Written byJ61Thursday, September 8, 2022 16:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/prabowo-dihipnotis-puan-cak-imin-murka/
Prabowo “Dihipnotis” Puan, Cak Imin Murka?
Respons Ketua Umum (Ketum) PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin atas pertemuan 
utusan PDIP Puan Maharani ke Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto tampak 
kurang positif. Mengapa itu ditunjukkan Cak Imin?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Ketua Umum (Ketum) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak 
Imin menanggapi dingin wacana duet calon presiden (capres) dan calon wakil 
presiden (cawapres) Prabowo Subianto-Puan Maharani.

Cak Imin menyiratkan sebuah penegasan bahwa semua keputusan yang menyangkut 
Partai Gerindra tetap harus melalui izin atau kesepakatan dengan dirinya dan 
PKB. Seperti yang telah diketahui, Partai Gerindra dan PKB telah menyepakati 
koalisi politik menjelang 2024 pada 13 Agustus lalu.

“Kita sama Gerindra udah tanda tangan, untuk semua keputusan adalah di Pak 
Prabowo sama saya,” begitu pernyataan Cak Imin merespons wacana duet 
Prabowo-Puan kemarin.

Wacana duet sendiri kembali muncul setelah pertemuan antara Ketum Partai 
Gerindra dan utusan PDIP itu di kediaman Prabowo di Hambalang, Jawa Barat pada 
Minggu, 4 September.

Cak Imin juga menyarankan sebuah mekanisme informal politik yakni, wacana duet 
Prabowo-Puan harus kembali dibicarakan dengan melibatkan PKB. Terlebih, 
menurutnya, suara PKB juga akan menentukan andai keduanya benar-benar 
berpasangan dan maju di pemilihan presiden (Pilpres) 2024.

Atas sarannya, sosok yang juga Wakil Ketua DPR RI itu mengaku akan membicarakan 
hal itu langsung dengan Puan dalam agenda pertemuan keduanya pada pekan ini.

  
Cak Imin menyebut akan menanyakan langsung kepada anak  Ketum PDIP Megawati 
Soekarnoputri itu terkait hasil pertemuannya dengan Prabowo.

Kesan resistensi Cak Imin sendiri ia perjelas dengan mengatakan bahwa dorongan 
agar dirinya maju di Pilpres 2024 merupakan keputusan Muktamar PKB. Sehingga, 
apabila ada perubahan apapun atas keputusan itu harus kembali dibahas dalam 
Muktamar dengan melibatkan semua kader daerah.

Lalu, mengapa Cak Imin seolah kurang senang dengan kehadiran Puan dan wacana 
duet putri mahkota Megawati itu dengan Prabowo di Pilpres 2024?

Cak Imin Menggertak Puan?
Langkah dan pernyataan politik Cak Imin selalu tampak menarik di setiap edisi 
kontestasi elektoral sejak ia menjabat Ketum PKB pada tahun 2005. Bahkan, 
wacana mengenai statement-nya yang berambisi menjadi capres nyaris tak pernah 
absen menghiasi media massa.

Pada edisi 2024, sosok yang merupakan keturunan KH Bisri Syansuri, salah 
seorang ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama (NU), juga mulai terlihat 
dideklarasikan atau mendeklarasikan diri sebagai capres sejak tahun lalu.

Serupa dengan momentum menyongsong Pilpres 2019, medio pertengahan tahun 2021 
juga telah diramaikan oleh baliho bergambar Cak Imin yang dibubuhi angka 2024, 
bendera Indonesia, serta tulisan “Padamu Negeri Kami Berbakti”.

Namun, langkah politik lanjutan Cak Imin yang telah menginisiasi koalisi dengan 
Partai Gerindra untuk menyongsong Pemilu dan Pilpres 2024, tampak kurang ideal 
bagi posisi politik PKB saat Puan-PDIP mendekat.

Secara matematika politik, resistensi dan kesan kurang senang Cak Imin kiranya 
dapat dipahami. Sebab, PDIP berpotensi mengurangi jatah atau konsesi politik 
PKB andai kata Prabowo menang di 2024.
  
Selain merupakan partai penguasa saat ini, suara PDIP juga dinilai masih akan 
perkasa di 2024. Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode 
Agustus 2022 menunjukkan elektabilitas partai banteng masih menempati posisi 
teratas dengan 24,8 persen.

Artinya, kontribusi secara tidak langsung atas pasangan capres-cawapres yang 
diusung PDIP dalam pemenangan tentu akan membuat mereka berhak secara politik 
atas “jatah lebih” dalam pemerintahan.

Cak Imin kiranya juga menyadari hal itu. Oleh karena itu, dia tampaknya 
memeragakan gertakan politik atau political bluffing dengan menunjukkan rasa 
terganggu atas pertemuan Puan dengan Prabowo pekan lalu.

Kevin Rounding dan Jill A Jacobson dalam The Psychology of Bluffing menyebut 
menggertak atau bluffing sebagai bentuk umum dan konsekuensial dari perilaku 
kompetitif di antara individu maupun kelompok.

Menggertak bisa menjadi keterampilan yang menguntungkan dalam lingkungan yang 
beragam dan sangat kompetitif, termasuk politik. Kata kunci dari bluffing atau 
menggertak sendiri adalah demi mencapai daya tawar tertinggi.

Dalam konteks Cak Imin, persyaratan capres-cawapres yang harus mendapat 
kesepakatan darinya seolah turut dapat dibaca dan bermuara pada upaya menaikkan 
daya tawar PKB.

Gertakan demi mengelevasi daya tawar sendiri kiranya sukses diperagakan Cak 
Imin pada Pilpres 2019. Ketika itu, dia bersikukuh menjadi cawapres Joko Widodo 
(Jokowi), bahkan telah mendeklarasikan diri sejak Maret 2018.

Meskipun gagal karena Ma’ruf Amin yang akhirnya terpilih, PKB mendapatkan 
posisi politik sepadan dengan torehan empat kursi menteri, walau ada satu yang 
telah direshuffle, yakni Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi.

Lalu, jika mengacu pada akhir dari manuver Cak Imin di 2019, berbagai manuver 
hingga pertarungan politik 2024 kelak kiranya hanya merupakan front stage atau 
panggung depan dari sebuah dramaturgi semata.

Dramaturgi (dramaturgy) merupakan konsep yang dipopulerkan oleh tokoh kultus 
berbagai teori sosiologi asal Kanada, Erving Goffman. Konsep itu mengadopsi 
istilah di teater atau drama terkait adanya front stage atau panggung depan dan 
back stage atau panggung belakang untuk menjelaskan interaksi sosial.

Saat diadopsi dalam dimensi politik, dramaturgi kerap dikutip untuk menjelaskan 
bagaimana realitas politik bekerja. Front stage atau apa ditampilkan di hadapan 
publik seringkali berbeda dengan apa yang sebenarnya terjadi (back stage).

Oleh karena itu, gertakan Cak Imin tampaknya tidak serta merta dapat diartikan 
bahwa Puan dan PDIP akan ditolak mentah-mentah dalam koalisi Partai 
Gerindra-PKB.

Terlebih, apabila PDIP tidak tunduk pada gertakan itu dan balik menantang 
gertakan (call the bluff) Cak Imin.
Itu dikarenakan, Rounding dan Jacobson juga menjelaskan biasanya seiring waktu, 
posisi serta kondisi sebenarnya sosok bluffer atau penggertak akan terungkap, 
seperti dalam sebuah permainan poker.

Selain itu, orang yang digertak selalu dapat melakukan call the bluff untuk 
menguak gerak-gerik maupun kekuatan palsu si penggertak.

Dengan kata lain, terdapat satu skenario bahwa PDIP bisa saja berani untuk 
menikung Cak Imin, seperti menjadikan Puan sebagai cawapres Prabowo. Selain 
itu, PDIP pun tampaknya tidak keliru jika meminta “jatah” lebih dan mengurangi 
konsesi PKB saat mereka menang nantinya.

Akan tetapi, benarkah impresi ketidaksukaan Cak Imin atas pendekatan Puan 
kepada Prabowo merupakan gertakan semata?

 
Cak Imin Sadarkan Prabowo?
Satu probabilitas lain kiranya mengemuka di balik kesan resistensi Cak Imin 
atas wacana duet Prabowo-Puan. Hal itu tidak lain berasal dari kemungkinan 
kalkulasi Cak Imin dan PKB yang mungkin tidak dilihat para analis politik, 
maupun Prabowo sendiri, yakni peluang kekalahan jika merangkul Puan.

Peneliti di Department of Government at the School of Public Affairs American 
University Douglas Pierce menyatakan bahwa analis politik dan pemantik wacana 
politik sering kali tidak rasional atau bahkan menjerumuskan.

Tanpa landasan teori, konsep, maupun sintesa komprehensif, wacana politik 
sering digulirkan begitu saja. Tidak adanya kewajiban maupun akuntabilitas dari 
para analis dan perumus isu serta wacana membuat kalkulasi politik yang 
disajikan kerap tidak relevan.

Selain itu, Pierce juga mengatakan penilaian analis politik kemungkinan besar 
akan diinformasikan oleh reaksi emosional, keberpihakan, dan bias konfirmasi 
seperti halnya para “non-ahli”.

Dalam konteks wacana duet Prabowo-Puan, perhitungan politik komprehensif 
mungkin saja telah dilihat Cak Imin.

Menggandeng Puan dengan elektabilitasnya yang rendah serta kerap mendapat 
sentimen minor publik akibat tindak-tanduk dan nihil prestasi, bisa saja 
dilihat berpotensi menenggelamkan Prabowo.

Menariknya, kalkulasi serupa datang dari internal PDIP sendiri. Dia adalah 
politisi kawakan PDIP Panda Nababan yang pernah menyiratkan bahwa maju bersama 
Puan bukanlah pilihan menguntungkan bagi Prabowo. Duet tersebut dalam 
analisisnya kemungkinan akan kalah.

Oleh karena itu, impresi gertak dan ketidaksukaan Cak Imin boleh jadi merupakan 
sinyal pengingat bagi Prabowo untuk tak meminang Puan sebagai cawapres.

Kendati demikian, analisis di atas masih merupakan penafsiran yang 
sewaktu-waktu bisa saja terjadi, ataupun sebaliknya. Proses politik yang  
sangat dinamis menjelang Pemilu dan Pilpres 2024 kiranya masih akan cukup 
menarik untuk dinantikan. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/45875E167CA24EF38AB63B2170DADDFA%40A10Live.

Reply via email to