Tentang Penggusuram Komunitas Ciliwung | Teras Lampung 
http://www.teraslampung.com/tentang-penggusuram-komunitas-ciliwung/

 
 
 http://www.teraslampung.com/tentang-penggusuram-komunitas-ciliwung/ 
 
 Tentang Penggusuram Komunitas Ciliwung | Teras... 
http://www.teraslampung.com/tentang-penggusuram-komunitas-ciliwung/ TUTUP HOME 
NEWS Anakidah Analisis Berita Foto Fokus Galeri Gaya Jiran Sumatera Kesehatan 
Manca Nasional Nusantara Obituari Olahraga Pelayana...
 
 
 
 View on www.teraslampung.com 
http://www.teraslampung.com/tentang-penggusuram-komunitas-ciliwung/ 
 Preview by Yahoo 
 
 
  
 Tentang Penggusuram Komunitas Ciliwung Penulis admin 
http://www.teraslampung.com/author/admin/ -
  28 September 2016
 134


 Berbagi di Facebook 
http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fwww.teraslampung.com%2Ftentang-penggusuram-komunitas-ciliwung%2F
  Tweet di Twitter 
https://twitter.com/intent/tweet?text=Tentang+Penggusuram+Komunitas+Ciliwung&url=http%3A%2F%2Fwww.teraslampung.com%2Ftentang-penggusuram-komunitas-ciliwung%2F&via=www.twitter.com%2Fteraslampung
  
http://plus.google.com/share?url=http://www.teraslampung.com/tentang-penggusuram-komunitas-ciliwung/
  
http://pinterest.com/pin/create/button/?url=http://www.teraslampung.com/tentang-penggusuram-komunitas-ciliwung/&media=http://www.teraslampung.com/wp-content/uploads/2016/09/penggusuran-komunitas-ciliwung.jpg&description=Tentang+Penggusuram+Komunitas+Ciliwung

 
 
http://www.teraslampung.com/wp-content/uploads/2016/09/penggusuran-komunitas-ciliwung.jpg
 Penggusuran di Jakarta (dok merdeka.com)

 Siang kemarin (27/9/2016) saya mengunjungi Sanggar Ciliwung, sebuah komunitas 
pendidikan yang bertahun-tahun setia mendampingi anak-anak dan masyarakat 
miskin di bantaran Kali Ciliwung. Beberapa rumah telah dirobohkan. Sejumlah 
orang tampak membongkar rumahnya. Di sekitar sanggar rumah-rumah masih berdiri. 
Muram dan sepi.
 Suara jimbe, alat musik perkusi, yang dimainkan beberapa remaja di dalam 
sanggar tidak mengusir sunyi. Dari dalam sanggar terlihat Kali Ciliwung yang 
sudah tidak saya kenali lagi. Badan sungainya telah dbeton. Sungai ini telah 
berubah mirip selokan dan tidak lagi meninggalkan kenangan akan kehidupan.
 Sebagai orang yang lama bergelut dalam dunia pendidikan, Sanggar Ciliwung 
merupakan salah satu komunitas pendidikan yang saya kagumi. Saya tidak pernah 
kehilangan hormat dan kekaguman pada Romo Sandyawan Sumardi meski bukan romo 
lagi. Hanya orang-orang buta nuraninya yang mengingkari kerja-kerja Sandyawan 
dalam kemanusiaan yang telah dijalaninya puluhan tahun. Ciliwung Merdeka salah 
satunya.
 Sewaktu Jokowi-Ahok terpilih memimpin Jakarta,saya sempat berharap Sanggar 
Ciliwung akan menjadi model dan diduplikasi di kantong-kantong kemiskinan di 
ibukota. Meski selintas, saya pernah berinteraksi dengan anak-anak Ciliwung. 
Anak-anak itu tinggal di kawasan kumuh, tetapi mereka bisa datang sewaktu-waktu 
ke sanggar, untuk sekedar membaca buku, bermain musik, atau belajar bersama.
 Pendidikan dalam komunitas itu kini kita tinggalkan. Padahal selain keluarga, 
pendidikan dalam komunitas, paling penting dalam membangun manusia yang utuh 
–bukan sekolah. Pentingnya pendidikan dalam komunitas ini juga ditekankan oleh 
Ki Hadjar Dewantara tetapi sungguh kita abaikan.
 Sepuluh tahun lalu, saya pernah mengajak anak-anak Ciliwung mengadakan 
perkemahan di Situ Gintung, Tangerang Selatan, bermain sambil belajar menulis. 
Interaksi itu makin menambah kekaguman saya pada Sanggar Ciliwung. Betapa 
terlihat jiwa kepemimpinan anak-anak remaja yang mau menginjak dewasa. Salah 
satu remaja itu kini sudah selesai belajar bahasa Inggris dan bekerja di bidang 
manajemen.
 Siang kemarin beberapa aktivis dan relawan Ciliwung Merdeka berkumpul di 
sekretariat membahas situasi terakhir. Belasan jumlahnya. Beberapa tampak 
kelelahan, beberapa tampak lesu dan putus asa. Sesekali ada senyum dan tawa.
 Bersandal jepit, mengenakan kemeja batik cokelat tua dan topi pet hitam, 
Sandyawan mencoba meyakinkan anak-anak muda itu untuk tidak menahan penggusuran 
yang akan segera dilakukan. Menghadang penggusuran, bahkan tanpa kekerasan 
sekalipun, saat ini sangat berbahaya.
 Kabar kapan penggusuran permukiman di bantaran Ciliwung terus berubah. 
Berhari-hari warga didatangi intel, polisi, satpol PP, aparat RW dan kelurahan. 
Intimaidasi bertubi-tubi, termasuk dari warga sekitar.
 Informasi terakhir Rabu pagi ini, jam.07.00, penggusuran akan dilakukan.
 “Silakan digusur. Kami tidak akan menahan penggusuran,” kata Sandyawan.
 Sekitar 100 KK warga Bukitduri mengajukan gugatan class action PN Jakarta 
Pusat. Dalam putusan sela baru-baru ini warga dinyatakan sah menurut hukum dan 
sidang bisa dilanjutkan. Sebelumnya gugatan warga atas proyek sodetan Ciliwung 
juga ke PTUN Jakarta juga dimenangkan. Akan tetapi hukum tidak berlaku bagi 
penguasa kota. Sebagai jawaban, penguasa kota justru mengeluarkan SP3 kepada 
warga untuk membongkar sendiri bangunannya.
 Penggusuran terhadap permukiman di Bukitduri tidak masuk akal justru karena 
dilakukan pada saat Jokowi-Ahok berkuasa. Kedatangan Jokowi-Ahok, janji mereka 
untuk tidak menggusur, membuat masyarakat – tidak hanya di ibukota Jakarta – 
bersimpati pada pasangan itu. Ahok pernah beberapa kali ke Ciliwung. Ia 
beberapa kali berdialog dengan Ciliwung Merdeka dan bahkan sepakat untuk 
membangun kampung rumah susun. Tiba-tiba saja Ahok, seperti dikutip 
Merdeka.com, pembangunan itu dibatalkan karena ditolak warga. Ahok bisa bilang 
begitu setelah sejumlah warga dibujuk rayu dan diintimidasi untuk segera pindah 
ke rumah susun Rawabebek.
 Sandyawan bercerita tentang seorang anak yang dididiknya sejak kecil kemudian 
direkrut menjadi intel, membawa pistol dan memprovokasi warga. Ia bercerita 
tentang murid-muridnya yang menjadi pengendali tim sukses Ahok-Jarot yang ikut 
mendiskreditkan perjuangan warga Ciliwung. Ia bercerita tentang berita-berita 
Kompas yang terus-menerus menyerang dirinya. Saya mencoba mencari informasi 
mengenai ini, siapa wartawan dan editor desk metro di koran tersebut, dan 
sayapun sangat memakluminya. Sandyawan menceritakan semua itu dengan datar, 
menahan emosinya, meski saya lihat juga, di balik kacama, matanya berkaca-kaca.
 Meski warga mulai menyingkir, intimidasi tidak berhenti. Seorang warga yang 
telah mengontrak rumah tidak jauh dari lokasi yang akan digusur didatangi 
gerombolan Ketua RW, satpol PP, dan sejumlah aparat kepolisian.
 Mimpi lahirnya penguasa yang jujur, baik, dan berpihak pada orang-orang miskin 
selesai di sini.
 Hari ini kawasan permukiman di bantaran kali Ciliwung akan digusur. Sanggar 
Ciliwung, komunitas pendidikan dan kebudayaan yang memanusiakan orang-orang 
miskin akan dirobohkan. Mereka lupa bahwa kekuasaan tidak abadi.
 
 Bambang Wisudo,
pegelola Sekolah Tanpa Batas
 

Kirim email ke