Written byA43Wednesday, August 10, 2022 21:30

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/anies-bukan-soal-arab-jawa/
Anies: Bukan Soal Arab-Jawa
Lagi-lagi, persoalan identitas dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan 
dipersoalkan. Kali ini, politikus PDIP bernama Ruhut Sitompul mempersoalkan 
identitas ras dan etnis Anies setelah mantan Rektor Universitas Paramadina 
menikahkan putrinya, Mutiara Baswedan, dengan tradisi ala budaya Jawa.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “I just wanna be free. Not a slave to the stereotype” – Logic, “Black 
SpiderMan” (2017)

Bagi mereka yang gemar mendengarkan musik rap dan hip-hop, nama Logic mungkin 
bukanlah nama asing lagi. Rapper (penyanyi rap) satu ini terkenal dengan 
lirik-liriknya yang juga menyoroti isu-isu sosial di Amerika Serikat (AS).

Mungkin, kutipan lirik di awal tulisan bisa menggambarkan apa pesan-pesan yang 
ingin disampaikan oleh Logic kepada penggemarnya, yakni bagaimana stereotip dan 
kategorisasi berdasarkan identitas ras bukanlah hal yang melambangkan kebebasan.

Namun, siapa sangka bahwa pesan-pesan yang disampaikan Logic dalam 
lirik-liriknya ternyata juga didasarkan pada pengalaman pribadinya? Terlahir 
sebagai seorang biracial – tergolong dalam dua ras berbeda sekaligus, Logic 
merasa selalu dimasukkan ke kategori kelompok ras masing-masing – entah itu 
sebagai kelompok orang kulit putih atau kelompok Afrika-Amerika.

Tentu saja, stereotip sosial seperti ini mengekang individu yang 
dikotak-kotakkan berdasarkan komponen identitas yang dimiliki. Berkaca dari 
pengalaman buruk Logic, tentu banyak orang akan berharap agar hal yang sama 
juga tidak terjadi kepada orang lainnya.

Namun, sepertinya, situasi yang mirip mungkin kini tengah dihadapi oleh seorang 
politikus dan pejabat di Indonesia. Namanya adalah Anies Baswedan yang kini 
tengah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Bagaimana tidak? Beberapa waktu lalu, seorang politikus PDIP bernama Ruhut 
Sitompul mempersoalkan identitas Anies. Melalui akun Twitter-nya, Ruhut 
mempersoalkan budaya dan bahasa yang digunakan dalam pernikahan putri Anies, 
yakni Mutiara Baswedan.

Bagi Ruhut, meski upacara pernikahan tersebut menggunakan tradisi dan budaya 
Jawa, akad nikah tetap saja menggunakan Bahasa Arab. Maka dari itu, bagi 
politikus itu, tetap saja Anies adalah seorang yang memiliki identitas Arab.

Tentu saja, bagi sebagian orang, cuitan Ruhut dinilai bernada rasis. Pasalnya, 
penggunaan bahasa di luar Bahasa Indonesia belum tentu menjadikan diri mereka 
sebagai orang yang tidak termasuk dalam kelompok identitas Indonesia.

 
Bisa jadi, apa yang dibilang Ruhut sebenarnya tidak perlu dibahas. Namun, 
mengapa narasi identitas seperti ini selalu muncul menghantui Anies? Mengapa 
sebenarnya wajar-wajar saja apabila Anies ingin menggunakan budaya Jawa dalam 
pernikahan putrinya?

Anies, Arab atau Jawa?
Ada sebuah ungkapan umum yang mengatakan bahwa akan menjadi lebih mudah untuk 
menemukan perbedaan dibandingkan mencari persamaan. Mungkin, sudah menjadi 
sifat alami manusia untuk merasakan dua hal yang secara kontras berbeda – 
misalnya hal-hal yang dipandang secara visual.

Warna hitam dan warna putih, misalnya, menjadi dua warna yang sangat kontras 
bila disejajarkan satu sama lain. Dengan perbedaan visual yang tajam, menjadi 
masuk akal apabila dua warna ini digunakan dengan fungsi demikian.
Dalam permainan catur, misalnya, warna hitam dan warna putih digunakan untuk 
membedakan dua kubu yang saling berlawanan. Tidak hanya catur, permainan modern 
seperti franchise Dynasty Warriors pun menggunakan warna yang berbeda-beda 
untuk membedakan kerajaan yang dimainkan dalam pertempuran.

Saking terbiasanya mencari faktor-faktor pembeda, kita pun akhirnya 
menerapkannya di kehidupan sehari-hari, khususnya dalam dimensi sosial dan 
politik. Contoh yang paling kentara mungkin adalah gerakan Black Lives Matter 
yang sempat ramai diperbincangkan di Amerika Serikat (AS) pada tahun 2020 lalu.

Wajar apabila umat manusia akhirnya membeda-bedakan berdasarkan 
kelompok-kelompok – seperti ras, etnis, kebangsaan, dan sebagainya. Mengacu 
pada teori identitas sosial dari Henri Tajfel dan John Turner, seorang anggota 
masyarakat akan melakukan komparasi sosial guna menjadi dasar untuk melakukan 
kategorisasi sosial.

Mudahnya, seseorang akan menilai kesamaan yang dia miliki dengan 
kelompok-kelompok sosial. Bila cocok, dia akan menganggap dirinya sebagai 
bagian dari kelompok tersebut.

 
Persoalan pembedaan identitas ini juga terjadi di Indonesia – misalnya narasi 
yang tersebar saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta yang 
berlangsung pada tahun 2017 silam. Kala itu, muncul narasi-narasi berbau 
identitas yang turut mengisi diskursus politik yang ada.

Bukan tidak mungkin, hal yang sama juga muncul dalam diskursus elektoral menuju 
Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 – mengingat Anies merupakan salah satu calon 
presiden (capres) potensial. Pernyataan Ruhut, misalnya, secara tidak langsung 
merupakan upaya untuk membentuk eksklusi terhadap Anies dari identitas 
mayoritas, yakni identitas Jawa.

Namun, dengan kebiasaan kita membeda-bedakan berdasarkan identitas-identitas 
tertentu – seperti yang dilakukan oleh Ruhut, mengapa kita tidak belajar saja 
dari pengalaman Logic? Memangnya, apakah benar identitas selalu ditetapkan dan 
dikotak-kotakkan sedemikian rupa?

Anies Sebenarnya Juga Jawa?
Bila berbicara soal identitas, tentu kata-kata seperti “kepastian”, “statis”, 
dan “tetap” bukanlah kata-kata yang harusnya digunakan. Pasalnya, identitas 
seseorang tidak begitu saja terbentuk dalam waktu sekejap.

Mengacu pada penjelasan Brunhilde Scheuringer dalam tulisannya yang berjudul 
Multiple Identities: A Theoretical and an Empirical Approach, identitas 
seseorang bisa jadi terbentuk secara unik dan bisa berubah-ubah berdasarkan 
waktu dan lingkungan sosial (social milieu) di mana individu tersebut berada.

Penjelasan teoretis dari Scheuringer ini pun bisa jadi langsung mematahkan 
persoalan narasi identitas yang dikemukakan Ruhut. Pasalnya, Anies sendiri 
secara tanpa sadar juga menjalankan interaksi-interaksi sosial di banyak tempat 
dan waktu yang berbeda.

Pertama, asumsi bahwa Anies juga seorang Jawa bisa dijelaskan melalui latar 
belakang Gubernur DKI Jakarta tersebut sendiri. Mantan Rektor Universitas 
Paramadina tersebut sedari belia tumbuh di wilayah yang berbudaya Jawa secara 
kental, yakni Yogyakarta.
Saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah 
atas (SMA), Anies mengenyam pendidikan di Yogyakarta. Bahkan, hingga pendidikan 
tinggi tingkat sarjana pertama (S-1), Anies juga masih menghabiskan sebagian 
besar waktunya di Yogyakarta dengan menjalankan studinya di Universitas Gadjah 
Mada (UGM).

 
Kedua, selain lingkungan pertemanan dan sekolah, Anies juga memiliki keluarga 
yang erat dengan tradisi dan nilai budaya Jawa. Kedekatan dengan budaya Jawa 
ini bisa jadi turut tersalurkan melalui proses internalisasi yang terbangun 
dari kedekatan personal dengan kakeknya, yakni Abdurrahman Baswedan atau yang 
lebih dikenal sebagai AR Baswedan.

Meski merupakan keturunan Arab, AR Baswedan lahir dan besar di kawasan Ampel, 
Surabaya. Ini pun membuatnya lebih menggunakan dialek Bahasa Jawa khas Jawa 
Timur (Jatim) ketika berbicara.

Tidak hanya itu, pada tahun 1930-an, komunitas Arab sempat dianggap mendukung 
pemerintah kolonial Belanda. AR Baswedan pun mengambil peran untuk memperbaiki 
posisi komunitasnya – misal dengan menulis di media-media pribumi dengan 
fotonya yang menggunakan blangkon khas Jawa.

Ketiga, kedekatan komunitas Arab yang tercerminkan dalam keluarga Anies juga 
bisa terbangun melalui interaksi sosial yang selama ratusan tahun terbangun 
antara komunitas Arab dan komunitas Jawa. Contoh paling nyata adalah kehadiran 
Walisongo yang berperan dalam menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa.

Meskipun sebagian besar lahir dari komunitas Arab, para ulama Walisongo pun 
menggunakan nilai dan tradisi budaya Jawa untuk menyebarkan agama Islam. 
Bahkan, interaksi dan kontak sosial antara komunitas Arab dan Jawa ini membuat 
para Walisongo juga memiliki pengaruh sosial dan politik di kerajaan-kerajaan 
Jawa.

Pada akhirnya, berkaca dari penjelasan teoretis Scheuringer dan bagaimana 
proses internalisasi serta sosialisasi di lingkungan sosial sekitarnya, Anies 
bisa saja memiliki apa yang disebut oleh Scheuringer sebagai identitas jamak 
(multiple identities). Ini pun bisa membuat Anies memiliki identitas yang unik.

Alhasil, belum tentu Anies memiliki identitas Arab sepenuhnya. Begitu juga 
sebaliknya, belum tentu juga Anies memiliki identitas Jawa sepenuhnya. Layaknya 
rapper bernama Logic yang memiliki identitas unik, identitas Anies pun adalah 
Anies itu sendiri – bukan soal kategori sosial tertentu saja. (A43)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/351C91C042BE4A1A96213EE88DBD1927%40A10Live.

Reply via email to