Written byS13Wednesday, August 31, 2022 06:50

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kasus-sambo-untungkan-jokowi/
Kasus Sambo Untungkan Jokowi?
Bergulirnya kasus pembunuhan Brigadir J yang melibatkan Irjen Ferdy Sambo 
memang menarik perhatian masyarakat luas. Isu ini bahkan mengalahkan narasi 
krisis ekonomi yang kini menjadi hantu bagi banyak negara, termasuk Indonesia. 
Kasus Sambo bak sinetron yang membius masyarakat dan seolah sedikit tergeser 
perhatiannya dari beberapa wacana besar, misalnya terkait narasi kenaikan harga 
bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Dalam konsep kontrol isu, kasus Sambo 
justru menguntungkan pemerintahan Presiden Jokowi.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “In politics, nothing happens by accident. If it happens, you can bet it was 
planned that way”.

  ::Franklin D. Roosevelt, Presiden ke-32 Amerika Serikat::

There are no accidents. Tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Dalam konteks 
politik, kata-kata itu identik dengan Franklin D. Roosevelt. Namun, para 
penggemar seri film Kung Fu Panda pasti tahu bahwa kata-kata itu menjadi milik 
dari sang guru nan bijak, Master Oogway.

Well, versi siapa pun itu, yang jelas kalau bicara soal isu-isu yang terjadi di 
kehidupan sehari-hari, spekulasi bahwa hal tertentu memang sengaja 
“diterjadikan” selalu saja muncul. Termasuk juga dalam kasus yang saat ini 
tengah hangat-hangatnya bergulir dengan tajuk “Ferdy Sambo dan Pembunuhan 
Brigadir J”.

Sepertinya memang tidak perlu dijelaskan panjang lebar kasus ini seperti apa 
karena publik rata-rata sudah mengikuti duduk persoalannya. Versi singkatnya 
mungkin bisa dirangkum bahwa telah terjadi pembunuhan terhadap Brigadir J atau 
yang bernama lengkap Nofriansyah Yosua Hutabarat, yang kemudian dituduhkan 
didalangi oleh atasannya sendiri, mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan 
Polri (Propam) Irjen Ferdy Sambo.

Kasus ini kemudian menjadi pergunjingan masyarakat karena hingga saat ini motif 
pembunuhannya masih melahirkan spekulasi dan praduga. Awalnya, polisi menyebut 
soal dugaan pelecehan seksual yang menimpa istri Ferdy, Putri Candrawathi, yang 
kini juga sudah ditetapkan sebagai tersangka. Namun, isunya kini berkembang 
jadi perselingkuhan, lalu soal informasi tentang backingan bisnis judi online 
dengan tajuk “Konsorsium 303”, hingga yang terbaru soal dugaan terkait relasi 
LGBT.

Yang membuat kasus ini menjadi menarik adalah karena keterlibatan Menteri 
Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD dalam 
hampir setiap kesempatan menyampaikan komentar-komentarnya ke hadapan 
masyarakat. Tidak heran, Mahfud sempat dicap sebagai “Menteri Komentator”.

Kehadiran komentar Mahfud juga membuat kasus ini jadi makin panas 
dipergunjingkan, misalnya soal motif yang disebut Mahfud “konsumsi orang 
dewasa” atau kata-kata “menjijikkan”. Hal yang kemudian jadi pertanyaan adalah 
apakah pemerintah memang sengaja “ikut terlibat” dalam kasus ini, sehingga 
pergunjingannya makin membesar?

Benarkah tuduhan bahwa kasus ini justru bisa menguntungkan Presiden Joko Widodo 
(Jokowi) yang sedang butuh isu besar sebagai diversion atau pengalihan terhadap 
isu ekonomi yang sedang dihadapi Indonesia – misalnya terkait narasi kenaikan 
harga BBM, jebolnya APBN, dan lain sebagainya?
 
Jokowi dan Kunci Managemen Isu
Keterlibatan Mahfud MD di kasus ini memang tidak dipungkiri karena tugas pokok 
dan fungsi alias tupoksi-nya di bidang hukum dan keamanan. Apalagi, kasus Sambo 
menyangkut institusi Polri yang nota bene menjadi institusi penegak hukum. Jika 
kasus ini tidak dikawal pemerintah – dalam hal ini lewat Mahfud – situasi yang 
ditimbulkan dan efek yang terjadi di masyarakat bisa saja menjadi lebih buruk.

Publik bisa saja kehilangan kepercayaan pada polisi dan ujung-ujungnya berbagai 
aksi kerusakan terhadap tertib masyarakat karena anggapan bahwa polisi saja 
tidak bisa dipercaya dalam penegakan hukum, bisa membuncah dan berubah menjadi 
chaos. Baik Jokowi maupun Mahfud tentu tidak ingin hal ini terjadi.

Namun, jika kita memutar koin sisi lain soal keterlibatan pemerintah – jika 
ingin disebut demikian – dalam kasus Sambo ini, maka sebetulnya ada poin 
manajemen isu yang bisa saja memang tengah dimainkan. Dalam ilmu politik dan 
komunikasi publik, ada teori yang disebut sebagai agenda-setting atau 
pengaturan agenda.

Teori ini dikembangkan oleh Max McCombs dan Donald Shaw ketika melakukan studi 
terhadap Pilpres Amerika Serikat (AS) di tahun 1968. Intisari dari teori ini 
berpusat pada kemampuan seseorang – baik politisi secara personal maupun 
pemerintah – untuk menempatkan isu tertentu dalam perbincangan masyarakat.

Konteks agenda-setting ini bisa terjadi karena ada efek media massa. Ini karena 
media massa bisa mempengaruhi cara pandang audiens atau pembacanya dan 
membentuk apa yang disebut sebagai hierarchy of news prevalence atau hirarki 
isu yang dibicarakan masyarakat.

Cara penyampaian berita tertentu oleh media bisa membuat publik lebih suka 
melihat berita A dan mengikutinya dari waktu ke waktu, ketimbang berita B yang 
secara kemasan dan “ceritanya” lebih kurang menarik dibandingkan berita A.

Konsepsi tentang agenda-setting ini juga berangkat dari pemikiran penulis asal 
AS, Walter Lippmann. Di tahun 1922, Lippmann menerbitkan salah satu karyanya 
yang paling terkenal berjudul Public Opinion. Dalam buku ini, Lippmann 
berargumentasi bahwa media masa adalah penghubung utama antara masyarakat 
dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia.

Pada tahun 1963, argumentasi Lippmann ini kemudian diteruskan oleh ilmuwan 
politik asal AS, Bernard Cohen, yang menyebutkan bahwa media massa memainkan 
peran sangat besar untuk menentukan isu apa yang dipikirkan oleh masyarakat.
Intinya, isu tertentu memang bisa begitu digaungkan ke hadapan publik, sehingga 
publik teralihkan dari isu yang lain. Walaupun penekanannya ada pada posisi 
media massa itu sendiri, nyatanya aktor agenda-setting tidak melulu media. 
Orang perorangan, institusi tertentu, dan tentu saja pemerintah bisa saja ikut 
terlibat dalam proses mempengaruhi opini publik.

 
Masyarakat Sinetron
Dalam konteks kasus Sambo, isu ekonomi memang menjadi salah satu hal yang bisa 
dilihat. Pasalnya, pemberitaan kasus Sambo membuat masyarakat teralihkan dari 
kondisi ekonomi negara yang saat ini cukup pelik.

Ada isu tentang kenaikan harga BBM yang sebentar lagi sepertinya akan 
diputuskan. Isu BBM ini akan sangat vital karena berpotensi mendistorsi hampir 
semua sektor perekonomian, utamanya di masyarakat kelas terbawah. Harga-harga 
kebutuhan pokok bisa saja ikut naik karenanya.

Kemudian ada isu soal APBN Indonesia yang berpotensi jebol hingga Rp 700 
triliun – sekalipun narasinya juga masih berkaitan dengan masalah BBM tadi. 
Belum lagi soal utang negara yang sudah menyentuh angka Rp 7 ribu triliun. 
Lalu, dengan kesulitan keuangan yang terjadi, pemerintah nyatanya masih 
meneruskan proyek Ibu Kota Negara (IKN) yang oleh banyak pihak dianggap justru 
makin membebankan negara.

Dengan kata lain, isu Sambo cukup membuat perbincangan mengenai kondisi ekonomi 
terpinggirkan narasinya dibandingkan drama dan motif pembunuhan Brigadir J. Ini 
sekali lagi menegaskan bahwa sengaja atau tidak sengaja, keterlibatan 
pemerintah yang besar lewat Mahfud MD, justru pada akhirnya dinilai 
menguntungkan pemerintah dalam konteks manajemen isu.

Ini penting karena manajemen isu adalah salah satu poin sukses atau tidaknya 
sebuah pemerintahan yang berkuasa. Bagaimanapun juga, dengan masyarakat larut 
dalam kasus Sambo yang bergulir bak sinetron, kita sedikit lupa soal mulai 
naiknya harga-harga barang atau kubangan utang yang berlipat ganda.

Mungkin ada baiknya, sekalipun mengikuti kasus Sambo – karena kasus ini memang 
layak untuk dikawal – kita tidak melupakan isu-isu penting lainnya juga. Karena 
dengan demikian, kita telah sukses menjadi masyarakat yang lebih kritis akan 
keadaan. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/37D8CB3EB6FA49CEBE21DC785A088BE0%40A10Live.

Reply via email to