Written byR53Tuesday, September 13, 2022 12:04

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/sia-sia-megawati-kritik-blt-jokowi/
Sia-sia, Megawati Kritik BLT Jokowi?
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai 
“kompensasi” atas kenaikan harga BBM bersubsidi. Dengan BLT yang hanya 
dikeluarkan sebanyak satu kali, apakah kebijakan ini dapat dikatakan sia-sia? 
Kemudian, mengacu pada kritik keras Megawati terhadap BLT, mungkinkah Ketua 
Umum (Ketum) PDIP itu tidak setuju terhadap kebijakan BLT yang dikeluarkan 
Jokowi? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Jika mengingat kenangan semasa kecil, ada momen ketika kita menolak untuk minum 
obat ketika sakit, khususnya jika obat itu terasa pahit. Untuk menyiasatinya, 
orang tua kita biasanya memberikan gula atau buah-buahan seperti pisang agar 
rasa pahitnya tidak terasa.

Di level negara, yakni kebijakan publik, memberi permen untuk menghilangkan 
atau setidaknya mengurangi rasa pahit juga dilakukan. Terbaru, ketika 
pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) memutuskan menaikkan harga BBM bersubsidi, 
kebijakan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dikeluarkan sebagai “kompensasi”.

Sekilas, pemberian BLT itu mengingatkan kita pada penjelasan John Rawls dalam 
bukunya yang berjudul A Theory of Justice. Menurut Rawls, keadilan itu hadir 
jika kebijakan negara berpihak kepada mereka yang paling tidak beruntung.

Menurut dosen Filsafat Sosial dari Universitas Indonesia (UI) Fristian 
Hadinata, mereka yang paling tidak beruntung itu adalah kelompok masyarakat 
menengah ke bawah. 

Lantas, apakah BLT sebesar Rp600 ribu yang dikeluarkan Presiden Jokowi adalah 
bentuk keadilan negara terhadap mereka yang paling tidak beruntung?

Megawati Kritik Jokowi?
Jika bicara sejarah, BLT pertama kali dikeluarkan pada tahun 2005 di era 
pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). BLT tersebut dikeluarkan pada 
Oktober 2005 sampai Desember 2006 dengan target 19,2 juta keluarga miskin. 
Setiap rumah tangga mendapatkan total 1,2 juta dengan skema tiga kali 
pengiriman.

Menariknya, sepuluh tahun lalu, yakni pada tahun 2012, Presiden SBY juga 
mengeluarkan kebijakan BLT sebagai kompensasi kenaikan harga BBM bersubsidi. 
Saat itu, partai paling berkuasa saat ini, PDIP, adalah pihak yang memberikan 
penolakan keras. 

 
Jika melihat track record-nya, pernyataan Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati 
Soekarnoputri sangatlah keras terhadap kebijakan BLT. Pada 27 Mei 2008, 
misalnya, Megawati menyebut BLT membuat mental bangsa menjadi peminta-minta.

Setahun kemudian, tepatnya pada 20 Maret 2009, Megawati kembali memberikan 
kritik dengan menyebut BLT seperti merendahkan harga diri bangsa. “Apa arti BLT 
hanya untuk uang senilai Rp200 ribu saja berdempet-dempetan tanpa harga diri 
seperti pengemis?” ungkapnya.

Kendati mungkin terkesan sinis, pernyataan Megawati itu memiliki afirmasi kuat 
dalam teori ekonomi, khususnya Ekonomi Perilaku (Behavioral Economics). Teori 
ekonomi ini mempelajari dampak faktor psikologis, sosial, kognitif, dan 
emosional terhadap keputusan ekonomi individu dan/atau lembaga.

Studi Ekonomi Perilaku dapat kita lihat pada perbedaan ideologi ekonomi yang 
dianut Partai Republik dan Partai Demokrat di Amerika Serikat (AS). 
Kimberly Amadeo dalam tulisannya Democrats or Republicans: Which Is Better for 
the Economy? menyebut Partai Republik menerapkan teori supply-side economics. 

Teori ini menyatakan pemotongan pajak, khususnya pada sektor bisnis, akan 
memberi dampak positif dengan bertambahnya jumlah pekerja, sehingga 
berkonsekuensi pada meningkatnya permintaan dan pertumbuhan ekonomi. Asumsinya 
adalah pertumbuhan ekonomi didapatkan melalui peningkatan produksi.

Menurut Amadeo, berbeda dengan Partai Republik, Partai Demokrat menerapkan 
kebijakan ekonomi yang lebih berfokus untuk membantu kelompok berpenghasilan 
menengah ke bawah. Selain untuk mengurangi ketimpangan pendapatan, kebijakan 
tersebut juga dipercaya sebagai cara terbaik untuk mendorong pertumbuhan 
ekonomi. 

Ini bertolak dari temuan bahwa kelompok berpenghasilan menengah ke bawah lebih 
cenderung menghabiskan uang ekstra untuk kebutuhan sehari-hari daripada 
menabung atau berinvestasi (lebih konsumtif). Dengan demikian, ini secara 
langsung meningkatkan permintaan dan memacu pertumbuhan ekonomi.

Dari penjelasan Amadeo, kita dapat menarik kesimpulan bahwa terdapat perilaku 
ekonomi yang berbeda antara kelompok ekonomi menengah ke bawah dan kelompok 
ekonomi atas. Kata kuncinya adalah perilaku investasi dan konsumsi.

Tom Corley dalam tulisannya The 1 percent will always control the wealth—and 
here’s how they do it juga menegaskan bahwa kebiasaan-kebiasaan ekonomi, 
seperti menabung dan mengontrol pengeluarannya, adalah pembeda kontras kelompok 
ekonomi atas dengan ekonomi menengah ke bawah.

Singkatnya, bertolak pada Ekonomi Perilaku, pernyataan Megawati pada tahun 2008 
dan 2009 dapat dikatakan tepat. Mengacu pada perilaku konsumtif kelompok 
ekonomi menengah ke bawah, BLT yang diberikan tidak akan menjadi dana 
investasi, melainkan hanya dilihat sebagai dana segar untuk langsung 
berbelanja. 

Dengan demikian, jika pernyataan Megawati tersebut ditarik pada konteks 
kebijakan BLT Presiden Jokowi saat ini, dapat dikatakan PDIP telah melakukan 
autokritik alias mengkritik dirinya sendiri. Jika Megawati konsisten dengan 
pernyataannya, Ketua Umum PDIP itu semestinya mengkritik kebijakan BLT Jokowi. 

Selain itu, dengan BLT Rp600 ribu yang dikeluarkan sebanyak satu kali, 
kebijakan ini dapat dikatakan sia-sia. Alasannya sederhana. Kenaikan harga BBM 
bersubsidi memiliki efek domino dan berjangka panjang, khususnya terhadap 
kenaikan harga (inflasi). 

Sementara BLT memiliki dampak jangka pendek karena hanya menambah kemampuan 
belanja masyarakat sebanyak satu kali. Setelah itu, masyarakat harus memutar 
otak menghadapi inflasi yang terjadi.
 
Tidak Memiliki Solusi?
Artinya, kembali mengacu pada penjelasan John Rawls dalam buku A Theory of 
Justice, memberikan BLT yang menyasar kelompok ekonomi menengah ke bawah 
bukanlah justifikasi bahwa kebijakan ini berpihak kepada mereka yang paling 
tidak beruntung.

Senada dengan itu, menurut Fristian Hadinata, jika melihatnya dari kacamata 
John Rawls (Rawlsian), kenaikan harga BBM bersubsidi adalah bentuk 
ketidakberpihakan pemerintah kepada mereka yang paling tidak beruntung, yakni 
masyarakat menengah ke bawah.

Kritik yang tidak kalah menarik datang dari pengamat kebijakan publik Achmad 
Nur Hidayat. Menurutnya, sejak era pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) 
hingga Jokowi, pemerintah memiliki alasan yang sama ketika hendak menaikkan 
harga BBM bersubsidi. Jika tidak dinaikkan, maka APBN kita akan jebol.

Menurutnya, jika pemerintah konsisten pada argumentasi APBN jebol, kenapa 
bantalan sosial (BLT) mencapai Rp24,17 triliun justru disiapkan? Bukankah itu 
menunjukkan pemerintah memiliki anggaran? Kemudian, lanjut Hidayat, harga 
minyak dunia saat ini justru tengah turun. 

Menurut Hidayat, digaungkannya alasan yang sama ketika menaikkan harga BBM 
bersubsidi menunjukkan pemerintah sebenarnya tidak memiliki solusi. 

Senada, Fristian juga mengkritik keras alasan klasik kenaikan harga BBM 
bersubsidi demi menghindari jebolnya APBN. Mengutip studi Logika, Fristian 
menilai argumentasi itu sebagai kesesatan bernalar (fallacy) yang disebut 
dengan false dichotomy atau dikotomi palsu.

Sedikit memberi konteks, dikotomi palsu terjadi ketika terdapat dua pilihan 
yang bertentangan seolah harus diambil salah satu, padahal pilihan alternatif 
masih tersedia di luar sana. 

Pada konteks kenaikan harga BBM bersubsidi, seolah terbentuk dikotomi bahwa 
pemerintah harus memilih opsi antara menaikkan harga BBM bersubsidi atau APBN 
akan jebol. Dua opsi itu seolah harus diambil salah satu, dan meniadakan opsi 
ketiga atau opsi alternatif. 

Well, sebagai penutup, ada dua hal yang dapat disimpulkan dari kebijakan BLT 
Presiden Jokowi. Pertama, jika Megawati konsisten dengan kritiknya terhadap 
BLT, Ketua Umum PDIP itu semestinya tengah mengkritik Presiden Jokowi saat ini.

Kedua, jika kebijakannya ingin disebut berpihak kepada mereka yang paling tidak 
beruntung, Presiden Jokowi semestinya mengeluarkan kebijakan jangka panjang, 
bukannya kebijakan jangka pendek seperti BLT. Bentuknya bisa berupa regulasi 
yang membuat pendapatan masyarakat secara konsisten dapat meningkat. (R53)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/D9477F4B3BD741C7A21E4975FF5EB05E%40A10Live.

Reply via email to