Written byR53Sunday, August 14, 2022 17:20

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/luhut-buat-jokowi-jadi-pahlawan/
Luhut Buat Jokowi Jadi Pahlawan?
Presiden Jokowi membantah secara terbuka usulan Luhut untuk merevisi UU TNI 
agar perwira TNI dapat masuk dalam kementerian. Apakah ini skenario pewayangan 
untuk menempatkan Jokowi sebagai pahlawan demokrasi?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Every fairy tale needs a good old-fashioned villain.” – Jim Moriarty, film 
Sherlock episode The Reichenbach Fall

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Luhut Binsar Pandjaitan adalah sosok yang 
begitu dipercaya oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ini jelas terlihat dalam 
banyaknya tugas dan posisi yang diberikan RI-1 kepada Luhut. Dalam rapat kerja 
dengan Banggar DPR pada 9 Juni 2022, Luhut menyebut terdapat 27 penugasan 
khusus yang diberikan Presiden Jokowi terhadap dirinya.

Ihwal ini menjadi perhatian luas masyarakat, termasuk elite politik dan 
akademisi. Pengamat sosial dari Universitas Jakarta (Unija) Adli Bahrun, bahkan 
mengibaratkan Luhut sebagai Gajah Mada-nya Jokowi. Hubungan Jokowi-Luhut 
seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada.

“Pak Luhut mirip Gajah Mada, lihai hadapi banyak kasus. Kalau turun gunung 
pasti selesai,” ungkap Adli pada 11 Agustus 2022.

Seperti yang dicatat sejarah, Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya 
ketika dipimpin oleh Hayam Wuruk pada tahun 1350–1389. Raja yang bergelar 
Maharaja Sri Rajasanagara itu memiliki Mahapatih Gajah Mada di sisi kanannya. 
Panglima perang itu sangat diandalkan dan berpengaruh. 

Sedikit membandingkan, jika Gajah Mada menyatukan Nusantara, maka Luhut 
menyatukan kekuatan politik untuk mendukung Presiden Jokowi.

Ini juga disebutkan Kanupriya Kapoor dalam tulisannya Indonesian President 
Treads Fine Line by Empowering Chief of Staff. Menurut Kapoor, Luhut menjadi 
semacam “bemper” Jokowi dari berbagai tekanan politik dan kelompok kepentingan.

Dengan hubungan yang sudah terjalin sejak 2006 (ada versi yang menyebut sejak 
2008), menjadi menarik untuk melihat penolakan terbuka Presiden Jokowi terhadap 
usulan Luhut baru-baru ini. 

Pada 5 Agustus 2022, Luhut mengusulkan revisi Undang-Undang TNI agar perwira 
TNI bisa ditugaskan di sejumlah kementerian dan lembaga. Enam hari kemudian, 
atau pada 11 Agustus, Presiden membantah usulan itu secara terbuka dengan 
menyebutnya belum mendesak.

Lantas, apa yang dapat dimaknai dari penolakan terbuka Presiden Jokowi itu?

 
Pewayangan Kekuasaan
Fenomena penolakan terbuka Presiden Jokowi terhadap usulan Luhut sangat menarik 
karena dua hal. 

Pertama, mengacu pada hubungan erat Jokowi-Luhut, kenapa RI-1 menyampaikan 
penolakan secara terbuka? Bukankah itu akan membuat Luhut semakin menjadi 
bulan-bulanan kritik berbagai pihak? Kenapa penolakan usulan tidak dilakukan 
secara tertutup?  

Kedua, kenapa Luhut menyampaikan usulan sensitif itu secara terbuka? Mengutip 
dosen Filsafat Politik Universitas Indonesia (UI) Donny Gahral Adian, rezim 
Orde Baru telah membuat masyarakat mengalami “surplus kecurigaan” terhadap 
kekuasaan.

Dengan kata lain, sangat mudah menebak bahwa usulan Luhut itu akan menciptakan 
persepsi dwifungsi ABRI akan dibangkitkan. Apakah Luhut pura-pura abai terhadap 
surplus kecurigaan itu?

Dua keanehan itu membuat kita perlu merefleksikan buku Clifford Geertz yang 
berjudul Negara Teater. Menurut antropolog Amerika Serikat (AS) ini, 
pertunjukan kekuasaan di Indonesia layaknya teater yang memperlihatkan dan 
memainkan simbol-simbol. 
Yang menarik, menurut Geertz, rakyat seperti tidak punya pilihan dan kehilangan 
daya kritis, sehingga larut begitu saja dalam pertunjukan kekuasaan.

Rakyat ibarat wayang yang menemukan dirinya mengisi peran-peran tertentu. Ada 
yang berkorban demi kebaikan raja (baca: penguasa), ada yang menabuh gendang 
agar pertunjukan menjadi ramai, dan ada pula yang sadar posisinya hanya sebagai 
penonton.

Temuan Geertz soal “pewayangan kekuasaan” melahirkan satu interpretasi menarik 
soal hubungan Luhut dengan Jokowi. Seperti yang disebutkan dalam artikel 
PinterPolitik sebelumnya, Kenapa Jokowi Biarkan Luhut Berkuasa?, ada 
kemungkinan terdapat permainan bad cop/good cop.

Jika diperhatikan, tampilnya Luhut sering kali pada isu-isu yang rentan 
mendapat sentimen negatif. Sebut saja soal isu penundaan Pemilu 2024 dan 
penanganan Covid-19. Dua isu itu sangat rentan mendapat amukan sentimen 
negatif. Dan sekarang ada usulan revisi UU TNI.

Singkatnya, bagaimana jika Luhut memang ditempatkan sebagai bad cop? Dengan 
demikian, berbagai persoalan yang ada dapat dilimpahkan kepada sosok yang 
dijuluki “Lord”, hingga “Perdana Menteri” itu.

Sebagai bayaran atas peran itu, Luhut diberikan berbagai penugasan, posisi, dan 
pengaruh oleh Presiden Jokowi.

Ada dua kajian penting untuk menguatkan interpretasi adanya permainan bad 
cop/good cop. 

Pertama, berbagai pihak menyebut Presiden Jokowi seperti “Raja Jawa”. Mengutip 
buku Benedict R. Anderson yang berjudul Language and Power: Exploring Political 
Cultures in Indonesia, pemimpin yang menjalankan politik ala Jawa biasanya akan 
bertumpu pada upaya pemusatan kekuatan, yakni mengumpulkan kekuatan (power) 
pada dirinya.

Nah, jika Jokowi adalah Raja Jawa, bukankah aneh jika mantan Wali Kota Solo itu 
membiarkan Luhut terlihat lebih bersinar dan lebih berpengaruh dari dirinya? 

Kedua, konsep dramaturgi dari sosiolog Erving Goffman sangat penting untuk 
dijadikan pegangan. Menurut Goffman, sekelumit aktivitas sosial, termasuk 
politik, layaknya pertunjukan drama atau teater. Terdapat panggung depan (front 
stage) dan panggung belakang (back stage). 

Sama seperti di teater, panggung belakang adalah skrip yang telah disetujui. 
Sementara, panggung depan adalah pertunjukan yang memang sengaja disuguhkan 
untuk menghibur penonton. Dalam konteks politik, panggung depan-panggung 
belakang ini merupakan aktivitas harian.

 
Jokowi adalah Pahlawan
Setelah memahami pewayangan kekuasaan, permainan bad cop/good cop, dan 
dramaturgi politik, kita akan sampai pada satu kesimpulan penting. Penolakan 
terbuka RI-1 terhadap usulan Luhut adalah cara untuk menempatkan Presiden 
Jokowi sebagai pahlawan, tepatnya pahlawan demokrasi.

Mengutip teori semiotika pragmatis dari filsuf Charles Sanders Peirce, akan 
tercipta dua tingkat penafsiran publik terhadap penolakan terbuka Presiden 
Jokowi terhadap Luhut. Pada tingkat pertama, publik akan menafsirkan Luhut 
tidak dapat mendikte Jokowi. 

Kemudian pada tingkat kedua, publik akan menafsirkan Presiden Jokowi menolak 
potensi kebangkitan dwifungsi ABRI. Terlebih lagi, Luhut dapat dikatakan 
sebagai “orang Orde Baru”. Luhut adalah salah satu sosok yang dibina langsung 
oleh Jenderal TNI Benny Moerdani.
Melihat polanya, penempatan Presiden Jokowi sebagai pahlawan sudah terjadi 
beberapa kali. Pada isu peraturan baru Jaminan Hari Tua (JHT) yang 
menggemparkan publik pada Februari kemarin, misalnya, seperti pahlawan di 
film-film, Presiden Jokowi tampil di akhir untuk merevisi aturan itu.

Sedikit mengingatkan, itu menjadi polemik karena Menteri Ketenagakerjaan 
(Menaker) Ida Fauziah menerbitkan aturan agar JHT baru bisa dicairkan ketika 
sudah berusia 56 tahun.

Tampilnya Presiden Jokowi untuk merevisi aturan bahkan telah ditebak oleh 
Direktur Eksekutif KedaiKOPI Kunto Adi Wibowo. Simpulan itu ditariknya dengan 
bertolak pada fenomena serupa pada 2015 lalu, ketika Menaker Hanif Dhakiri 
menetapkan ketentuan bahwa JHT baru bisa cair jika peserta telah terdaftar 
selama 10 tahun.

Aturan itu mendapat protes keras masyarakat, dan tidak berselang lama, Presiden 
Jokowi meminta Menaker Hanif untuk merevisinya.

“Kalau publik enggak ribut, ya kebijakannya terus. Kalau publik ribut, kritik, 
Pak Jokowi tampil sebagai hero (pahlawan). Menurut saya, itu salah satu 
strategi yang luar biasa dari Pak Jokowi,” ungkapnya pada 14 Februari.

Tidak hanya Kunto Adi Wibowo, rekan Presiden Jokowi di PDIP juga memberikan 
pujian terhadap kemampuan mantan Wali Kota Solo itu dalam memainkan politik 
simbol.

Dalam bukunya Panda Nababan Lahir Sebagai Petarung: Sebuah Otobiografi, Buku 
Kedua: Dalam Pusaran Kekuasaan, politisi senior PDIP Panda Nababan menceritakan 
kisah menarik ketika Jokowi mampir ke rumahnya di Medan. Saat itu Jokowi masih 
menjabat Gubernur DKI Jakarta. 

Ketika sarapan sebelum berangkat ke bandara untuk bertolak ke Jakarta, Panda 
menawarkan Jokowi untuk berganti pakaian karena kemeja putihnya sudah lusuh. 
Namun, secara halus Jokowi menolak.

Seperti yang mudah ditebak, ketika sampai di bandara, Jokowi yang begitu 
populer dikerubungi masyarakat yang ingin berfoto bersama. Di sana, Panda 
kemudian paham kenapa Jokowi menolak mengganti pakaian. Citra Jokowi yang 
merakyat terpampang jelas dengan kemeja putih lusuh dan rambutnya yang 
awut-awutan.

Ketika akan menaiki pesawat, barulah Jokowi mencuci muka dan berganti pakaian. 
Menurut Panda, itu adalah pelajaran baginya bahwa politisi perlu merencanakan 
penampilannya.

Singkatnya, jika interpretasi dalam tulisan ini tepat, penolakan terbuka 
Presiden Jokowi terhadap usulan Luhut merevisi UU TNI adalah pewayangan 
kekuasaan untuk menempatkan RI-1 sebagai pahlawan demokrasi. 

Seperti pernyataan Jim Moriarty di awal tulisan, setiap cerita membutuhkan 
penjahat yang hebat. Tanpa penjahat, pahlawan tidak akan pernah ada. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/2AFC28E6176F46C795C5F3FEDCAC02D6%40A10Live.

Reply via email to