http://politik.rmol.co/read/2016/09/28/262293/Filsafat-Kemiskinan-Ala-Ahok- 
http://politik.rmol.co/read/2016/09/28/262293/Filsafat-Kemiskinan-Ala-Ahok-

 Filsafat Kemiskinan Ala Ahok POLITIK  RABU, 28 SEPTEMBER 2016 , 00:53:00 WIB | 
OLEH: JAYA SUPRANA


 
http://rmol.co/images/berita/normal/994293_12572928092016_Rakyat_Miskin_Jakarta.jpg
 Ilustrasi/Net

 
 SAYA sempat tertegun menyimak sebuah berita yang dirilismetrotvnews, 26 
September 2016. Agar saya tidak keliru salin, maka lebih aman saya copy-paste 
berita tersebut secara utuh sebagai berikut:

 Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengkritik Program 
Prona yang menjustifikasi warga miskin untuk mendapatkan sertifikat rumah di 
bantaran sungai. Akibatnya, mereka kini sulit untuk ditertibkan. 

"Kaya (warga) Bukit Duri, ada sertifikat hak milik di pinggir sungai. Itu 
karena dulu ada Program Prona justifikasi atas orang miskin dikasih, itu yang 
konyol dulu," kata Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta 
Pusat, Senin (26/9/2016). 

Ahok menilai, pemerintahan dulu terlalu memanjakan warga miskin. Tapi, 
memanjakannya dengan cara yang kurang tepat. "Demi orang miskin kita nih 
terlalu banyak 'demi orang miskin'-nya salah," ungkap Ahok.

Ahok menjelaskan, kalau benar-benar demi orang miskin, semestinya Pemerintah 
memberikan sembako murah, pendidikan, kesehatan, perumahan, transportasi, dan 
modal kerja. Bukannya malah membenarkan sesuatu yang secara hukum salah. 

"Makanya saya katakan bahasa revolusi Prancis, rakyat enggak butuh ladang 
gandum. Rakyat butuh roti. Rakyat jangan dimanjakan, sudah melanggar dikasih 
sertifikat. Kesalahan dulu itu," ungkap Ahok. 

Pemprov DKI Jakarta memang tengah gencar melakukan penertiban permukiman di 
bantaran sungai untuk normalisasi sungai. Ahok menilai, sudah waktunya warga 
sadar akan kesalahannya. 

"Bilang, 'saya sudah 30 tahun pak tinggal di sini', ya saya jawab, 'harusnya 
sudah 30 tahun cukup dong melanggarnya'. Bukan berarti malah meresmikan anda 
yang melanggar 30 tahun. Sudah baik hati saya enggak minta bayar sewa tanah 
negara," papar Ahok. 

Setelah menyimak dan mencoba menghayati berita tersebut, saya baru tersadar 
bahwa selama 67 tahun hidup di dunia ini ternyata saya banyak memperoleh 
pendidikan yang salah. Saya baru sadar bahwa pada hakikatnya kepedulian Jokowi 
terhadap kaum miskin adalah salah. Sama halnya dengan almarhumah Ibu Theresa 
yang akan dinobatkan sebagai santa pelindung kaum miskin jelas perlu ditinjau 
kembali keabsahannya sebab kaum miskin tidak perlu dilindungi. 

Ordo Fransiskan yang fokus menolong kaum miskin sebaiknya dibubarkan. Injil 
Kemiskinan Sri Paus Fransiskus ternyata sekadar angan-angan yang tidak 
realistis. Pemaparan Ahok mengenai "bahasa revolusi Prancis” juga menyadarkan 
saya bahwa saya perlu  mengoreksi pemahaman sejarah saya. sebab, terus terang 
saya belum tahu bahwa pada saat itu ada keyakinan bahwa "rakyat tidak butuh 
ladang gandum sebab rakyat butuh roti”. 

Perang Tani Jerman 1848 perlu ditinjau kembali kebenarannya sebab sebenarnya 
rakyat tidak butuh ladang gandum tetapi roti. Meski agak sulit dibayangkan 
bagaimana bisa ada roti apabila tidak ada ladang gandum. 

Mengenai pemberian sertifikat kepemilikan tanah dan rumah seperti yang tersurat 
di dalam Kontrak Politik calon gubernur Jokowi dengan rakyat miskin Jakarta, 
semula saya keliru tafsirkan sebagai kebijakan luhur sebab merupakan pewujudan 
sila kemanusiaan adil dan beradab dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat 
Indonesia. 

Mengenai Ahok tidak minta kaum miskin bayar sewa tanah negara memang pertanda 
baik hati tetapi mungkin beliau tidak tahu bahwa kaum miskin yang saya kenal 
ternyata membayar PBB atau iuran atau entah apa lagi istilahnya. 

Yang jelas filsafat kemiskinan Ahok memang beda dari pandangan tentang kaum 
miskin yang saya peroleh dari teman-teman saya seperti HS Dillon, Harjono 
Kartohadiprojo, Mahfud MD, Yasonna Laoly, Emil Salim, Salim Said, Gus Mus, 
Frans Magnis Suseno, Sandyawan Sumardi, Wardah Hafids, Sri Palupi, AM Fatwa, 
Hidayat Nur Wahid, Oei Hong Tjhien, Franki Wijaya, Sugianto Kusuma, Christanto 
Wibisono, Ilarius Wibisono, almarhum Soepardjo Roestam, Gus Dur, Cak Nur dan 
lain-lain tokoh kemanusiaan. 

Kini saya baru tersadar bahwa mengenai filsafat kemiskinan, saya memang masih 
harus banyak belajar dari Ahok. 

Penulis adalah pemerhati sosial dan kaum miskin

 

Kirim email ke