Written byA43Friday, August 19, 2022 08:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/luhut-dan-penjajahan-baru-ala-tesla/
Luhut dan Penjajahan Baru ala Tesla
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut 
Binsar Pandjaitan sebelumnya mengumumkan bahwa Tesla yang dipimpin oleh Elon 
Musk telah membeli produk nikel Indonesia. Namun, informasi lain mengungkapkan 
bahwa Tesla justru membeli nikel dari dua perusahaan Tiongkok yang beroperasi 
di Indonesia.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Pada September 2021 lalu, sebuah film menarik yang memiliki tema politik 
dirilis dan tayang di banyak negara, termasuk Indonesia. Judul film yang 
dibintangi oleh Timothée Chalamet dan Zendaya berjudul Dune (2021) ini 
berangkat dari kisah dalam novel yang berjudul sama karya Frank Herbert yang 
terbit pada tahun 1965 silam.

Mengapa film ini bisa dibilang memiliki tema politik? Gambaran permainan 
politik ini sangat terlihat dari perebutan kekuasaan dari keluarga-keluarga 
bangsawan – seperti antara keluarga Harkonnen dan keluarga Atreides.

Tidak hanya perebutan kekuasaan atas posisi dan kewenangan politik saja, 
Atreides dan Harkonnen juga bersaing untuk memperebutkan sumber daya alam yang 
hanya ada di Arrakis, yakni “rempah-rempah” atau “spice”. Mineral tersebut 
menjadi berharga karena hanya bisa didapatkan dari planet Arrakis.

Perebutan kekuasaan atas kewenangan terhadap sumber daya alam seperti ini 
setidaknya menggambarkan realitas politik di dunia nyata. Contoh historis yang 
paling mirip bisa dibilang adalah kolonisasi yang dilakukan bangsa-bangsa Eropa 
di segala penjuru dunia – mulai dari Afrika, Amerika, hingga Asia. 

Tidak dapat dipungkiri, perebutan akses terhadap sumber daya alam juga terjadi 
di antara bangsa-bangsa Eropa sendiri. Kepulauan Maluku yang dijuluki sebagai 
Kepulauan Rempah (Spice Islands) oleh bangsa-bangsa Eropa, misalnya, menjadi 
salah satu wilayah di bumi Asia yang diperebutkan karena sumber daya alam yang 
dimilikinya.

Perebutan untuk penguasaan sumber daya rempah-rempah di Maluku terjadi pada 
abad ke-16 dan abad ke-17 antara Belanda dan Portugis. Bahkan, persaingan 
sempat berujung pada peperangan sekitar tahun 1600-an – juga melibatkan 
kerajaan setempat seperti Kesultanan Ternate.

  
Namun, siapa sangka bila persoalan sumber daya ini masih terjadi di masa 
kontemporer seperti sekarang. Perusahaan mobil listrik dari Amerika Serikat 
(AS) yang bernama Tesla, misalnya, mencari sumber-sumber mineral di luar AS 
untuk dijadikan baterai litium – salah satunya adalah nikel yang dimiliki oleh 
Indonesia.

Tentu saja, seperti Atreides yang bekerja dengan warga setempat Fremen, Tesla 
pun perlu bekerja sama dengan pemerintah setempat, yakni pemerintah Indonesia. 
Namun, hal demikian tidak terjadi.

Pasalnya, meski Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko 
Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengumumkan bahwa Tesla telah membeli 
produk-produk nikel Indonesia, sumber informasi lain mengatakan bahwa Tesla 
yang dipimpin oleh Elon Musk justru membeli nikel Indonesia bukan dari 
perusahaan Indonesia, melainkan dari dua perusahaan asal Republik Rakyat 
Tiongkok (RRT).

Bukan tidak mungkin, akhirnya sejumlah pertanyaan muncul. Mungkinkah ini bentuk 
perebutan sumber daya baru layaknya kolonisasi atau penjajahan di masa lalu? 
Mengapa bisa saja informasi ini menggambarkan adanya “Dune” baru di Indonesia 
kala era kontemporer?
Koneksi Luhut, Tesla, dan Tiongkok
Salah satu faktor yang bisa jadi menyebabkan hal demikian terjadi adalah 
bagaimana sejarah perusahaan-perusahaan asal Tiongkok tersebut bisa masuk dan 
beroperasi di Indonesia. Pasalnya, Luhut merupakan salah satu figur di 
pemerintahan Jokowi yang paling getol dalam mendorong hilirisasi nikel. 

Luhut bisa dibilang menjadi salah satu pemimpin diplomatik yang berpengaruh 
dalam politik luar negeri Indonesia. Mengacu pada tulisan Noto Suoneto berjudul 
How Prabowo Subianto Has Helped Shape Indonesia’s Foreign Policy, sang Menko 
Marves memiliki peran besar dalam diplomasi ekonomi yang dijalankan oleh 
pemerintahan Jokowi.

Dengan peran Luhut yang besar dalam diplomasi ekonomi Indonesia, menjadi 
menarik pula untuk diamati tipe kepemimpinan diplomatik seperti apa yang 
dijalankan oleh mantan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) tersebut. Bukan tidak 
mungkin, ini juga berkaitan dengan hubungan diplomatik yang dibangun dalam 
kebijakan diplomasi ekonominya.

Negara mana lagi yang seakan-akan mendapatkan perlakuan khusus dari diplomasi 
ekonomi Luhut bila bukan Tiongkok? Dalam banyak pertemuan tingkat tinggi dengan 
Tiongkok, Menko Marves selalu hadir.

  
Bahkan, Luhut sering menyebut Menteri Luar Negeri (Menlu) Tiongkok Wang Yi 
sebagai sahabatnya. Sang Menko Marves juga pernah menyebutkan bahwa kebangkitan 
ekonomi Tiongkok adalah sesuatu yang tidak terhindarkan (inevitable) bagi 
Indonesia.

Dua perusahaan Tiongkok yang disebut menjadi mitra bagi Tesla untuk pengadaan 
nikel juga merupakan investor yang mana Luhut bisa saja mengambil peran agar 
perusahaan-perusahaan itu bisa masuk ke Indonesia.

Zhejiang Huayou Cobalt, misalnya, merupakan salah satu investor Tiongkok yang 
menanamkan modalnya untuk smelter nikel di Indonesia. Berdasarkan laporan Media 
Nikel Indonesia, Huayou merupakan salah satu perusahaan investor yang 
melaporkan langsung komitmen investasinya kepada sang Menko Marves saat 
berkunjung ke Tiongkok.

Menariknya, bukan hanya Luhut yang dinilai memiliki kedekatan hubungan dengan 
Tiongkok, melainkan juga Tesla dan BlackRock – salah satu pemegang saham besar 
di Tesla. Elon Musk, misalnya, seakan-akan menjadi contoh lambang kesuksesan di 
Tiongkok.

Tesla juga menjadi salah satu perusahaan pertama yang berbisnis di Tiongkok 
tanpa harus disyaratkan untuk menggandeng perusahaan lokal. BlackRock sendiri 
juga memiliki investasi di Tiongkok dengan nilai hingga USD1,03 miliar (sekitar 
Rp14,4 triliun).

Terbangunnya relasi antara Tiongkok, Tesla, dan Luhut ini bukan tidak mungkin 
akhirnya menciptakan kondisi yang membuat kesepakatan-kesepakatan – yang mana 
bisa jadi tidak menguntungkan Indonesia – menjadi mungkin.
Maka dari itu, sejumlah pertanyaan lanjutan pun muncul. Bagaimana dampaknya 
kepada Indonesia? Mengapa situasi seperti ini mulanya bisa tercipta?

 
Penjajahan Baru Untungkan Siapa? 
Informasi mengenai kesepakatan pembelian nikel Indonesia oleh Tesla yang justru 
dilakukan dengan perusahaan-perusahaan Tiongkok ini bukan tidak mungkin malah 
menciptakan kondisi penjajahan baru. Boleh jadi, eksploitasi sumber daya alam 
yang justru lebih banyak menguntungkan pihak asing adalah bentuk 
neo-kolonialisme.

Istilah neo-kolonialisme sendiri dimunculkan oleh Presiden pertama Ghana Kwame 
Nkrumah akibat konteks kontrol negara-negara Eropa terhadap benua Afrika yang 
masih kuat meskipun negara-negara dunia ketiga tersebut mulai merdeka.

Pola ini dapat dijelaskan melalui teori ketergantungan (depencency theory). 
Dengan struktur ekonomi yang terbangun antar-negara, negara-negara miskin dan 
berkembang (periphery dan semi-periphery) akan tetap bergantung kepada 
negara-negara maju (core).

Investasi yang tidak menciptakan transfer teknologi, misalnya, akan membuat 
negara miskin dan berkembang tetap tidak memiliki penguasaan ilmu dan teknologi 
yang dibutuhkan dalam pembangunan ekonomi mereka. Hal inilah yang menjadi miris 
bila dikaitkan dengan apa yang terjadi dalam kesepakatan pembelian nikel Tesla 
dengan perusahaan-perusahaan Tiongkok.

Padahal, pemerintahan Jokowi mendorong adanya hilirisasi nikel dengan alasan 
penambahan nilai pada nikel dan transfer teknologi. Namun, dengan minimnya 
keterlibatan entitas lokal atau nasional, bukan tidak mungkin dua hal ini malah 
tidak terwujud.

Pada akhirnya, apa yang dilakukan Luhut dan pemerintahan Jokowi pada umumnya 
hanya menguntungkan pihak asing – dan mungkin segelintir elite lokal. Dan, bila 
ini benar terjadi, ini menjadi apa yang disebut oleh Raymond E. Crist dalam 
tulisannya berjudul The Pattern of Neocolonialism sebagai salah satu pola 
neo-kolonialisme, yakni plutokrasi.

Plutokrasi sendiri merupakan istilah yang menggambarkan bagaimana sebuah negara 
justru didominasi oleh orang-orang kaya yang lebih mencari keuntungan bagi diri 
mereka sendiri – bukan untuk kepentingan masyarakat sepenuhnya. Dan, bila ini 
benar terjadi di Indonesia, ini menjadi persoalan yang harusnya menjadi 
perhatian kita bersama.

Alhasil, Indonesia bisa saja hanya menjadi “Dune” baru seperti yang ada dalam 
film yang dibintangi Timothée Chalamet dan Zendaya. Apalah daya yang dimiliki 
warga lokal seperti Fremen yang hanya bisa melihat mineral di tanahnya 
dieksploitasi oleh para penguasa besar yang hanya berorientasi pada profit. 
(A43)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/E67F1EA7BFFD460798EBCC224AE84A03%40A10Live.

Reply via email to