Written byJ61Friday, August 12, 2022 17:30

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/ini-alasan-perindo-mustahil-berjaya/
Ini Alasan Perindo Mustahil Berjaya?
Modal berupa logistik politik yang dimiliki Hary Tanoesoedibjo dan Partai 
Perindo tampak belum cukup jika mengacu pada ambisi mereka di Pemilu 2024. 
Mengapa demikian?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Semangat Ketua Umum (Ketum) Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo menyongsong 
Pemilu 2024 mendatang tampak semakin bertambah setelah partainya kedatangan 
tokoh anyar.

Sosok itu ialah salah satu ulama terbaik dari Indonesia tengah yang juga mantan 
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), yakni Muhammad Zainul Majdi atau akrab 
disapa Tuan Guru Bajang (TGB).

Pada agenda pelantikan TGB sebagai kader partai pada akhir pekan lalu, Hary 
Tanoe menegaskan kembali ambisinya di kontestasi elektoral mendatang. Bos MNC 
Group ini menyebut target Partai Perindo adalah dua digit suara atau 60 kursi 
Parlemen Senayan.

Bukan hanya di level pusat, Hary Tanoe juga mematok target serupa di tingkat 
provinsi maupun kabupaten/kota.

“Partai Perindo adalah partai yang sungguh-sungguh berjuang untuk Indonesia, 
kita harus menjadi partai yang besar, itulah mengapa dicanangkan di dalam 
Pemilu 2024 perolehan kursinya harus double digit, baik nasional, provinsi 
maupun kabupaten kota,” begitu komando sang ketum.

Ya, Hary Tanoe memang tampak naik ke panggung politik tidak dengan tangan 
hampa. Dengan kekuatan media dan jaringan bisnisnya, Partai Perindo dinilai 
akan menjadi kuda hitam.

  
Terlebih torehan di Pemilu 2019 menasbihkan Partai Perindo sebagai parpol 
non-parlemen terbesar, yaitu dengan mengumpulkan 3,7 juta suara.

Namun, modal kekuatan itu agaknya masih sebatas proyeksi semata mengingat bukan 
perkara mudah untuk bersaing dengan parpol yang telah eksis sebelumnya seperti 
PDIP, Golkar, Gerindra, Demokrat, bahkan PKS yang memiliki pendukung loyal 
masing-masing.

Lantas, pertanyaan sederhana muncul, mengapa Hary Tanoe begitu percaya diri dan 
cukup ambisius di Pemilu 2024 mendatang? Mungkinkah Partai Perindo memiliki 
senjata rahasia tertentu?

Gunakan Strategi Trump?
Kehadiran TGB untuk memperkuat Partai Perindo agaknya menjadi alasan pertama di 
balik kepercayaan diri Hary Tanoe.

Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa ceruk massa Islam yang dipengaruhi afiliasi 
sosok ulama masih menjadi variabel dalam perolehan suara parpol di Indonesia. 
Burhanuddin Muhtadi dan Kennedy Muslim dalam Islamic Populism and Voting Trends 
in Indonesia turut menegaskan hal tersebut.

Menurut analisis keduanya, gelombang populis global yang didorong oleh sentimen 
agama-politik telah mengakar di berbagai negara demokrasi berkembang.

Sayangnya kecenderungan itu dilatarbelakangi eksploitasi para aktor politik 
atas perpecahan dalam konteks agama serta politik yang sebelumnya sudah eksis 
dalam masyarakat.

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Burhanuddin dan 
Kennedy menilai karakteristik itu sangat lekat dengan apa yang terjadi di 
Indonesia.

  
Meskipun spektrum ideologi “kiri-kanan” tidak cukup valid dalam menguraikan 
lanskap sistem pemilu Indonesia, perpecahan agama-politik “kiri-kanan” yang 
terjadi dapat menunjukkan spektrum blok suara “pluralis-Islamis” yang ditemukan 
di negara +62.

Sampel Pemilu dan Pilpres 2019 menjadi indikator atas kecenderungan tersebu. 
Saat. Politisasi agama terlihat jelas dengan manuver tim Prabowo Subianto yang 
berkolaborasi dengan kelompok Islam konservatif dan tim Joko Widodo (Jokowi) 
yang merangkul kelompok Islam moderat.
Meskipun belum terlalu tenar di level nasional, Hary Tanoe kemungkinan 
menyadari bahwa TGB cukup potensial untuk menjadi aktor alternatif pemikat 
ceruk massa Islam.

Pada Juni lalu, lembaga Indonesia Political Opinion (IPO) merilis temuan hasil 
jajak pendapat yang menunjukkan bahwa TGB merupakan ulama paling disukai di 
Indonesia timur dengan persentase mencapai 97,5 persen.

Memang, sosoknya sendiri selama ini dianggap cukup punya potensi. Misalnya, 
saat Ustad Abdul Somad (UAS)  sempat menyatakan dukungannya jika TGB maju 
sebagai calon presiden (capres) pada 2019 silam.

Atas dasar itu, boleh jadi Hary Tanoe menganggap TGB dapat diandalkan sebagai 
alternatif paling menarik bagi kelompok Islam di daerah-daerah, seperti di 
wilayah Indonesia tengah, timur, hingga Sumatera.

TGB pun langsung diberikan kursi istimewa di Partai Perindo dengan jabatan 
sebagai Ketua Harian.

Selain kepercayaan diri atas eksistensi sosok yang dapat menarik massa Islam, 
Hary Tanoe agaknya juga cukup yakin dengan logistik politiknya.

Hary Tanoe melahirkan Partai Perindo sebagai business party yang menurut Andre 
Krouwel dalam publikasinya berjudul Party Models cukup ideal dalam ekosistem 
politik kontemporer yang wajib disokong oleh pendanaan mumpuni.

Forza Party di Italia menjadi satu sampel sukses konsep business party yang 
dikemukakan Krouwel. Didirikan oleh raja media kelahiran Milan Silvio 
Berlusconi pada 1994, Forza Party menjelma menjadi kekuatan politik terbesar di 
Negeri Pizza hingga kini.

Berlusconi pun menikmati kesuksesan itu dengan berhasil menjadi Perdana Menteri 
(PM) Italia selama empat periode.

Dengan latar belakang serupa, Hary Tanoe dengan “profit” dari bisnis MNC 
Group-nya tampak leluasa memainkan strategi politik apapun yang diinginkannya.

Termasuk saat merekrut TGB yang ternyata disodori pula posisi wakil komisaris 
utama sekaligus komisaris independen perseroan PT Media Nusantara Citra Tbk 
(MNCN).

Koneksi bisnis MNC agaknya juga menginspirasi strategi politik Hary Tanoe 
ketika dirinya memiliki relasi bisnis dengan mantan Presiden Amerika Serikat 
(AS) Donald Trump.

Ya, melalui perusahaannya yang terdaftar di MNC Land, Hary Tanoe memiliki resor 
di Bali dan Jawa yang dikelola oleh perusahaan milik Trump.

Dalam How Donald Trump Won, eks tim media pemenangan Trump Paul Manafort dan 
Lellyanne Conway menjelaskan bagaimana Trump membentuk persepsi masyarakat AS 
menjadi dukungan melalui media massa.

Korelasi tersebut kiranya membuat Hary Tanoe memodifikasi marketing politik ala 
Trump via media yang lebih relevan dengan ceruk suara dan pemikat simpati 
masyarakat Indonesia.

Sampelnya dapat publik amati melalui tayangan olahraga favorit masyarakat 
hingga sinetron di media-media milik MNC, yang masing-masing mencerminkan 
segmen pemilih tersendiri.
Bahkan, Hary Tanoe kiranya telah mengadopsi konsep political mass hypnotist 
atau penghipnotis massa politik melalui media yang oleh Ralph Benko juga 
dinilai menjadi strategi politik Trump di Pilpres AS 2016.

Konsep tersebut dijelaskan Benko sebagai kemampuan memainkan narasi 
“provokatif” dan memantik keresahan khalayak yang kemudian membuat mereka 
menyepakati dan hanyut dalam narasi tersebut.

Dalam dimensi berbeda, “hipnotis” itu kiranya telah diperagakan Hary Tanoe. 
Salah satu sampelnya adalah bagaimana lagu mars Perindo menjadi familiar di 
telinga publik ketika sering diperdengarkan dalam iklan komersial media MNC 
Group.

Tidak hanya itu, relasinya sebagai calon mertua selebriti dunia bulu tangkis 
Kevin Sandjaya Sukamuljo bukan tidak mungkin akan menjadi daya magis politik 
tersendiri secara tidak langsung.

Namun, proyeksi positif terhadap Partai Perindo seperti yang dijabarkan di atas 
kiranya belum cukup jika Hary Tanoe tidak mengubah satu kelemahannya. Apakah 
itu?

 
Hary Tanoe Terlalu Hemat?
Pada deklarasi lahirnya Partai Perindo pada 7 Februari 2015, Hary Tanoe sudah 
menegaskan bagaimana partainya akan dikelola.

Sebagai pengusaha, struktur organisasi dan pengelolaan partai pimpinan Hary 
Tanoe disebut sangat kental dengan karakteristik manajemen perusahaan. Demi 
sebuah profesionalitas dan stabilitas, komposisi elite Partai Perindo diisi 
oleh banyak anak buahnya di MNC Group.

Saat pertama kali dibentuk, 14 dari 33 pengurus DPP merupakan anak buah dan 
rekan kerja Hary Tanoe di MNC. Tak hanya itu, majelis persatuan partai dan 
mahkamah partai turut didominasi orang-orang MNC.

Nama-nama seperti Syafril Nasution (Direktur PT Global Mediacom), Arya Mahendra 
Sinulingga (Direktur Pemberitaan MNC), Sururi Alfaruq (Direktur Utama Koran 
Sindo), A. Wishnu Handoyono (Komisaris MNC Sekuritas) merupakan petinggi Partai 
Perindo hingga kini.

Pengelolaan yang tampak seperti “efisiensi” itu juga dipraktikkan sebagai 
strategi politik di akar rumput, yakni dengan tidak banyak menggelontorkan 
“uang kaget” ke masyarakat atau dikenal dengan politik uang.

Taktik itu disinyalir menjadi salah satu pemicu kegagalan Partai Perindo di 
legislatif, baik daerah maupun pusat dalam keikutsertaannya di kontestasi 
elektoral 2019 lalu.

Tanpa bertendensi menyarankan, namun praktik minor itu dinilai masih kental 
menjadi jurus ampuh parpol di akar rumput daerah sebagaimana dijelaskan oleh 
Burhanuddin Muhtadi dalam buku berjudul Kuasa Uang: Politik Uang dalam Pemilu 
Pasca-Orde Baru.

Bagaimanapun, analisis di atas masih sebatas interpretasi semata. Namun 
demikian, apa yang akan menjadi strategi Partai Perindo plus seperti apa 
kiprahnya di Pemilu 2024 mendatang akan sangat menarik untuk dinantikan. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/BCA4458787B4482ABE9C5C42A8FF0834%40A10Live.

Reply via email to