Jumat 09 September 2022, 05:00 WIB 

Buru Hotong dan Ketahanan Pangan 

IGK Manila Gubernur Akademi Bela Negara (ABN) dan anggota merangkap Sekretaris 
Majelis Tinggi Partai NasDem | Opini 

  Buru Hotong dan Ketahanan Pangan MI/Seno DUA pekan lalu, saya berkunjung ke 
Pulau Buru. Agendanya ialah untuk berpartisipasi secara sukarela dalam 
membangun ketahanan pangan Indonesia. Bagi saya, ini juga menjadi semacam 
panggilan tersendiri karena situasi ketahanan pangan global yang tak menentu 
semakin mengancam ketahanan kita. Di Pulau Buru ternyata masih terdapat budi 
daya sejenis jawawut yang dalam bahasa lokal disebut buru hotong (Setaria 
italica). Bahan pangan yang pernah menjadi bahan makanan pokok secara luas di 
kawasan Asia itu, sebelum digantikan oleh beras, memiliki tempat yang sakral di 
tengah masyarakat Pulau Buru. Berbagai bentuk penganan dengan bahan utama buru 
hotong, misalnya, wajib disajikan dalam acara-acara seremonial adat. Itu karena 
dalam kepercayaan masyarakat Buru, buru hotong ialah bahan makanan anugerah 
sang Pencipta yang telah memungkinkan keberlanjutan kehidupan sebagaimana dapat 
dibaca dalam legenda Boki Feten. Dari segi kesehatan, buru hotong yang tumbuh 
mirip padi atau alang-alang itu memiliki kandungan karbohidrat seperti beras, 
rendah glukosa, memiliki protein dan lemak yang lebih tinggi, serta 
antioksidan. Namun, salah satu tantangannya ialah soal tingkat kedicernaan yang 
mungkin bisa saja ditingkatkan melalui semacam rekayasa pertanian. Poin kritis 
pertama saya di sini ialah, bahwa Indonesia memiliki kekayaan jenis bahan 
pangan yang seiring waktu kehilangan tempat. Mengikuti tren, pengaruh atau 
perkembangan tertentu, pola pangan berubah, dan pada tingkat yang signifikan 
menciptakan ketergantungan. Tanaman yang secara kultur alam cocok dan memiliki 
akar sosial-kultural dikalahkan. Contoh paling kasatmata ialah tepung gandum 
atau terigu. Bahan makanan penunjang yang menjadi semakin penting di Indonesia 
yang mengalahkan umbi-umbian dan jagung. Karena gandum pada dasarnya ialah 
tanaman subtropis dan tidak dibudidayakan secara massif di Indonesia, volume 
impor Indonesia, termasuk salah satu yang terbesar di dunia, yakni mencapai 
lebih dari 5.000 ton atau bernilai lebih dari US$1.500 juta. Karena pada 
dasarnya kita tak bisa melawan arus, dalam hal ini tren makanan, saya sampai 
pada poin kritis kedua, yakni betapa respons politik dan ekonomi terhadap 
pengembangan budi daya tanaman pangan ternyata amat rendah. Hal itu menyebabkan 
kita kalah dalam budi daya gandum, misalnya, dari negara beriklim tropis lain, 
seperti Myanmar yang telah memiliki rata-rata produksi gandum tertinggi 
mencapai 1,8 ton/ha. Padahal, dengan melihat kebutuhan yang amat besar dan 
betapa mengimpor pada dasarnya berbahaya bagi ketahanan pangan dan roda 
perekonomian nasional, langkah-langkah politik dan ekonomi sudah sangat 
mendesak atau bahkan sangat terlambat dilakukan. Fakta tersebut menjadi semakin 
menyedihkan ketika membaca betapa riset dan pengembangan tanaman gandum yang 
dilakukan ahli-ahli dari lembaga penelitian pertanian di Indonesia ternyata 
telah berhasil mengembangkan varietas yang cocok untuk iklim Indonesia. Sejauh 
ini budi daya dalam skala kecil baru dilakukan di beberapa daerah, seperti di 
Pasuruan dan Probolinggo (Jawa Timur), serta Salatiga (Jawa Tengah). Jauh hari 
sebelum krisis pangan dunia terjadi karena perang Rusia-Ukraina, dan ini 
menjadi poin kritis yang ketiga, dengan mayoritas masyarakat yang mengkonsumsi 
beras, Indonesia sampai saat ini terus-menerus mengimpor beras. 
Pernyataan-pernyataan tentang swasembada pangan tak lebih dari jualan dan 
bualan politik. Secara alam dan sosial-kultural, sudah pasti tak ada lagi 
persoalan budi daya padi. Ia sudah menjadi tanaman bagi bahan pokok selama 
ribuan tahun dan ditanam di hampir seluruh wilayah Indonesia. Namun, kenapa 
impor? Setelah merenung panjang lebar, saya melihat bahwa ada persoalan 
sistemis dalam tata kelola pertanian tanaman pangan. Kepemimpinan nasional yang 
dari waktu ke waktu disibukkan percepatan pembangunan ekonomi yang diukur 
secara makro dan proyek-proyek mercusuar terjebak dalam sikap permisif terkait 
signifikansi ekonomi ketahanan pangan. Pembangunan pabrik, perumahan, 
pusat-pusat belanja, atau ragam penanda ekonomi kapitalistik lainnya, sebagai 
contoh, terus menggerus sawah-sawah dan lahan pertanian produktif lainnya. 
Lahan sawah Indonesia, misalnya, dengan kecepatan konversi saat ini, 
diperkirakan akan terus menciut menjadi sekitar 6 juta ha saja menjelang 2045. 
Demikian pula dengan karut-marut dukungan bagi pertanian tanaman pangan. Data 
Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu 
importir besar pupuk dunia. Pada 2021 saja, impor pupuk Indonesia mencapai 8,1 
juta ton atau setara dengan US$834,76 (Rp11,94 triliun). Pelajaran pandemic 
Krisis di Eropa, berupa perang Rusia-Ukraina, yang mengancam ketahanan pangan 
di samping energi, merupakan pelajaran pahit. Namun, pelajaran pahit yang 
seyogianya dicermati ulang dan dijadikan dasar sikap politik ekonomi, yang 
pengaruhnya masih amat kuat, ialah pandemi covid-19. Sekitar tiga tahun, 
situasi pandemi telah memunculkan ke permukaan apa yang paling penting dan apa 
yang kurang penting. Ketahanan pangan ternyata tetaplah hal terpenting. Daya 
tahan ekonomi ternyata sampai taraf signifikan dimungkinkan usaha mikro, kecil, 
dan menengah, di samping tentu saja resiliensi lapisan masyarakat yang bergerak 
di sektor pertanian pangan. Oleh karena itu, bangsa ini, jika hendak terus 
abadi, harus merendahkan hati untuk belajar. Pandemi dan kemudian perang di 
Eropa merupakan momentum untuk itu. Juga soal rasa syukur, yang seyogianya juga 
hadir di hati para penyelenggara pemerintahan--eksekutif, legislatif, 
yudikatif--yang tidak semestinya hanya menikmati kue pembangunan yang dibuat 
dari tetes keringat dan darah rakyat. Negara-negara maju saja, seperti Amerika 
Serikat, Jerman, dan lainnya, ternyata membangun ketahanan pangan yang luar 
biasa. Mereka memajukan pertanian dalam skala industri yang amat besar yang 
tidak saja sampai taraf tertentu menghidupi negara, tetapi juga menjadi 
sokoguru penting ketika ragam krisis terjadi. Karena itu, alangkah naif atau 
bodohnya kita, bangsa agraris yang diombang-ambingkan oleh badai kapitalisme 
ini, dengan anugerah alam yang tak terukur, ternyata tak mampu hanya untuk 
sekadar mencukupi kebutuhan pangan dari waktu ke waktu. Tak berlebihan rasanya 
jika kemudian saya bertanya, “Tidakkah tersisa sedikit rasa malu bahwa kapital 
yang dihambur-hamburkan dalam bentuk kemewahan di jalan-jalan raya, di 
gedung-gedung tinggi, di rumah-rumah mewah, di meja-meja jamuan yang lebih 
banyak mubazirnya itu ialah hasil rampokan terhadap nasib ratusan juta anak 
cucu kita sendiri yang akan hidup di satu, dua, tiga, dan belasan dekade yang 
akan datang?”   TAGS: # Opini

Sumber: https://mediaindonesia.com/opini/521242/buru-hotong-dan-ketahanan-pangan





-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220909223238.097a0eff705c5972fe5af33a%40upcmail.nl.

Reply via email to