Written byJ61Thursday, September 8, 2022 07:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/singkirkan-dudung-pdip-pilih-andika/
Singkirkan Dudung, PDIP Pilih Andika?
Polemik antara Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa dan KSAD Jenderal Dudung 
Abdurachman mencuat setelah disinggung intens oleh politisi PDIP Effendi 
Simbolon. Di titik ini, PDIP agaknya akan lebih ideal untuk “mendukung” Andika 
dibanding Dudung jelang 2024. Mengapa demikian?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Kemarin lusa, rapat antara Komisi I DPR RI dengan jajaran Kementerian 
Pertahanan dan TNI menguak perseteruan antara Panglima TNI Jenderal Andika 
Perkasa dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman.

Secara kasat mata, hal itu mulanya terpantau awak media saat Jenderal Dudung 
absen di jajaran pejabat teras TNI yang hadir dalam rapat tersebut.

Namun, mantan Pangdam Jaya itu diwakili Wakil KSAD Letjen TNI Agus Subiyanto. 
Sementara KSAL Laksamana Yugo Margono dan KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo kompak 
mendampingi Jenderal Andika dari unsur pimpinan TNI.

Intrik itu sendiri sebenarnya sudah terkuak ke pemberitaan dalam beberapa waktu 
terakhir. Puncaknya, polemik kabar tak diloloskannya anak Jenderal Dudung dalam 
rekrutmen Akademi Militer (Akmil) bermuara “kejanggalan” pada tambahan kuota 
taruna tahun ini.

Ya, setelah tidak diloloskan karena dinilai tak memenuhi syarat, Jenderal 
Dudung disebut melobi ke Kementerian Pertahanan.

Pendekatan tersebut berhasil dan kemudian tertuang dalam Keputusan Menteri 
Pertahanan (Kepmenhan) Nomor 1421.d/M/XI/2021 tanggal 2 Agustus 2022 tentang 
Perubahan Empat Alokasi Penyediaan Prajurit Tentara Nasional Indonesia Tahun 
2022.

  
Anak Jenderal Dudung lantas masuk ke dalam alokasi tambahan 70 Taruna Akmil. 
Padahal, sebelumnya 379 taruna sudah mengikuti upacara pembukaan pendidikan 
yang dipimpin Danjen Akademi TNI Letjen Bakti Agus Fadjari di Lapangan Resimen 
Taruna Akmil, pada hari Jumat, 5 Agustus 2022.

Maka dari itu, diselenggarakan upacara pembukaan pendidikan gelombang kedua 
yang kali ini dipimpin oleh Gubernur Akmil Mayjen Robertus Legowo W.R. Jatmiko. 
Sang pemimpin Akmil dikabarkan memiliki jabatan di bawah koordinasi langsung 
Jenderal Dudung.

Tidak hanya polemik itu saja, para analis telah mengendus ketidakharmonisan 
kala latihan militer bertajuk Super Garuda Shield 2022 tidak dihadiri pula oleh 
Jenderal Dudung. Sedangkan, latihan tersebut awalnya merupakan jalinan matra 
darat Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) dan KSAD selalu hadir di tiap 
edisinya.

Bersamaan dengan itu, terkuaknya dugaan intrik Jenderal Andika dan Jenderal 
Dudung di DPR sendiri menjadi perhatian serius politisi senior PDIP Effendi 
Simbolon. Dia cukup intens melakukan konfrontir persoalan yang dianggap 
mengganggu kinerja TNI.

Di titik ini, PDIP kiranya memang patut khawatir. Sebab, melesatnya karier dua 
jenderal bintang empat itu selama ini dianggap berasal dari sokongan politik 
partai banteng.

Di samping langkah normatif untuk menengahi tensi Jenderal Andika dan Jenderal 
Dudung, muncul satu presumsi menarik, yakni siapakah yang akan dipilih PDIP 
jika memang pada akhirnya harus memilih? Serta, bagaimana proyeksi di antara 
dua pilihan tersebut?

Dudung Star Syndrome?
Dengan tidak bermaksud memanaskan maupun membenturkan dua pejabat TNI, satu 
probabilitas politik agaknya telah mengemuka dengan sendirinya kala PDIP bisa 
saja pada akhirnya harus memilih di antara Jenderal Andika atau Jenderal Dudung.

Itu dikarenakan, Jenderal Andika dan Jenderal Dudung sama-sama akan purna tugas 
dalam waktu dekat, plus keduanya tampak memiliki modal politik yang boleh jadi 
akan bermanfaat bagi PDIP jelang Pemilu 2024.
  
Namun, opsi untuk lebih cenderung berpihak pada Jenderal Andika tampaknya lebih 
logis bagi PDIP. Mengapa demikian?

Jika melakukan analisis objektif terhadap sepak terjang dan kemampuan di 
militer, Jenderal Dudung seolah berada dalam level yang berbeda dengan Jenderal 
Andika.

Selama ini, sang KSAD kiranya mengalami semacam star syndrome. Itu dikarenakan, 
kariernya di matra darat tampak begitu cepat pasca mendirikan patung Bung Karno 
pada Februari 2020 lalu kala menjabat Gubernur Akmil.

Langkah itu kemudian mendapat apresiasi cukup besar dari Presiden Kelima RI 
yang juga Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri.

Secara psikologis, star syndrome sendiri merupakan kondisi ketika seseorang 
merasa dirinya sempurna, mengagumkan, dan terkenal. Hal itu kemudian berdampak 
pada perilakunya dalam kehidupan sehari-hari, tidak terkecuali dalam konteks 
pekerjaan.

Setelah mendirikan patung Bung Karno, karier Jenderal Dudung memang melesat. 
Dari Akmil, dia dipromosikan sebagai Pangdam Jaya, Panglima Kostrad, lalu 
menjabat KSAD.

Sayangnya, tindak tanduk Jenderal Dudung kerap diliputi kontroversi. Saat 
menjabat Pangdam Jaya, dia dinilai overlap saat mengerahkan personel TNI 
lengkap dengan kendaraan taktis militer untuk menertibkan baliho Habib Rizieq 
dan Front Pembela Islam (FPI).

Saat mengampu KSAD, Jenderal Dudung juga seolah mengekspresikan sejumlah hal 
yang kurang esensial, seperti menciptakan lagu berjudul Ayo Ngopi hingga 
membuat pernyataan bahwa Tuhan bukan orang Arab.

Karakteristik itu sendiri tampak menjadi semacam miskalkulasi. Jenderal Dudung 
sekilas di-plot atau menempatkan diri untuk menjadi antitesis Jenderal (Purn.) 
Gatot Nurmantyo yang cenderung berhaluan Islam konservatif.

Akan tetapi, apa yang ditunjukkannya jamak dinilai kontraproduktif, bahkan 
tidak mewakili dan diakui kelompok berhaluan moderat.

Sementara itu, Jenderal Andika selama ini justru menampilkan low-key leadership 
atau kepemimpinan yang sederhana namun tegas dan memiliki prinsip.

Jonah Blank dalam buku yang berjudul Regional Responses to US-China Competition 
in the Indo-Pacific: Indonesia mengutip perwira anonim AS yang menyebut pejabat 
tinggi TNI cenderung lebih mementingkan office calls, kunjungan kehormatan, 
parade, dan seremoni.

Berbeda dengan prioritas pejabat militer AS yang dalam kultur militernya begitu 
profesional dalam peningkatan kemampuan dari waktu ke waktu dengan indikator 
yang jelas.

Tetapi, Jenderal Andika kiranya menjadi anomali dari ciri-ciri kepemimpinan 
yang disebut oleh sang perwira anonim AS tersebut. Dalam merumuskan kebijakan 
TNI, Andika dinilai cukup progresif dengan menelurkan sejumlah kebijakan 
revolusioner seperti menghapus tes keperawanan hingga meniadakan tes renang 
dalam rekrutmen personel.

Dari sisi koordinasi lintas matra, Jenderal Andika juga tampak cukup lihai 
dengan gaya komunikasinya yang luwes. Kecakapan itu juga tampak saat dirinya 
memimpin TNI dalam Super Garuda Shield 2022 dan melakukan komunikasi apik 
dengan petinggi militer negara sahabat.

Selain berasal dari Sat-81 Kopassus yang merupakan Tier-1 pasukan elite 
Indonesia, sosok yang memiliki fisik kekar nan prima itu juga pernah memimpin 
di level teritorial hingga doktrin.

Mantan Komandan Paspampres itu pun mengenyam pendidikan mumpuni di The Military 
College of Vermont Norwich University, National War College National Defense 
University, hingga Harvard University.
Oleh karena itu, secara kasat mata, Jenderal Andika tampak menjadi paket 
komplit seorang pemimpin. Terlebih, namanya masuk dalam tiga besar calon 
presiden (Capres) 2024 hasil Rakernas Partai NasDem.

Menariknya, proyeksi Jenderal Andika sebagai capres terlihat bersamaan dengan 
beberapa sentimen minor yang mengarah padanya, termasuk intrik dengan Jenderal 
Dudung.

Padahal, entitas politik manapun, termasuk PDIP, agaknya dapat merangkul 
Jenderal Andika setelah purna tugas kelak untuk menarik simpati atau bahkan 
sebagai kandidat capres sesungguhnya.

Lalu, mungkinkah PDIP akan merekrut Andika nantinya?

 
PDIP ft. Andika, Sempurna?
Munculnya nama Jenderal Andika sebagai capres 2024 boleh jadi turut membuat 
gusar PDIP yang telah memproyeksikan Puan Maharani.

Dalam hal ini, bukan gusar dalam artian tidak senang, akan tetapi kiranya lebih 
kepada kemungkinan desakan internal yang bisa saja lebih menginginkan Andika.

Di titik ini, PDIP kiranya harus sejenak keluar dari logika organisasi untuk 
merangkul Jenderal Andika nantinya.

Logika organisasi – dalam hal ini parpol – memiliki perbedaan dengan logika 
individu. Francis Fukuyama dalam  bukunya State-Building: Governance and World 
Order in the 21st Century menjabarkan secara gamblang mengenai hal ini.

Mengutip ilmuwan politik asal Amerika Serikat (AS) Herbert Simon tentang teori 
satisficing atau keterpuasan, Fukuyama menerangkan bahwa tujuan organisasi 
sebenarnya tidak pernah hadir secara jelas, tetapi muncul sebagai hasil dari 
berbagai interaksi para pelaku organisasi.

Menurut Fukuyama, itu terjadi karena individu-individu dalam organisasi punya 
rasionalitas yang terbatas. Kecenderungan itu tidak lain disebabkan oleh 
individu yang cenderung memiliki penafsiran yang berbeda atas suatu peristiwa.

Selama ini, PDIP seolah terjebak dalam logika partai yang saklek memaksakan 
Puan sebagai capres padahal elektabilitasnya begitu rendah.

Selain demi memperkuat lini di 2024, Jenderal Andika bisa saja menjadi 
alternatif terbaik saat Puan tak memiliki kans, dan Ganjar Pranowo yang tak 
direstui Megawati.

Sosok Jenderal Andika, juga menggambarkan “DNA” TNI-AD, yakni militer pretorian 
(militer yang punya campur tangan politik) sebagaimana dijelaskan anggota Tim 
Penelitian dan Pengembangan (Litbang) PinterPolitik sekaligus pengamat militer 
Khairul Fahmi.

Walaupun dalam definisinya tampak otoriter, pretorianisme di tangan Jenderal 
Andika yang disebut sebagai “anomali” kiranya bisa menjadi sebuah terobosan 
baru ke arah yang lebih baik, khususnya jika dapat dikapitalisasi oleh PDIP.

Ditambah, meskipun idealnya menjadi penengah dalam intrik Jenderal Andika dan 
Jenderal Dudung, PDIP kiranya lebih tepat untuk membentengi sang Panglima TNI 
demi strategi politik yang lebih baik jelang 2024.

Kendati demikian, penjabaran di atas masih sebatas interpretasi semata. Namun, 
implikasi politik dari intrik Panglima TNI Jenderal Andika dan KSAD Jenderal 
Dudung akan cukup menarik untuk dinantikan. (J61)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/6F3115D15579469C831294617FE1AA1E%40A10Live.

Reply via email to