Pertama konsep visi dan misi saja ente gak ngerti. Sekarang ente tambahin lagi: slogan kementrian harus menggambarkan visi misi pemerintah. Dengan kata lain ente mau mengatakan kementerian itu bukan pemerintah. Juga ente seakan2 sudah tahu apa visi misi pemerintah itu. Gimana logikanya? Sedangkan yg ngasih visi misi pemerintah itu ane dan ente gak kasih tahu apa visi misi pemerintah. Eh ujug2nya sekarang setuju istilah “slogan” dimana slogan kementerian2 dan lembaga2 negara. Apa gak malu sekarang setuju sama “slogan” yg tadinya ente klaim sbg “visi misi”. Kelihatan sekali ente itu bingung sendiri dengan istilah2 itu. Lah kalau gak ngerti istilah2 gimana ente bisa menjustifikasi suatu masalah?
Dari mana ente bisa mencerca Jokowi atau pemerintah menjual negara? Apa argument dan kriteria ente? Jangan hanya bisa melabel orang tanpa alasan dan argumen saja! Ini sifat provokator. Silahkan berbeda pendapat dan gak suka sama Jokowi tapi mbok kasih argument kenapa tidak sukanya. Setiap kali ente mencerca, kalau ane anggap mboten2 cercaannya, pasti ane kupas dan telanjangi. Ente lari dan sembunyi dengan istilah:ngenyek dll. Emangnya ini bukan provokator yg lempar batu sembunyi tangan? Dasar tukang bashing! Ane jadi pengin tahu siapa idola presiden ente ini ya? Soeharto, prabowo atau amin rais? Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Tuesday, September 27, 2016 11:28 AM To: [email protected] Subject: [GELORA45] Bahas Pencitraan, Jokowi Kritik Slogan Kementrian yang Berbeda-beda Slogan kementrian sebaiknya memang menggambarkan visi-misi pemerintah. Berbeda istilah mah nggak masalah selama slogan itu membunyikan visi-misi pemerintah, dan bukan berbunyi seperti mau menjual negara. - Bahas Pencitraan, Jokowi Kritik Slogan Kementrian yang Berbeda-beda Selasa, 27 September 2016 | 15:46 WIB JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Joko Widodo mengkritik kementerian dan lembaga negara yang saat ini belum kompak dalam membangun citra nasional. Kementerian dan lembaga dinilai Jokowi masih berjalan sendiri-sendiri dalam membangun citra tersebut. Ini termasuk saat membangun citra Indonesia di dunia. "Misalnya Kementerian Perdagangan mengangkat tagline 'Remarkable Indonesia'. Tapi Kementerian Pariwisata mengusung 'Wonderful Indonesia'," ujar Jokowi dalam rapat terbatas di Kantor Presiden, Selasa (27/9/2016). Demikian pula dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang juga mempunyai tagline sendiri yang berbeda. Belum lagi jika kementerian melaksanakan promosi melalui pameran. Jokowi mengaku mendapat laporan bahwa stan pameran umumnya berukuran kecil dan terletak di lokasi yang sangat tidak strategis. Akibat strategi yang tidak komprehensif itu, upaya membangun citra positif Indonesia di dunia tidak optimal. "Sehingga tidak memperkuat dan meningkatkan citra terhadap Indonesia, tetapi justru malah semakin mengurangi," ujar Jokowi. "Sebagai negara besar, Indonesia harus punya citra. Harus punya reputasi positif di dunia internasional sehingga dengan reputasi itu bukan hanya memperkuat kita sebagai bangsa, tapi juga meningkatkan daya saing," kata dia. Hadir dalam rapat itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Menteri Pariwisata Arif Yahya, Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi juga tampak hadir di dalam rapat terbatas tersebut. Penulis : Fabian Januarius Kuwado Editor : Bayu Galih
