Written byD74Wednesday, September 7, 2022 19:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/saatnya-menkominfo-johnny-plate-diganti/
Saatnya Menkominfo Johnny Plate Dicopot?
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny Gerard Plate belakangan 
sering disoroti publik akibat sejumlah pernyataan kontroversialnya terkait 
permasalahan dunia digital Indonesia. Ini kemudian mengundang pertanyaan: 
apakah Johnny masih layak menjadi seorang Menkominfo?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

“Many leaders get to the top of an organisation with skills less associated to 
leadership, but more the ability to eliminate greater competition on the way.” 
– Peter F. Gallagher, penulis AS

Kalau ditanya tentang kementerian mana yang saat ini paling populer, mungkin 
jawabannya adalah Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Ya, belakangan ini publik kerap kali dibuat resah oleh sejumlah pernyataan dari 
kementerian yang dipimpin oleh Menteri Kominfo (Menkominfo), Johnny Gerard 
Plate tersebut. Dan memang, harus diakui keterkenalannya itu bukan dari 
pandangan yang positif.

Contohnya yang tidak terlalu jauh adalah polemik aturan Penyelenggara Sistem 
Elektronik (PSE). Beberapa saat lalu, Kominfo sempat memblokir sejumlah 
aplikasi dan platform digital karena tidak mendaftar ulang sebagai PSE. 
Masalahnya, sejumlah aplikasi yang diblokir adalah alat digital andalan rakyat, 
seperti aplikasi pembayaran PayPal, dan platform video game Steam.

Yang membuat masyarakat semakin geram adalah pernyataan Johnny tentang sejumlah 
aplikasi judi online yang justru tidak diblokir. Dengan alasan ternyata 
pihaknya tidak menilai situs-situs judi online tersebut sebagai tempat judi, 
melainkan hanya sebagai game permainan kartu.

Belum lama lupa tentang permasalahan itu, kini publik kembali diingatkan pada 
betapa meresahkannya Kominfo akibat sejumlah kasus kebocoran data, spesifiknya 
adalah terkait kebocoran 1,3 miliar SIM Card dan sejumlah Nomor Induk 
Kependudukan (NIK) di Indonesia.

Namun, dengan menohoknya Johnny malah menawarkan solusi yang terlampau landai, 
yakni menghimbau publik untuk perlu lebih hati-hati menjaga NIK dan sering 
mengganti one-time password (OTP) agar tidak dicatat oleh para peretas. Dari 
aspek teknis, tentu ini tidak akan mampu menjawab permasalahan.

Pakar keamanan siber Vaksincom, Alfons Tanujaya menyebut seberapa sering pun 
kita mengganti password, hal itu tidak akan berguna karena sejumlah aplikasi 
peretas, seperti teknik keylogger, mampu mencatat aktivitas pengguna, termasuk 
passwords baru yang digunakan.

Karena itu, tidak heran bila kemudian banyak warganet yang mempertanyakan, 
apakah memang Johnny adalah orang yang pas untuk jadi seorang Menkominfo?

Lantas, kenapa ya orang se-level menteri bisa membuat kegaduhan dan blunder 
yang begitu besar?

 
Johnny, The Man of Conflict?
Yang unik dari setiap pernyataan yang dilontarkan Johnny adalah Sekretaris 
Jenderal (Sekjen) Partai Nasdem tersebut seringkali menghindari tuduhan 
kesalahan, yang terkadang tampak terlalu dipaksakan.

Terkait kebocoran data pribadi yang belakangan marak terjadi misalkan, Johnny 
malah menyebut itu akibat kelalaian masyarakat. Johnny juga menyebut persoalan 
besar kebocoran data sebenarnya adalah akibat rakyat yang tidak bisa menjaga 
data masing-masing. Johnny juga tidak luput menyalahkan para PSE yang tidak 
bisa menjaga data klien-kliennya.

Kemudian, terkait situs judi online beberapa waktu lalu, Johnny juga membantah 
pihaknya kecolongan aktivitas perjudian di dunia maya. Padahal, tidak lama 
setelah menyebut sejumlah situs judi online hanyalah situs permainan kartu, 
Kominfo akhirnya memblokir situs-situs tersebut. Dari penalaran sederhana saja, 
bisa disadari bahwa ada inkonsistensi posisi dalam permasalahan ini.

Kebiasaan Johnny berkelit dari kesalahan dan melempar kesalahan tersebut pada 
pihak lain, termasuk ke masyarakat, bisa dijawab dengan konsep politics of 
blame avoidance atau politik menghindari kesalahan dari Martha C. Nussbaum.
Dalam tulisannya yang berjudul Powerlessness and the Politics of Blame, 
Nussbaum menjelaskan bahwa alasan besar kenapa banyak politisi yang melemparkan 
kesalahan pada pihak lain adalah karena mereka sebenarnya tidak mampu atau 
bingung dalam menangani suatu krisis.

Karena suatu kesalahan dapat mudah bertransformasi menjadi ancaman jabatan dan 
kelangsungan karir politik, maka hal pertama yang secara naluri akan dilakukan 
seorang politisi ketika terpojok adalah melemparkan masalah tersebut ke orang 
lain.

Kalau dilihat-lihat konsep menghindari kesalahan yang disampaikan Nussbaum ini 
mungkin cukup relevan dengan latar belakang Johnny. Ketika awal menjadi 
Menkominfo, banyak orang yang pesimis bahwa Johnny dapat menjadi Menkominfo 
yang efektif. Ini karena ia bukanlah orang yang punya sejarah kuat dalam bidang 
teknologi dan komunikasi, tetapi Johnny adalah seorang Sarjana Ekonomi (S.E) 
dan berasal dari kalangan pebisnis.

Lalu, kegaduhan yang kerap diciptakan Johnny setelah menjadi Menkominfo juga 
besar dugaannya karena ia terjebak dalam sejumlah conflict of interest atau 
konflik kepentingan yang besar. Kembali menyinggung latar belakang Johnny, kita 
perlu menyadari bahwa sebelum ia menjadi insan Kominfo, Johnny adalah orang 
yang sangat terlibat dalam aktivitas bisnis.

Menurut artikel Johnny Plate Menkominfo, Apa yang Kita Pertaruhkan?, di laman 
Remotivi, Johnny pernah menjadi petinggi sejumlah perusahaan energi, contohnya 
seperti menjadi Komisaris maskapai penerbangan PT Indonesia AirAsia dan CEO 
perusahaan kelapa sawit PT Bima Palma Nugraha.

Latar belakang tersebut menjadi menarik mengingat pada tahun 2019 Kominfo 
pernah mempromosikan kampanye #SawitBaik, yakni kegiatan yang berupaya 
mempromosikan industri kelapa sawit Indonesia. Karena keterikatan Johnny 
sebagai menteri dan latar belakangnya di dunia industri, muncul dugaan bahwa 
Kominfo menjadi semacam penggaung kepentingan industri-industri di Indonesia di 
bawah kepemimpinan Johnny.

Lalu, hanya sebagai informasi menarik, Johnny juga disebut memiliki kedekatan 
dengan Riza Chalid, seorang taipan industri migas yang pernah terseret dalam 
kasus “Papa Minta Saham” tahun 2015 lalu, kasus yang membuat mantan Ketua DPR, 
Setya Novanto mundur.

Kedekatan Johnny dan Riza semakin tersorot akibat pengungkapan skandal Panama 
Papers, yang menunjukkan bahwa nama keduanya ternyata tercatat dalam perusahaan 
bernama Serenity Pacific Limited dan Gainsford Capital Limited.

Dari hal-hal tersebut, sepertinya tidak aneh bila publik merasa tidak nyaman 
sebuah kementerian yang bergerak dalam penyebaran informasi sangat dekat 
relasinya dengan para pegiat industri yang memang secara umum diketahui akan 
selalu berusaha mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri.

Kemudian, kita juga tidak bisa lupakan bahwa Johnny adalah seorang kader dan 
petinggi di Partai NasDem, partai yang sudah diketahui publik memiliki andil 
besar dalam dunia pemberitaan di Indonesia karena Ketua Umumnya, Surya Paloh, 
terafiliasi dengan stasiun Metro TV.

Karena Metro TV dan Kominfo sejatinya ada dalam dimensi yang sama, yakni 
penyebaran informasi dan komunikasi pada publik, sepertinya tidak terlalu 
imajinatif untuk membayangkan ada sebuah dilema konflik kepentingan di 
antaranya, dalam pribadi Johnny.
Lantas, jika benar bahwa kinerja Johnny di Kominfo terhambat oleh hal-hal ini, 
bagaimana kita bisa memaknai posisi Johnny sebagai Menkominfo?

 
Johnny Harus Dilepas?
Perbincangan tentang peleburan insan bisnis dan jabatan seorang Menkominfo 
dalam pribadi Johnny menjadi hal besar yang perlu kita perbincangkan.

Dulu ketika masa kepemimpinan Suharto, Indonesia memiliki yang namanya 
Kementerian Penerangan, dengan salah satu menteri yang paling terkenalnya 
adalah Harmoko. Meski apa yang dibangun Harmoko dan Kementerian Penerangan 
bersifat kontroversial, yakni mengarahkan dan mengontrol pendapat umum, kita 
tidak bisa pungkiri bahwa pada saat itu, dari perspektif pemerintah, mungkin 
kinerja Harmoko bisa dibilang cukup efektif.

Hal tersebut tentu tidak terlepas dari latar belakang Harmoko yang pernah 
menjadi seorang jurnalis pada masa Orde Baru. Pengalamannya dalam membentuk 
opini publik membuat Kementerian Penerangan pada saat itu berjalan sesuai tugas 
dan fungsinya.

Ini kemudian yang perlu jadi refleksi kita terhadap posisi seorang Menkominfo 
di era modern. Saat ini, upaya untuk mengontrol publik secara berlebihan tentu 
adalah sesuatu yang harus kita hindari, namun, kita saat ini juga menghadapi 
tantangannya sendiri, yakni revolusi informasi.

Seperti yang diketahui, di era revolusi informasi ini dunia digital menjadi 
sangat penting, bahkan banyak yang berpandangan dunia digital layak menjadi 
dunianya sendiri. Ini artinya, di masa kini dan di masa depan, kesiapan habitat 
digital Indonesia menjadi sesuatu yang krusial, dan tidak bisa diartikan hanya 
sebagai penyokong pembangunan industri di Indonesia semata.

David Davenport, pengamat politik dari Hoover Institution dalam tulisannya Why 
Business CEOs Don’t Make Effective Political Leaders, menyebutkan bahwa umumnya 
seorang pebisnis tidak akan menjadi seorang pejabat publik yang efektif. Hal 
ini karena mindset seorang pebisnis umumnya adalah untuk menciptakan strategi 
agar ia mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, tanpa membuat dirinya terlihat 
buruk.

Sementara itu, sebuah jabatan publik membutuhkan seseorang yang mampu berpikir 
multidimensi. Boleh saja sejumlah kebijakan yang ditelurkannya menghasilkan 
keuntungan yang besar, tetapi pejabat publik tersebut juga harus memikirkan 
dimensi-dimensi lain yang bisa dikembangkan secara bersamaan dan tidak rusak 
akibat ambisi egosentrisnya.

Dalam konteks Menkominfo, multidimensi yang perlu diperhatikan adalah kesiapan 
infrastruktur digital Indonesia dan pengelolaan informasi dan komunikasi 
publik, karena sejatinya saat ini negara kita masih rentan akan dampak negatif 
perkembangan teknologi, seperti peretasan, dan sensitivitas data pribadi.

Nah agar hal-hal ini dapat terwujud secara semestinya, maka tentu dibutuhkan 
seorang menteri yang memang memiliki latar belakang kuat di bidang-bidang 
terkait.

Oleh karena itu, mungkin bukan sesuatu yang terlalu radikal untuk dinalarkan 
bahwa saat ini Indonesia perlu memiliki Menkominfo yang lebih sesuai dengan 
bidangnya. (D74)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/281743A89BFC4838895350351152CE3E%40A10Live.

Reply via email to