AS yang Selalu Berbohong Dalam Masalah Taiwan, Hendaknya Tidak Meneruskan 
Kesalahan Lagi
2022-08-24 
11:48:13https://indonesian.cri.cn/2022/08/24/ARTIbuyvm6qn2M2aZh5UvSAU220824.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.2


Baru-baru ini, beberapa pejabat senior Amerika Serikat berturut-turut 
memberikan pernyataan terkait kunjungan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS Nancy 
Pelosi ke Taiwan, Tiongkok. Mereka memfitnah Tiongkok ‘bereaksi berlebihan’ 
terhadap kunjungan Pelosi tersebut sehingga ‘menimbulkan krisis dalam hubungan 
Tiongkok-AS’, tindakan itu bertujuan menimpakan kesalahan kepada pihak 
Tiongkok. Sejumlah politikus AS bahkan terus melakukan kunjungan ke Taiwan 
sehingga meningkatkan ketegangan situasi Selat Taiwan. 

Melakukan provokasi, menyangkal kesalahan, mencari alasan dan menimpakan 
kesalahan, inilah cara yang sering dilakukan AS dalam urusan internasional. 
Akan tetapi, kebohongan selalu dikalahkan oleh kenyataan. Alasan kunjungan 
Pelosi ke Taiwan Tiongkok sangat jelas, AS tidak dapat menyangkal dan berdalih. 

Melihat kembali krisis Selat Taiwan ini, siapa pun yang tidak berprasangka akan 
menyadari bahwa hal ini direncanakan dan diprovokasi oleh AS sendiri. Dengan 
tujuan kepentingan politik pribadinya, dengan persetujuan dan pengaturan 
pemerintah AS, Pelosi bersikeras mengunjungi Taiwan, tindakan itu dengan serius 
melanggar prinsip Satu Tiongkok dan peraturan tiga komunike Tiongkok-AS, dengan 
serius merugikan kedaulatan dan keutuhan wilayah Tiongkok, dengan serius 
merusak perdamaian dan kestabilan Selat Taiwan, serta dengan serius menyerang 
dasar politik hubungan Tiongkok-AS. 

Sedangkan sebelum isu ini terjadi, pihak Tiongkok pernah dengan tegas 
menyatakan pertentangannya dan berulang kali menekankan keseriusan dan bahaya 
kunjungan Pelosi ke Taiwan. Tiongkok menunjukkan bahwa segala risiko yang 
muncul akan dipikul oleh AS sendiri, dapat dikatakan bahwa Tiongkok sudah 
memberikan peringatan sebelumnya. 

Sementara itu, tokoh-tokoh mancanegara pun mengeluarkan peringatan atas 
kemungkinan terjadinya krisis akibat kunjungan Pelosi ke Taiwan. Mantan PM 
Australia Paul Keating menunjukkan, sulit dibayangkan masih ada ‘tindakan yang 
lebih ceroboh dan provokatif’ daripada ini, apabila salah menilai atau salah 
menangani situasi, maka keamanan, kemakmuran dan ketertiban kawasan ini bahkan 
seluruh dunia akan menghadapi konsekuensi bencana. 

Setiap negara dianugerahi hak oleh hukum internasional untuk mengambil tindakan 
yang diperlukan dalam memelihara kedaulatan dan keutuhan wilayahnya dan 
mencegah intervensi eksternal. Menghadapi provokasi buruk pihak AS, Tiongkok 
tidak memiliki pilihan lain, dan harus memberikan balasan. Serangkaian tindakan 
balasan yang diambil Tiongkok bertujuan untuk memperingatkan pelaku kejahatan, 
menghukum kekuatan ‘Taiwan Merdeka’, membela kepentingan inti negara, dan 
sesuai dengan hukum internasional dan domestik. 

Sekitar 170 negara dan sejumlah organisasi internasional menegaskan kembali 
bahwa mereka terus berpegang pada prinsip Satu Tiongkok, serta mendukung 
Tiongkok memelihara kedaulatan dan keutuhan wilayahnya.

AS menyebut bahwa Tiongkok membuat apa yang disebut sebagai ‘new normal’ 
melalui krisis Selat Taiwan, menyebut bahwa tentara Tiongkok menunjukkan 
kekuatan militer besarnya kepada Taiwan. Akan tetapi, Taiwan sepenuhnya adalah 
wilayah Tiongkok, menghadapi provokasi eksternal, tindakan tentara Tiongkok 
yang melakukan latihan militer di perairan terkait untuk membela kedaulatan 
negara dan keutuhan wilayah adalah melaksanakan misi konstitusi dan 
Undang-Undang Anti Pemisahan Negara Tiongkok. 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/33A59A97EA57477EA4214BA78FDD457A%40A10Live.

Reply via email to