Idola presiden ane sudah pasti Bu Iriana. "Ane jadi pengin tahu siapa idola presiden ente ini ya? Soeharto, prabowo atau amin rais?" --- nesare1@... wrote: Pertama konsep visi dan misi saja ente gak ngerti.Sekarang ente tambahin lagi: slogan kementrian harus menggambarkan visi misi pemerintah. Dengan kata lain ente mau mengatakan kementerian itu bukan pemerintah. Juga ente seakan2 sudah tahu apa visi misi pemerintah itu. Gimana logikanya? Sedangkan yg ngasih visi misi pemerintah itu ane dan ente gak kasih tahu apa visi misi pemerintah. Eh ujug2nya sekarang setuju istilah “slogan” dimana slogan kementerian2 dan lembaga2 negara. Apa gak malu sekarang setuju sama “slogan” yg tadinya ente klaim sbg “visi misi”. Kelihatan sekali ente itu bingung sendiri dengan istilah2 itu. Lah kalau gak ngerti istilah2 gimana ente bisa menjustifikasi suatu masalah? Dari mana ente bisa mencerca Jokowi atau pemerintah menjual negara? Apa argument dan kriteria ente? Jangan hanya bisa melabel orang tanpa alasan dan argumen saja! Ini sifat provokator. Silahkan berbeda pendapat dan gak suka sama Jokowi tapi mbok kasih argument kenapa tidak sukanya.Setiap kali ente mencerca, kalau ane anggap mboten2 cercaannya, pasti ane kupas dan telanjangi. Ente lari dan sembunyi dengan istilah:ngenyek dll.Emangnya ini bukan provokator yg lempar batu sembunyi tangan? Dasar tukang bashing! Ane jadi pengin tahu siapa idola presiden ente ini ya? Soeharto, prabowo atau amin rais?
Nesare From: ajeg Slogan kementrian sebaiknya memang menggambarkan visi-misi pemerintah. Berbeda istilah mah nggak masalah selama slogan itu membunyikan visi-misi pemerintah, dan bukan berbunyi seperti mau menjual negara. - Bahas Pencitraan,Jokowi Kritik Slogan Kementrian yang Berbeda-beda Selasa, 27 September2016 | 15:46 WIB JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden JokoWidodo mengkritik kementerian dan lembaga negara yang saat ini belum kompakdalam membangun citra nasional. Kementerian dan lembaga dinilai Jokowimasih berjalan sendiri-sendiri dalam membangun citra tersebut. Ini termasuksaat membangun citra Indonesia di dunia. "Misalnya Kementerian Perdaganganmengangkat tagline'Remarkable Indonesia'.Tapi Kementerian Pariwisata mengusung 'Wonderful Indonesia'," ujar Jokowidalam rapat terbatas di Kantor Presiden, Selasa (27/9/2016). Demikian pula dengan Badan KoordinasiPenanaman Modal (BKPM) yang juga mempunyai taglinesendiri yang berbeda. Belum lagi jika kementerian melaksanakanpromosi melalui pameran. Jokowi mengaku mendapat laporan bahwa stan pameranumumnya berukuran kecil dan terletak di lokasi yang sangat tidak strategis. Akibat strategi yang tidak komprehensifitu, upaya membangun citra positif Indonesia di dunia tidak optimal. "Sehingga tidak memperkuat danmeningkatkan citra terhadap Indonesia, tetapi justru malah semakinmengurangi," ujar Jokowi. "Sebagai negara besar, Indonesiaharus punya citra. Harus punya reputasi positif di dunia internasional sehinggadengan reputasi itu bukan hanya memperkuat kita sebagai bangsa, tapi jugameningkatkan daya saing," kata dia. Hadir dalam rapat itu, MenteriKoordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Menteri KoordinatorBidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukitadan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Menteri Pariwisata Arif Yahya, MenteriBUMN Rini Soemarno dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi jugatampak hadir di dalam rapat terbatas tersebut. Penulis : Fabian Januarius KuwadoEditor : Bayu Galih
