Perkembangan Politik Pertahanan Jepang dan Pengaruhnya ke Indonesia
Norman Meoko
- Minggu, 4 September 2022 | 06:15 WIB
    
https://www.sinarharapan.co/opini/pr-3854390015/perkembangan-politik-pertahanan-jepang-dan-pengaruhnya-ke-indonesia

Perdana Menteri Jepang yang juga pemimpin Partai Demokrat Liberal, Fumio 
Kishida.(Dok/AP)
SINAR HARAPAN - Partai Liberal Demokrat (LDP) yang tengah berkuasa di Jepang 
dibentuk pada 1955. LDP merupakan gabungan antara Partai Liberal dan Partai 
Demokrat.  Keduanya merupakan partai konservatif sayap kanan.

Lawannya adalah Partai Sosialis Jepang atau sekarang menjadi Partai Demokratik 
Sosial.

Bila LDP menolak pembukaan hubungan diplomatik dengan China pada 1970-an, 
Partai Demokrat Sosial dan Partai Komunis Jepang justru mendukung.

LDP juga mempunyai hubungan kuat dengan badan intelijen Amerika Serikat (AS). 
CIA mendukung LDP dalam pemilihan anggota parlemen Jepang.

Konon komponen inti LDP adalah kalangan militer dan nasionalis yang menjadi 
penggerak ekspansi Jepang ke China, Semenanjung Korea dan Asia Tenggara pada 
Perang Dunia II.
Ketika Jepang kalah, mereka dijatuhi hukuman oleh pengadilan sekutu. 
Dipenjarakan kemudian dibebaskan. Lalu mendirikan  Partai Liberal dan Demokrat.

LDP terdiri dari tujuh faksi. Mereka adalah Shikokai, Seiwa Seisaku Kenyukai, 
Heisei Kenkyūkai, Kōchikai, Shisuikai, Suigetsukai dan Kinmirai Seiji Kenkyūkai.

Perdana Menteri Fumio Kishida misalnya, berasal dari faksi Kochikai. Kishida 
sekalipun bertahun-tahun menjadi Menlu di bawah PM Shinzo Abe namun dijuluki 
‘merpati’ dalam LDP. Kishida hanya memberikan persembahan ke kuil Yasukuni.

Beda dengan Abe yang dianggap nasionalis garis keras. Abe mendukung pencabutan 
pasal 9 yang membatasi peran angkatan bersenjata Jepang.

Abe juga mengunjungi kuil Yasukuni di Tokyo. Di mana nama 14 penjahat perang 
kelas A, salah satu di antaranya PM Hideki Tojo yang didakwa oleh pengadilan 
sekutu pada 1948 diabadikan di kuil tersebut. Tojo diangkat menjadi dewa.

Taro Aso yang kini menjadi Wapres LDP. Menjadi PM Jepang (2008-2009). Wakil PM 
dan Menkeu (2012-2021). Menlu (2004-2005) dan Menteri Komunikasi dan 
Masalah-Masalah Internal (2003-2005) berasal dari faksi  Shikokai.  Faksi 
Shikokai seringkali disebut sebagai faksi Aso sebab Aso menjadi pemimpin faksi.

Faksi Seiwa Seisaku Kenkyukai juga disebut faksi Hosoda. Almarhum PM Shinzo Abe 
merupakan anggota faksi Hosoda.

Secara umum faksi berarti sekelompok individu yang mempunyai kesamaan pandangan 
atau cara dalam mencapai kekuasaan. Mereka dipersatukan antara lain oleh 
kecerdasan, keluarga, faham, wilayah pemilihan dan kepentingan sesaat termasuk 
fulus.

Faksi-faksi itu berbeda pendapat atau bertengkar di dalam partai. Anggotanya 
bisa membelot ke faksi lain.  Namun secara keseluruhan faksi-faksi dalam LDP 
kompak jika menghadapi partai lain.

Para anggota faksi tersebar di Majelis Rendah atau Majelis Tinggi. Faksi Hosoda 
memiliki 87 anggota di Majelis Rendah, sedangkan faksi Aso 49 anggota. Faksi 
Wataru Takeshita, yang kelak akan diketuai Toshimitsu Motegi, memimpin 46 
anggota. Kishida 41 anggota. Toshihiro Nikai 37.

Pada periode pemerintahan Presiden Soeharto, Golkar diidentikkan dengan LDP. 
Mengingat Golkar ketika itu merupakan gabungan 7 Kelompok Induk Organisasi 
(KINO) seperti KOSGORO, SOKSI,  MKGR. Organisasi Profesi.Ormas Pertahanan 
Keamanan, Gerakan Pembangunan dan Gerakan Rakyat Indonesia (GAKARI).

Anti China?

Dalam sejarahnya, pemerintahan yang dikuasai LDP berorientasi kepada 
pertumbuhan ekonomi yang berorientasi ekspor. China merupakan pasar di Asia 
yang sangat penting.
Menurut Perserikatan Bangsa Bangsa,  ekspor ke China pada 2021 berjumlah 
US$163,86 miliar, tahun sebelumnya US$133 miliar. Sementara berdasarkan data 
Kementerian Keuangan Jepang, ekspor ke China pada Juli 2022 mencapai 1.782.557 
yen, naik dibanding bulan sebelumnya yakni 1.719.177 yen.

Selain itu, juga membina hubungan erat dengan Amerika Serikat dalam 
kebijaksanaan pertahanan dan luar negeri. Dalam konteks ini Jepang  telah 
menjadi sekutu Amerika Serikat dalam menghadapi China, Rusia bahkan Korea Utara.

Bila rudal Korea Utara pernah melintasi Hokaido. Pesawat-pesawat jet tempur 
angkatan bela diri Jepang melakukan pencegatan lebih dari 700 kali pesawat 
China dan Rusia yang terbang di dekat wilayah udara Jepang pada 2020.

Kapal-kapal nelayan China ternyata juga menerapkan taktik yang sama seperti di 
perairan Kepulauan Natuna. Mereka mencari ikan di perairan Kepulauan Senkaku 
atau Diaoyu.
Rusia-Jepang bersengketa tentang hak kepemilikan atas  Kepulauan Iturup, 
Kunashir, Shikotan dan Batu Habomai  atau dalam bahasa Jepang adalah Kepulauan 
Etorofu, Kunashiri, Shikotan dan Habomai.

Beberapa bulan lalu angkatan laut Rusia menduduki empat pulau dan membangun 
sistem pertahanan peluru kendali dan menempatkan kapal-kapal pantai.

Sekalian perkembangani itu ditanggapi Jepang dengan meningkatkan anggaran 
belanja pertahanan tahun 2023 sebesar 6 triliun yen atau US$43 miliar. Jumlah 
tersebut melebihi satu persen Produk Domestik Bruto. Persentase yang melampaui 
ketentuan yang berlaku selama ini.

Kementerian Pertahanan Jepang  berencana menaikkan anggaran hingga dua persen 
atau sama dengan standar negara-negara anggota NATO dalam waktu lima tahun. 
Yang berarti kenaikan anggaran 1 triliun setiap tahun.

Usulan itu tidak terlalu sulit untuk disetujui karena LDP menguasai legislatif. 
Dewasa ini LDP bersama mitranya partai Komeito menempatkan 261 wakilnya di 
Majelis Rendah dan 119 orang di Majelis Tinggi.

Perang tidak mungkin akan terjadi karena para pemimpin tak  ingin sirna 
kemakmuran yang susah payah dibangun. Yang terjadi adalah peningkatan kekuatan 
militer untuk mewujudkan keseimbangan sambil membina secara positif 
sektor-sektor lain seperti perdagangan dan investasi.

Dalam uraian di atas terbaca jelas, walaupun China-Jepang, Rusia-Jepang 
bertentangan dalam hak pemilikan atas beberapa kepulauan namun mereka tetap 
mempertahankan hubungan dalam konteks perdagangan, investasi dan energi. 
Sebagaimana juga terlihat dalam hubungan China-Amerika Serikat.

Indonesia sebagai negara terpenting di Asia Tenggara ke depan, perlu memiliki 
pemimpin yang kuat, piawai berbahasa asing, dikenal para pemimpin asing  dan 
cerdas menanggapi situasi yang berkembang rumit ini.***

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/71302277829F42EF80572581EC20D880%40A10Live.

Reply via email to