Pendukung yang Merugikan: Fenomena Fadli Zon 

Abdillah Toha

27 September 2016  23:51:10 

http://www.kompasiana.com/abto/pendukung-yang-merugikan-fenomena-fadli-zon_57eaa37e3493736a1c7ca85a
 



Pernah lihat wajah Anies Baswedan ketika menyaksikan Fadli Zon  baca puisi 
"Tukang Gusur" pada deklarasi pencalonan Anies-Sandi? Kata orang  "A picture is 
worth more than a thousand words".  Ketika sekeliling Zon tertawa dan bertepuk 
tangan gembira, Anies menundukkan kepala dengan wajah tertekuk dan suram. 



Tatkala Anies akhirnya menerima diusung koalisi Gerindra PKS, salah seorang 
kawan saya mengatakan Anies bak merpati masuk ke kampung elang. Wajah akademis 
dan karakter pendidik pada Anies sangat kontras dengan lingkungan politisi yang 
melihat kekuasaan sebagai mangsa yang harus diterkam. 



Fenomena Zon yang gemar menghujat lawan dan pernah mengharapkan agar Ahok jadi 
tersangka KPK ini bukan monopoli Fadli Zon. Banyak terdapat di kalangan 
politisi. Panggung manapun, tidak melihat siapa yang berada disitu dan apa 
situasinya, bisa dimanfaatkan untuk menggelontorkan apa saja yang ada dalam 
benaknya bagi menyerang pribadi lawan.  



Pertanyaan yang harus dipikirkan masak-masak oleh kontestan seperti Anies 
Baswedan adalah, apakah pendukung jenis ini menguntungkan atau merugikan? 
Apakah akan menambah suara atau justru menjauhkan orang untuk memilih dia? 



Saya bisa membuat daftar panjang politisi yang bisa merugikan kontestan bila 
ditonjolkan sebagai pendukung. Orang-orang yang merasa dirinya asset bagi 
kontestan tapi sebenarnya justru liability. Diluar politisi, ada juga 
tokoh-tokoh yang kerap menggunakan bahasa agama dan ras untuk melawan Ahok. 
Mereka akan dengan senang hati mendukung siapa saja asal Ahok bisa dikalahkan. 



Orang lupa bahwa mayoritas penduduk DKI yang diam itu adalah calon pemilih yang 
berpredikat moderat, yang tidak suka kegaduhan dan ekstrimitas. Sebagian besar 
muslim, tetapi bukan tipe muslim garis keras yang kaku dan hobinya memecah 
belah umat dan bangsa. Mayoritas warga adalah yang tidak menganggap politik 
sebagai bagian dari dakwah tapi politik adalah urusan perut. Mereka akan 
memilih kontestan yang programnya dianggap menguntungkan warga dan calon 
gubernurnya dianggap tulus, jujur, dan mampu merealisasikan janjinya.  



Ketika semua strategi kampanye telah disusun rapi secara rasional, kemudian 
tokoh-tokoh yang sudah punya label sebagai agitator ikut muncul di panggung 
kontestan, bisa jadi yang akan diingat oleh pemilih bukan kontestan atau 
programnya tetapi tokoh-tokoh yang tidak disukai itu. 



Itulah tokoh-tokoh yang tidak akan segan menggunakan kampanye hitam untuk 
menang. Tokoh yang cara berpikirnya hitam dan putih. Tidak ada yang benar pada 
lawannya dan tidak ada yang keliru pada kawannya. Kemunculannya di panggung 
kampanye bukan sekadar untuk memenangkan kontestan yang didukungnya tetapi 
lebih utama untuk menonjolkan dirinya, mengekspresikan pikirannya, dan 
memasarkan gagasan-gagasanya yang belum tentu segaris dengan gagasan sang 
kontestan. 



Partai politik pengusung juga begitu. Mereka ingin mendompleng popularitas 
kontestan untuk menjaring suara bagi partainya nanti. Mereka akan berupaya ikut 
mengatur strategi dan substansi kampanye dengan mengisi program dan ideologi 
partai ke dalam program kontestan. Padahal kita tahu bahwa pada pilkada DKI 
kali ini hampir semua calon bukan kader partai. Kita juga tahu bahwa pada 
pilkada maupun pilpres umumnya warga menjatuhkan pilihannya pada figur 
kontestan yang dianggap mumpuni, dan hanya sedikit yang mempertimbangkan partai 
mana yang mengusung. 



Jadi, pandai-pandailah wahai peserta pilkada DKI untuk menyusun strategi dan 
program kampanye yang tepat, strategi yang tidak terkontaminasi oleh 
unsur-unsur yang dapat membuyarkan semua rencana yang telah disusun rapi. 
Pilihlah dengan seksama siapa-siapa yang patut memdampingi anda. Jangan 
harapkan partai atau invidu pendukung semuanya akan menguntungkan anda. Ada 
pendukung yang akan mendulang suara dan ada pendukung yang justru akan 
mengurangi suara anda. 



Akan lebih bagus lagi bila tokoh-tokoh berpotensi merugikan itu sadar dan tahu 
diri, tidak menawarkan diri untuk muncul ke permukaan tanpa diminta oleh 
kontestan, dan hanya mendukung secara diam-diam dengan mengajak kelompoknya 
untuk memilih kontestan dukungannya. 



AT - 27-09-2016-

Selengkapnya :

http://www.kompasiana.com/abto/pendukung-yang-merugikan-fenomena-fadli-zon_57eaa37e3493736a1c7ca85a
 

Kirim email ke