NATO Ternyata Punya Kelemahan Besar?Written byD74Monday, September 5, 2022 20:34

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/nato-ternyata-punya-kelemahan-besar/
Media populer sering sebutkan bahwa kekuatan militer Pakta Pertahanan Atlantik 
Utara (NATO) jauh lebih kuat dari Rusia. Benarkah klaim tersebut?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

“There is only one thing worse than fighting with allies, and that is fighting 
without them.” – Winston Churchill, mantan Presiden AS

“This is a war to end all wars,” itulah kalimat monumental yang diucapkan 
mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Woodrow Wilson pada tahun 1917. Kalimat 
tersebut menjadi jampi-jampi AS ketika melibatkan dirinya dalam Perang Dunia I, 
perang yang dipercaya akan jadi pembuka gerbang perdamaian dunia.

Namun, seperti yang kita tahu, Perang Dunia I bukanlah perang terakhir dalam 
cerita panjang peradaban manusia. 21 setelah perang tersebut berakhir, dunia 
kembali dihadapkan perang besar yang tercatat menjadi perang paling destruktif 
sepanjang sejarah, yakni Perang Dunia II.

Ya, seberapa cantik rangkaian kata yang dibuat oleh para politisi, faktanya 
hingga sekarang perang masih juga menjangkiti planet kita. Contoh terpopulernya 
tentu adalah perang antara Rusia dan Ukraina yang meletus semenjak 24 Februari 
silam, hingga sekarang, enam bulan setelahnya.

Lambatnya progres perang di Ukraina membuat banyak pihak berkesimpulan bahwa 
militer Rusia ternyata sangat lemah. 

Salah satunya adalah pendapat dari Phillips O’Brien, profesor kajian strategis 
Universitas St. Andrews, yang mengatakan bahwa penampilan Rusia di Ukraina 
membuktikan bahwa kemampuan pertahanan negara yang dipimpin Vladimir Putin 
tersebut tidak dalam level yang sama dengan AS, atau negara kecil anggota Pakta 
Pertahanan Atlantik Utara (NATO) sekalipun.

O’Brien bahkan menyimpulkan lebih lanjut bahwa Perang Ukraina menunjukkan 
militer Rusia ternyata tidak mampu mengoperasikan operasi militer yang 
kompleks, tidak seperti militer AS, Inggris, dan Israel. 

Akan tetapi, apakah benar bahwa kemampuan pertahanan negara-negara NATO lebih 
kuat dari Rusia? Kita sering disajikan narasi bahwa kemampuan militer NATO jauh 
melebihi apa yang dimiliki Rusia, sehingga terkadang kita lupa memverifikasi 
klaim-klaim tersebut.

Ini kemudian membawa kita ke sebuah perandaian besar, bila Rusia dan NATO 
bertempur, mungkinkah Rusia memiliki kesempatan melawan kekuatan NATO?

 
Kelemahan Besar NATO?
Sebuah lembaga think tank asal AS yang bergerak dalam kajian pertahanan bernama 
RAND Corporation belakangan ini merilis sebuah laporan menarik tentang hasil 
simulasi perang antara NATO dan Rusia. 

Buat yang kurang familiar, RAND Corporation adalah lembaga yang didirikan pada 
tahun 1948 untuk bekerja sebagai konsultan strategis Angkatan Bersenjata AS. 
Lembaga ini didanai oleh sejumlah pihak swasta dan pemerintah AS sendiri.

Nah, dalam sebuah laporan berjudul Reinforcing Deterrence on NATO’s Eastern 
Flank, yang ditulis David A. Shlapak dan Michael W. Johnson, dijelaskan bahwa 
RAND Corporation telah melakukan sejumlah simulasi, yang pada akhirnya 
menemukan ternyata kekuatan pertahanan NATO tidak sekuat yang diperkirakan 
banyak orang. 

Dan dalam skenario perangnya dengan Rusia, telah disimpulkan Rusia ternyata 
mampu menguasai mayoritas wilayah Utara NATO dalam kurun waktu maksimal 60 jam.

Laporan itu juga menyoroti kelemahan terbesar NATO yang bisa membuat Rusia 
mendapatkan keunggulan jika suatu waktu perang terjadi Kelemahan tersebut 
adalah negara-negara NATO yang terletak di kawasan Baltik, seperti Estonia, 
Latvia, dan Lithuania.

Bagi yang belum tahu, ketiga negara ini terletak di perbatasan paling Utara 
NATO yang langsung bersentuhan dengan perbatasan Rusia. Jika tiba-tiba mereka 
diserang dan kekuatan militernya digabung, negara-negara Baltik ini bahkan 
masih akan tetap kalah dengan kekuatan militer Rusia. 
Dari perbandingan tenaga militernya saja, selisih kekuatannya sangat jauh. 
Rusia disebutkan memiliki setidaknya dua juta personel militer, sementara tiga 
negara tadi, jika digabungkan hanya dibawah 100.000.

David dan Michael juga menilai dua hal lain yang dapat menyimpulkan kekalahan 
singkat NATO di Utara Eropa. Pertama, faktor geografis. Tiga negara tadi adalah 
negara-negara yang posisinya lebih dekat dengan Rusia dibandingkan kekuatan 
besar Eropa terdekat, seperti Polandia. Ini kemudian membuat alur logistik dan 
mobilisasi militer jauh lebih mudah dilakukan Rusia kepada pasukannya dibanding 
bantuan pertahanan dari NATO ke Baltik.

Terlebih lagi, kalaupun NATO memang mengirimkan bantuan pertahanan, mereka 
terpaksa harus melewati Kaliningrad. Bagi yang belum tahu, Kaliningrad adalah 
enclave atau daerah kantong milik Rusia yang terletak di antara Lithuania dan 
Polandia. Ini artinya, Rusia memiliki kesempatan untuk memblokade dan 
menghujani tembakan artileri pada bantuan militer yang dikirimkan NATO ke 
Baltik.

Karena itu, David dan Michael menyimpulkan bahwa jika suatu perang meletus 
antara NATO dan Rusia, maka prediksi kuatnya Rusia akan memulai serangan ke 
kawasan utara Eropa ini karena tidak dipungkiri bahwa mereka memiliki 
keunggulan dalam aspek logistik dan mobilisasi di kawasan tersebut. 

Apalagi, diketahui bahwa Rusia kini sedang memperkuat kehadiran militernya di 
kawasan Arktik, hal ini disampaikan sendiri oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) 
NATO, Jens Stoltenberg. Jika ini benar, tentu permasalahan logistik untuk 
persiapan total war Rusia di Eropa tidak boleh kita remehkan.

Kedua, tentu faktor penentu perang bukan hanya aspek militer itu sendiri, 
tetapi juga politik. 

Belakangan ini diketahui bahwa hubungan antara Negeri Paman Sam dan NATO tengah 
dalam kondisi yang tidak sehat. Mantan Presiden Donald Trump bahkan pernah 
menodong negara-negara anggota NATO untuk memenuhi tuntutan anggaran pertahanan 
sebesar 2 persen dari total produk domestik bruto (PDB), karena selama ini 
pertahanan NATO terlalu diberatkan ke AS. 

Trump bahkan pernah sesumbar akan mencabut komitmen bantuan pertahanan otomatis 
bila ada negara NATO yang diserang.

Lalu, bagaimana situasinya sekarang, di bawah kepemimpinan Joe Biden? Well, 
besar dugaannya tidak berbeda jauh. 

PinterPolitik beberapa kali telah mengulas bahwa ada dugaan AS justru menyukuri 
perang yang terjadi di Ukraina, salah satunya yang sudah ditulis dalam artikel 
Konflik Ukraina Hasil Desain Biden?, yang menjelaskan ada kemungkinan perang 
tersebut digunakan untuk meningkatkan kesadaran pada Eropa bahwa ancaman perang 
selalu ada dan mereka harus meningkatkan anggaran pertahanannya pada NATO.

Dengan demikian, percikan-percikan politik antara AS dan NATO sebenarnya sudah 
ada, dan angan-angan bahwa AS akan meninggalkan Eropa untuk mempertahankan 
dirinya sendiri sebenarnya bukan hal yang terlalu imajinatif. 

Dan jika memang Eropa ditinggal sendiri, maka dalam suatu skenario perang 
dengan Rusia, sangat mungkin bila Eropa akan sangat kesusahan melawan Rusia, 
dan bahkan mungkin kalah dalam beberapa pertempuran besar. Terlebih lagi, 
kekuatan militer seluruh NATO, tanpa AS, jumlahnya hanya sekitar 1,9 juta, 
lebih sedikit dari Rusia yang disebut punya militer lebih dari dua juta 
personel.

Ini kemudian membawa kita pada pertanyaan, akan bagaimana postur defensif NATO 
tanpa AS?
 
Seperti Apa NATO Tanpa AS?
Pengamat pertahanan, Michael Kofman dalam artikelnya NATO should avoid learning 
the wrong lessons from Russia’s blunder in Ukraine di laman The Economist 
menyampaikan sebuah pernyataan yang menarik. Katanya, orang kerap kali keliru 
dalam menakar kekuatan militer negara-negara Eropa dan NATO.

Sebagai wilayah yang mayoritas diisi oleh negara maju dan kaya, masing-masing 
negara anggota Eropa dan NATO sering dianggap otomatis memiliki pertahanan yang 
kuat. Padahal, secara objektif kekuatan militer terbesar dunia saat ini 
dipegang AS, Tiongkok, dan Rusia. 

Sementara itu, apa yang membuat NATO kuat sebenarnya hanya kemampuannya untuk 
memperluas konflik, artinya, jika ada anggota yang diserang, maka semua anggota 
NATO harus ikut mempertahankan. Dan mereka sepenuhnya mengandalkan AS untuk 
menjadi kekuatan utama menyerang balik agresor.

Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana jika NATO hanya bisa memperluas 
konflik, sementara kekuatan besarnya untuk melawan balik, yakni AS, tidak ada?

Przemyslaw Lukasik dalam tulisannya NATO Without the USA: How Long Will the 
Alliance Survive Without American Leadership?, menyimpulkan bahwa jika AS 
akhirnya memutuskan untuk keluar dari NATO, maka dampaknya akan fatal, terutama 
dalam aspek pertahanan. Pertama, ini karena mayoritas perangkat pertahanan 
negara NATO disediakan oleh AS, sehingga mereka akan kehilangan akses ke ribuan 
jet, kapal, dan kendaraan tempur canggih.

Kedua, negara Eropa NATO memang memiliki teknologi canggih, bahkan tanpa 
bantuan AS. Namun, dalam suatu pertempuran akan ada satu titik di mana 
kuantitas akan lebih penting dari kualitas. Sederhananya, karena Rusia memiliki 
lebih banyak pasukan tempur, senjata Eropa yang canggih tidak akan ada gunanya 
bila tidak ada lagi orang yang tersisa untuk menembakan senjata tersebut.

Ketiga, mentalitas perang. Yang unik dari “negara militer” seperti AS, Rusia, 
dan Tiongkok, adalah mereka memiliki pandangan yang serius terhadap kebijakan 
persiapan perang. Ini membuat alokasi kekuatan negara dari aspek lain, seperti 
ekonomi misalnya, lebih mudah dilakukan dibanding negara-negara Eropa yang 
sudah sejak lama tidak melihat perang sebagai ancaman yang nyata.

Dalam suatu skenario perang antara NATO dan Rusia, mudah untuk dibayangkan 
negara-negara Eropa akan dihadapi penolakan dari masyarakat, ataupun 
politisinya yang tidak rela kehidupan damai mereka didisrupsi oleh kepentingan 
perang dengan Rusia. Bahkan mungkin bisa saja, warga-warga Eropa akan memilih 
untuk menyerah kepada Rusia ketimbang perlu membuang nyawa dalam peperangan.

Pada akhirnya, sepertinya bisa kita simpulkan bahwa NATO mungkin sebenarnya 
tidak sekuat apa yang diperkirakan banyak orang. Dan dalam suatu skenario 
perang antara NATO dan Rusia, sepertinya Rusia juga memiliki kesempatan untuk 
lebih unggul dari NATO.

Akhir kata, kita perlu tetap yakini bahwa perang adalah sesuatu yang perlu kita 
cegah semampu mungkin. Semoga saja, perang yang kini terjadi di Ukraina akan 
sesuai dengan apa yang dikatakan Woodrow Wilson: ”This is a war to end all 
wars.” (D74)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/72A325483C8C4B8183714CF48A3895BE%40A10Live.

Reply via email to