http://megapolitan.kompas.com/read/2016/09/24/14010271/gara-gara.ahok.pilkada.dki.berasa.pilpres
 
http://megapolitan.kompas.com/read/2016/09/24/14010271/gara-gara.ahok.pilkada.dki.berasa.pilpres.

  
 Gara-gara Ahok, Pilkada DKI Berasa Pilpres... 
 Sabtu, 24 September 2016 | 14:01 WIB
       
http://megapolitan.kompas.com/read/2016/09/24/14010271/gara-gara.ahok.pilkada.dki.berasa.pilpres.#komentar
  
http://megapolitan.kompas.com/read/2016/09/24/14010271/gara-gara.ahok.pilkada.dki.berasa.pilpres.#
 529
Shares


 
 WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHAGubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, saat 
memasuki ruangan kerja usai pelantikan di Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin 
(15/10/2012). Jokowi-Ahok terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI 
Jakarta Periode 2012-2017.
Oleh: Fidel Ali 
 

 Pilkada DKI Jakarta http://megapolitan.kompas.com/tag/Pilkada%20DKI%20Jakarta 
menjadi fenomena baru dalam perpolitikan Tanah Air. Tokoh-tokoh kampiun 
nasional mengambil peran sangat sentral.

Lihat saja peran Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri 
http://megapolitan.kompas.com/tag/Megawati%20Soekarnoputri, Ketua Umum Partai 
Demokrat http://megapolitan.kompas.com/tag/Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, 
dan Ketua Umum Partai Gerindra http://megapolitan.kompas.com/tag/Gerindra 
Prabowo Subianto http://megapolitan.kompas.com/tag/Prabowo%20Subianto.

Keterlibatan para ketua umum memang diharuskan dalam UU Pilkada. Karena 
rekomendasi dari ketua umum diperlukan agar calon yang diusung tidak mengalami 
perbedaan pendapat antara pimpinan partai di tingkat lokal dengan pusat.

Selain itu, tidak bisa dipungkiri, tiga tokoh itu adalah politikus karismatik 
yang sangat berpengaruh di Tanah Air. Langkah-langkah mereka menjadi penentu 
arah politik Indonesia, setidaknya selama mereka masih hidup.

Terlebih, tiga partai itu dinilai sebagai partai yang masih menjual figur 
pemimpinnya. Keunggulannya, kesolidan partai di dalam pun sulit dipecah.

Karena itu, akan sangat menarik jika tiga tokoh itu "turun gunung" dan sibuk 
berperan di Pilkada DKI 2017. Kita tidak bisa menutup mata pengaruh dari tiga 
tokoh tersebut.

Benar kata SBY, Pilkada DKI 2017 ini pilkada rasa pilpres. Tidak salah 
pernyataan SBY tersebut.

Setidaknya, hal ini terlihat dari peranan Megawati, SBY, dan Prabowo dalam 
pilkada ini. Bukan tidak mungkin Presiden Joko Widodo 
http://megapolitan.kompas.com/tag/Jokowi juga ikut berperan, meski tidak secara 
langsung.
 
 KOMPAS.COM/ANDREAS LUKAS ALTOBELIBasuki Tjahaja Purnama (Ahok) tersenyum saat 
dipakaikan jas berwarna merah oleh Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri di 
KPU DKI Jakarta, Rabu (21/9/2016). 

 

Langkah Megawati pemantiknya

Peran Megawati sangat kuat ketika mendaftarkan Basuki Tjahaja Purnama 
http://megapolitan.kompas.com/tag/Basuki%20Tjahaja%20Purnama atau Ahok dengan 
Djarot Saiful Hidayat 
http://megapolitan.kompas.com/tag/Djarot%20Saiful%20Hidayat di KPU DKI. 
Padahal, Ahok diusung juga oleh tiga parpol lain, Partai Golkar 
http://megapolitan.kompas.com/tag/Golkar, Partai Nasdem 
http://megapolitan.kompas.com/tag/Nasdem, dan Partai Hanura 
http://megapolitan.kompas.com/tag/Hanura.

Dari tiga parpol lain yang mengusung Ahok, tidak ada satu pun batang hidung 
ketua umumnya yang dampingi Ahok mendaftar. Hanya Megawati.

Tak cukup sampai di situ, saat mengantarkan Ahok ke KPU DKI, Megawati 
mempersilakan Ahok semobil dan duduk di sampingnya. Sementara Djarot, duduk di 
kursi depan. Jelas sekali Megawati menunjukkan arti penting Pilkada DKI 2017.

Sehari sesudah Megawati mengantarkan Ahok ke KPU DKI, SBY pun bereaksi. Ia tak 
ingin diam menyikapi peran Megawati yang sangat sentral dalam mengusung Ahok.
 
 SBY kemudian menyiapkan jurusnya, sang putra mahkota, Agus Harimurti 
http://megapolitan.kompas.com/tag/Agus%20Harimurti Yudhoyono dan dipasangkan 
dengan birokrat Pemprov DKI, Sylviana Murni 
http://megapolitan.kompas.com/tag/Sylviana%20Murni. Pilihan ini pun didukung 
PPP, PKB, dan PAN.

Keputusan SBY untuk menarik Agus yang saat ini masih aktif di infanteri TNI 
http://megapolitan.kompas.com/tag/TNI AD dengan pangkat mayor cukup riskan. 
Apalagi, Agus masih hijau untuk masuk dalam perpolitikan, pun pemerintahan. Tak 
hanya itu, dengan maju di Pilkada DKI, Agus diharuskan mundur dari militer.

Karena itu, langkah SBY disebut-sebut juga mematikan karier militer Agus yang 
cemerlang dan memiliki kemungkinan menjadi seorang jendral. Sebagai informasi, 
Agus memiliki tradisi keluarga tentara,  sebut saja SBY yang memiliki bintang 
tiga di pundaknya sebelum terjun ke politik. Di generasi sebelumnya ada kakek 
Agus, Letjen (purn) Sarwo Edhie Wibowo, dan paman Agus, Jendral (purn) Pramono 
Edhie Wibowo. 

Soekarno dulu pernah berkata, "Dalam revolusi, bapak makan anak adalah hal yang 
lumrah". Mungkin saja SBY sedang melakukan revolusi terhadap Agus, atau justru 
sebaliknya, entahlah.

Keputusan SBY yang diumumkan tengah malam (22/9/2016) ini memang cukup menarik 
perhatian, karena SBY dikenal sebagai karakter yang penuh kalkulasi dan 
pertimbangan. Agus selama ini disebut-sebut sudah diproyeksikan SBY untuk 
menjadi presiden. Langkah Agus di Jakarta akan menjadi stepping 
stonemendekatkan dirinya menuju Istana.

Prabowo juga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia paham betul dinamika 
politik nasional yang kini dikuasai kubu Megawati.

Prabowo tidak ingin Jakarta kembali dikuasai Banteng, terlebih Ahok sebelumnya 
adalah kader Partai Gerindra http://megapolitan.kompas.com/tag/Gerindra yang 
akhirnya memutuskan keluar karena tidak setuju dengan keputusan partai yang 
ingin pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD ketika itu.

Langkah Prabowo terlihat hati-hati, bahkan ketika dirinya diminta ke Cikeas, ia 
menolak calon yang diusung koalisi di Cikeas itu yang diketahui mengusung Agus.

Prabowo pun mengerti, Agus yang menjadi putra mahkota SBY kemungkinan 
diproyeksikan juga sebagai calon presiden nantinya. Ini tentu situasi yang 
kurang baik bagi diri dan partainya.

Langkah Gerindra http://megapolitan.kompas.com/tag/Gerindra untuk mengajukan 
calonnya memang alot, lobi belasan jam hingga berganti hari. Sandiaga Uno 
http://megapolitan.kompas.com/tag/Sandiaga%20Uno yang sebelumnya dipastikan 
akan diusung Gerindra http://megapolitan.kompas.com/tag/Gerindra belum menemui 
kepastian dengan siapa ia akan maju.

Belakangan, nama Anies Baswedan 
http://megapolitan.kompas.com/tag/Anies%20Baswedan muncul dan menjadi calon 
gubernur dari Partai Gerindra http://megapolitan.kompas.com/tag/Gerindra dan 
PKS. Sandiaga yang selama delapan bulan menyosialisasikan dirinya sebagai bakal 
calon gubernur harus puas dengan posisi calon wakil gubernur dengan keputusan 
yang diambil pada Jumat (23/9/2016).

Mungkin situasi akan bertambah pelik jika saja Megawati mendaftarkan 
Ahok-Djarot http://megapolitan.kompas.com/tag/Ahok-Djarot di hari terakhir, 23 
September 2016, bukan saat hari pertama pendaftaran (21/9/2016). Lobi-lobi 
kilat yang kalang kabut bisa saja terjadi, atau jika deadlock bisa 
sajaAhok-Djarot http://megapolitan.kompas.com/tag/Ahok-Djarot jadi calon 
tunggal.
 
 KOMPAs.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELIAgus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni 
saat mendaftar di KPU DKI Jakarta, Jumat (23/9/2016). Agus dan Sylviana resmi 
mendaftarkan diri sebagai pasangan bakal cagub dan cawagub Pilkada DKI Jakarta, 
setelah diusung oleh empat partai yakni Demokrat, PKB, PPP, PAN. 

 

Magnet Ahok

Nama Ahok yang membuat para tokoh kampiun itu ambil peran tak bisa dipungkiri 
adalah penyebabnya. Ahok sejauh ini dinilai tidak memiliki lawan yang kuat di 
Pilkada DKI 2017. Karena itu, para tokoh tadi pun putar otak, termasuk Megawati 
yang belakangan mengusung Ahok.

PDI-P http://megapolitan.kompas.com/tag/PDI-P pun mengalami dinamika yang luar 
biasa sebelum memutuskan mengusung Ahok. Sempat ada gejolak di internal mereka, 
meski pada akhirnya mengaku solid dukung Ahok.

Lantaran Ahok diusung Megawati, sumbu pun tersulut hingga membuat SBY dan 
Prabowo ikut dalam pertandingan. Memang, dukungan Megawati ini membangkitkan 
romantisme persaingan di pilpres.

Perlu diingat, Ahok sebenarnya sudah kuat dengan maju melalui jalur 
perseorangan karena persyaratannya sudah mencukupi. Meski akhirnya, Ahok 
memilih maju melalui jalur parpol dengan dukungan dari Partai Golkar 
http://megapolitan.kompas.com/tag/Golkar, Partai Nasdem 
http://megapolitan.kompas.com/tag/Nasdem, dan Partai Hanura 
http://megapolitan.kompas.com/tag/Hanura. Pilihan PDI-P 
http://megapolitan.kompas.com/tag/PDI-P yang belakangan mendukung Ahok inilah 
yang membuat tokoh-tokoh yang tidak mendukung Ahok langsung bereaksi.

Sumbu yang tersulut itulah yang membuat SBY dan Prabowo turun gunung. Panggung 
pilkada semakin terlihat layaknya pilpres.
 
 
 Facebook Prabowo SubiantoPrabowo Subianto bersama calon gubernur DKI Anies 
Baswedan dan calon wakil gubernur DKI Sandiaga Uno. 

 

Rasa Pilpres

Pilpres 2019 memang masih empat tahun lagi, namun waktu itu akan cukup untuk 
mematangkan calon agar mumpuni maju di kancah nasional. Salah satunya adalah 
dengan menjadikan Jakarta sebagai laboratorium politik menuju Istana. 
Setidaknya PresidenJoko Widodo http://megapolitan.kompas.com/tag/Jokowi 
membuktikan keberhasilan itu

Jakarta adalah kunci! Tidak berlebihan, karena di sinilah pusat kekuasaan 
berada. Pusat perhatian media, dan konsentrasi masyarakat. Apa yang terjadi di 
Jakarta langsung tersebar di seantero nusantara.

Karena itu, penguasa Jakarta akan sangat vital ditempati. Jika bukan sebagai 
batu loncatan, ya sebagai eksistensi pengaruh perpolitikan nasional.

Selain itu, Ahok juga berulang kali menyebut dirinya ingin menjadi orang nomor 
satu di Tanah Air lantaran banyak orang yang meremehkan dirinya. Ahok pun 
menilai dirinya cocok mendampingi Jokowi di pilpres.
 
 Menarik melihat para tokoh senior skala nasional turun gunung untuk 
memperhatikan Jakarta. Nama "Khusus" yang disandang propinsi kita memang 
benar-benar dapat perlakuan spesial dari tokoh-tokoh tersebut.

Namun, Jakarta butuh konsistensi kebijakan, butuh keberlanjutan kepemimpinan, 
tidak bisa bongkar pasang kebijakan dalam jangka pendek. Pergantian pucuk 
pimpinan di Jakarta di tengah jalan dikhawatirkan mengganggu konsistensi 
tersebut.

Selain itu, kita bisa saja tertawa melihat betapa perpolitikan kita dipegang 
secara oligarki. Tiga pucuk pimpinan itu memang bagai memiliki poros 
tersendiri. Poros Megawati, poros SBY, dan poros Prabowo. Apa yang terjadi di 
Indonesia sangat dipengaruhi oleh kepentingan mereka.

Kembali ke Jakarta. Tiga pasangan calon sudah mendaftar, tidak tertutup 
kemungkinan saat kampanye nanti pengaruh tiga politikus senior itu kembali 
terlihat.
 
 Kita nikmati saja panggung yang ada, dengan pilihan yang logis dan sesuai, 
silakan memreteli apa yang akan dilakukan pasangan calon itu untuk Jakarta, 
bukan sebatas mengalahkan sang petahana...
 

Kirim email ke