Waspadai Teknik Propaganda Politik Menjelang Pemilu 2024 !!!

Menjelang pemilu 2024 nampaknya Rakyat Indonesia akan menghadapi propaganda
politik, dalam konteks ini saya berpendapat bahwa Rakyat Indonesia harus
mencermatinya secara serius. Dalam konteks ini, yang harus di cermati adalah
kemungkinan adanya beberapa orang Indonesia, terutama sekali elite politik
dari partai-partai politik di Indonesia, ada yang telah bersiap-siap untuk
menggunakan teknik propaganda Glittering Generality; yaitu menghubungkan
sesuatu dengan >>kata yang baik<< , dipakai untuk membuat kita menerima dan
menyetujuinya sesuatu tanpa memeriksa bukti-bukti.  

Menurut pengamatan saya,Glittering Generality pada umumnya muncul dalam
pengiklanan yang mengandung penipuan pada tingkat tertentu; sehingga
tindakan resmi diberlakukan. Beberapa pabrik misalnya, pabrik Sabun, pabrik
Margarine, pabrik Sampo ; diminta oleh investornya untuk mengeluarkan
pernyataan bahwa produk mereka menggunakan ``bahan-bahan alami``. Demikialah
yang digunakan dalam periklannan pabrik-pabrik di negara-negara Kapitalis
neoliberal bersaing dalam masalah nama-nama Produk dan Promosi.

Glittering Generality ternyata juga muncul bidang politik, di Indonesia
Glittering Genertality ini muncul dalam menjelang Pemilu 2024, yang di
isukan sebagai sebuah kegiatan elite politik yang tak kenal susah payah
dalam usahnya untuk meningkatkan kesejahteraan Rakyatnya, ini tercermin
dalam media sosial, antara lain yang muncul di Kompas.com dengan judul
Ricuhnya Elite Politik ``naik-Turun Gunung `` baca:
<https://nasional.kompas.com/read/2022/09/19/06000031/riuhnya-elite-politik-
naik-turun-gunung>
https://nasional.kompas.com/read/2022/09/19/06000031/riuhnya-elite-politik-n
aik-turun-gunung. 
``Turun-naik`` Gunung kini telah menjadi perdebatan panas yang menarik, yang
di awali dari rekaman video Presiden ke-6 Indonesia Susilo Bambang
Yudhoyono, majelis Tinggi Partai Demokrat yang mengancam akan turun gunung
karena beliau mendengar  kabar ada tanda-tanda  bahwa pelaksanaan Pemilihan
Umum (Pemilu) 2024 penuh dengan kecurangan, bahwa Pemilu 2024 akan
diselenggarakan dengan tidak jujur dan tidak adil. Penyataan SBY yang diduga
dilakukan saat acara Rapat Pimpinan Nasional Partai Demokrat itu membuat
pamor ``turun`` gunung.  Pernyataan ``turun`` Gunung SBY sepertinya bagus,
mencerminkan bahwa SBY telah berusaha membenahi sistem Pemilu  2024 yang
penuh dengan kecurangan. Menurut pengamatan saya ,sebagian besar Rakyat
Indonesia memandang bahwa Ricuhnya Elite Politik ``naik-Turun Gunung
hanyalah merupakan jalan yang efektif  untuk memancing timbulnya kepercayaan
Rakyat terhadap SBY, yang se-olah-olah akan mencegah terjadinya kecurangan
dalam pemilu 2024, sehingga dapat  meningkatkan kesejahteraan
Rakyat.Demikianlah makna Glittering Generality yang disebar luaskan di media
masa lewat Kompas.com dengan judul judul Ricuhnya Elite Politik ``naik-Turun
Gunung. 

Dalam konteks ini saya ``melihat`` Glittering Generality adalah merupakan
suatu bentuk teknik Propaganda, yang mengkaitkan suatu kata-kata yang baik,
yang dipakai untuk membuat kita menerima dan menyetujuinya tanpa memeriksa
bukti-bukti. Dalam konteks ini saya melihat bahwa kekacauan pemilu di era
reformasi ini teutama disebabkan oleh karena pemilu Indonesia selalu
menggunalan sistem Hirarki dominasi atau hirarki kekuasaan, yang bisa
disebut sebagai Hirarki wewenang, yang dalam praktek kehidupan masyarakat
telah membawa manusia pada sifat penguasaan terhadap orang lain (Dominasi
atas orang lain), sifat kemarahan, sifat penindasan manusia atas manusia.
Khususnya di Indonesia Hirarki dominasi berdampak pada pembunuhan terhadap
Demokrasi. Dan Inilah yang terjadi di Indonesia era ``Reformasi``yang sudah
24 tahun berlalu. Kebijakan inilah yang tetap dipertahankan oleh jaringan
Oligarki yang mendominasi kekuasaan di Indonesia khusunnya di MK. Ini
tercermin dalam ketetapan Pemilu yang diatur dengan apa yang disebut
Presidential Threshold yaitu ambang batas perolehan suara yang harus
diperoleh partai politik dalam suatu pemilu untuk dapat mengajukan calon
presiden. Rakyat menghendali adanya perubahan sistem Pemilu, tapi Majelis
Konstitusi (MK), menolaknya. Ini berarti  Benar apa yang di katan oleh
Yusril Ihza Mahendra bahwa MK tidak lagi sebagai 'the guardian of
constitution', tetapi MK telah bermetaformosis  menjadi 'the guardian of
oligarchy' . Masalah inilah yang akan menjebabkan terrjadinya kecurangan
pemilu 2024 yang di sinyallir oleh SBY.  Oleh karena Undang-Undang Pemilu
yang bersandar pada Presidential Threshold inilah yang menyebabkan mengapa
SBY turun gunung, untuk memperkuat konsolidasi partai demokrat dengan Nasdem
dan PKS. yang akan  menetapkan AHY paling tidak sebagai cawapres pada pemilu
2024. Untuk maksud itulah  maka YBY memerlukan dirinya untuk turun Gunung .
Jadi jangan  dilebih-lebihkan. Selama MK tetap menjadi ``the guardian of
constitutioin``, jangan berilusi Pemilu di Indonesia akan dapat menghasilkan
suatu Presiden yang visioner, Karismatik dan Revolusioner, seperti yang
sudah saya sampaikan dalam tulisan yang sebelumnya.

R-Roeslan.

 

 

 

 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/000001d8cd06%24a687dfd0%24f3979f70%24%40gmail.com.

Reply via email to