http://megapolitan.kompas.com/read/2016/09/29/08251931/mengapa.penggusuran.di.bukit.duri.bisa.berlangsung.tanpa.ada.bentrokan
http://megapolitan.kompas.com/read/2016/09/29/08251931/mengapa.penggusuran.di.bukit.duri.bisa.berlangsung.tanpa.ada.bentrokan.
Mengapa Penggusuran di Bukit Duri Bisa Berlangsung Tanpa Ada Bentrokan?
Kamis, 29 September 2016 | 08:25 WIB
http://megapolitan.kompas.com/read/2016/09/29/08251931/mengapa.penggusuran.di.bukit.duri.bisa.berlangsung.tanpa.ada.bentrokan.#komentar
http://megapolitan.kompas.com/read/2016/09/29/08251931/mengapa.penggusuran.di.bukit.duri.bisa.berlangsung.tanpa.ada.bentrokan.#
39
Shares
KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGAnggota polisi berjaga saat berlangsungnya
pembongkaran rumah warga di Bukit Duri, Tebet, Jakarta, Rabu (28/9/2016).
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggusur bangunan yang berbatasan langsung
dengan Sungai Ciliwung terkait upaya normalisasi, dan akan merelokasi warga ke
Rusun Rawa Bebek.
JAKARTA, KOMPAS.com -
Suara-suara perlawanan berkumandang di RT 06 RW 12 Bukit Duri
http://megapolitan.kompas.com/tag/Bukit%20Duri, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu
(28/9/2016) pagi kemarin, saat para petugas Satpol PP dan sejumlah alat berat
hendak merobohkan rumah-rumah warga di sana.
Kumandang suara perlawanan itu merupakan bagian dari momen penertiban
permukiman di Bukit Duri http://megapolitan.kompas.com/tag/Bukit%20Duri yang
berada di bantaran Sungai Ciliwung. Suasana penertiban dalam rangka
menormalisasi Ciliwung itu cukup tegang.
Sebanyak 900 aparat gabungan diturunkan ke lokasi. Di antara mereka ada yang
dipelengkapi peralatan anti huru hara seperti rotan, tameng dan gas air mata.
Namun situasi berlangsung kondusif hingga alat berat selesai meratakan
rumah-rumah warga. Tidak ada adu kekerasan fisik antara warga dan petugas.
Saat para petugas masuk ke permukiman, warga bahkan menyambut mereka dengan
memberikan bunga. Warga lainnya memilih fokus mengemas perabotan mereka. Ada
pula yang tak segan meminta bantuan petugas Satpol PP untuk mengemas perabotan.
Situasi itu kontras dengan penertiban di Kampung Pulo, tetangga Bukit Duri
http://megapolitan.kompas.com/tag/Bukit%20Duri yang hanya dipisah Sungai
Ciliwung. Pada Agustus 2015, penertiban di Kampung Pulo, untuk tujuan
normalisasi Ciliwung juga, diwarnai bentrokan antar aparat dan warga. Para
pemuda, remaja, bahkan orang dewasa, melawan aparat. Sejumlah orang jadi korban.
Tak hanya di Kampung Pulo, dalam semua penertiban permukiman yang dianggap
liar selama ini, selalu diwarnai bentrokan fisik. Yang paling akhir di Rawajati
http://megapolitan.kompas.com/tag/Rawajati, Kalibata, Jakarta Selatan. Pada
penertiban-penertiban sebelumnya juga seperti itu, sebut saja di Waduk Pluit,
atau di Luar Batang http://megapolitan.kompas.com/tag/Luar%20Batang.
KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZESProses pembongkaran rumah warga Bukit Duri,
Tebet, Jakarta, Rabu (28/9/2016). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggusur
bangunan yang berbatasan langsung dengan sungai Ciliwung dan akan merelokasi
warga ke Rusun Rawa Bebek.
Mengapa Berbeda?
Sebagian besar warga Bukit Duri http://megapolitan.kompas.com/tag/Bukit%20Duri
sudah direlokasi ke Rusun Rawa Bebek sejak diberikan surat peringatan I dan II.
Sementara sebagian lain ada yang pindah ke kerabat atau memilih menyewa
kontrakan.
Sampai pertengahan September 2016 tercatat 270 kepala keluarga (KK) warga
Bukit Duri http://megapolitan.kompas.com/tag/Bukit%20Duri pindah ke rusun.
Total ada 363 rumah yang mesti dibongkar di Bukit Duri
http://megapolitan.kompas.com/tag/Bukit%20Duri.
Hanafi (87) warga Bukit Duri http://megapolitan.kompas.com/tag/Bukit%20Duri RT
06 RW 12 mengatakan, masyarakat setempat pasrah dengan penggusuran itu.
"Kalau orang sini sebetulnya sadar, enggak mau melawan pemerintah," kata
pensiunan Bea Cukai itu, kemarin.
Warga mengedepankan cara-cara damai menghadapi petugas. Warga juga sedang
menggugat pemerintah di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan PTUN.
"Kami diusahakan agar dapat penggantian," ujar Hanafi.
Namun pemerintah hanya akan membayar lahan warga yang memang punya sertifikat.
Asmo, warga RT 06 RW 12 mengatakan hal senada. "Saya enggak suka melakukan
kekerasan, termasuk melawan aparat," kata Asmo.
KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGSuasana pembongkaran rumah warga di Bukit
Duri, Tebet, Jakarta, Rabu (28/9/2016). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
menggusur bangunan yang berbatasan langsung dengan Sungai Ciliwung terkait
upaya normalisasi, dan akan merelokasi warga ke Rusun Rawa Bebek.
Belajar dari Kampung Pulo
Ketua Komunitas Ciliwung Merdeka, Sandyawan Sumardi mengatakan, pengalaman
kericuhan tahun lalu di Kampung Pulo saat menolak penggusuran membuat warga
Bukit Duri http://megapolitan.kompas.com/tag/Bukit%20Duri belajar. Warga ingin
menghadapi kebijakan pemerintah tidak dengan putus asa tetapi tetap tenang.
"Memang iya, warga Bukit Duri http://megapolitan.kompas.com/tag/Bukit%20Duri
belajar dari pengalaman warga Kampung Pulo yang rusuh. Kami tidak putus asa
meskipun marah tetapi menghadapinya dengan akal sehat dan jernih," ujar
Sandiawan, yang mendampingi sebagian warga Bukit Duri
http://megapolitan.kompas.com/tag/Bukit%20Duri.
Meski tempat tinggal sudah dengan rata tanah, warga menolak disebut 'kalah'.
Dengan tidak melawan aparat seperti yang ditunjukan kemarin, warga menilai
sudah menang secara moral.
"Makanya tidak ada kerusuhan apapun, juga dan itu diakui aparat keamanan,"
kata Sandyawan. "Tidak apa-apa secara fisik mungkin kami kalah, bangunan kami
dirobohkan. Tapi jiwa dan harga diri kami menang," kata dia.
Meski demikian, warga sempat menghambat penggusuran dengan menggelar aksi
menabuh peralatan barang bekas. Aksi tersebut cukup mengganggu karena petugas
mesti mendorong mundur warga agar tidak dekat dengan alat berat yang sedang
bekerja.
Namun akhirnya, petugas dapat meratakan kawasan permukiman itu dengan bantuan
alat berat tanpa ada perlawanan fisik dari warga.
Penulis : Robertus Belarminus Editor : Egidius Patnistik