Written byS13Thursday, September 15, 2022 06:36

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mengapa-bbm-bisa-bahayakan-jokowi/
Mengapa BBM Bisa Bahayakan Jokowi?
Pemerintah telah menaikkan harga BBM. Pertalite naik hingga 30 persen, dari 
sebelumnya Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10.000 per liter. Kebijakan ini 
kemudian melahirkan gejolak di masyarakat. Demonstrasi dan penolakan terjadi di 
banyak tempat. Pasalnya, kenaikan BBM bersubsidi akan berdampak pada 
harga-harga komoditas lain, utamanya kebutuhan-kebutuhan pokok. Masalahnya, 
kebijakan ini mau tidak mau harus diambil jika tak ingin APBN makin terbebani – 
hal yang bisa saja justru berbahaya bagi kekuasaan Presiden Jokowi.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “If oil prices will go too high, it will slow down the world economy and 
would trigger a global recession”.

  ::Rodrigo Rato, mantan Managing Director IMF::

Sekitar 4000 tahun yang lalu, minyak bumi tercatat pertama kali digunakan. 
Sejarawan Yunani Kuno, Herodotus, menyebutkan bahwa aspal alami – yang 
merupakan bentuk padat dari minyak bumi – telah digunakan oleh masyarakat di 
era tersebut untuk pembangunan tembok-tembok dan menara kota Babylon.

Sedangkan minyak bumi sebagai bahan bakar telah digunakan sejak 2000 tahun lalu 
oleh masyarakat di Tiongkok. Ini salah satunya ditulis dalam I Ching yang 
merupakan catatan peninggalan Tiongkok dari era tersebut, bahwa minyak bumi 
dalam bentuk yang masih belum diekstrak telah digunakan sejak abad pertama 
sebelum masehi.

Masyarakat di Tiongkok bahkan sudah melakukan pengeboran untuk memperoleh 
sumber minyak dengan alat seadanya, misalnya dengan menggunakan kayu yang 
ujungnya diberi logam.  

Seiring perjalanan waktu dan perkembangan peradaban manusia, teknologi yang 
dikembangkan dari bahan bakar fosil ini memang mampu menjadi poin utama 
penggerak peradaban manusia. Walaupun batu bara mengambil peran yang besar 
sebagai sumber energi utama – katakanlah di era Revolusi Industri – perlahan 
tapi pasti, minyak bumi menjadi primadona.

Walaupun lebih sulit ditemukan ketimbang batu bara – ketika ditambang – minyak 
bumi dianggap lebih efisien dan mudah digunakan karena bentuknya yang cair. 
Power ratio atau rasio energi yang dihasilkan juga lebih besar ketimbang batu 
bara, dan karena bentuknya cair, minyak bumi lebih gampang diekstrak dan 
diangkut.

Ini kemudian mendapatkan resonansi yang lebih besar ketika di tahun 1876, 
ilmuwan asal Jerman bernama Nicolaus August Otto berhasil membuat internal 
combustion engine alias mesin berbahan bakar minyak untuk pertama kali – 
sekalipun sebenarnya pengembangannya merupakan kelanjutan dari upaya Etienne 
Lenoir di tahun 1860, Sigfried Marcus di tahun 1864, dan George Brayton di 
tahun 1876.

Hasil penemuan Otto ini kemudian digunakan oleh Karl Benz – pendiri perusahaan 
yang di kemudian hari menjadi Mercedes Benz – untuk membuat mobil dengan 
internal combustion engine pertama di dunia. Inilah yang kemudian menjadi 
tonggak industri otomotif dan perkembangannya hingga hari ini.

Industri otomotif ini juga mengubah banyak hal dalam aspek kehidupan manusia, 
termasuk dalam hal cara produksi – karena menggunakan model assembly line – 
hingga sumbangsihnya terkait mobilitas manusia.

Pertanyaannya tentu saja adalah mengapa kita harus bicara sejarah minyak bumi 
dan penggunaannya?

Well, jawabannya adalah karena ini menjadi poin penting untuk melihat 
signifikansi keberadaan minyak bumi – dan kemudian BBM – dalam sejarah manusia. 
Ini juga menunjukkan bahwa persoalan tentang BBM adalah intisari dari peradaban 
manusia itu sendiri. Dengan demikian, kebijakan naik turun harga BBM yang 
dibuat pemerintah – dalam hal ini oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) – adalah 
sebuah catatan terhadap sejarah dan bisa mempengaruhi gerak perubahan dalam 
kekuasaan.
Seperti sudah disinggung di awal, BBM jenis Pertalite yang merupakan BBM 
bersubsidi dan naik hingga 30 persen, akan mempengaruhi kehidupan masyarakat 
kelas bawah. Akan ada domino effect terhadap kenaikan bahan-bahan kebutuhan 
pokok. Jika efeknya sangat terasa, gejolak akan sangat mungkin terjadi terhadap 
kekuasaan Presiden Jokowi – hal yang sebetulnya pernah terjadi dalam sejarah 
Indonesia.

Pertanyaannya tentu saja adalah seberapa besar efeknya?


Belenggu Anggaran Negara: Dari Soekarno Hingga Jokowi
Jika kita bolak balik buku sejarah, hampir setiap Presiden di Indonesia pernah 
berada dalam posisi sulit untuk menaikkan harga BBM yang tentu saja adalah 
kebijakan tidak populer bagi masyarakat. Hanya Presiden BJ Habibie saja yang 
tidak pernah membuat kebijakan tersebut selama 18 bulan memimpin Indonesia.

Soekarno setidaknya membuat 3 kali kebijakan perubahan harga BBM bersubsidi. 
Semua kebijakan tersebut terjadi di sekitaran tahun 1965 yang notabene adalah 
salah satu tahun paling panas dalam sejarah Indonesia, utamanya pasca tragedi 
30 September 1965.

Sedangkan Soeharto tercatat juga paling banyak melakukan penyesuaian harga BBM 
bersubsidi. Dalam 32 tahun kepemimpinannya, tercatat 20 kali harga BBM 
bersubsidi mengalami perubahan.

Di sekitaran tahun 1998 pun Soeharto juga menaikkan harga BBM, tepatnya pada 16 
Mei 1998. Kala itu Premium menjadi Rp1.000 dan Solar Rp 550. Nah, perubahan 
harga di sekitaran tahun 1998 ini disebut sebagai salah satu alasan terjadinya 
aksi demonstrasi secara besar-besaran, yang pada akhirnya menjatuhkan Soeharto 
dari kursi Kepresidenan RI sekitar 5 hari setelah kebijakan kenaikan harga itu 
dibuat.

Pada masa kepemimpinan Gus Dur, perubahan harga BBM bersubsidi terjadi sebanyak 
enam kali, dalam dua tahun kepemimpinannya. Kenaikan tertinggi pada Premium 
sebesar 20,7% dan Solar sekitar 39,3%.

Setelah Gus Dur lengser, Megawati Soekarnoputri yang menggantikannya juga 
langsung membuat kebijakan menaikkan harga BBM bersubsidi. Secara keseluruhan, 
dalam tiga tahun kepemimpinannya Megawati melakukan 15 kali penyesuaian harga.

Pada era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, selama dua kali masa 
pemerintahannya tercatat harga BBM bersubsidi berubah sebanyak 8 kali.

Demikian pun di era Presiden Jokowi. Menariknya, setelah Reformasi, Jokowi 
menjadi presiden pertama yang menyampaikan sendiri informasi kenaikan harga BBM 
kepada publik. Jokowi juga yang menghapus jenis BBM Premium dari pembiayaan 
subsidi pemerintah. Mantan Wali Kota Solo itu juga tercatat telah 7 kali 
menaik-turunkan harga BBM bersubsidi.

Dari perbandingan-perbandingan kepemimpinan para presiden tersebut, jelas bahwa 
subsidi BBM adalah belenggu terhadap kepemimpinan di Indonesia. Para presiden 
memang harus berhadapan dengan kenyataan bahwa mereka kerap harus membuat 
kebijakan tidak populer. Hal itu harus dilakukan mengingat subsidi BBM adalah 
beban terhadap anggaran negara.

Di era Megawati misalnya, dalam 3 tahun kepemimpinannya, Indonesia menghabiskan 
total Rp 198,6 triliun untuk subsidi BBM alias sekitar Rp 66,2 triliun per 
tahun. Sedangkan dalam 10 tahun kepemimpinan SBY, total Indonesia menghabiskan 
Rp 1.297,8 triliun untuk subsidi BBM alias sekitar Rp 129,7 triliun per tahun.
Sementara, di tahun 2022, anggaran subsidi BBM yang dianggarkan pemerintah 
Jokowi telah menyentuh angka Rp 502,4 triliun. Kalau tidak ada kenaikan harga, 
besar kemungkinan jumlah tersebut akan bertambah Rp 198 triliun lagi.

Profesor Ekonomi dari Allegheny College, Stephen Onyeiwu, dalam salah satu 
tulisannya untuk The Conversation menyebutkan bahwa subsidi BBM adalah beban 
berat yang harus ditanggung oleh negara. Ia mencontohkan Nigeria yang karena 
beban subsidi BBM justru tak mampu melakukan pembiayaan memadai untuk sektor 
kesehatan dan pendidikan. Akibatnya, tingkat kesejahteraan dan pencapaian 
masyarakat secara keseluruhan menjadi sulit terwujud.

Sementara Javier Arze del Granado, David Coady dan Robert Gillingham dalam 
working paper mereka yang dipublikasikan oleh IMF menyebutkan bahwa subsidi BBM 
yang diterapkan negara-negara berkembang justru menjadi tak tepat sasaran. Ini 
karena justru kelompok masyarakat kelas ataslah yang lebih banyak menikmati 
subsidi tersewbut, bahkan hingga 6 kali lipat dibandingkan masyarakat kelas 
bawah.

Bisa Bahayakan Jokowi?
Dari refleksi terhadap setiap periode kekuasaan, jelas bahwa kebijakan subsidi 
BBM adalah beban terhadap anggaran negara. Subsidi BBM juga sering tak tepat 
sasaran karena malah lebih sering dinikmati masyarakat kelas menengah ke atas.

Dan dari 2 kali kekuasaan – di era Soekarno dan Soeharto – kenaikan harga BBM 
punya efek langsung terhadap kekuasaan mereka. Soekarno menghadapi tuntutan 
makin keras dari masyarakat akibat ekonomi yang nyungsep parah di era itu dan 
ditambah lagi kebijakan menaikkan harga. Ujung akhirnya adalah kekuasaan sang 
presiden pun berakhir.

Sementara kebijakan Soeharto menaikkan BBM di tahun 1998 juga menghadapi 
tuntutan masyarakat yang berujung pada lengsernya sang presiden – sekalipun 
masalah BBM ini bukan masalah utama yang membuat sang jenderal jatuh.

Intinya, persoalan harga BBM adalah hal yang bisa berbahaya bagi kekuasaan 
siapapun. SBY pernah mengalami demonstrasi yang masif ketika menaikkan harga 
BBM, dan bukan hal yang aneh pula jika hal itu kemudian terjadi juga di era 
Jokowi. Hanya saja, jangan sampai protes terhadap kenaikan BBM menjadi 
kulminasi dari kondisi negara dan tata kelola ekonomi secara keseluruhan. Kita 
tahu bahwa ekonomi Indonesia saat ini sedang “tidak baik-baik saja” dengan 
jumlah utang yang sudah menyentuh Rp 7 ribu triliun, dan berbagai persoalan 
lainnya.

Pada akhirnya, sejarah sudah membuktikan bahwa BBM adalah salah satu poin 
penting dalam perjalanan kehidupan manusia. Menaikkan dan menurunkan harga BBM 
pun jadi kebijakan politis yang punya dampak tertentu. Mungkin, Presiden Jokowi 
perlu juga menarik refleksi dalam dari masalah-masalah ekonomi yang saat ini 
sedang terjadi pada Indonesia. (S13)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/230FEA8B6CBF4C068F9C29EACA042008%40A10Live.

Reply via email to