Written byA43Friday, August 26, 2022 08:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/bukan-rizieq-anies-uas-cocok/
Bukan Rizieq, Anies-UAS Cocok?
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan baru saja mendapatkan sebuah kunjungan 
kejutan dari seorang penceramah populer, Ustadz Abdul Somad (UAS). Mungkinkah 
kejutan ini bisa berkaitan dengan kontestasi politik elektoral pada tahun 2024 
mendatang?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “You’ve moved on, found someone new” – Olivia Rodrigo, “happier” (2021)

Terdapat sebuah kenyataan yang perlu disadari oleh setiap makhluk hidup di muka 
Bumi ini. Pesan yang perlu diinternalisasi ini adalah kenyataan bahwa tidak ada 
yang abadi di dunia.

Ketika sebuah hubungan berakhir, misalnya, sedikit merasa bersedih pun 
sebenarnya wajar. Siapa tahu kalau kita semua yang memiliki pengalaman pahit 
seperti ini membutuhkan kisah-kisah yang terasa cocok seperti yang terkandung 
dalam lirik-lirik lagu Olivia Rodrigo di awal tulisan?

Namun, cara terbaik dalam membuat kita cepat pulih akan pengalaman pahit itu 
adalah dengan tetap melangkah ke depan tanpa harus memberatkan apa yang terjadi 
masa lalu. Masa lalu tetaplah menjadi masa lalu.

Mungkin, rasa sedih seperti ini yang kini tengah dirasakan oleh Habib Rizieq 
Shihab (HRS) menjelang kontestasi politik elektoral menuju tahun 2024 
mendatang. Meski sempat menjalani hukuman penjara, sosok pemimpin kelompok 
Persaudaraan Alumni (PA) 212 ini dianggap memiliki kecenderungan dukungan 
politik pada sosok calon presiden (capres) potensial tertentu, yakni Gubernur 
DKI Jakarta Anies Baswedan.

Namun, sinyal bahwa Anies tidak lagi memiliki kedekatan politik dengan HRS ini 
terlihat ketika Imam Besar PA 212 tersebut bebas pada bulan Juli 2022 lalu. 
Berbeda dengan situasi saat HRS pulang dari Arab Saudi pada tahun 2020 silam, 
Anies justru tidak mengunjungi Imam Besar tersebut.

Dalam hitung-hitungan politik, HRS pun dinilai tidak benar-benar bisa 
memberikan keuntungan politik bagi Anies. Mengacu pada artikel 
PinterPolitik.com berjudul Rizieq Shihab Tidak Berkutik di 2024?, Anies bisa 
saja telah memiliki kekuatan politik yang lebih kuat di belakangnya daripada 
HRS, yakni mantan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) yang disebut-sebut 
bisa menjadi king maker bagi Anies.

Meski begitu, peran yang dibawa oleh HRS dan JK merupakan dua peran yang 
sebenarnya berbeda. Ketika JK bisa menjadi king maker bagi Anies, HRS 
sebenarnya memiliki kekuatan massa yang memiliki pengaruh yang besar, khususnya 
di Jakarta.

Dengan kekuatan massa yang besar, tentu muncul sejumlah pertanyaan. Mengapa 
kemudian Anies tampak tidak lagi mendekati HRS dan PA 212? Mungkinkah ada sosok 
pengganti HRS yang justru dinilai lebih cocok untuk Anies?

 
UAS Adalah Kunci?
Bila dibandingkan dengan capres-capres potensial lainnya – seperti Gubernur 
Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo dan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan 
Kamil (RK), Anies merupakan capres potensial yang dianggap memiliki basis suara 
potensial di kalangan religius. Oleh sebab itu, basis suara dari kelompok 
Muslim menjadi penting bagi Anies – bila ingin maju sebagai capres pada 
Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang. 

Namun, latar belakang Anies sendiri bukanlah seorang ulama yang jelas lebih 
memiliki pengaruh di kelompok ini. Maka dari itu, kehadiran seorang ulama atua 
pemuka agama Islam bisa menjadi kunci Anies untuk mengamankan basis suara 
tersebut.
Sebelumnya, kehadiran HRS dan Front Pembela Islam (FPI) membuat Anies bisa 
mengamankan basis suara tersebut dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI 
Jakarta 2017. Kemunculan HRS dan FPI juga terjadi akibat momentum politik yang 
terjadi pada kontroversi Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok terkait kasus 
penistaan agama.

Berkaca dari dinamika perpolitikan Pilkada DKI Jakarta saat itu, tentu basis 
suara ini menjadi salah satu penentu utama dalam kemenangan Anies. Ini pun 
tidak lepas dari peran HRS dalam memobilisasi massanya di FPI.

Mengapa peran HRS begitu penting dalam dinamika politik saat itu? Jawabannya 
adalah “senjata” yang dimiliki oleh HRS – yang disebut sebagai spiritual 
capital (modal spiritual).

Dalam artikel PinterPolitik.com berjudul Spiritual Capital, Senjata Rizieq?, 
dijelaskan bahwa konsep modal spiritual ini berangkat dari pendekatan sosiolog 
asal Prancis bernama Pierre Bourdieu, yakni konsep-konsep modal seperti modal 
sosial, modal kultural, dan modal simbolis.

  
Mengacu pada tulisan Bradford Verter berjudul Spiritual Capital, modal 
spiritual merupakan salah satu bentuk modal kultural yang terejawantahkan dalam 
tiga bentuk utama, yakni yaitu bentuk modal yang telah melekat (embodied 
state), modal yang disalurkan dalam objek (objectified state), dan modal yang 
disalurkan dalam institusi (institutionalized state).

HRS bisa jadi memiliki modal melekat dengan pengetahuan agama yang mendalam. 
Dengan pengetahuan tersebut, Imam Besar dari PA 212 itu bisa mempengaruhi dan 
mengontrol massa dalam jumlah besar di kelompok Muslim.

Namun, apakah hanya HRS yang memiliki modal demikian? Tentu, terdapat banyak 
ulama dan pemuka agama lainnya yang memiliki modal pengetahuan agama yang 
mendalam. Salah satunya adalah UAS.

Bila UAS dan HRS memiliki modal tersebut, lantas, apa yang membuat UAS memiliki 
kelebihan pada tingkat tertentu bila dibandingkan dengan HRS? Faktor pembeda 
apa yang bisa membuat Anies lebih memilih UAS dibandingkan HRS?

Daripada Rizieq, Lebih Cocok UAS?
Baik HRS maupun UAS sama-sama memiliki pengaruh yang besar di kelompok Muslim – 
khususnya kelompok konservatif. Namun, dua pemuka agama ini tetap saja memiliki 
perbedaan di antara satu sama lain.

HRS bisa dibilang memiliki gaya ceramah yang lebih kontroversial. Banyak video 
yang tersebar di media sosial (medsos) justru menggunakan kata-kata yang 
dinilai kasar. Berbeda dengan HRS, UAS lebih memilih kata-kata yang tidak 
menimbulkan kontroversi. 

Seperti yang dijelaskan oleh James Boyd White dalam bukunya berjudul When Words 
Lose Their Meaning, kata-kata (words) tidak hanya mempengaruhi diskursus dalam 
poliitik, melainkan juga turut membentuk komunitas dan kehidupan bermasyarakat.

 
Bukan tidak mungkin, pemilihan kata ini menjadi perhatian bagi sebagian 
masyarakat Indonesia – khususnya masyarakat yang lebih membudayakan nilai-nilai 
harmoni seperti masyarakat Jawa. Boleh jadi, ini menjadi salah satu alasan 
mengapa HRS tidak begitu populer di Jateng dan Jawa Timur (Jatim).

Sementara, Anies sendiri kerap memilih penggunaan kata yang santun. Citra 
santun yang dibangun Anies juga bisa jadi berkaitan dari bagaimana Gubernur DKI 
Jakarta tersebut menampilkan dirinya sebagai seorang Jawa.

Dampak dari penggunaan bahasa ini akhirnya berkaitan juga dari bagaimana HRS 
dan UAS memiliki luas jangkauan (outreach) yang berbeda secara nasional. Bila 
HRS benar-benar tidak disukai di Jateng dan Jatim, UAS masih memiliki celah 
untuk bisa memiliki outreach di wilayah-wilayah itu.

Dari sisi kelompok Muslim tradisionalis seperti Nahdlatul Ulama (NU) yang 
dominan di Jatim, misalnya, UAS masih memiliki kedekatan tertentu. Dalam 
beberapa kesempatan, pemuka agama dari Sumatera tersebut masih disebut sebagai 
bagian dari NU.

Faktor pembeda kontras antara HRS dan UAS inilah yang mungkin menjadi 
pertimbangan Anies bila ingin memeluk berbagai kelompok Muslim di Indonesia. 
Mungkin, HRS bisa dominan di Jakarta. Namun, HRS masih banyak memiliki 
kelemahan di wilayah-wilayah Indonesia lainnya.

Bila gambaran di atas benar adanya, bukan tidak mungkin Anies akan lebih merasa 
cocok untuk menggandeng UAS dibandingkan HRS. Dengan modal spiritual UAS, Anies 
bisa saja berkesempatan untuk mendapatkan jangkauan yang lebih luas di 
kelompok-kelompok Muslim yang berbeda-beda.

Mungkin, seperti lirik Olivia Rodrigo di awal tulisan, kini sudah saatnya Anies 
move on dari HRS dan menemukan sosok baru untuk digandengnya, yakni UAS. 
Lagipula, dalam sebuah “hubungan”, kebahagiaan mutual justru sangat penting. 
Bukan begitu? (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B939E265B1F34EB38C872252CFAC6072%40A10Live.

Reply via email to