Written byJ61Thursday, August 18, 2022 18:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/ahy-gagal-menhan-demokrat-hancur/
AHY Gagal Menhan, Demokrat Hancur?
Setelah kursi calon presiden (capres) sepertinya sulit direngkuh Ketua Umum 
(Ketum) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), posisi menteri – 
khususnya sektor pertahanan – agaknya cukup sesuai baginya di 2024. Namun, itu 
bukan skenario yang mudah dan bisa saja menjadi bumerang bagi kejatuhan 
Demokrat. Mengapa demikian?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Saat poros partai politik (parpol) lain mulai menelurkan kandidat calon 
presiden (capres), kegamangan jelang kontestasi elektoral 2024 kiranya masih 
dialami Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Partai Demokrat.

Bagaimana tidak, setelah Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang terdiri dari 
Golkar, PAN, dan PPP kemungkinan besar akan mengusung Airlangga Hartarto 
sebagai capres, Prabowo Subianto turut menyatakan bahwa dirinya akan maju 
sebagai kandidat RI-1 dari poros Partai Gerindra-PKB.

Sementara itu, kemungkinan penjajakan koalisi antara Partai Demokrat dengan 
Partai NasDem – plus PKS – pun masih belum terdengar lagi hingga detik ini.

Meski demikian, dalam artikel PinterPolitik sebelumnya yang berjudul AHY-Hary 
Tanoe Barter Cuan?, telah dijabarkan bahwa AHY dan Partai Demokrat kemungkinan 
besar lebih menargetkan kemenangan di legislatif dan kepala daerah yang akan 
digelar serentak di 2024.

Selain lebih menguntungkan dalam logika parpol dan konteks keberlanjutan, 
Partai Demokrat pun tampak tidak berambisi terlalu besar di ajang pemilihan 
presiden (Pilpres).

Hal itu ditegaskan pula oleh Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat Hinca 
Panjaitan yang pada Juli lalu menyebut partainya tidak pernah mengincar posisi 
capres maupun cawapres.

  
Gelagat tersebut tampak menarik mengingat AHY kemungkinan membutuhkan sebuah 
jabatan politik di 2024. Ini tak lain demi memperkuat legitimasinya sebagai 
Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat yang sempat digoyang lewat intrik Moeldoko 
beberapa waktu lalu, serta reputasi partai yang terus menurun di dua edisi 
pemilu terakhir.

Salah satu posisi yang kiranya cukup ideal adalah target untuk mengisi kursi 
Menteri Pertahanan (Menhan) kelak. Bukan hanya sekadar target tak beralasan, 
posisi Menhan sendiri sempat dinilai sejumlah tokoh cocok dengan AHY 
dikarenakan latar belakang dan visinya.

Bukan perkara mudah memang. Namun, bisa saja Partai Demokrat nantinya berada di 
koalisi pemenang Pilpres 2024, ataupun pada akhirnya berubah haluan ke koalisi 
pemenang seperti Partai Gerindra yang kebetulan pasca pertarungan politik 2019 
juga diberi jatah Menhan.

Lantas, seberapa besar peluang AHY duduk di kursi Menhan pada 2024?

Andalkan Koneksi SBY?
Indikasi kegamangan AHY dan Partai Demokrat kiranya dapat dipahami. Sebab, 
mereka adalah entitas politik yang baru terbentuk pasca Reformasi tetapi 
berhasil berkuasa selama dua periode saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 
menjadi Presiden ke-6 RI.

Oleh karena itu, 2024 boleh jadi merupakan tahun perjudian bagi AHY untuk 
setidaknya memiliki jabatan di pemerintahan, tentu ketika berbicara urgensinya 
dalam konteks legitimasi kepemimpinan Partai Demokrat.

Terlepas dari takdir berada di koalisi pemenang Pilpres 2024 atau bergabung ke 
koalisi pemenang seperti Gerindra di 2019, posisi Menhan kiranya menjadi target 
minimum.
Dalam hal ini, AHY boleh sedikit optimis mengingat namanya sempat 
diperhitungkan di kursi yang saat ini diduduki oleh Prabowo Subianto itu. Tak 
tanggung-tanggung, saat itu AHY di-endorse sebagai Menhan oleh dua parpol yang 
berada di dua kutub berbeda, yakni Partai Gerindra dan Partai Solidaritas 
Indonesia (PSI).

  
Hashim Djojohadikusumo selaku Direktur Media dan Komunikasi Badan Pemenangan 
Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, pada April 2019 silam menyebut bahwa mereka 
mempertimbangkan AHY sebagai Menhan apabila porosnya menang.

Sebelumnya, pada medio 2018, Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni 
mengusulkan nama AHY untuk mengisi kursi Menhan kepada Presiden Joko Widodo 
(Jokowi) jika kembali terpilih di 2019.

Latar belakang AHY di bidang militer, menurut Antoni, cukup mumpuni untuk 
mengurus masalah pertahanan.

Sokongan ini tampak merupakan refleksi dari konsep modal sosial yang 
dikemukakan oleh Sosiolog asal Prancis Pierre Bourdieu dalam publikasinya yang 
berjudul The Forms of Capital.

Dalam pemikirannya, Bourdieu menyebut modal sosial merupakan properti 
individual, bukan kolektif, yang bersumber dari status sosial seseorang. 
Menariknya, secara alamiah modal ini dapat dimanfaatkan untuk memperoleh 
kekuasaan atas sekumpulan orang.

Jika Regina Birner dan Heidi Wittmer dalam Converting Social Capital into 
Political Capital menyebut bahwa modal sosial dapat dikonversi menjadi modal 
politik, support Partai Gerindra dan PSI kiranya sudah menjadi aktualisasi 
predikat kandidat Menhan kepada AHY sebagai modal dalam dimensi sosio-politik.

Selain itu, Menhan juga tampak ideal karena AHY dapat memanfaatkan koneksi 
dengan perwira yang sempat berada dalam jaringan SBY dan dirinya sendiri semasa 
menjabat dahulu.

Sebagai perwira militer berprestasi saat menjabat, AHY juga tampak memiliki 
kapasitas dan jejaring mancanegara berbekal riwayat pendidikannya di Harvard 
University, Webster University, hingga US Army Command and General Staff 
College.

Apalagi jika ada pihak yang menegasikan pangkatnya yang hanya Mayor, preseden 
posisi Menhan di Amerika Serikat (AS) agaknya dapat menjadi kontra-justifikasi 
yang bisa menangkalnya.

Dalam tiga administrasi ke belakang, misalnya, AS sempat memiliki Secretary of 
Defense dengan pengalaman militer yang serupa dengan AHY atau tak sampai 
menjadi jenderal.

Sebut saja nama Mark Esper yang berpangkat Letnan Kolonel dan mengampu posisi 
Menhan di era Presiden Donald Trump. Lalu, ada Menhan era George W. Bush, yakni 
Donald Rumsfeld yang purna tugas dengan pangkat Kapten. Tak ketinggalan pula 
nama Chuck Hagel yang “hanya” bertitel pangkat Sersan kala era Presiden Barack 
Obama.

Atas serangkaian faktor pendukung di atas, nama AHY sekilas cukup kompeten 
untuk menjadi suksesor Prabowo Subianto di Medan Merdeka Barat 13-14.

Tiga alasan tersebut boleh jadi juga cukup untuk menjadi rujukan bahwa AHY dan 
Partai Demokrat “diam-diam” mengincar posisi Menhan di 2024, selain konteks 
legislatif dan kepala daerah.
Lalu, apakah skenario itu akan berjalan mulus bagi AHY jika benar-benar menjadi 
targetnya?

 
Tidak Semudah itu, Ferguso AHY?
Meski memiliki sejumlah faktor pendukung, rujukan terakhir mengenai posisi 
Menhan di AS yang dapat diampu sosok dengan latar belakang militer 
non-jenderal, agaknya sukar menjadi kenyataan di Indonesia. Mengapa demikian?

Pertama, AHY dan Partai Demokrat belum tentu berada dalam koalisi pemenang di 
2024, meski bisa saja berubah haluan.

Kendatipun beralih ke poros pemenang seperti Partai Gerindra di 2019, tak dapat 
dipastikan pula AHY akan diberikan jatah Menhan. Terlebih, ada nama sosok 
dengan latar belakang purnawirawan militer mumpuni lain di 2024, salah satunya 
Jenderal Andika Perkasa.

Kedua, AHY tampak tidak memiliki solid military credential atau kemampuan 
militer solid yang diakui sebagaimana itu menjadi syarat utama dalam analisis 
Jefferson Ng dalam artikelnya yang berjudul How Indonesia’s Defense Ministry 
Has Changed Under Prabowo Subianto.

Jika mengacu pada telaah Ng dalam tulisannya di The Diplomat itu, sosok Menhan 
berlatar belakang militer di Indonesia wajib memiliki reputasi yang solid dan 
punya rekognisi luas.

Paling tidak, sejak era Reformasi, Menhan selalu diampu oleh purnawirawan yang 
minimal punya tiga bintang di pundaknya. Pun dari kalangan sipil, yang di 
periode serupa selalu diisi tokoh dengan predikat profesor.

Apalagi, kultur kemiliteran dan senioritas di Indonesia masih cukup kental. 
Tendensi ini, membuat proyeksi wibawa AHY sebagai Menhan dalam memimpin sederet 
jenderal di bawahnya masih dipertanyakan.

Ketiga, tak hanya berbicara wibawa, skill manajemen sektor pertahanan juga 
menjadi variabel yang tampak masih belum dimiliki AHY.

Terlebih, dalam artikel PinterPolitik yang berjudul Politik Alutsista Musuh 
Terbesar Prabowo? telah dijelaskan bahwa pengelolaan sektor pertahanan 
sangatlah rumit. Tak hanya itu, seorang Menhan juga dinilai akan selalu 
dibayangi tarik menarik vested interest atau aktor eksternal dengan kepentingan 
tertentu dalam perumusan kebijakan pertahanan.

Oleh karena itu, skenario dan urgensi AHY sebagai Menhan masih merupakan jalan 
yang terjal bagi kepentingan legitimasinya secara personal, sekaligus bagi 
Partai Demokrat.

Jika gagal mengampu jabatan di pemerintahan pada 2024, bukan tidak mungkin 
Partai Demokrat semakin memperpanjang torehan menurun di tiga edisi pemilu 
secara beruntun.

Khusus bagi AHY, kegagalan itu boleh jadi juga akan membuat kepemimpinannya di 
Partai Demokrat dipertanyakan dan memantik turbulensi internal.

Akan tetapi, penjabaran di atas masih sebatas interpretasi semata. Yang jelas, 
skenario “nasib” para aktor politik prominen pasca hasil pertarungan 2024 masih 
akan cukup menarik untuk diamati. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/AC3B7BDD2554472E8564A39CBD0D40FC%40A10Live.

Reply via email to