Written byR53Thursday, August 11, 2022 21:42

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/prabowo-adalah-lawan-yang-disiapkan/
Prabowo adalah Lawan yang Disiapkan?


Meskipun sudah kalah tiga kali, Partai Gerindra tetap ingin mengusung Prabowo 
Subianto di Pilpres 2024. Kenapa Gerindra begitu ngotot mengusung Prabowo? 
Mungkinkah Prabowo adalah lawan yang disiapkan?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “To be successful you need friends and to be very successful you need 
enemies.” – Sidney Sheldon, penulis Amerika Serikat

Dalam acara Total Politik, politisi senior PDIP Panda Nababan menceritakan 
pujian Jusuf Kalla (JK) terhadap Megawati Soekarnoputri. JK mengaku takjub pada 
Megawati karena memilih tidak maju di Pilpres 2014 meskipun PDIP memperoleh 
18,95 persen suara di Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014. 

Sikap itu kontras dengan ketua umum partai lainnya yang berani maju meskipun 
hanya memperoleh 5 persen suara. Menurut Panda, Megawati sadar kondisinya yang 
sudah tua dan telah kalah berulang kali.

Sedikit melakukan komparasi, sikap Megawati itu kontras dengan Prabowo Subianto 
saat ini. Seperti yang ditegaskan berbagai elite Partai Gerindra, Prabowo 
hampir pasti akan maju di Pilpres 2024. Jika melihat usia, pada 2024 nanti usia 
Prabowo akan menyentuh 72 tahun. Sementara Megawati yang mengaku tua pada 
Pilpres 2014 lalu, usianya masih 67 tahun.

Kemudian, ini yang terpenting, dengan fakta telah kalah tiga kali, kenapa 
Prabowo masih ingin bertarung di 2024? 

Berbagai survei juga menunjukkan elektabilitas Prabowo stagnan, bahkan menurun 
signifikan di bulan Juli 2022. Menurut Indopol Survey & Consulting, Prabowo 
mengalami penurunan elektabilitas signifikan dari bulan Januari 2022. 

“Jika dibandingkan dari Januari 2022, elektabilitas Prabowo turun 6,91 persen 
dari semula 15,85 persen menjadi 8,94 persen,” ungkap Direktur Eksekutif 
Indopol Survey & Consulting, Ratno Sulistiyanto pada 15 Juli 2022.

Menurut pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin, 
turunnya elektabilitas Prabowo karena kejenuhan masyarakat. 

“Prabowo Subianto ini dianggap sebagai tokoh lama ya, tokoh senior yang di 
pilpres sudah 15 Tahun maju, dari Pilpres 2009 maju terus. Di sini lah 
masyarakat melihat bahwa kelihatannya butuh figur dan sosok baru dalam 
pilpres,” ungkap Ujang pada 16 Juli 2022. 

Bahkan menurut Ujang, elektabilitas Prabowo kemungkinan sudah mentok. Titik 
tertingginya pada Pilpres 2019 lalu, dan besar kemungkinan akan mengalami 
penurunan seperti yang terlihat saat ini. 

Kemudian, Ujang juga menyinggung nama-nama baru, seperti Ganjar Pranowo dan 
Anies Baswedan, yang berpotensi kuat lebih menarik perhatian masyarakat.

Lantas, dengan adanya variabel-variabel itu, kenapa Gerindra tetap ngotot ingin 
mengusung Prabowo di Pilpres 2024?

 
Demi Efek Ekor Jas?
Menurut Ujang, setidaknya ada tiga alasan kenapa Gerindra tetap ngotot 
mengusung Prabowo. 

Pertama, kemungkinan ini demi efek ekor jas (coattail effect). Popularitas 
Prabowo yang tinggi diharapkan dapat mendongkrak keterpilihan Gerindra di Pileg 
2024.

Kedua, walaupun elektabilitasnya stagnan, Prabowo dipercaya memiliki peluang 
untuk menang karena tidak ada petahana. 
Ketiga, ini soal harga diri Partai Gerindra. Daripada tiket capres Gerindra 
diberikan ke sosok lain, lebih baik habis-habisan mendukung Prabowo. 

“Menang, ya menang. Agar tak penasaran. Dan kalah, ya kalah,” ungkap Ujang pada 
5 Agustus 2022.

Apa yang dijelaskan Ujang, khususnya soal efek ekor jas memiliki afirmasi kuat, 
baik secara teoretis maupun empiris. 

Secara teoretis, kita dapat menarik tolakan dari buku Saiful Mujani, R. William 
Liddle, dan Kuskridho Ambardi yang berjudul Kuasa Rakyat: Analisis tentang 
Perilaku Memilih dalam Pemilihan Legislatif dan Presiden Indonesia Pasca-Orde 
Baru. 

Dalam temuan mereka, meskipun partai politik di Indonesia memiliki ideologi 
yang berbeda, mereka justru memiliki program dan narasi yang seragam. Ini 
kemudian membuat pemilih (voters) tidak menentukan pilihannya berdasarkan 
perbedaan identitas partai, melainkan siapa sosok yang diusung partai tersebut. 
Konteks ketokohan ini membuat fenomena efek ekor jas sangat relevan di 
Indonesia.

Kemudian, secara empiris, popularitas Prabowo terbukti menaikkan perolehan 
suara Gerindra di tiap gelaran pemilu. Pada Pileg 2009 meraih 4.646.406 suara 
(4,5%), Pileg 2014 meraih 14.760.371 suara (11,81%), dan Pileg 2019 meraih 
17.594.839 suara (13,57%).

Namun, meskipun memiliki rasionalisasi yang kuat, ada satu pertanyaan penting 
yang tersisa. Jika Gerindra mengejar efek ekor jas dari popularitas Prabowo, 
bukankah bisa dengan cara membuat Prabowo meng-endorse para caleg Gerindra di 
tiap provinsi?

Untuk apa bertarung habis-habisan di pilpres, menghabiskan biaya yang besar, 
dan belum tentu menang?

Lawan yang Disiapkan?
Dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, Prabowo Pasti Gagal di 2024?, telah 
dijelaskan bahwa salah satu alasan Prabowo kalah adalah dosa masa lalunya yang 
mudah diekspos oleh lawan politiknya. Kendati tidak terbukti di pengadilan, 
diksi “Tim Mawar” dan “penculikan aktivis” menjadi palu godam untuk 
menghancurkan citra Menteri Pertahanan (Menhan) itu.

Selain itu, dengan fakta sudah kalah tiga kali, bukankah seharusnya internal 
Gerindra menyadari ketua umumnya memiliki banyak celah untuk diserang? 

Pun demikian di kubu lawan politik Prabowo. Mereka pasti sudah mengetahui dan 
memiliki metode untuk mengalahkan mantan Danjen Kopassus itu. 

Atas keanehan itu, tulisan Ezra Klein yang berjudul How Politics Makes Us 
Stupid dapat menjadi refleksi yang bagus. Mengutip studi dari Yale Law School, 
Klein menyebutkan bahwa keterampilan matematika (berhitung) seseorang dapat 
menurun ketika menghadapi persoalan yang memiliki unsur politik.

Fenomena ini dijelaskan sebagai teori identity–protective cognition. Pilihan 
atas nilai atau tokoh politik tertentu membuat seseorang mengalami disonansi 
kognitif, sehingga kehilangan kemampuan untuk membuat kalkulasi yang tepat.

 
Bertolak dari tulisan Klein, mungkin dapat dikatakan, meskipun berbagai 
politisi Gerindra sadar Prabowo memiliki peluang kalah yang besar, tendensi 
psikologis (fanatisme dan loyalitas) terhadap partai dan sang ketua umum 
membuat mereka menomorduakan potensi kekalahan tersebut.

Pada 11 Oktober 2021, politisi Gerindra Arief Poyuono bahkan secara 
terang-terangan menyebut kans Prabowo untuk menang di Pilpres 2024 tidaklah 
besar karena akan berhadapan dengan nama-nama muda yang energik.

Nah, di sisi seberang, yakni kubu lawan politik Prabowo, fenomena 
identity–protective cognition yang kemungkinan besar dialami politisi Gerindra 
adalah sebuah keberkahan. Ini membuat mereka dapat melakukan strategi nomor 17 
dari Thirty-Six Stratagems, yakni 36 strategi Tiongkok kuno yang digunakan 
dalam politik, perang, dan interaksi sipil.

Strategi nomor 17 berbunyi, tossing out a brick to get a jade gem (拋磚引玉, Pāo 
zhuān yǐn yù). Artinya, melempar batu bata untuk mendapatkan batu giok. Ini 
adalah strategi jebakan dan memperdaya musuh dengan umpan. Dalam perang, umpan 
adalah ilusi atas sebuah kesempatan untuk memperoleh hasil.

Lalu, umpan apa yang dimaksud?

Umpan itu adalah elektabilitas dan popularitas Prabowo. Meskipun tidak dominan, 
elektabilitas dan popularitas Prabowo adalah yang tertinggi dari semua kader 
Gerindra. 

Dengan memanfaatkan itu, lawan politik Prabowo akan melakukan strategi 
spionase, yakni menghembuskan angin surga ke Prabowo dan politisi Gerindra 
untuk mengusung jenderal bintang tiga itu.

Dalam buku The Art of War, Sun Tzu menyebutnya dengan istilah Si Jian, yakni 
menugaskan petugas spionase untuk menyebarkan informasi palsu ke musuh.

Jika spekulasi ini tepat, maka dapat disimpulkan bahwa Prabowo adalah lawan 
yang disiapkan. Karena lawan politik Prabowo memiliki metode untuk 
mengalahkannya, berbagai operasi, kondisi, dan strategi kemudian dijalankan 
agar Gerindra tetap mengusung mantan Danjen Kopassus itu.

Seperti kutipan Sidney Sheldon di awal tulisan. Untuk sukses, kita membutuhkan 
teman. Namun, jika ingin sangat sukses, kita membutuhkan musuh.

Terlebih lagi, jika melihat gestur politik terbaru, ada kemungkinan Prabowo 
akan maju bersama Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) di Pilpres 2024. 
Selain memiliki elektabilitas yang rendah, Cak Imin juga memiliki ketegangan 
dengan keluarga Gus Dur dan pengurus PBNU saat ini.

Sedikit berspekulasi, ada kemungkinan bahwa Prabowo dan timnya terkena 
iming-iming bahwa Cak Imin dapat menyerap dukungan pemilih di Jawa Timur – 
provinsi yang menjadi kelemahan Prabowo. Jawa Timur juga merupakan konsentrasi 
massa Nahdlatul Ulama. 

Well, sebagai penutup, perlu untuk ditegaskan bahwa tulisan ini hanyalah 
interpretasi semata. Kita lihat saja apakah Prabowo akan maju di 2024 atau 
tidak. (R53)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/6791EE08E30A436A98CE4F35FEF0C831%40A10Live.

Reply via email to