http://www.cnnindonesia.com/politik/20160924160220-32-160846
/jj-rizal-sebut-jakarta-tak-perlu-pemimpin-santun/
JJ Rizal Sebut Jakarta Tak Perlu Pemimpin
Santun
*Joko Panji Sasongko*, CNN Indonesia
Minggu, 25/09/2016 00:47 WIB
JJ Rizal Sebut Jakarta Tak Perlu Pemimpin Santun Sejarawan JJ Rizal
mengisahkan kepemimpinan Ali Sadikin yang menurutnya adalah bentuk dari
keadaban publik, hal yang tidak banyak dimiliki pemimpin saat ini. (CNN
Indonesia/Gautama Padmacinta)
*Jakarta, CNN Indonesia * -- Sejarawan JJ Rizal menyatakan DKI Jakarta
tidak membutuhkan pemimpin yang memiliki kesantunan. Menurutnya, Jakarta
hanya membutuhkan pemimpin yang memahami etika keadaban publik.
Hal tersebut terkait dengan adanya perdebatan soal kesantunan soal sosok
para calon kepada daerah DKI di Pilkada.
"Kesantunan itu tidak dibutuhkan dalam membangun Jakarta," ujar Rizal di
sebuah diskusi di Cikini, Jakarta, Sabtu (24/9).
Pilihan Redaksi
*
Cerita Anies Soal Pertukaran Posisi Cagub dengan Sandiaga
<http://www.cnnindonesia.com/politik/20160924050840-32-160789/cerita-anies-soal-pertukaran-posisi-cagub-dengan-sandiaga/>
*
Tiga Pasang Calon Gubernur DKI Jalani Pemeriksaan
Kesehatan
<http://www.cnnindonesia.com/politik/20160924084023-32-160794/tiga-pasang-calon-gubernur-dki-jalani-pemeriksaan-kesehatan/>
*
Polling CNN Indonesia: Ahok-Djarot Masih Unggul
<http://www.cnnindonesia.com/politik/20160924095359-32-160800/polling-cnn-indonesia-ahok-djarot-masih-unggul/>
*
Tim Pemenangan: Anies-Sandiaga Santun, Antitesis Sifat
Ahok
<http://www.cnnindonesia.com/politik/20160924132528-32-160818/tim-pemenangan-anies-sandiaga-santun-antitesis-sifat-ahok/>
Rizal menjelaskan, kesantunan seorang pemimpin harus diuji dalam sebuah
situasi permasalahan yang membawa institusinya.
Dalam permasalahan itu, sang pemimpin harus mampu menjaga nama baik
institusi sekaligus menjaga etika publik dalam menjelaskan akar
permasalahan.
*Kemarahan Ali Sadikin*
Rizal menyebut, baru mantan Gubernur DKI Ali Sadikin yang memiliki etika
keadaban publik. Ia bercerita, satu kasus yang membuat Ali memiliki
etika itu yaitu saat menyikapi kasus jembatan yang rubuh padahal baru
tiga bulan berdiri.
Saat itu, di hadapan media, Ali secara jantan menyatakan bahwa rubuhnya
jembatan merupakan tanggung jawab dirinya sendiri, bukan bawahannya atau
pihak lain.
"Bang Ali konferensi pers sendiri. Hal pertama dan dikatakan terakhir
adalah 'saya yang salah', tanpa ada birokrasinya," ujar Rizal.
Usai pernyataan itu, Ali baru mengumpulkan anak buahnya di sebuah
ruangan untuk menumpahkan kemarahannya. Bahkan di dalam ruangan itu, Ali
sempat memukul anak buahnya yang lalai dan melontarkan kata-kata kasar
sebagai perwujudan rasa kemarahannya.
"Di dalam ruangan itu digamparin satu-satu anak buahnya. Bahkan sampai
ada yang dikatain monyet," ujar Rizal.
Rizal berpandangan, sikap kasar Ali tidak bermasalah. Sikap itu
perwujudan pemahaman Ali bahwa perlu ada moral yang baik dalam birokrasi.
"Jadi, kesantunan bukan diuji pada omongannya yang manis, bertabur kitab
suci. /Bullshit/ itu semua menurut saya," ujarnya.
*Kesantunan dan kepentingan Ahok*
Terkait hal itu, Rizal juga menyinggung sosok Gubernur DKI Basuki
Tjahaja Purnama alias Ahok. Ia menilai, kesantunan Ahok timbul jika ada
kepentingan bagi dirinya saja.
Ia mencontohkan, kesantunan sesaat Ahok sempat keluar saat menjelaskan
soal penggusuran yang dilakukan Pemprov DKI di hadapan sejumlah artis
yang menemuinya.
Saat itu, Ahok disebut menyatakan tidak ada penggusuran, melainkan
sebuah relokasi. Kesantunan sesaat itu, menurut Rizal, tak berbeda
dengan yang ditunjukkan oleh para birokrat di masa Orde Baru.
"Kesantunan Ahok itu mengingatkan saya pada pola kesantunan Orba yang
disebut sebagai eufemisme," ujarnya.
Oleh karena itu. Rizal berharap, para calon pemimpin Jakarta tidak
sekadar mengandalkan kesantunan untuk meraih dukungan. Para calon
dituntut untuk berani bertanggung jawab atas semua kebijakan yang
dikeluarkannya.
*Antitesis Ahok*
Sebelumnya, Syarif, anggota tim pemenangan Anies Baswedan dan Sandiaga
Uno mengatakan kedua sosok calon gubernur DKI Jakarta itu merupakan
antitesis dari Ahok yang kasar serta kebijakannya yang merugikan rakyat.
"Pak Anies ini santun dan cerdas. Ditambah Pak Sandiaga pekerja keras,"
ujar Syarif dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta, Sabtu (24/9).
Syarif menuturkan, pasangan Anies-Sandiaga memiliki slogan "pembangunan
tanpa menyakiti", dengan mengutamakan kesantunan, baik dalam
berperilaku dan bertutur kata, tanpa mengurangi kinerja sebagai kepala
daerah.
"Ini sebagai antitesis dari pendapat bahwa tidak diperlukan gubernur itu
santun, tutur kata, yang penting kerja, kerja, kerja," kata Syarif.
*(den/obs)*
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Genderang Pilkada Jakarta
<http://www.cnnindonesia.com/politik/focus/genderang-pilkada-jakarta-3335/all>