau kelompok > Afrika-Amerika. > > Tentu saja, stereotip sosial seperti ini mengekang individu yang > dikotak-kotakkan berdasarkan komponen identitas yang dimiliki. Berkaca dari > pengalaman buruk Logic, tentu banyak orang akan berharap agar hal yang sama > juga tidak terjadi kepada orang lainnya. > > Namun, sepertinya, situasi yang mirip mungkin kini tengah dihadapi oleh > seorang politikus dan pejabat di Indonesia. Namanya adalah *Anies > Baswedan* <https://www.pinterpolitik.com/tag/anies-baswedan/> yang kini > tengah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. > > Bagaimana tidak? Beberapa waktu lalu, seorang politikus PDIP bernama Ruhut > Sitompul mempersoalkan identitas *Anies* > <https://www.pinterpolitik.com/tag/anies/>. Melalui akun Twitter-nya, > Ruhut mempersoalkan budaya dan bahasa yang digunakan dalam pernikahan putri > Anies, yakni Mutiara Baswedan. > > Bagi Ruhut, meski upacara pernikahan tersebut menggunakan tradisi dan > budaya Jawa, akad nikah tetap saja menggunakan Bahasa Arab. Maka dari itu, > bagi politikus itu, tetap saja Anies adalah seorang yang memiliki identitas > Arab. > > Tentu saja, bagi sebagian orang, cuitan Ruhut dinilai bernada rasis. > Pasalnya, penggunaan bahasa di luar Bahasa Indonesia belum tentu menjadikan > diri mereka sebagai orang yang tidak termasuk dalam kelompok identitas > Indonesia. > [image: Anies Arab atau Jawa] <https://www.instagram.com/p/CgvHlzkhpwP/> > > Bisa jadi, apa yang dibilang Ruhut sebenarnya tidak perlu dibahas. Namun, > mengapa narasi identitas seperti ini selalu muncul menghantui Anies? > Mengapa sebenarnya wajar-wajar saja apabila Anies ingin menggunakan budaya > Jawa dalam pernikahan putrinya? > *Anies, Arab atau Jawa?* > > Ada sebuah ungkapan umum yang mengatakan bahwa akan menjadi lebih mudah > untuk menemukan perbedaan dibandingkan mencari persamaan. Mungkin, sudah > menjadi sifat alami manusia untuk merasakan dua hal yang secara kontras > berbeda – misalnya hal-hal yang dipandang secara visual. > Warna hitam dan warna putih, misalnya, menjadi dua warna yang sangat > kontras bila disejajarkan satu sama lain. Dengan perbedaan visual yang > tajam, menjadi masuk akal apabila dua warna ini digunakan dengan fungsi > demikian. > > Dalam permainan catur, misalnya, warna hitam dan warna putih digunakan > untuk membedakan dua kubu yang saling berlawanan. Tidak hanya catur, > permainan modern seperti *franchise* *Dynasty Warriors* pun menggunakan > warna yang berbeda-beda untuk membedakan kerajaan yang dimainkan dalam > pertempuran. > > Saking terbiasanya mencari faktor-faktor pembeda, kita pun akhirnya > menerapkannya di kehidupan sehari-hari, khususnya dalam dimensi sosial dan > politik. Contoh yang paling kentara mungkin adalah gerakan *Black Lives > Matter* yang sempat ramai diperbincangkan di Amerika Serikat (AS) pada > tahun 2020 lalu. > > Wajar apabila umat manusia akhirnya membeda-bedakan berdasarkan > kelompok-kelompok – seperti ras, etnis, kebangsaan, dan sebagainya. Mengacu > pada teori identitas sosial dari Henri Tajfel dan John Turner, seorang > anggota masyarakat akan melakukan komparasi sosial guna menjadi dasar untuk > melakukan kategorisasi sosial. > > Mudahnya, seseorang akan menilai kesamaan yang dia miliki dengan > kelompok-kelompok sosial. Bila cocok, dia akan menganggap dirinya sebagai > bagian dari kelompok tersebut. > [image: Ganjar Anies Butuh The Next Luhut] > <https://www.instagram.com/p/CgyOpCoByyd/> > > Persoalan pembedaan identitas ini juga terjadi di Indonesia – misalnya > narasi yang tersebar saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta > yang berlangsung pada tahun 2017 silam. Kala itu, muncul narasi-narasi > berbau identitas yang turut mengisi diskursus politik yang ada. > > Bukan tidak mungkin, hal yang sama juga muncul dalam diskursus elektoral > menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 – mengingat Anies merupakan salah > satu calon presiden (capres) potensial. Pernyataan Ruhut, misalnya, secara > tidak langsung merupakan upaya untuk membentuk eksklusi terhadap Anies dari > identitas mayoritas, yakni identitas Jawa. > > Namun, dengan kebiasaan kita membeda-bedakan berdasarkan > identitas-identitas tertentu – seperti yang dilakukan oleh Ruhut, mengapa > kita tidak belajar saja dari pengalaman Logic? Memangnya, apakah benar > identitas selalu ditetapkan dan dikotak-kotakkan sedemikian rupa? > *Anies Sebenarnya Juga Jawa?* > > Bila berbicara soal identitas, tentu kata-kata seperti “kepastian”, > “statis”, dan “tetap” bukanlah kata-kata yang harusnya digunakan. Pasalnya, > identitas seseorang tidak begitu saja terbentuk dalam waktu sekejap. > > Mengacu pada penjelasan Brunhilde Scheuringer dalam tulisannya yang > berjudul *Multiple Identities: A Theoretical and an Empirical Approach*, > identitas seseorang bisa jadi terbentuk secara unik dan bisa berubah-ubah > berdasarkan waktu dan lingkungan sosial (*social milieu*) di mana > individu tersebut berada. > > Penjelasan teoretis dari Scheuringer ini pun bisa jadi langsung mematahkan > persoalan narasi identitas yang dikemukakan Ruhut. Pasalnya, Anies sendiri > secara tanpa sadar juga menjalankan interaksi-interaksi sosial di banyak > tempat dan waktu yang berbeda. > *Pertama*, asumsi bahwa Anies juga seorang Jawa bisa dijelaskan melalui > latar belakang Gubernur DKI Jakarta tersebut sendiri. Mantan Rektor > Universitas Paramadina tersebut sedari belia tumbuh di wilayah yang > berbudaya Jawa secara kental, yakni Yogyakarta. > > Saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah > menengah atas (SMA), Anies mengenyam pendidikan di Yogyakarta. Bahkan, > hingga pendidikan tinggi tingkat sarjana pertama (S-1), Anies juga masih > menghabiskan sebagian besar waktunya di Yogyakarta dengan menjalankan > studinya di Universitas Gadjah Mada (UGM). > [image: Polemik Rumah Sehat Anies] > <https://www.instagram.com/p/Cg8PMQkh2HU/> > > *Kedua*, selain lingkungan pertemanan dan sekolah, Anies juga memiliki > keluarga yang erat dengan tradisi dan nilai budaya Jawa. Kedekatan dengan > budaya Jawa ini bisa jadi turut tersalurkan melalui proses internalisasi > yang terbangun dari kedekatan personal dengan kakeknya, yakni Abdurrahman > Baswedan atau yang lebih dikenal sebagai AR Baswedan. > > Meski merupakan keturunan Arab, AR Baswedan lahir dan besar di kawasan > Ampel, Surabaya. Ini pun membuatnya lebih menggunakan dialek Bahasa Jawa > khas Jawa Timur (Jatim) ketika berbicara. > > Tidak hanya itu, pada tahun 1930-an, komunitas Arab sempat dianggap > mendukung pemerintah kolonial Belanda. AR Baswedan pun mengambil peran > untuk memperbaiki posisi komunitasnya – misal dengan menulis di media-media > pribumi dengan fotonya yang menggunakan *blangkon* khas Jawa. > > *Ketiga*, kedekatan komunitas Arab yang tercerminkan dalam keluarga Anies > juga bisa terbangun melalui interaksi sosial yang selama ratusan tahun > terbangun antara komunitas Arab dan komunitas Jawa. Contoh paling nyata > adalah kehadiran Walisongo yang berperan dalam menyebarkan ajaran Islam di > Pulau Jawa. > > Meskipun sebagian besar lahir dari komunitas Arab, para ulama Walisongo > pun menggunakan nilai dan tradisi budaya Jawa untuk menyebarkan agama > Islam. Bahkan, interaksi dan kontak sosial antara komunitas Arab dan Jawa > ini membuat para Walisongo juga memiliki pengaruh sosial dan politik di > kerajaan-kerajaan Jawa. > > Pada akhirnya, berkaca dari penjelasan teoretis Scheuringer dan bagaimana > proses internalisasi serta sosialisasi di lingkungan sosial sekitarnya, > Anies bisa saja memiliki apa yang disebut oleh Scheuringer sebagai > identitas jamak (*multiple identities*). Ini pun bisa membuat Anies > memiliki identitas yang unik. > > Alhasil, belum tentu Anies memiliki identitas Arab sepenuhnya. Begitu juga > sebaliknya, belum tentu juga Anies memiliki identitas Jawa sepenuhnya. > Layaknya *rapper* bernama Logic yang memiliki identitas unik, identitas > Anies pun adalah Anies itu sendiri – bukan soal kategori sosial tertentu > saja. (A43) > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/351C91C042BE4A1A96213EE88DBD1927%40A10Live > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/351C91C042BE4A1A96213EE88DBD1927%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > [image: width=] <https://www.avast.com/sig-email?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail> Virusfri.www.avast.com <https://www.avast.com/sig-email?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail> <#DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2> -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2DE4DkoVe9WjvFn5Y2F-Yee9pjnV6HzvvR1YtHJQdpdVg%40mail.gmail.com.
