Di Fw dari WAG:

*BONGBONG DAN LOYALIS SUHARTO* 

Hari ini Presiden Filipina, Ferdinand "Bongbong" Marcos, Jr. akan bertemu 
Presiden Jokowi. Ia mengadakan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. 

Anda mungkin tidak peduli. Kasus Sambo lebih menarik didiskusikan dan 
diperdebatkan. Karena disana ada drama -- keculasan, kekejaman, romantisme, dan 
tragedi. 

Urat kekuasaan sebenarnya senang saja kalau perhatian kaum ngehek ini tersedot 
ke Sambo. Itu lebih baik daripada mereka nyinyir soal telor ayam yang 
sebenarnya tidak memberatkan kantong mereka; atau Pertalite yang juga tidak 
membakar dompet mereka. 

Sepanjang kaum ngehek ini tidak mengipas-ngipasi kaum jelata untuk 
mempertanyakan harga-harga atau keadilan untuk mereka, urat nadi kekuasaan akan 
tenang-tenang saja. 

Apa hubungannya dengan Bongbong Marcos, Jr.? Agak samar. Tapi ada. 

Bongbong Marcos adalah anak dari Presiden Filipina, Ferdinand Marcos, Sr. 
Marcos tua berkuasa dari tahun 1965 hingga 1986. Ia berkuasa secara brutal. 
Pada tahun 1972, ketika dia merasa akan kalah dalam pemilihan umum, dia 
menerapkan keadaan darurat. 

Dan Marcos Sr. memerintah mandat darurat itu. Ia menindas habis-habisan gerakan 
oposisi di Filipina. Selain itu ia juga hidup sangat mewah dan boros. 

Pada 1986, rakyat Filipina melancarkan Revolusi Edsa. Sebelumnya, tokoh oposisi 
utama Filipina, Senator Benigno Aquino, Sr. terbunuh di bandara sepulangnya 
dari pengungsian di Amerika Serikat. Loyalis Marcos diduga berada dibalik 
pembunuhan tersebut. 

Pembunuhan Aquino itulah yang memancing antipati terhadap pemerintahan Marcos. 
Dia ditumbangkan lewat sebuah revolusi damai. Ketika rakyat menyerbu istana 
Malacanang, mereka tercengang karena kemewahan hidup keluarga Marcos. Ribuan 
sepatu dan gaun Imelda, istrinya, dipertontonkan kepada publik. Sebagian besar 
gaun itu berasal dari perancang-perancang ternama dunia -- dan tidak pernah 
dipakai! 

Pemerintahan Marcos Sr. sangat korup. Hingga saat ini pemerintah Filipina 
berusaha mendapatkan kembali apa yang pernha dicuri keluarga ini. Hasilnya 
tidak begitu banyak. Imelda Marcos yang masih hidup bisa mengelak dari tahanan. 
Dia bahkan menjadi senator. 

Sekarang ini, anaknya, Ferdinand "Bongbong" Marcos, Jr. bahkan terpilih menjadi 
presiden. Saya membaca bahwa dia terpilih karena kepandaian tim kampanyenya 
membalikkan imajinasi orang-orang Filipina terhadap pemerintahan Marcos. 
      
Salah satu taktik kampanyenya yang menarik pemilih Filipina adalah bahwa Marcos 
itu kaya. Kalau dia terpilih dia akan membawa kekayaannya dari luar Filipina 
yang jumlahnya sangat besar itu kembali ke Filipina. Tentu rakyat senang karena 
akan ada uang. Dalam bayangan mereka, uang ini akan dibagi-bagi -- karena 
Marcos digambarkan murah hati juga. 

Yang tidak dia katakan adalah bahwa uang itu hasil colongan bapaknya dari 
rakyat Filipina juga. Tapi orang termakan pada buaian yang disebarkan oleh 
media sosial itu. 

Begitulah. Beberapa bulan lalu, Ferdinand "Bongbong" Marcos Jr. terpilih 
menjadi Presiden Filipina. Ketika dilantik, dia membawa semua keluarganya ke 
panggung. Ada juga Imelda Marcos, mantan ibu negara yang boros dan serakah itu. 
Tapi semua citra buruk tentang keluarga Marcos sudah diputihkan di depan rakyat 
Filipina. 

Nah, orang inilah yang siang ini akan diterima Presiden Jokowi. Dia akan 
menerima salut kenegaraan dengan dentuman meriam 21 kali. 

Kedatangan Bongbong ini sungguh menjadi déjà vu untuk saya. Karena saya masih 
ingat dengan Revolusi Edsa 1986. Itulah tahun pertama saya kuliah dan ia 
menjadi perbincangan hangat di kalangan mahasiswa. Aroma Revolusi Edsa pun 
tercium hingga ke Indonesia. 

Yang lebih mengejutkan adalah bahwa betapa mudahnya ingatan tentang revolusi 
itu luntur. Rakyat Filipina mendudukkan lagi seorang Marcos di puncak kekuasaan 
tertinggi di negeri itu. Marcos dan keluarganya tidak pernah dihukum. Mereka 
bahkan membuat "political come-back." 

Kita di Indonesia juga punya sesuatu yang mirip. Sangat mirip. Kita meruntuhkan 
rejim otoriter pimpinan Suharto pada Mei 1998. Namun Suharto dan keluarganya 
tidak ada satupun yang berhadapan dengan keadilan. Para loyalisnya -- baik 
terang-terangan maupun tersembunyi -- melindunginya. 

Bahkan penguasa yang tidak terhitung loyal pada Suharto tidak berani 
menghadapkannya ke pengadilan. Mereka takut. Para politisi lawan akan 
menggunakan isu Suharto untuk menggalang para loyalis presiden kedua ini untuk 
menjungkalkan mereka dari keluasaan. 
  
Adakah loyalis Suharto? Banyak. Mereka duduk di posisi-posisi penting 
pemerintahan saat ini. Sebagian besar elit (kelompok 1%) yang ada di negeri ini 
diciptakan saat Suharto berkuasa. Hitung saja para menteri atau anggota 
parlemen yang memiliki hubungan darah dengan para pembantu (loyalis) Suharto. 
Bahkan bukan tidak mungkin kita akan mendapat presiden yang (mantan) menantunya 
Suharto, bukan? 

Hari ini, saya mendapat kiriman poster ini. Rupanya para loyalis Suharto 
mendapat inspirasi dari Filipina. Bila Marcos yang reputasinya jauh lebih buruk 
dari Suharto -- setidaknya di mata negara-negara Barat -- bisa bangkit dan 
membuat "political come back" mengapa hal ini tidak bisa dilakukan di 
Indonesia? 

Rencananya ratusan ribu loyalis Suharto akan berkumpul pada 10 November 
mendatang. 

Akankah mereka berhasil? Saya tidak tahu. Yang saya tahu adalah banyak sekali 
keturunan para abdi dan gedibal-gedibal rejim Orde Baru yang ada di kekuasaan. 
Tentu tidak akan terlalu sulit menyatukan mereka. 

Dalam pandangan saya, sekarang pun mereka sudah bersatu walaupun tidak dalam 
satu bendera sebagai loyalis Suharto. Dan secara garis besar politik dan 
ekonomi kita pun tidak terlalu bergeser jauh dari Orde Baru bukan? Rejim 
developmentalis yang disokong oleh aparatus keamana polisi-militer-intelijen. 

Kuis: Siapakah tokoh nasionalis yang patut mendapat "Suharto Award"? 

(Jawaban menjadi tanggungjawab masing-masing individu yang memutuskan 
berpartisipasi).

_Made Supriatma_

-copas dr fb

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/15F7D6478C0A4E1A8604718DBFC6D13C%40A10Live.

Reply via email to