PAUS FRANZISKUS, PRABOWO SUBIANTO, dan ORANG MISKIN TERPINGGIRKAN

OLEH NATALIUS PIGAI - Staf Khusus Menakertrans 1999-2004, Aktivis
Kemanusiaan     

Rabu, 03 Agustus 2022, 14:48 WIB

 (“Orang NTT hari ini dibantai rezim Jokowi karena berjuang demi nasib
 hidup mereka yang terpinggirkan dari elite oligarki negeri ini. Orang
 Lani Jaya Mati kelaparan karena kemiskinan di rezim Jokowi”)   


“Kepada Kota dan Dunia (Urbi et Orbi): Jangan berdansa di atas
penderitaan orang-orang miskin dan terpinggirkan, Paus Fransiskus, 25
Desember 2018. Saya memang berasal dari elite bangsa ini, keturunan
elite, tetapi saya adalah satu di antara elite bangsa ini yang memiliki
hati untuk rakyat, bisa berbagi kepada rakyat," Prabowo 2019.


Paus Fransiskus menggegerkan pemimpin dunia ketika baru naik takhta
sebagai pemimpin gereja Katolik di Vatikan menegaskan pentingnya
intervensi negara menyelamatkan kemiskinan dan kebodohan di seluruh
dunia. Beberapa orang masih saja membela teori menetes ke bawah. Mereka
lugu dan tidak waspada. Seperti perintah ‘kita tidak boleh membunuh’.

Sekarang kita harus mengatakan kita tidak boleh menjalankan kebijakan
ekonomi yang eksklusif dan tidak adil. Paus juga mengembalikan nilai
iman (fidelis), harapan (expectation) dan kasih (caritate) sebagaimana
diucapkan kepada kota dan dunia (urbi et orbi) Balisika Santo Petrus
pada Kotbah Natal 25 Desember 2018 jangan berdansa di atas penderitaan
orang-orang miskin dan terpinggirkan.

Peran gereja sejatinya demi kepentingan umum (bonum commune), memihak
kepada yang lemah (option for the poor) dan berbagi (subsidiaritas) dan
solidaritas tanpa batas (solidarities) dan bahkan menjadi artikulator
kaum pencari keadilan (voice of voiceless).

Dua tahun kemudian pernyataan Paus Fransiskus tersebut disambut oleh
Direktur IMF Christine Lagarde pada tanggal 25 Juni 2015, bahwa sistem
menetes ke bawah meningkatkan kesejahteraan pendapatan. Menciptakan
ketidakadilan di hampir setiap negara.

Ketika yang kaya semakin kaya. Kekayaan tidak menetes ke ke bawah.
Demkian pula Hillary Clinton tanggal 7 Juli 2015 bahwa kita (bangsa
Amerika) tidak bisa lagi menjalankan kebijakan ekonomi yang gagal.
Sudah waktunya teori menetes ke bawah dikubur dalam-dalam.

Pendapat Paus Fransiskus, kontra dengan Pemerintah Joko Widodo
(2014-2022) membawa Indonesia berpotensi sebagai Negara Gagal. Itulah
sebabnya Prabowo Subianto membaca buku yang berjudul Negara Gagal.

Membaca buku berjudul Why Nations Fail (Kenapa Negara Gagal) yang
ditulis oleh Daren Acemoglu dan James A Robinson cukup mengejutkan jika
dianalisis terkait tesis pemerintahan Joko Widodo dalam membangun
negara dan bangsa kurun waktu 2014-2022.

Para ahli ekonom pembangunan yang berada di lingkaran pemerintahan
Jokowi kurang berpikir out of the box tentang arah pembangunan.
Pemerintah harus membaca dan merumuskan ulang terkait rancang bangun
pembangunan nasional yang berorientasi pada 2 problem utama, yaitu
pengentasan kemiskinan (prosperity) dan distribusi keadilan (justice).

Para punggawa kuasa bangsa ini berhipotesa bahwa negara gagal karena
adanya kesenjangan (gap) infrastruktur yang dimiliki antara negara kaya
dan miskin.

Ternyata salah! Meskipun investasi begitu banyak, negara dengan
berambisi untuk metamorfosis aksesibilitas dan moda transportasi darat,
laut dan udara, namun tetap saja tidak akan menjadikan Indonesia
menjadi negara maju bahkan negara bisa terancam gagal karena
ketidakmampuan sumber daya teknologi, tenaga dan dana, akhirnya
tersandera dalam perangkap utang.

Sebagai contoh di Amerika Serikat dan Meksiko, Korea Utara dan Korea
Selatan, Jerman Timur dan Barat. Sebelum reunifikasi tetap saja
memiliki kesenjangan sebagai negara kaya dan negara miskin, meskipun
mempunyai infrastruktur yang hampir sama hebat.

Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur untuk mengejar
ketertinggalan dari negara-negara lain tidak akan bisa memperbaiki
Indonesia sebagai negara yang berpotensi menjadi negara gagal.

Dalam buku Nagara Gagal, secara jelas menyatakan bahwa suatu negara
gagal karena sumber daya ekonomi yang ekstraktif hanya dikuasai oleh
segelintir orang (oligarki), sementara sumber politik dan kekuasaan
menopang kelompok kecil oligarki tersebut.

Prabowo Subianto adalah seorang nasionalis dan patriot, telah lama
berjuang agar Indonesia menjadi bangsa yang tidak hanya mandiri tetapi
berdaulat. Bangsa yang tidak gampang jatuh dalam penetrasi kapital dan
hegemoni dunia ekonomi kapitalisme.

Prabowo tidak mau jika negara menjadi komprador kapitalisme karena
Kapitalisme mengajarkan setiap orang bertarung dan bertahan dalam
ketidakberdayaan (survival) dan orang miskin akan terancam, bangsa bumi
putra tergerus dalam jurang kemiskinan.

Negara mesti sebagai pelopor dan perintis untuk intervensi
menyelamatkan rakyat bahkan Prabowo juga menginginkan adanya subjek
pembangunan dilakukan melalui kemitraan abadi antara negara dan rakyat.

Tidak hanya public private partnership (PPP), tetapi public state
partnership (PSP). Prabowo adalah antitesa Joko Widodo yang konon
katanya Jokowinomic yang justru sumber daya ekonomi terpusat pada
oligarki ekonomi, sumber daya ekonomi tergadai pada investasi asing,
bahkan swasta sebagai aktor pembangunan nasional.

Dalam buku Paradoks Indonesia, Prabowo Subianto secara jelas dan tegas
menginginkan pemerintah bertindak sebagai pelopor, bahkan proaktif
untuk kemakmuran rakyat, pengentasan kemiskinan, menciptakan lapangan
kerja, pembangunan sarana dan prasarana dan peningkatan sumber daya
manusia melalui kompetensi pengetahuan (knowledge), keterampilan
(skills) dan mental dan moral (atittute).

Cara pandang Prabowo Subianto yang mau menghadirkan pembangunan di
tengah-tengah orang miskin, terpinggirkan dan di pedesaan ingin
mengubah pembangunan nasional yang selama ini berpusat di kota-kota
sebagai pusat pelayanan (services centre) juga kawasan industri sebagai
pusat pertumbuhan (growth centre).

Memang Prabowo mau mengobati bulir-bulir yang mendalam karena tingginya
disparitas pembangunan, sosial dan ekonomi, disparitas antara Timur dan
Barat Indonesia, disparitas antara desa dan kota.

Prabowo menyadari bahwa di masa lalu, orang desa adalah korban dari
para ekonom yang mendapat julukan Mafia Barkley yang merancang bangun
negara dengan sistem kapitalis menciptakan kelompok oligarki
taipan-taipan Hoakiau, juga berpaham liberal memberangus cara pandang
bumiputera yang berpedoman pada nilai-nilai lokal (local values).

Akibatnya, kaum bumiputera tidak mempunyai kemampuan untuk bersaing
dalam dunia bisnis, juga tidak mampu memasuki dunia kerja yang
membutuhkan standar kompetensi dan sertifikasi. Kemampuan pengetahuan
(knowledge), keterampilan (skills) juga perilaku dunia kerja (attitute)
masih jauh lebih rendah dari negara-negara lain.

Prabowo dalam buku Paradoks Indonesia dan komitmen terhadap orang
miskin yang disampaikan dalam debat ke-2 Pilpres tanggal 17 Februari
2019 mau membangun Indonesia dari basis kehidupan masyarakat desa,
sebuah antitesa dari konsep efek tetesan ke bawah (trikle down effect)
yang primadona di negara-negara selatan-selatan di dunia ketiga di
70-an sampai medio 90-an.

Konsep pembangunan yang digandrungi para dosen ekonomi pembangunan di
universitas ternama di dunia ketiga, termasuk Universitas Gajah Mada
(UGM) Yogya dan Universitas Indonesia (UI). Kecuali Profesor Doktor
Mubyarto pencetus Inpres Desa Tertinggal (iki duit tangkarko, dalam
bahasa Jawa) adalah penentang konsep kapitalisme borjuasi dan
liberalisme.

Sayang, Mubyarto, pejuang ekonomi Pancasila berjuang sendirian dan
dikucilkan bahkan tidak pernah diberi peran strategis di negeri ini.
Lebih dari 50 tahun, sekolah tinggi pembangunan masyarakat desa
diabaikan, jurusan ilmu pemerintahan desa, jurusan sosiatri pembangunan
desa dipandang sebelah mata.

Sebenarnya Prabowo Subianto mau membangkitkan kembali praktik membangun
Indonesia dari pinggiran yang sudah lama ditengelamkan termasuk oleh
Joko Widodo.

Di negara Tanzania baik di Sanzibar maupun juga Tanggayika Prof Julius
Nyerere menerapkan konsep sosialisme ujama yang menghidupkan semangat
kebangsaan dengan menggairahkan agrobisnis di perdesaan.

Demikian pula penerapan konsep Felda di Malaysia, dimana roda
pertumbuhan ekonomi dihidupkan oleh industri perkebunan dengan
mobilisasi sumber daya manusia di wilayah-wilayah Felda.

Demikian pula konsep Semaul Undong di Korea yang membangun kota dari
pinggiran. Di paruh kedua 70-an dan awal 80-an negeri ini juga pernah
belajar dari Tanzania khususnya konsep transmigrasi dan pembangunan
desa. Jejak kaki Julius Nyerere 1981, terukir di SMA Negeri di
Baturaja, Sumatera Selatan.

Oleh Karena itu, membangun Indonesia dari desa sudah pernah
dipraktikkan dan hasilnya kita bisa menjadi bangsa yang berdaulat dan
mandiri melalui swasembada pangan.

Pertanyaannya adalah apa program nyata dan hal baru dari konsepsi
Nawacita membangun Indonesia dari pinggiran? Bangsa Indonesia tertipu
karena minimnya gagasan dan implementasi dalam pemerintah Jokowi
2014-2022.

Sebelum mempertanyakan program nyata, kita mesti bertanya, lagi intensi
dasar munculnya butir membangun Indonesia dari pinggiran. Sebab konsep
membangun Indonesia dari pinggiran telah ada sebelum pemerintahan
Jokowi bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka.

Program kolonisasi penduduk Grobogan dan Purwodadi ke Kedong Tataan,
Kalianda, Lampung Selatan melalui politik etis Belanda atas perjuangan
Dowes Dekker atau Suwardi Suryaninggrat, dkk 1912 yang kisahnya
dilukiskan dengan baik oleh peneliti Perancis, Patric Levang berjudul
Tanah Sabrang.

Setelah Indonesia merdeka 1945, program kolonisasi diubah sebutannya
menjadi transmigrasi, ciri khas bangsa Indonesia bahkan program asli
Indonesia karena istilah transmigrasi tidak ditemukan dalam kamus
bahasa asing termasuk dalam ensiklopedia terlengkap dunia; Britanica
maupun juga Americana.

Lalu apa yang baru dalam program Prabowo yang akan datang? Tentu saja
yang baru adalah langkah nyata, menuliskan butir cita-citanya lasim
makin menua dilaksanakan di negeri ini.

Jaman Jokowi, mendengar dan membangun rakyat memang mengharu-biru kan
perasaan bagi orang-orang pinggiran dan yang terpinggirkan. Namun
memasuki 8 tahun masa pemerintahan Jokowi berbagai persoalan korupsi
terkait infrastruktur pedesaan, korupsi dana desa oleh pelaksana di
desa, kabupaten dan juga Kementerian Desa makin meyakinkan kita bahwa
Nawacita hanya adagium simbolik, cita-cita tidak substansial bahkan
utopia perubahan.

Prabowo sudah paham bahwa penduduk pedesaan adalah orang-orang yang
lahir, tumbuh dan berkembang di daerah terpencil, terisolasi, jauh dari
hiruk-pikuk modernisasi, bahkan desa diasosiasikan sebagai ujung dari
pembangunan.

Kemiskinan dan kebodohan yang menumpuk di pedesaan seringkali
dikapitalisasi para penguasa dan politisi untuk kepentingan, setelah
berkuasa ditinggalkan begitu saja.

Pemerintah memiliki sumber daya yang cukup, baik anggaran, personel dan
fasilitas hanya butuh pemimpin empati, tulus, konsisten membangun desa.
Anggaran desa saat ini cukup besar, bahkan paling besar dalam sejarah
Republik Indonesia.

Selain anggaran pembangunan desa di Kementerian Desa sebesar Rp 170
triliun, juga terdapat di berbagai satker seperti; PUPR, Kementerian
Sosial, Kementerian Pendidikan, Kementerian Kesehatan, Kementerian
Koperasi, Kementerian Dalam Negeri.

Kita harus memiliki kemauan untuk mengubah (unwilling to change), kita
harus mau melakukan revolusi dalam berpikir (revolusio normain), dan
juga mau menjadi orang gila dalam membangun di negeri ini.

EDITOR: DIKI TRIANTO

























-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220904212019.35498a28%40lilik-ThinkPad-T420s.

Reply via email to