Written byR53Sunday, September 4, 2022 20:02
Sandi Didesak Tinggalkan 
Prabowo?https://www.pinterpolitik.com/in-depth/sandi-didesak-tinggalkan-prabowo/
Partai Gerindra akan mengusung Prabowo Subianto di Pilpres 2024. Apakah 
Sandiaga Uno harus meninggalkan Partai Gerindra dan Prabowo agar dapat maju di 
Pilpres 2024?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Loyalty to the country always. Loyalty to the government when it deserves 
it.” ― Mark Twain, penulis Amerika Serikat

Pada 28 Agustus 2022, dalam rangka memperingati ulang tahun keempat Rumah 
SandiUno Indonesia (RSI), diselenggarakan diskusi publik (dispub) bertajuk 
“Rumah SandiUno Indonesia Menuju Masa Depan Bangsa”. Salah satu pembicara dalam 
dispub itu, yakni pengamat politik Igor Dirgantara memberikan pernyataan 
menarik. Menurutnya, halangan Sandiaga Uno maju di Pilpres 2024 adalah 
loyalitas kepada Prabowo Subianto. 

Igor mengutip pernyataan Sandi yang menyebut loyalitas adalah barang mahal 
dalam politik. Menurutnya, sebagai kader Partai Gerindra, Sandi pasti akan 
memberikan dukungan penuh jika Prabowo maju di Pilpres 2024.

Pembicara lainnya, yakni pakar strategi pariwisata Taufan Rahmadi menanggapi 
kesimpulan Igor dengan pertanyaan menarik. “Jika berbicara loyalitas, pilih 
mana, loyalitas kepada Prabowo atau kepada Indonesia?”, begitu tuturnya.

Sebagai pakar pariwisata, Taufan menilai Sandi sukses sebagai Menteri 
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf). Ada tiga poin keberhasilan yang 
dikemukakan Taufan. 

Pertama, di tengah kondisi pandemi Covid-19, Sandi berhasil mengkolaborasikan 
stakeholder agar masyarakat bisa leluasa berwisata tanpa perlu pusing 
memikirkan karantina.

Kedua, peringkat sektor pariwisata Indonesia di dunia naik 12 posisi menjadi 32 
dari 117 negara dalam Indeks Daya Saing Pariwisata (Travel and Tourism 
Competitiveness Index/TTCI) yang dikeluarkan oleh World Economic Forum (WEF) 
2022.

Ketiga, Sandi diundang ke Sidang Umum PBB pada 4 Mei 2022 untuk menceritakan 
kesuksesannya sebagai Menparekraf dalam memulihkan sektor pariwisata Indonesia. 

“Secara tegas saya sampaikan di hadapan delegasi negara-negara sahabat PBB, 
bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan penanganan pandemi yang menjadi 
panutan di dunia,” ungkap Sandi dalam forum tersebut. 

Menurut Taufan, tiga poin kesuksesan itu adalah modal yang baik bagi Sandi 
untuk maju di Pilpres 2024. Lanjutnya, penentuannya ada pada Sandi. Apakah 
Sandi akan loyal kepada Prabowo dengan mendukung sang Ketua Umum Gerindra di 
2024, atau mengacu pada loyalitas yang lebih tinggi, yakni kepada Indonesia 
dengan maju sendiri sebagai kandidat di 2024.

Kembali pada pernyataan Igor, dengan statusnya sebagai kader Partai Gerindra, 
apakah itu telah membelenggu Sandi? Apakah mungkin Sandi telah dikunci oleh 
Prabowo? 

 
Loyalitas dalam Politik
Ada dua bantahan telak terhadap kesimpulan Igor Dirgantara. Pertama, secara 
empiris, pada 30 Agustus 2022 Sandi sudah menyatakan kesiapannya untuk maju di 
Pilpres 2024. Terkait siapa pasangan dan partai yang mengusungnya, Sandi 
menyerahkannya pada mekanisme pasar politik.

Sandi sendiri sempat keluar masuk Partai Gerindra, namun tetap mendapat posisi 
ketika kembali ke partai yang dipimpin Prabowo Subianto itu. 
Atas pernyataannya untuk siap maju di 2024, sama dengan Taufan Rahmadi, 
pengamat politik Saiful Anam juga menyarankan Sandi untuk segera menentukan 
pilihan. 

“Apakah masih ingin bertahan di Gerindra dengan konsekuensi mendukung penuh 
pencapresan Prabowo, atau berlabuh ke partai lain yang mengakomodir 
langkah-langkah politiknya,” ujar Saiful pada 2 September 2022.

Kedua, secara teoretis, loyalitas dalam politik pada dasarnya diikat oleh 
kepentingan. Dalam bukunya Populisme, Politik Identitas, dan Dinamika 
Elektoral: Mengurai Jalan Panjang Demokrasi Prosedural, Burhanuddin Muhtadi 
menyebut fenomena ini sebagai office seeking.

Menurut Burhanuddin, kerja sama dalam politik Indonesia, seperti koalisi, 
dibangun atas dasar office seeking, bukan policy seeking. Kerja sama bukan 
untuk menjalankan ideologi atau kebijakan publik tertentu, melainkan 
semata-mata demi meraih kursi kekuasaan.

Jika melihatnya menggunakan teori yang jauh lebih besar, kita dapat membaca 
buku Francis Fukuyama yang berjudul The Origin of Political Order: From 
Prehuman Times to the French Revolution. Dengan bertolak pada teori biologi 
evolusioner, Fukuyama menyebut kerja sama dalam politik sebagai reciprocal 
altruism.

Itu adalah teori yang menjelaskan kenapa manusia melakukan kerja sama dengan 
mereka yang bukan merupakan anggota keluarganya. Dalam hipotesisnya, manusia 
melakukan kerja sama bukan karena dimotivasi oleh altruisme, melainkan karena 
manusia itu egois. Individu menilai pekerjaannya akan lebih mudah dilakukan 
apabila melakukan kerja sama atau saling membantu.

Penjelasan Fukuyama ini mengingatkan kita pada buku Adam Smith yang berjudul 
The Wealth of Nations. Dalam buku yang terbit pada tahun 1776 itu, ada satu 
kalimat yang kerap dikutip.

“It is not from the benevolence of the butcher, the brewer, or the baker, that 
we expect our dinner, but from their regard to their own interest.” 

Artinya, “Bukan karena kebaikan hati si tukang daging, pembuat bir, atau tukang 
roti, yang menyediakan makan malam kita, melainkan karena perhatian mereka pada 
kepentingan diri mereka sendiri.”

Maksudnya, makan malam yang kita nikmati di malam hari, ataupun barang-barang 
berkualitas yang kita beli, bukan tersedia karena para pedagang memiliki hati 
yang baik untuk memenuhi kebutuhan kita. 

Itu dilakukan karena keegoisan para pedagang. Mereka menyediakan barang dan 
jasa yang berkualitas agar kita membelinya sehingga mereka menjadi untung dan 
kaya raya.

Atas dua bantahan itu, kesimpulan Igor Dirgantara yang menyebut Sandi akan 
loyal kepada Prabowo tampaknya telah keliru. Baik secara empiris maupun 
teoretis, loyalitas yang disebut-sebut Igor bukanlah ganjalan bagi Sandi.

 
Sandi adalah Magnet Politik
Selain dua bantahan itu, ada satu lagi kesimpulan menarik soal Sandi. Jika 
memperhatikan karier politik Sandi, khususnya sejak Pilgub DKI Jakarta 2017, 
sang Menparekraf dapat disebut sebagai magnet politik. Dengan modal politik 
(political capital) yang besar, seperti popularitas, finansial, elektabilitas, 
dan jaringan bisnis, Sandi adalah magnet politik dan berpotensi kuat menjadi 
rebutan berbagai partai politik.

Simpulan itu juga dapat ditarik dari pernyataan Igor Dirgantara di acara 
diskusi publik RSI. Terangnya, diusungnya Sandi sebagai cawapres Prabowo pada 
Pilpres 2019 terjadi pada H-1 deklarasi. 

Saat itu Sandi sedang di luar negeri dalam rangka tugas sebagai Wakil Gubernur 
DKI Jakarta. Prabowo kemudian menghubunginya untuk kembali ke tanah air. 
Besoknya terjadi deklarasi Prabowo-Sandi di Jalan Kertanegara. 

Cerita Igor ini dengan tegas menyiratkan betapa besarnya daya tarik politik 
seorang Sandiaga Uno. Coba bayangkan, hanya dalam waktu satu hari berbagai 
partai politik mengambil keputusan bulat untuk mendukung Sandi. Entah apa pun 
yang terjadi, yang jelas, Sandi dinilai dapat mendongkrak keterpilihan Prabowo. 

Daya tarik itu juga terlihat dari hasil Musyawarah Rakyat (Musra) Relawan Joko 
Widodo (Jokowi). Secara mengejutkan, nama Sandi bertengger di nomor dua sebagai 
capres pilihan Musra. Dengan memperoleh 16,92 persen, Sandi hanya kalah dari 
Jokowi yang memperoleh 29,79 persen dukungan.

Peneliti dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul 
Fahmi memberikan pandangan menarik soal hasil Musra tersebut. Menurutnya, 
persentase yang diperoleh Sandi bukanlah hasil polesan.

“Angka persentase yang diperoleh Sandi ini relatif belum dipoles. Saat ini, 
kita belum dengar, belum lihat Sandi ini punya tim khusus yang bekerja untuk 
berkontestasi di 2024. Kalau tokoh-tokoh lain yang sudah menunjukkan niatnya 
untuk bertarung di 2024, mereka sudah kelihatan ada tim profesional yang 
bekerja menuju 2024,” ungkap Fahmi pada 3 September 2022.

Well, sebagai penutup, ada dua hal yang dapat disimpulkan. Pertama, tidak benar 
jika terdapat pihak menyebut Sandi dikunci oleh loyalitas kepada Prabowo.

Kedua, dengan modal politiknya yang besar, Sandi sepertinya “didesak” untuk 
keluar dari bayang-bayang Prabowo dan Partai Gerindra agar dapat maju di 
Pilpres 2024.

Kembali mengutip pernyataan Mark Twain di awal tulisan. Loyalitas kepada negara 
harus selalu dilakukan. Namun, loyalitas kepada pemerintah diberikan ketika itu 
layak untuk dilakukan. (R53)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/7523D09C5BAC466CA984EA9E9495D28B%40A10Live.

Reply via email to