Laporan dari China
China tak puas laporan IAEA soal kapal selam nuklir AUKUS
Selasa, 13 September 2022 21:31 WIB
Rafael Grossi, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA),
menyampaikan pengarahan kepada awak media di kantor pusat IAEA di Wina,
Austria, pada 24 Mei 2021. (Xinhua/IAEA/Dean Calma)
Laporan tersebut menutup mata keprihatinan beberapa negara anggota lainnya
karena kerja sama AUKUS telah melanggar maksud dan tujuan perjanjian
nonpoliferasi
Beijing (ANTARA) - China tidak puas atas laporan Badan Energi Atom
Internasional (IAEA) terkait kerja sama kapal selam nuklir yang disepakati
pakta keamanan trilateral Australia, Inggris, dan Amerika Serikat (AUKUS).
"Secara prosedural kami anggap laporan tersebut merupakan langkah maju, namun
secara substansial kami sangat prihatin," kata juru bicara Kementerian Luar
Negeri China (MFA) Mao Ning di Beijing, Selasa.
Ia melihat laporan tersebut hanya mengutip materi yang diberikan AS, Inggris,
dan Australia atas apa yang mereka kerjakan.
Namun dia mencermati laporan tersebut tidak mengakomodasi kekhawatiran
komunitas internasional atas risiko proliferasi nuklir yang mungkin muncul dari
kerja sama kapal selam nuklir AUKUS.
Baca juga: Perjanjian anti nuklir disepakati, China dorong Indonesia bersuara
"Laporan tersebut menutup mata keprihatinan beberapa negara anggota lainnya
karena kerja sama AUKUS telah melanggar maksud dan tujuan perjanjian
nonpoliferasi," kata diplomat perempuan itu.
Mao menekankan bahwa kerja sama kapal selam nuklir berpotensi memberikan dampak
terhadap integritas, kekuatan, dan keteguhan perjanjian nonpoliferasi dan akan
berpengaruh terhadap kepentingan semua anggota IAEA.
"Oleh karena itu, China telah mendorong IAEA membentuk komite khusus yang lebih
terbuka bagi semua negara anggota untuk berdiskusi secara mendalam tentang
masalah politik, hukum, dan hal-hal teknis," katanya.
Hasil diskusi tersebut dijabarkan dalam bentuk laporan rekomendasi kepada Dewan
Gubernur dan Konferensi Umum IAEA.
"Sebelum konsensus dicapai oleh semua pihak, maka AS, Inggris, dan Australia
tidak boleh melakukan kerja sama terkait dan Sekretariat IAEA tidak boleh
berkonsultasi dengan ketiga negara tersebut mengenai apa yang mereka sebut
dengan pengaturan perlindungan dan pemantauan kerja sama terkait kapal selam
nuklir mereka," jelas Mao.
China mengajak semua negara anggota IAEA untuk melakukan diskusi secara
substansial tentang kerja sama kapal selam nuklir AUKUS dan melakukan tindakan
nyata dalam menegakkan sistem nonpoliferasi internasional demi terjaganya
perdamaian dan keamanan global.
Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi pada Jumat (9/9) menyerahkan
laporan kepada Dewan Gubernur IAEA mengenai perlindungan terkait kerja sama
AUKUS.
Badan pengawas nuklir dunia tersebut dalam laporannya menyatakan kepuasannya
atas keterlibatan AUKUS.
IAEA telah melakukan konsultasi teknis dengan AS, Inggris dan Australia dan
berharap keterlibatan ketiga negara tersebut terus berlanjut.
Dalam kesepakatan AUKUS, Australia akan mendapatkan delapan unit kapal selam
canggih bertenaga nuklir yang mampu melakukan misi jarak jauh secara diam-diam.
China mengutuk keras kesepakatan tersebut karena dapat memberikan ancaman
keamanan di kawasan Asia-Pasifik.
Baca juga: Australia: Pembangunan pertahanan untuk perdamaian dan stabilitas
Baca juga: Penguatan diplomasi Indonesia di tengah AUKUS-China dan Keketuaan G20
Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2022
Tag:
AUKUS
IAEA
kapal selam nuklir
China AUKUS
--
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220913205609.ec6875ccb0298e7360b67613%40upcmail.nl.