http://ekonomi.metrotvnews.com/makro/lKY10BJK-paket-kebijakan-ekonomi-dinilai-gagal
 
http://ekonomi.metrotvnews.com/makro/lKY10BJK-paket-kebijakan-ekonomi-dinilai-gagal

  
 Paket Kebijakan Ekonomi Dinilai Gagal Husen Miftahudin    •    Kamis, 22 Sep 
2016 16:57 WIB
paket kebijakan ekonomi http://ekonomi.metrotvnews.com/topic/6085
 Ekonomi http://ekonomi.metrotvnews.com/  Makro 
http://ekonomi.metrotvnews.com/makro
 TWITTER 
https://twitter.com/intent/tweet?text=Paket%20Kebijakan%20Ekonomi%20Dinilai%20Gagal%20http://metrotvn.ws/lKY10BJK
 FACEBOOK 
https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fekonomi.metrotvnews.com%2Fmakro%2FlKY10BJK-paket-kebijakan-ekonomi-dinilai-gagal
 GOOGLE+ 
https://plus.google.com/share?url=http%3A%2F%2Fekonomi.metrotvnews.com%2Fmakro%2FlKY10BJK-paket-kebijakan-ekonomi-dinilai-gagal
 
 Ekonom Indef, Enny Sri Hartati. (FOTO: MI/Arya Manggala)
 
 Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah telah mengeluarkan 13 paket kebijakan 
untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Sayangnya sederet paket tersebut secara 
realita dianggap tak membuahkan hasil menggembirakan, bahkan dinilai gagal.

Direktur Ekesekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) 
Enny Sri Hartati mengakui, paket-paket awal yang telah dikeluarkan, hingga saat 
ini belum terasa dampaknya. Salah satu yang menjadi bukti adalah tingginya 
harga gas untuk industri.


 Kata dia, dalam paket kebijakan ekonomi jilid III, pemerintah menekan harga 
bahan bakar minyak (BBM), listrik, dan gas. Salah satu aturannya adalah menekan 
harga gas hingga sebesar USD6 per juta British thermal unit (MMBTU).

"Masalah harga gas ini pemerintah sudah meresponnya dengan mengeluarkan paket 
ekonomi jilid III dan sudah tertulis harga gas untuk industri USD6 per MMBTU. 
Itu kan sebenarnya sudah clear, kurang clear apa coba," ketus Enny dalam FGD 
Forum Wartawan Industri (Forwin) di kantor Kementerian Perindustrian 
(Kemenperin), Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (22/9/2016).

Enny menyayangkan langkah kementerian dan lembaga yang tidak mampu melakukan 
gerak cepat untuk mengimplementasi paket kebijakan tersebut. Alhasil harga gas 
justru menekan beban biaya industri sehingga sulit untuk meningkatkan daya 
saing.

"Jadi pemerintah memutuskan di paket ketiga itu otomatis pemerintah sudah 
mengetahui urgensi harga gas itu harus turun. Sekarang pertanyaannya, apa sih 
yang menyebabkan harga gas itu tidak turun dan tidak mampu dieksekusi?" 
tuturnya.

Menurutnya, ada banyak persoalan sehingga membuat harga gas untuk industri tak 
mampu bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya.

"Persoalannya menurut kami semuanya bermasalah. Di sisi hulu produksinya sangat 
tidak kompetitif, karena di hulunya saja sudah sama dengan harga di end user 
negara-negara tetangga," pungkas Enny.

Sebagai informasi, salah satu isi dalam paket kebijakan ekonomi jilid III, 
pemerintah berupaya untuk menurunkan harga gas. Untuk pabrik dari lapangan gas 
baru dengan kontrak USD6 hingga USD8 per MMBTU mendapat pengurangan harga 0 
hingga USD1 per MMBTU.

Sementara untuk pabrik dari lapangan gas baru dengan kontrak di atas USD8 per 
MMBTU, harga gas turun USD1 hingga USD2 per MMBTU. Hal ini untuk program 
hilirisasi dan mendukung industri padat karya seperti industri pupuk dan 
petrokimia. Penurunan harga gas untuk industri tersebut mulai efektif berlaku 1 
Januari 2016.


(AHL)

 

Kirim email ke