Written byJ61Tuesday, September 13, 2022 16:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/cawapres-2024-jokowi-sebenarnya-overrated/
Cawapres 2024, Jokowi Sebenarnya Overrated?
Sorotan langsung tertuju pada Presiden Joko Widodo (Jokowi) pasca Mahkamah 
Konstitusi (MK) melontarkan pernyataan menarik, yakni presiden yang telah 
menjabat selama dua periode bisa menjadi calon wakil presiden untuk periode 
berikutnya. Namun, sorotan itu kiranya justru menguak kelemahan Jokowi.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Kesempatan bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk duduk di kursi eksekutif 
lebih lama baru saja terbuka. Itu setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menegaskan 
presiden yang telah menjabat selama dua periode bisa menjadi calon wakil 
presiden untuk periode berikutnya.

Juru Bicara (Jubir) MK Fajar Laksono menjelaskan tak ada peraturan yang 
melarang hal tersebut. Akan tetapi, konteks etika politik menjadi persoalan 
lain yang menurutnya patut menjadi perhatian.

Fajar tampak cukup lugas menafsirkan Pasal 7 UUD 1945 yang berbunyi,”Presiden 
dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun dan sesudahnya dapat 
dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan.”

Dalam perspektifnya, bunyi Pasal itu tidak mengandung larangan atau variabel 
hambatan lain bagi presiden dua periode untuk menjadi wakil presiden di periode 
berikutnya.

“Kata kuncinya kan, dalam jabatan yang sama,” begitu pernyataan penutup sang 
Jubir MK.

Tafsir konstitusi berbeda datang dari peneliti Perkumpulan untuk Pemilu dan 
Demokrasi (Perludem) Fadhli Ramadhanil. Dia mengatakan bahwa presiden dua 
periode sebaiknya tidak kembali ikut kontestasi pilpres meski hanya menjadi 
cawapres.

  
Meskipun sepakat jika Pasal 7 UUD 1945 yang masih bisa diperdebatkan, Fadhli 
tetap berada di posisi yang menganggap pasal itu melarang presiden dua periode 
menjadi cawapres di periode berikutnya.

Di tempat dan periode berbeda, sebelum MK melontarkan penegasan tersebut, 
Musyawarah Rakyat (Musra) I yang digelar di Bandung, Jawa Barat pada 28 Agustus 
lalu juga menyuarakan “perpanjangan” masa jabatan Presiden Jokowi.

Sebagai forum relawan Jokowi untuk menghimpun suara masyarakat atas harapan 
nama calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) pada 2024, Musra 
dinilai mengantongi restu sang kepala negara.

Bisa ditebak, hasil musyawarah sendiri menasbihkan Jokowi sebagai capres 
harapan di 2024 mendatang.

Ketua Dewan Pengarah Musra I Andi Gani Nena Wea mengatakan Presiden Jokowi 
memberi izin hasil Musra dipublikasikan kepada masyarakat apa adanya.

Kendati begitu, ekspektasi terhadap sosok Jokowi sebagai pemimpin terkesan 
berlebihan atau cenderung menjadikan mantan Wali Kota Solo itu terkesan 
“overrated”. Terlebih, ketika terus dipaksakan menjabat lebih dari dua periode. 
Mengapa demikian?

Kepunahan Populisme Jokowi?
Dalam telaah kritis, kiranya muncul satu pertanyaan yang semestinya mengemuka 
di balik wacana memperpanjang masa jabatan Presiden Jokowi, tidak terkecuali 
dalam konteks cawapres.

Pertanyaan itu tak lain ialah, mengapa sosok Jokowi begitu dielu-elukan hingga 
harus melanjutkan kepemimpinannya? Benarkah kepemimpinan mantan Gubernur DKI 
Jakarta itu sedemikian baiknya?
  
Selama ini, narasi yang bergulir seolah hanyut begitu saja berbicara tentang 
patut atau tidaknya perpanjangan masa jabatan, tanpa mempertanyakan kualitas 
kepemimpinan sebagai substansi utama.

Padahal, Presiden Jokowi selama ini dianggap sukses duduk di Istana berkat 
populisme dan kelihaiannya dalam mencitrakan diri. Politisi senior PDIP Panda 
Nababan dalam bukunya Panda Nababan Lahir Sebagai Petarung: Sebuah Otobiografi, 
Buku Kedua: Dalam Pusaran Kekuasaan, turut menyiratkan hal serupa.

Meskipun dikatakannya dalam konteks pujian, Jokowi disebut cukup piawai dalam 
memainkan politik simbol atau bahasa kasarnya pencitraan.

Senada dengan Panda, Kimly Ngoun dalam What Southeast Asian Leaders Can Learn 
from Jokowi mengatakan eks memiliki kemampuan memainkan politik simbol yang 
sangat mumpuni.

Ngoun melakukan komparasi dengan pemimpin negara lain di Asia Tenggara dan 
menyebut hal itu menjadi pembeda sosok Jokowi.

Nyatanya, publik tanah air kini lebih sensitif terhadap politik simbol atau 
pencitraan. Apalagi, generasi milenial dan generasi Z sebagai pemilih mayoritas 
di 2024 juga memiliki kepekaan yang sama terhadap karakteristik kepemimpinan 
seperti Jokowi.

Pada awal tahun 2022, Lembaga Penelitian Masyarakat Millennial (LPMM) merilis 
respons generasi muda terhadap politik Indonesia. Hasilnya, 91,7 persen 
generasi milenial dan z menyatakan muak dengan politik pencitraan.

Oleh karena itu, karakteristik pemimpin populis seperti Jokowi kemungkinan tak 
lagi relevan di 2024, kendatipun hanya diplot sebagai cawapres.

Selain itu, bagi yang mengikuti pemberitaan politik nasional, agaknya tidak 
asing dengan pernyataan “Jokowi adalah boneka”.

Sejumlah pihak, terutama oposisi, menilai Jokowi hanyalah “wayang” yang 
dimainkan oleh elite-elite partai di belakangnya.

Ketika menariknya ke dalam literatur politik, ciri tersebut disebut dengan 
puppet leader atau pemimpin boneka. Dennis R. Young dalam tulisannya Puppet 
Leadership: An Essay in honor of Gabor Hegyesi, menjelaskan puppet leader 
memiliki dua elemen fundamental.

Pertama, terdapat penarik tali (string-pullers), yakni kelompok atau individu 
kuat yang mengontrol tindakan dan keputusan pemimpin tanpa dianggap 
melakukannya. Entitas itu kerap disebut sebagai oligarki.

Kedua, kandidat puppet leader bersedia untuk berkompromi di bawah kondisi 
politik sedemikian rupa jika nantinya terpilih.

Menurut Jeffrey Winters dalam bukunya Oligarchy and Democracy in Indonesia, 
tanpa adanya oligarki, potensi Jokowi untuk menjadi kandidat tidak mungkin 
teraktualisasi.

Indonesianis lainnya, yakni Vedi Hadiz dan Richard Robison, juga menyebutkan 
bahwa Jokowi pada akhirnya bersekutu dengan berbagai kelompok oligarki Orde 
Baru agar dapat menang menjadi RI-1.

Atas simpul-simpul politik tersebut, tidak heran kemudian label boneka kerap 
disematkan ke Jokowi.
Konteks yang terkait impresi “overrated” dan kualitas kepemimpinan itu juga 
yang kemudian membuat dorongan untuk meneruskan kepemimpinan Jokowi, meski 
hanya sebagai cawapres, dipertanyakan.

Lalu, akankah Jokowi benar-benar comeback di 2024 sebagai kandidat RI-2?

 
Jokowi Riding The Tiger?
Jika benar-benar berambisi mempertahankan posisinya di eksekutif, pertanyaan 
lanjutan agaknya mengemuka, yakni apakah Presiden Jokowi saat ini sedang 
“mengendarai kuda” atau “mengendarai harimau”?

Jika mengendarai kuda, tentu sang penunggang akan tetap aman saat turun dari 
pelana. Sementara jika mengendarai harimau, dapat dipastikan kekhawatiran akan 
muncul dari potensi serangan kucing besar tersebut.

Dengan kata lain, presumsi pihak-pihak yang selama ini mendorong keberlanjutan 
jabatan Presiden Jokowi bisa saja merasa tak lagi mendapat keuntungan atau 
bahkan terancam jika sang kepala negara turun takhta.

Namun, jika Presiden Jokowi tidak ingin reputasinya tercatat dalam sejarah 
sebagai pemimpin ambisius dalam konotasi negatif, alangkah baiknya jika nanti 
ia tak mengikuti kontestasi elektoral 2024.

Walaupun MK seolah telah memberikan lampu hijau, kepentingan bangsa yang lebih 
luas, yakni regenerasi kepemimpinan yang substansial kiranya patut menjadi 
pertimbangan utama.

Di dalam sejarahnya, hakikat kepemimpinan layaknya sebuah siklus yang terus 
berganti, sebesar apapun upaya mempertahankannya. Filsuf dan sosiolog Italia 
Vilfredo Pareto menyebutnya sebagai konsep sirkulasi elite.

Konsep tersebut menjelaskan bahwa dalam setiap era, akan selalu ada sirkulasi 
atau perputaran elite. Baik elite yang satu digantikan oleh elite yang lainnya, 
maupun aktor atau pihak non-elite yang justru menggantikan elite yang tengah 
berkuasa.

Marcus Mietzner dalam Jokowi rise of polite populist turut menjelaskan hal 
tersebut dalam aspek kepemimpinan Indonesia.

Dia menyiratkan bahwa siklus kemerosotan (decline) dan kebangkitan (rise) 
dialami oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat transisi kepemimpinan kepada 
Jokowi sebagai khittah politik dan pemerintahan tanah air.

Mengutip gagasan filsuf Jerman Georg Wilhelm Friedrich Hegel tentang zeitgeist 
atau roh zaman, karakter kepemimpinan Jokowi pasca 2024 boleh jadi kurang 
relevan dengan upaya akselerasi multiaspek bangsa Indonesia nantinya.

Oleh karena itu, glorifikasi yang terkesan semu atas sebuah kepemimpinan satu 
sosok tertentu kiranya harus segera dihentikan.

Bukankah amanah reformasi yang dicapai dengan berdarah-darah menghendaki 
terciptanya sirkulasi kepemimpinan bangsa yang sehat dan mewakili kepentingan 
rakyat banyak? (J61)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/715969619D0940CEA3F54BC6B63212E1%40A10Live.

Reply via email to