Koq dibidik? Emangnya Jokowi salah makanya harus ditembak?
Sepertinya SBY sdg pusing dgn PD yg mau ditransfer ke AHY ttp gagal.
Wong skrg mau koalisi saja belum ada kepastian. PKS yg memang tdk ada temen 
jelas mau koalisi dgn  PD, tetapi Nasdem itu belum tentu mau.
Kalau Nasdem tdk mau ya PD bakalan bisa tutup krn gak cukup suara lewatin 
syarat ambang batas.

Jadi Jokowi bkn dibidik, melainkan nama Jokowi dipakai oleh SBY utk 
menyelamatkan PD.
Ini kan jelas membuktikan AHY tdk dan blm siap dikarbit shg SBY hrs turun 
gunung.

Ada2 saja dagelan.

Salam
Nesare



From: [email protected] <[email protected]> On Behalf Of 
Chan CT
Sent: Thursday, September 22, 2022 10:11 PM
To: GELORA45_In <[email protected]>
Subject: [GELORA45] Saat SBY Dianggap Bidik Jokowi

Saat SBY Dianggap Bidik Jokowi
Tim detikcom - detikNews
Jumat, 23 Sep 2022 06:14 WIB
[Presiden Joko Widodo menerima Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana 
Merdeka. Keduanya terlihat berbincang santai dan minum teh bareng di beranda 
Istana.]Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 
(Anung/SBY Centre)

Jakarta - Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono 
(SBY) menduga ada upaya agar Pilpres 2024 nanti diatur hanya akan diikuti oleh 
dua pasangan capres-cawapres. PDI Perjuangan (PDIP) menilai dugaan SBY soal 
Pemilu dan Pilpres 2024 akan curang untuk membidik Presiden Joko Widodo 
(Jokowi).
Dugaan SBY disampaikan saat Rapimnas Partai Demokrat 2022 di Jakarta Convention 
Center (JCC), Jakarta Pusat, Kamis (15/9) lalu. SBY membeberkan adanya 
tanda-tanda Pemilu 2024 akan berlangsung secara tidak jujur dan tidak adil.

Di depan kader Partai Demokrat, SBY menjelaskan mengapa dia harus turun gunung 
menghadapi Pemilu 2024. SBY mendengar bahwa ada tanda-tanda Pemilu 2024 bisa 
tidak jujur dan tidak adil.

Baca juga:
Demokrat Anggap PDIP Berlebihan soal Tudingan Jokowi Jadi Sasaran SBY

"Konon akan diatur dalam pemilihan presiden nanti yang hanya diinginkan oleh 
mereka dua pasangan capres-cawapres saja yang dikehendaki oleh mereka. 
Informasinya Demokrat sebagai oposisi jangan harap bisa mengajukan 
capres-cawapresnya sendiri bersama koalisi tentunya," ucap SBY.

"Jahat bukan? Menginjak-injak hak rakyat bukan? Pikiran seperti itu batil, itu 
bukan hak mereka, pemilu adalah hak rakyat, hak untuk memilih dan hak untuk 
dipilih, yang berdaulat juga rakyat. Dan ingat selama 10 tahun dulu kita di 
pemerintahan 2 kali menyelenggarakan pemilu, selama pilpres Demokrat tidak 
pernah melakukan kebatilan seperti itu," lanjutnya.

Pernyataan SBY itu menuai pro dan kontra di publik, PDIP pihak yang paling 
keras membantah dugaan SBY tersebut. PDIP justru balik membeberkan dugaan 
kecurangan pilpres pada era pemerintahan SBY, di mana peroleh suara Partai 
Demokrat tiba-tiba melonjak.

[Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto (dok PDIP)]
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. (dok. PDIP)

Baca juga:
Tangkisan PD Atas Serangan PDIP 'SBY Pengalaman dengan Kecurangan'

PDIP: Jokowi Jadi Sasaran SBY

Terbaru, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto kembali bicara soal SBY menduga 
kecurangan dan tidak adilnya jelang Pemilu 2024 dan Pilpres 2024. Hasto menilai 
pernyataan SBY itu menyasar ke Presiden Jokowi.

"Karena Pak Presiden Jokowi lah yang menjadi sasaran dari Pak SBY," kata Hasto 
di Sekolah PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis (22/9). Hasto menjawab 
pertanyaan mengapa PDIP berkomentar soal kecurangan pemilu.

Pernyataan SBY soal dugaan kecurangan dan tidak adilnya pemilu membuat PDIP 
merespons. Sebab, menurut Hasto, SBY menyasar Jokowi.

Simak Video 'Daftar Proyek SBY yang Diselesaikan di Era Jokowi':



"Sehingga ketika Pak SBY menyampaikan saya melihat, saya mendengar, dan 
kemudian bertanya dalam forum terpenting itu wakil bukan mencederai rakyat, 
bukan jahat, bukan itu kan suatu pernyataan yang harus kami respons," ujarnya.

'Menyenggol' Jokowi membuat PDIP memberikan sejumlah temuan hasil penelitian 
dari luar negeri. PDIP justru heran mengapa raihan suara Demokrat meningkat 
pada pemilu-pemilu sebelumnya.

"Sehingga kami memberikan berbagai bukti-bukti yang seharusnya itu juga dijawab 
dengan fakta-fakta sebagaimana tulisan dari Marcus Mietzner tersebut, ya memang 
badan riset kami juga melakukan satu riset bahkan saat itu saya di Australia 
selama satu bulan dan untuk menjadi jawaban mengapa hanya partai yang bisa naik 
300% di tengah era multipartai yang sangat kompleks. Bandingkan dengan kenaikan 
dari partai-partai yang lain dan zaman Orde Baru aja tidak ada yang langsung 
naik 300%," imbuhnya.

[Andi Arief (dok. Andi Arief).]
Ketua Bappilu Partai Demokrat Andi Arief. (dok. Andi Arief)

Baca juga:
4 Hal tentang 'Dewan Kolonel', Loyalis Puan dari Senayan

Demokrat Anggap PDIP Lebay

Ucapan Hasto Kristiyanto bahwa SBY membidik Jokowi mendapat respons dari Partai 
Demokrat. Partai Demokrat menganggap pernyataan Hasto berlebihan terhadap SBY.

"Jawaban saya, terlalu berlebihan lah ya PDIP, terutama juga Hasto yang terlalu 
berlebihan menanggapi statement dari Pak SBY kemarin," kata Ketua Bappilu 
Demokrat Andi Arief.

Baca juga:
Senior PDIP: Hubungan Megawati dan SBY Memang Pahit

Andi menilai SBY bukan orang baru di ranah politik. Menurut Andi, ihwal yang 
disampaikan oleh SBY tak sekadar sebuah peringatan untuk PDIP, melainkan 
mengandung sarat kepentingan demi keberlangsungan demokrasi.

"Pak SBY ini bukan orang baru di politik. Dia punya segudang pengalaman. 
Tentunya selalu berupaya agar menjaga kualitas demokrasi Indonesia ini tidak 
tergerus. Jadi itu sebetulnya warning buat kita semua, bukan hanya PDIP. Jadi 
tidak benar kalau itu menyasar kepada PDIP tetapi menyasar kepada seluruh upaya 
yang ingin mematikan demokrasi," katanya.

Lebih lanjut, Andi mengatakan bahwa proses pemilu tak hanya saat pelaksanaan 
pemungutan suara, melainkan juga ada sejumlah tahapan sebelumnya. Andi tak 
mempersoalkan apabila munculnya dua paslon di pemilu nanti terjadi secara 
ilmiah.

Namun, yang menjadi problem yakni ketika kemunculan dua paslon itu merupakan 
hasil rekayasa politik. Dia kemudian menyinggung bahwa Hasto pernah 
menyampaikan bahwa pemilu nanti diikuti oleh dua paslon.

"Begini ya, pemilu itu kan ada dua. Pertama, hari H-nya, atau ibarat perkawinan 
itu resepsinya. Kedua, proses persiapannya. Proses persiapannya itu harus 
bagus, sesuai dengan demokrasi. Jadi kalau memang dua calon terjadi secara 
alamiah, misalnya tidak ada orang yang berani mencalonkan diri, itu kan proses 
demokrasi. Tapi kalau sudah ada upaya-upaya tertentu untuk mengatur sehingga 
hanya menginginkan 2 pasang saja dan 2 pasang itu yang bilang PDIP loh, melalui 
Pak Hasto," katanya.

"Tentunya kita sangat heran dan bertanya kenapa sampai keluar statement 
pernyataan itu. Nah jadi Pak SBY inikan pergaulan politiknya luas, informasi 
juga bukan seperti informasi sembarangan ya. Jadi ada informasi yang belum bisa 
kita kemukakan kepada publik bahwa memang ada upaya atau rekayasa seperti itu," 
lanjut dia.

Baca juga:
Pro Kontra Usulan Megawati agar Nomor Urut Parpol Tak Diganti

(rfs/rfs)

Baca artikel detiknews, "Saat SBY Dianggap Bidik Jokowi" selengkapnya 
https://news.detik.com/pemilu/d-6307287/saat-sby-dianggap-bidik-jokowi.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
--
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke 
[email protected]<mailto:[email protected]>.
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/FBCFCF8382074C0C98BAA1E727A07DC2%40A10Live<https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/FBCFCF8382074C0C98BAA1E727A07DC2%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/BL0PR07MB5441DCCAD13BE2F337260092F0519%40BL0PR07MB5441.namprd07.prod.outlook.com.

Reply via email to