Written byJ61Monday, August 15, 2022 16:00  

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/perang-dunia-iii-indonesia-akan-hancur/
Perang Dunia III, Indonesia Akan Hancur?
Diskursus Perang Dunia III kembali mengemuka setelah ketegangan Amerika Serikat 
(AS) vs Tiongkok dan Rusia terus meningkat seiring waktu. Jika konflik terbuka 
benar-benar terjadi, Indonesia agaknya akan menjadi negara yang paling 
dirugikan. Mengapa demikian?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Invasi Ukraina oleh Rusia masih terus berlangsung hingga detik ini. Bersamaan 
dengan itu, ketegangan Taiwan dan Laut China Selatan (LCS) disebut-sebut bisa 
saja memantik eskalasi lebih lanjut mengingat benturan dengan kepentingan 
Barat, terutama Amerika Serikat (AS), di sana.

Berdasarkan catatan historis, dunia belum pernah melihat destabilisasi 
geopolitik seperti ini sejak pra-Perang Dunia II yang disebabkan oleh tindakan 
Nazi Jerman, Italia, dan Jepang.

Oleh karena itu, beberapa analis melihat serangkaian gejala yang ada sebagai 
permulaan dari konflik distopia bertajuk Perang Dunia III.

Salah satu yang teranyar datang dari mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS 
Henry Kissinger, yang pada pekan lalu menilai bahwa negaranya di ambang perang 
terbuka dengan Rusia dan Tiongkok.

Jika dirunut akar persoalannya, ketua Subkomite Asia-Pasifik di Kongres AS 
ke-115 Theodore Scott Yoho, menganggap kepemimpinan AS di panggung global pasca 
Perang Dingin telah melemah dan kehilangan fokus sehingga menciptakan 
kekosongan.

Kekosongan itu menurutnya dalam bahaya karena kemudian diisi oleh dua pemimpin 
otoriter kuat dunia, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Tiongkok Xi 
Jinping.

  
Ketidakstabilan lantas tercipta saat AS berupaya mempertahankan hegemoni 
bersama sekutunya, namun berbenturan dengan perspektif aktor lain yang 
memandang negeri Paman Sam adalah rival.

Tidak hanya Rusia dan Tiongkok, terdapat aktor lain yang menganggap AS sebagai 
musuh, yakni Korea Utara hingga Iran. Poros negara ini dianggap menjadi cetak 
biru atas titik panas teater Perang Dunia III nantinya.

Terlebih, pasca kunjungan Ketua Parlemen AS Nancy Pelosi ke Taiwan pada awal 
Agustus lalu, media pemerintah Tiongkok Global Times merespons dengan cukup 
serius bahwa “arena peperangan telah siap”.

Bahkan, prediksi serupa pun datang dari bos Tesla Elon Musk yang sempat 
mengutarakan bahwa Perang Dunia III lebih mungkin tercipta belakangan ini 
akibat gejala-gejala perseteruan negara besar yang kian terlihat.

Sementara itu, Profesor Emeritus di Pusat Studi Strategis dan Pertahanan 
Australian National University, Paul Dibb, juga menilai bahwa manuver Tiongkok 
di LCS telah melampaui apa yang mereka bisa lakukan selama ini dan kian dekat 
untuk mengincar sekutu AS, yakni Australia.

Memang, terdapat analisis tandingan yang menyebut bahwa interdependensi 
perdagangan di antara negara-negara kuat mencegah ditariknya pelatuk peperangan.

Namun, menurut dua pakar peperangan abad ke-21 Peter Warren Singer dan August 
Cole dalam tulisannya di Time mengatakan, pola perdagangan bersejarah antara 
kekuatan-kekuatan besar sebelum dua edisi perang dunia terakhir, dapat 
menegasikan perspektif tandingan tersebut.

Kembali ke analisis Dibb, agaknya cukup menarik pula untuk ditelisik lebih 
lanjut mengingat Australia adalah negara yang berbatasan langsung di selatan 
Indonesia.

  
Perang terbuka tampaknya akan memberikan konsekuensi keamanan yang belum pernah 
terbayangkan sebelumnya di tanah air.

Lalu, siapkah Indonesia menghadapi skenario terburuk itu?
Indonesia Terjepit?
Eskalasi konflik terbuka sempat pula dilihat oleh Noah Smith dalam publikasinya 
yang berjudul  The U.S. must commit to making South and Southeast Asia rich. 
Menariknya, dia menyinggung pertautan dengan Indonesia, jika AS dan Tiongkok 
benar-benar terlibat dalam pertempuran.

Menurutnya, alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) terutama jalur Selat Malaka 
yang menuju LCS via perairan Natuna, akan menjadi rebutan kekuatan besar – AS 
dan Tiongkok – karena merupakan jalur yang sangat strategis. Tidak hanya bagi 
mobilitas pasukan, tetapi juga dalam aspek logistik tempur dan bantuan tempur.

Jika dielaborasi dengan alarm dari Profesor Dibb, keterlibatan sekutu AS, yakni 
Australia, membuat posisi Indonesia berada di antara kekuatan-kekuatan itu jika 
perang pecah di teater Pasifik.

Terlebih, di timur Indonesia, Tiongkok telah menggenggam pivot manuver militer 
dengan kerja sama pertahanannya bersama Fiji, Papua Nugini, Vanuatu, hingga 
Tonga.

Sepanjang tahun 2000 sampai 2020, Stockholm International Peace Research 
Institute mencatat bahwa Tiongkok telah memberikan bantuan pendanaan militer 
dan pertahanan sebesar US$54,8 juta atau sekitar Rp807 miliar ke negara-negara 
itu.

Selain dari aspek kerentanan geostrategis, jika dilihat dengan seksama, 
Indonesia juga masih menyimpan kelemahan klasik.

Ya, jika terjadi perang terbuka, belum mumpuninya alutsista dalam menyokong 
apapun posisi politik luar negeri Indonesia kelak, dinilai akan menjadi 
permasalahan utama.

Dalam artikel PinterPolitik sebelumnya yang berjudul Politik Alutsista, Musuh 
Terbesar Prabowo? telah dijabarkan kecenderungan itu.

Hingga detik ini, modernisasi alutsista Indonesia secara faktual dikatakan 
masih jauh tertinggal dengan negara serumpun, seperti Singapura, misalnya.

Media asal Prancis, Meta-Defense, mengatakan modernisasi alutsista Indonesia 
bekerja layaknya drama sinetron. Hal tersebut dikarenakan, dalam membeli 
alutsista, rencana belanja Indonesia terlihat dibuat secara mendadak dan tidak 
beraturan.

Kendala berupa tarik menarik vested interest atau kepentingan pribadi/kelompok 
yang terbalut dalam rumitnya birokrasi politik anggaran aspek pertahanan 
disinyalir menjadi biang keladinya.

Jonah Blank dalam buku berjudul Regional Repsonses to US-China Competition in 
the Indo-Pacific: Indonesia juga menganalisis kelemahan militer dan pertahanan 
negeri Khatulistiwa.

Alumni Harvard University itu melampirkan korespondensi perwira militer AS yang 
selama kariernya bersinggungan dengan TNI, menemukan serangkaian persoalan 
pelik.

Pertama, angkatan bersenjata Indonesia masih berkutat dengan penekanan pada 
modernisasi alutsista daripada perluasan kekuatan yang merata di seluruh 
wilayah yang punya kerentanan keamanan tinggi.

Dengan aktualisasi modernisasi yang membutuhkan waktu plus birokrasi rumit 
sektor pertahanan, Indonesia dinilai selalu tertinggal dua sampai tiga langkah 
dalam setiap rencana pertahanan yang dibuat dibandingkan perkembangan tantangan 
kontemporer.

Kedua, aspek anggaran lagi-lagi jadi variabel determinan. Blank menyebut bahwa 
budgeting pertahanan Indonesia jauh lebih kecil dari skala teritorial dan 
struktur militernya.

Selama dekade 2008–2018, Indonesia hanya menghabiskan kurang dari US$5,8 
miliar, dibandingkan dengan US$3,3 miliar yang dihabiskan oleh Malaysia (yang 
memiliki 12 persen dari populasi Indonesia dan seperempat jumlah personel 
militernya).

Pun dengan Singapura yang sepanjang dekade serupa mampu mengeluarkan US$8 
miliar anggaran pertahanan.

Ketiga, terdapat kritik yang dilampirkan Blank dengan mengutip kecenderungan 
kultur militer Indonesia.
Seorang perwira anonim AS mengatakan bahwa petinggi angkatan bersenjata 
Indonesia lebih mengutamakan office calls, kunjungan kehormatan, parade, dan 
seremoni. Berbeda dengan AS yang dalam kultur militernya begitu profesional 
dalam peningkatan kemampuan dari waktu ke waktu dengan indikator yang jelas.

Bahkan, serangkaian kelemahan itu sempat dielaborasi sendiri oleh sejumlah 
tokoh di tanah air mulai dari Prabowo Subianto, Ryamizard Ryacudu, hingga 
Megawati Soekarnoputri, yang pernah menyebut bahwa Indonesia maksimal hanya 
sanggup bertahan sepekan jika mendapat serangan.

Meskipun belum terpetakan apakah Indonesia akan terlibat langsung atau hanya 
menjadi “penonton”, kualitas sektor militer dan pertahanan tentu akan menjadi 
ujung tombak utama kala perang berkecamuk.

Oleh karena itu, serangkaian kerentanan di atas agaknya membuat kesiapan 
Indonesia apabila dihadapkan pada peperangan antar kekuatan besar dunia 
dipertanyakan.

Lantas, bagaimana dampak yang akan dirasakan masyarakat Indonesia jika Perang 
Dunia III menjadi kenyataan?

 
Alami Kiamat Ekonomi?
Terlepas dari keberpihakan atau netralitas Indonesia, aspek perekonomian tentu 
akan menjadi yang paling awal plus paling berat ditanggung setiap individu di 
tanah air jika perang terjadi.

Direktur CELIOS (Center of Economic and Law Studies) Bhima Yudhistira 
Adhinegara pernah memetakan dampak Perang Dunia III berupa lonjakan harga bahan 
bakar yang merembet ke aspek lain dan akan sangat mengancam.

Krisis menjadi ihwal yang tak terhindarkan ketika variabel lain seperti 
terhentinya investasi, penurunan nilai tukar Rupiah, serta terhambatnya rantai 
pasokan turut memperburuk situasi.

Charles Parton, mantan diplomat Inggris di Asia timur membingkai situasi 
tersebut sebagai economic armageddon atau kehancuran total ekonomi.

Selain itu, medan peperangan di dunia siber yang membedakan dengan dua perang 
dunia edisi sebelumnya, dinilai juga memaksa negara-negara di luar aktor utama 
pertempuran, turut terseret.

Mulai dari kekacauan multidimensi akibat peretasan hingga terminologi 
kontemporer seperti firehose of falsehood atau propaganda kepalsuan, yakni 
penciptaan disrupsi hoax tentang anonimitas pihak yang menyerang dan pihak mana 
yang menjadi korbannya.

Jika mengacu pada publikasi Resy Woro Yuniar yang berjudul Is Indonesia 
becoming too reliant on Huawei? tentang ketergantungan terhadap infrastruktur 
digital Tiongkok, hampir dapat dipastikan Indonesia akan turut terdampak 
peperangan di ranah siber tersebut.

Lalu, jika dilihat secara sosiokultural, mayoritas populasi Indonesia saat ini 
pun belum pernah merasakan berada dalam suasana mencekam saat berada di 
tengah-tengah sebuah konflik, apalagi perang dunia.

Ini belum termasuk atmosfer ancaman perang nuklir yang dapat sangat destruktif 
dampaknya, baik secara materiil maupun imateriil seperti kondisi psikis 
masyarakat luas.

Dihantui ketidakpastian dalam berbagai sektor akibat perang, agaknya akan 
sangat menguji resiliensi warga +62 kelak.

Kendati demikian, getirnya dampak perang secara global tentu tidak diinginkan 
pihak manapun. Langkah diplomasi kolektif untuk membuat Perang Dunia III tetap 
berada di ranah fiksi diharapkan menjadi upaya pencegahan yang terus 
diperjuangkan. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/E146AAD848A448AEBC7A3569C0C29E01%40A10Live.

Reply via email to