Jepang yang Menanggung Kesalahan Sejarah Harus Berhenti Melonggarkan 
Militerismenya
2022-08-16 
11:22:39https://indonesian.cri.cn/2022/08/16/ARTIW2yaxNCOL8mVwJO1XiDW220816.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.8

     Kemarin, tanggal 15 Agustus, adalah hari peringatan 77 tahun Jepang 
menyerah tanpa syarat dalam Perang Dunia II. Namun yang mengkhawatirkan dunia 
adalah roh militerisme Jepang yang sedang diam-diam muncul kembali dan mencoba 
melepaskan ikatan Konstitusi Pascaperang. Khususnya, perilaku berbahaya 
sejumlah kecil politisi Jepang pada isu Taiwan lebih-lebih meningkatkan 
kekhawatiran publik.

Belum lama berselang, kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan yang telah 
melanggar prinsip satu Tiongkok tersebut telah dikecam oleh lebih dari 170 
negara dan organsiasi internasional. Akan tetapi, Jepang malah berjalan melawan 
arus internasional. 

Dalam pertemuan dengan Pelosi, Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida menyebut 
latihan militer normal Tiongkok di daerah sekitar Selat Taiwan telah ‘dengan 
serius mengancam keamanan Jepang’, bahkan menyebut ‘Jepang dan AS akan 
bersama-sama memelihara perdamaian dan kestabilan Selat Taiwan’. 

Sementara itu, bersama dengan negara anggota G7 dan Uni Eropa, Jepang ikut 
mengeluarkan pernyataan bersama yang menyatakan bersekutu dengan AS untuk 
melanggar kedaulatan Tiongkok.

Terkait isu Taiwan, Jepang berutang pada rakyat Tiongkok sama sekali tidak 
berhak untuk main tunding.

Akan tetapi, karena pertimbangan atas kepentingannya sendiri usai Perang Dunia 
II, AS tidak melakukan penghitungan tuntas terhadap kejahatan militerisme 
Jepang, sehingga kekuatan sayap ultra-kanan Jepang tidak hanya tidak 
mengintrospeksi diri terhadap sejarah agresinya dan tidak rela menerima 
kegagalan Perang Dunia II, bahkan masih ingin mendapat keuntungan dari Taiwan. 

Harian ‘Lianhezaobao’ Singapura dalam artikelnya menunjukkan, saat ini, Jepang 
yang sedang mengupayakan ‘kebangkitannya’ kembali ingin mempersengit isu 
Taiwan, tujuannya adalah menghambat penyatuan kembali Tiongkok. Tampaknya, 
perilaku salah Jepang terkait isu Taiwan memperlihatkan bahwa Jepang memiliki 
nilai pandangan sejarah yang salah dan terdistorsi.

Melupakan sejarah sama dengan mengkhianati sejarah, menyangkal kesalahan 
berarti kemungkinan akan mengulanginya lagi.

Politisi Jepang tidak boleh melupakan penderitaan yang diakibatkannya terhadap 
negara-negara tetangga Asia, Jepang harus melakukan introspeksi, menarik 
pelajaran dari sejarah, dan berhenti melonggarkan tindakan militerismenya. 
Seandainya Jepang bersikeras kembali melakukan ekspansi terhadap luar, pada 
akhirnya mereka pasti akan kembali jatuh ke jurang.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/83383F29623A447DB6BAC5F0A0249BB0%40A10Live.

Reply via email to