Written byS13Friday, August 12, 2022 16:52

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/punya-kominfo-nasdem-3-besar-di-2024/
Punya Kominfo, Nasdem 3 Besar di 2024?
Pertarungan antara PDIP dan Nasdem diprediksi akan makin menajam jelang Pilpres 
2024. Selain benturan kepentingan terkait tokoh yang kemungkinan besar akan 
didorong sebagai kandidat dalam kontestasi elektoral tersebut, persaingan PDIP 
vs Nasdem sangat mungkin akan melibatkan strategi, termasuk juga di level 
intelijen. Ini karena baik PDIP maupun Nasdem sama-sama punya “tangan” di 
lembaga yang bisa membantu mereka untuk mewujudkan mimpi mereka: PDIP kembali 
menjadi partai berkuasa, dan Nasdem masuk menjadi salah satu partai di 3 besar 
teratas.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Supreme excellence consists of breaking the enemy’s resistance without 
fighting.”

  ::Sun Tzu dalam The Art of War::

Drama menuju Pilpres 2024 diprediksi akan makin memanas dalam waktu-waktu 
mendatang. Ini setidaknya karena dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun, 
partai-partai politik harus mendaftarkan kandidat yang akan mereka usung untuk 
gelaran kontestasi elektoral tersebut. Selain itu, partai-partai politik juga 
harus mulai menghitung-hitung peluang pembentukan koalisi yang paling 
menguntungkan untuk mereka.

Konteks ini mau tidak mau pada akhirnya akan melibatkan strategi dan 
manuver-manuver taktis yang dilakukan oleh partai-partai politik tersebut. Pada 
titik inilah, operasi intelijen di level partai menjadi narasi kunci yang akan 
sangat menentukan arah dan langkah kemenangan parpol-parpol yang saling 
bersaing. Ini terkait penciptaan narasi, analisis strategi lawan, hingga 
pengumpulan informasi yang kesemuanya memang menjadi intisari dari operasi 
intelijen itu sendiri.

Nah, bicara soal operasi intelijen, nyatanya aksi yang satu ini mengalami 
transformasi. Kini operasi intelijen tidak lagi melulu soal aksi-aksi seperti 
yang ditampilkan dalam film-film, katakanlah macam di seri film James Bond.

Kepala MI6 yang merupakan badan intelijen Inggris, Richard Moore, pada 2021 
lalu menyebut 3 poin penting operasi intelijen yang kini diadopsi oleh 
lembaga-lembaga intelijen. Pertama adalah Artificial Intelligence atau AI. Yang 
kedua adalah quantum computing. Dan yang ketiga adalah soal digital technology. 
Teknologi-teknologi ini kemudian berelasi dengan pengolahan data, misalnya soal 
big data, analisis fenomena berbasis AI, dan segala sesuatu yang berhubungan 
dengan teknologi informasi.

Menariknya, jika kita mengukur kapasitas atau kemampuan di bidang teknologi 
informasi, sebetulnya ada satu pos kementerian yang menarik untuk disorot, 
yakni Kementerian Komunikasi dan Informatika alias Kominfo. Pos kementerian ini 
kini dipimpin oleh Johnny G. Plate yang merupakan Sekretaris Jenderal Partai 
Nasdem.

Konteks keberadaan Johnny dan relasinya dengan Nasdem tentu melahirkan satu 
pertanyaan besar soal apakah kapasitas yang dimiliki oleh Kominfo bisa 
menguntungkan Nasdem secara partai dan strategi pemenangannya di Pemilu 2024 
mendatang. Apalagi, partai politik lain macam PDIP juga punya tangan di Badan 
Intelijen negara atau BIN. Ini karena Budi Gunawan yang menjadi Kepala BIN 
punya kedekatan dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Seperti apa 
kedekatannya? Bisa disaksikan di video Dari Uni Soviet ke BIN: Budi Gunawan 
Kunci Kuat PDIP? di YouTube PinterPolitik.

Balik ke topik Kominfo, pertanyaannya tentu saja adalah apakah Nasdem mampu 
mengkapitalisasi posisi kekuasaannya atas Kominfo untuk kepentingan Pemilu 2024?
 
Melawan Status Partai Dominan
Bisa dibilang saat ini PDIP menjadi partai yang bukan hanya terbesar saja, tapi 
juga punya jaringan kekuasaan yang mengakar. Tidak heran, banyak pihak menyebut 
PDIP sebagai partai dominan atau dominant party.

Terkait status ini, para ilmuwan politik mengklasifikasikan partai dominan 
sebagai partai yang hampir selalu bisa memenangkan pertarungan politik, baik 
dalam negara dengan sistem satu partai, maupun dalam negara dengan sistem 
multipartai.

A.A. Ostroverkhov dalam tulisannya yang berjudul In Searching for Theory of 
One-Party Dominance bahkan menyebutkan bahwa partai yang menang secara 
berturut-turut dalam kontestasi elektoral di sebuah negara bisa dikategorikan 
sebagai partai dominan – beberapa sumber juga menyebutnya sebagai predominant 
atau hegemonic.

Jika PDIP menang lagi di Pemilu 2024, maka Indonesia memang akan bergerak ke 
arah de facto one-party system. Ini karena bagaimanapun Pemilu dan apapun 
situasi yang terjadi jelang 2024 atau Pemilu-Pemilu selanjutnya, PDIP bisa 
dipastikan akan menang.

Contoh paling nyata bisa dilihat dari kasus-kasus korupsi yang menimpa kader 
PDIP, yang nyatanya tidak berdampak signifikan terhadap penurunan citra partai. 
Korupsi yang menimpa Juliari Batubara yang merupakan Bendahara Umum PDIP dan 
kala itu berstatus sebagai Menteri Sosial misalnya, tidak sedikit pun 
mempengaruhi citra PDIP di tengah masyarakat.

Ini berbeda dengan kasus yang terjadi pada Partai Demokrat yang setelah 
kader-kadernya terjerat korupsi, citra dan pencapaian partai biru tersebut 
langsung anjlok di akhir kekuasaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Nah, dalam konteks Nasdem, partai yang dipimpin Surya Paloh ini memang terlihat 
berupaya untuk melawan status partai dominan yang sedang berusaha untuk 
dikuatkan oleh PDIP. Apalagi, partai seperti Golkar dan Gerindra diprediksi 
akan sulit muncul sebagai penguasa baru atau setidaknya menggeser dan menantang 
posisi PDIP dengan lebih serius.

Selain itu, Nasdem punya peluang yang besar untuk mengambil alih status 
penantang utama PDIP karena partai ini kuat secara finansial – bagian ini akan 
kita bahas di tulisan berikutnya. Intinya, dari fenomena Nasdem yang membayar 
dana kampanye caleg-caleg-nya dan tidak meminta mahar, jelas menunjukkan partai 
ini punya mesin finansial yang kuat. Belum lagi soal kantor baru Nasdem – 
Nasdem Tower – yang bisa dibilang menjadi kantor pusat parpol paling megah di 
Indonesia. Nasdem Tower bisa jadi simbol kekuatan finansial partai biru itu.

Dengan demikian, kekuasaan Nasdem atas Kominfo bisa menjadi modal yang penting. 
Kominfo bisa  menentukan operasi pengumpulan informasi di Pilpres, yang mana 
ini bisa menjadi bagian dari strategi intelijen partai. Kita tahu Kominfo 
misalnya, punya alat crawling yang sudah beroperasi sejak tahun 2018, yang 
bekerja dengan memasukkan kata kunci.
Selama ini alat crawling ini digunakan untuk menyaring situs porno dan judi. 
Namun, dengan cara kerja yang demikian, alat ini sangat mungkin bisa digunakan 
untuk membaca sentimen masyarakat yang bisa digunakan sebagai basis strategis 
politik partai. Ujung akhirnya adalah operasi intelijen partai – misalnya cipta 
kondisi dan yang sejenisnya – bisa terlaksana, sehingga strategi pemenangan 
partai menjadi lebih terarah.

 
Posisi pengumpulan informasi dengan menggunakan AI dan teknologi informasi ini 
pernah disinggung oleh Amy Zeagart dari Stanford University yang selama 
bertahun-tahun meneliti soal interplay antara teknologi baru dengan operasi 
inteligen. Ia menyebutkan bahwa jika lembaga intelijen atau entitas yang 
melaksanakan operasi intelijen tak menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan 
yang ada, maka mereka akan tertinggal.

Dengan demikian, bisa dipastikan Kominfo bisa menjadi kunci bagi Nasdem di 2024 
jika mampu dikapitalisasi untuk strategi pemenangan partai.

Nasdem 3 Besar di 2024
Bicara soal partai dominan dalam kasus PDIP, sebetulnya bukanlah hal yang aneh. 
Di Malaysia pernah ada UMNO yang begitu dominan yang kemudian melahirkan narasi 
soal kemungkinan menjadi one-party state. Kondisi ini tentu menjadi fokus 
partai-partai politik lain untuk setidaknya mencegah kondisi serupa terjadi di 
Indonesia.

Nasdem sepertinya melihat fenomena ini dan berusaha mengambil ceruk untuk 
menantang status quo PDIP dalam 2 periode kekuasaan Jokowi. Jika berhasil 
membentuk koalisi yang mendukung calon yang kuat dan potensial – katakanlah 
macam Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan – bisa dipastikan suara Nasdem akan 
meningkat signifikan jika dibandingkan dengan Pemilu 2019 lalu.

Bukan tidak mungkin Nasdem bisa masuk ke 3 besar parpol dengan suara terbanyak 
pada Pemilu mendatang. Ini karena hampir semua faktor yang dibutuhkan untuk 
menapak ke status “partai besar” bisa dimiliki oleh nasdem.

Peluang paling besar adalah menggeser pemilih dari Golkar yang secara 
karakteristik cukup mirip dengan Nasdem. Dengan mesin finansial yang kuat, 
operasi intelijen yang efektif, strategi politik yang tepat, kandidat yang 
tepat untuk diusung, dan tentu saja pembacaan peta politik yang jeli, maka 
Nasdem besar kemungkinan akan masuk 3 besar.

Pada akhirnya, semuanya akan bergantung pada dinamika politik yang akan terjadi 
dalam beberapa bulan ke depan. Yang jelas, posisi di Kominfo bisa akan 
strategis bagi partai biru ini. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/7403D886DFD04F61AEA0F7F42ED9FCB1%40A10Live.

Reply via email to