Written byD74Friday, August 19, 2022 22:32

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-lanjutkan-legacy-kegagalan-papua/
Jokowi Lanjutkan Legacy Kegagalan Papua?
Sejak puluhan tahun, pembangunan ekonomi di Papua masih menjadi masalah yang 
belum bisa terselesaikan. Setelah dua periode pun Presiden Joko Widodo (Jokowi) 
belum bisa mengatasi ketimpangan yang terjadi di Bumi Cenderawasih. Mengapa 
demikian?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Beberapa hari yang lalu, bangsa kita baru saja merayakan hari kemerdekaannya 
yang ke-77. Upacara bendera di Istana Negara yang disiarkan sejumlah kantor 
berita menunjukkan perayaan yang meriah.

Bahkan, sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju yang hadir, seperti Menteri 
Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani, 
dan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi ikut merayakan kegembiraan dengan 
turun ke halaman istana dan berjoget ria saat penyanyi cilik Farel Prayoga 
menyanyikan lagu berjudul Ojo Dibandingke.

Namun, di balik kemeriahan tersebut terdapat percikan api yang diam-diam 
membara di Bumi Indonesia Timur, tepatnya, di tanah Papua. Saat melaksanakan 
upacara kemerdekaan, dikabarkan bahwa Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Intan 
Jaya, Papua, diserang oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). 

Bupati Intan Jaya, Natalis Tabuni, mengatakan, ketika upacara mulai digelar, 
kontak bersenjata sempat terdengar antara KKB dan Tentara Nasional 
Indonesia-Kepolisian RI (TNI-Polri). Untungnya, sebelum berkembang jadi lebih 
berbahaya, perseteruan tersebut dapat diredam.

Well, serangan KKB tersebut hanya salah satu dari sejumlah kisah kelam yang 
tersimpan di Bumi Cenderawasih. Nyatanya, wilayah Indonesia yang paling timur 
ini sampai sekarang tetap saja masih menderita ketimpangan ekonomi, sosial, dan 
pembangunan yang tinggi dibanding wilayah lain di Indonesia.

Data dari Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi 
(Kemendes PDTT) menyebutkan bahwa dari 4.982 desa yang berstatus sangat 
tertinggal di Indonesia pada tahun 2022, 3.450 di antaranya terdapat di Papua, 
dan 606 ada di Papua Barat. 

Padahal, Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat terpilih kembali jadi presiden pada 
tahun 2019 berjanji bahwa pembangunan di Papua akan jadi salah satu perhatian 
utama kabinetnya. Dari segi infrastruktur, Jokowi sudah membangun sejumlah tol, 
pelabuhan, bandara, dan beberapa fasilitas lain yang diklaim akan memperkuat 
konektivitas rakyat di sana.

Namun, tetap saja predikat “daerah tertinggal” melekat di Papua, bahkan hingga 
sekarang.

Lantas, kenapa Papua masih belum bisa tertangani dengan benar oleh Jokowi?

 
Belum Pernah Sentuh Akar Permasalahan?
Sudah puluhan tahun pemerintah Indonesia mendorong pembangunan dan pemerataan 
di Papua. Sejumlah kebijakan, mulai dari era kepemimpinan Presiden B. J. 
Habibie, Megawati Sukarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono, sudah 
diberlakukan, tapi tetap saja, permasalahan Papua menjadi pekerjaan rumah yang 
belum kunjung terselesaikan.

Sejumlah pengamat menilai solusi yang ditawarkan pemerintah selama ini belum 
menyentuh akar permasalahan yang menyebabkan kesenjangan begitu parah di Papua.

Ibnu Nugroho, Peneliti Gugus Tugas Papua Universitas Gadjah Mada (GTP UGM) 
dalam tulisannya Mengapa transformasi digital dan kesejahteraan di Papua masih 
jauh tertinggal?, menyebut ada beberapa alasan kenapa Jokowi belum saja bisa 
selesaikan masalah kesenjangan di Papua.

Pertama, permasalahan tentang tingginya ancaman keamanan. Menurut data yang 
dikumpulkan GTP UGM, terdapat 348 kasus kekerasan yang terjadi di Papua mulai 
dari tahun 2010 hingga Maret 2022. Dan aktor utamanya adalah KKB dan aparat 
keamanan TNI-Polri.
Karena konflik bersenjata bisa terjadi kapan saja di Papua, situasi tersebut 
menciptakan suasana yang begitu mencekam dan mendorong rasa tidak aman yang 
sangat tinggi. Jangankan untuk aktivitas bisnis, kegiatan yang sangat mendasar 
saja, seperti belajar mengajar, menjadi tantangan yang begitu besar bagi para 
siswa dan guru yang perlu meresikokan dirinya berangkat ke sekolah.

Terlebih lagi, pemerintah kerap mengirimkan jumlah aparat yang cukup banyak ke 
Papua setiap tahunnya. Di satu sisi, itu mungkin bisa menciptakan rasa 
keamanan, namun kenyataannya kehadiran aparat di sana seakan menjadi tantangan 
bagi para KKB. 

Yang lebih mirisnya lagi, terdapat beberapa catatan bahwa keberadaan angkatan 
bersenjata di Papua justru malah memperkeruh masalah keamanan. Kylie McKenna 
dalam tulisannya BP, security and human rights in West Papua, mengutip tulisan 
Kirksey yang berjudul Don’t Use Your Data as a Pillow, menyebut bahwa ada 
aparat keamanan Indonesia yang kemungkinan mengatur dan terlibat dalam berbagai 
insiden penembakan di sekitar Freeport.

Kirksey bahkan menyebutkan sejumlah perusahaan di Papua menggunakan jasa aparat 
keamanan untuk lakukan tindakan kekerasan dan mendorong sejumlah aksi protes, 
yang beberapa di antaranya menimbulkan permasalahan hak asasi manusia (HAM).

Kedua, Ibnu Nugroho juga menilai alasan krusial lain kenapa Jokowi belum bisa 
membenahi Papua adalah karena terdapat inkonsistensi data kependudukan 
masyarakat di Papua. 

Ketika Pemilihan Umum 2019 (Pemilu 2019), dipercaya ada sebanyak 45,59 persen 
penduduk Papua yang tidak memiliki rekaman data E-KTP.

Lalu, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021 juga menyebutkan 
terdapat hanya 45,19 persen anak berusia di bawah 18 tahun di Papua yang 
memiliki akta kelahiran.

Kemudian, meski data BPS Papua tahun 2020 mencatat bahwa ada sekitar 3,4 juta 
penduduk yang hidup di Papua, data tersebut tidak disertai jumlah spesifik 
penduduk dan sebarannya.

Semua ini, ditambah dengan permasalahan pembedaan status orang asli Papua 
(OAP), non-OAP, dan pendatang, berdampak pada kebuntuan besar dalam sejumlah 
proses penyusunan kebijakan. Sederhananya, kebijakan yang dihasilkan jarang 
sekali berdasarkan demografi yang sebenarnya terdapat di Papua.

Minimnya data dalam pembedaan status masyarakat OAP, non-OAP, dan pendatang pun 
menjadi hal yang tidak kalah penting karena salah satu masalah besar birokrasi 
di Papua adalah mereka tidak memiliki keterwakilan OAP yang mencukupi, 
khususnya di jajaran Pemda.

Ketiga, akar masalah Papua yang juga belum diselesaikan Jokowi adalah lanskap 
ekonomi Papua. Chairil Abdini, pengamat kebijakan publik dari Universitas 
Indonesia dalam tulisannya Alasan mengapa usaha pengembangan wilayah Indonesia 
timur belum berhasil, menilai bahwa Jokowi terlalu melihat Papua sebagai 
wilayah yang siap investasi.

Padahal, kenyataannya Papua adalah wilayah yang masih diderita ketimpangan 
ekonomi dan ketidak amanan. Sebagai dampaknya, ini membuat banyak investor 
takut dan enggan berinvestasi di Papua karena mereka merasa tidak aman dan 
tidak pasti dengan dinamika politiknya. 

Karena itu, pembangunan infrastruktur seakan hanya jadi solusi sementara yang 
tidak menyentuh permasalahan ekonomi sebenarnya di Papua.
Lalu, kenapa pemerintah tetap menggemborkan pembangunan infrastruktur besar di 
Papua?

 
Jokowi Terburu-buru?
Pembangunan infrastruktur dapat menjadi simbol komitmen negara dalam 
mengembangkan suatu wilayah. Masalahnya, pembangunan infrastruktur pun bisa 
menjadi sekadar simbol semata bila tidak mampu menyelesaikan inti permasalahan.

Hal ini disorot oleh Fredick Broven Ekayanta, dalam tulisannya Discourse 
Factors in Infrastructure Development in Indonesia’s Jokowi-JK Era. Di 
dalamnya, Fredick menyimpulkan bahwa pemerintah cenderung melihat wacana 
pembangunan infrastruktur sebagai legitimasi dari komitmen semu dalam 
menyelesaikan sebuah masalah.

Ini kemudian menjadikan pembangunan infrastruktur sebagai solusi pragmatis, di 
mana infrastruktur diharapkan dapat membuka peluang pengembangan ekonomi, 
padahal jika dilakukan secara tergesa-gesa itu hanya akan menjadi solusi yang 
hampa.

Terkait itu, dalam mengkaji perkembangan ekonomi suatu negara, terdapat satu 
teori menarik yang sekiranya sesuai dengan sejumlah kebuntuan kebijakan 
Indonesia, yakni teori compressed development.

D. Hugh Whitaker dan kawan-kawan dalam buku Compressed Development: Time and 
Timing in Economic and Social Development menjelaskan bahwa perkembangan zaman 
dan globalisasi telah membuat sejumlah negara mendapatkan akses perkembangan 
yang luar biasa. Berbeda seperti abad-abad sebelumnya, kini aktivitas ekonomi 
internasional benar-benar bebas dan terbuka.

Sebagai dampaknya, sejumlah negara berkembang mencoba memanfaatkan peluang 
tersebut untuk lakukan pengembangan yang terkompresi. Nah, akibatnya, mereka 
akan menghadapi masalah-masalah lintas aspek secara sekaligus. 

Kebijakan negara-negara yang menerapkan sistem compressed development akan 
direntangkan sedemikian rupa sehingga harus menyentuh tidak hanya aspek 
ekonomi, tapi juga pengembangan sosial, birokrasi, dan keterbatasan sumber daya 
alam (SDA).

Meski terlihat rumit, beberapa negara sebenarnya telah berhasil lakukan 
pengembangan compressed ini, contohnya adalah Tiongkok dan Singapura. Namun, 
pertanyaan besarnya sekarang adalah apakah negara seperti Indonesia, yang 
terlihat juga tengah lakukan compressed development, akan berhasil?

Well, kita bisa lihat sendiri bahwa meski Papua telah berulang kali 
dipromosikan melalui sejumlah ekspo bisnis internasional, dengan memamerkan 
kekayaan alam dan budayanya, nyatanya pembangunan ekonomi di sana tetap saja 
menemui kebuntuan dan menjadi permasalahan yang mungkin tidak jauh berbeda 
dengan keadaan 10 atau 20 tahun yang lalu. 

Pembangunan Papua yang seakan hanya terlihat sebagai upaya daya tarik investor 
ini menjadi refleksi bagi kita semua bahwa upaya pengembangan yang dilakukan 
tergesa-gesa berpotensi akan meninggalkan, bahkan mungkin mengabaikan, 
masalah-masalah krusial yang merongrong masyarakat. 

Pada akhirnya, mungkin bisa kita interpretasikan bahwa Papua tetap akan jadi 
luka Indonesia yang belum bisa kunjung sembuh. Kita harap saja ke depannya 
kebijakan pemerintah untuk membangun Bumi Cenderawasih akan lebih tepat 
sasaran. (D74)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B71FAB7AB9F841358361B40062297B34%40A10Live.

Reply via email to