https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2528-merdeka-untuk-apa


Sabtu 13 Agustus 2022, 05:00 WIB 

Merdeka untuk Apa? 

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group | Editorial 

  Merdeka untuk Apa? MI/Ebet Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. BULAN 
Agustus identik dengan bulan kemerdekaan. Bendera dan umbul-umbul merah putih 
dikibarkan di seluruh sudut negeri. Lomba-lomba bernuansa keceriaan dan 
keguyuban dipertandingkan. Pula, doa-doa pengharapan bagi kebaikan dan 
keselamatan negeri dipanjatkan. Kini, saat seluruh isi negeri berada di 
detik-detik menjelang peringatan 77 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, ada 
pula yang mengapungkan pertanyaan. Salah satu pertanyaan itu simpel, tapi 
penting, yakni kita merdeka untuk apa? Sesungguhnya Indonesia dibentuk dari 
keluasan pulau, keragaman asal-usul dengan penduduk yang begitu banyak demi 
meraih apa? Mengapa pula kita 'nekat' mendirikan negara Indonesia yang luasnya 
seluas benua? Keluasan negara kita kerap digambarkan dengan waktu tempuh 
melintasi negeri. Jika kita terbang dari Sabang sampai Merauke, waktu yang 
dibutuhkan 8 hingga 9 jam. Untuk apa semua itu? Pertanyaan serupa juga 
disampaikan para pendiri bangsa saat mereka bertemu di Badan Penyelidik 
Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan 
Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Wajar jika mereka saling bertanya. Itu karena di 
badan yang merumuskan dasar negara kita ini duduk orang-orang dari segala 
keragaman yang mewakili bangsa ini (ada keragaman agama, suku, etnik, bahkan 
jenis kelamin). Mereka bertanya satu sama lain: kita membentuk negara dari 
sekian keragaman dan keluasan Indonesia ini maunya apa? Jawaban mereka pun 
bermacam-macam. Mimpi mereka beragam. Namanya juga mimpi, jelas tidak bertepi. 
Setiap orang punya isi kepala masing-masing, punya mimpi masing-masing. Ada 
yang bilang kami ingin merdeka. Kami ingin sejahtera. Kami ingin makmur, tata 
tentrem kerta raharja gemah ripah loh jinawi. Namun, bila mimpi-mimpi itu 
diringkas menjadi satu kata, kata yang mewakili satu impian itu berhasil 
dirumuskan Mohammad Hatta. Menurut Bung Hatta, kata yang mewakili beragam mimpi 
itu bisa diringkas: aku ingin membentuk negara di mana semua orang bahagia di 
dalamnya. Yang dari Aceh bahagia. Orang Papua bahagia. Orang Tionghoa bahagia. 
Para petani bahagia. Nelayan pun bahagia. Intinya, bukan cuma konglomerat dan 
anggota DPR yang berhak bahagia. Semua kita ingin bahagia. Hal itu selaras 
dengan teori William James, seorang perintis psikologi pendidikan dari Amerika 
Serikat. Pak James mengatakan motif terdasar dari seluruh tindakan manusia 
hanya satu, yakni the pursuit of happyness. Kalau ada pertanyaan mengapa kita 
beragama, mengapa menikah, mengapa harus bekerja, termasuk mengapa kita harus 
bernegara, jawabnya hanya satu, yakni demi mengejar kebahagiaan. Kebahagiaan 
itu berbeda dengan kesenangan. Banyak orang mengidentikkan kebahagiaan itu 
dengan pleasure atau kesenangan. Padahal, keduanya berbeda. Kebahagiaan ialah 
suatu konsep yang dinamis dan sifatnya kontekstual. Kebahagiaan itu produktif, 
aktif, menumbuhkan. Kebahagiaan itu membuat kemanusiaan kita berkembang. 
Sesuatu yang membuat kita menjadi kaya. Bisa melayani dan membahagiakan orang 
lain. Kebahagiaan itu enjoyment alias kesukacitaan. Adapun kesenangan bersifat 
konsumtif dan pasif. Makan, minum, nonton bioskop itu kesenangan dan sifatnya 
pasif konsumtif. Dalam hierarki kebutuhan menurut Abraham Maslow, kesenangan 
itu masih di urutan bawah. Levelnya baru psychological needs atau kebutuhan 
fisiologis biologis dan safety needs alias kebutuhan akan ketenteraman. 
Sementara itu, kebahagiaan, levelnya sudah puncak dari segala puncak kebutuhan, 
yakni self-actualization atau aktualisasi diri. Pada titik ini, orang akan 
merasa bermakna dan bahagia jika bisa melayani dan berguna bagi banyak orang. 
Dalam konteks berbangsa dan bernegara, kebahagiaan akan paripurna bila sebagian 
besar anak bangsa sudah menjadi manusia seutuhnya. Itulah kebahagiaan. Dalam 
pandangan Yudi Latif, jalan menuju kebahagiaan hanya bisa direngkuh dengan 
jalan integritas dan jalan cinta. Jalan integritas itu jalan etis. Tidak ada 
jalan kebahagiaan tanpa melewati jalur etis. Contohnya, orang boleh memperoleh 
kekayaan dalam tempo cepat. Namun, bila kekayaan itu didapat dari korupsi, 
menipu, merusak ekosistem, kendati di permukaan orang itu kelihatan bahagia, di 
hatinya penuh dengan gejolak dan derita. Kedua, jalan kebahagiaan itu jalan 
cinta. Tidak mungkin kita menuju kebahagiaan dengan jalan kebencian, jalan 
permusuhan, apalagi jalan peperangan. Apa yang disampaikan Bung Hatta ihwal 
untuk apa kita merdeka dan membentuk negara, yakni untuk kebahagiaan seluruh 
anak bangsa, para pendiri bangsa juga sudah menyiapkan modal. Kita sudah punya 
warisan modal mahapenting dari jalan integritas dan jalan cinta itu berupa 
filosofi kebahagiaan. Filosofi kebahagiaan itu dirumuskan secara cerdas oleh 
para pendiri bangsa ini berupa Pancasila. Alhasil, tujuan kemerdekaan ialah 
meraih kebahagiaan atau kesukacitaan. Jalan menuju kebahagiaan itu ada dua: 
integritas dan cinta. Filosofinya, Pancasila. Jadi, bila ingin semua rakyat 
Indonesia bahagia, jalankan dan kerjakan Pancasila. Bumikan Pancasila menjadi 
nyata, bukan indoktrinasi atau sekadar seruan kata-kata.  

Sumber: https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2528-merdeka-untuk-apa






-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220814220842.d341bcce785d347293acd88c%40upcmail.nl.

Reply via email to