Ya mengapa ya.......? Karena "tokoh-tokoh" yang suka "membakar" rakyat seperti Yusril, Dhani dan Sarumpaet sudah patah hati dan patah semangat.......calon gubernur dan wakil gubernur DKI untuk pilkada yad sudah ditetapkan, dan mereka tidak termasuk, jadi sudah tak ada harapan lagi.......! Apa mau dikata..........!!!

------ Original Message ------
From: "'Chan CT' [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>
To: "GELORA_In" <[email protected]>
Sent: Thursday, 29 Sep, 2016 At 2:08 PM
Subject: [GELORA45] Mengapa Penggusuran di Bukit Duri Bisa Berlangsung Tanpa Ada bentrokan?
    
  
      
                    
  

Mengapa Penggusuran di Bukit Duri Bisa Berlangsung Tanpa Ada Bentrokan?
http://megapolitan.kompas.com/read/2016/09/29/08251931/mengapa.penggusuran.di.bukit.duri.bisa.berlangsung.tanpa.ada.bentrokan.
Kamis, 29 September 2016 | 08:25  WIB
clip_image001KOMPAS.com / GARRY ANDREW  LOTULUNGAnggota polisi berjaga saat berlangsungnya  pembongkaran rumah warga di Bukit Duri, Tebet, Jakarta, Rabu (28/9/2016).  Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggusur bangunan yang berbatasan langsung  dengan Sungai Ciliwung terkait upaya normalisasi, dan akan merelokasi warga ke  Rusun Rawa Bebek.
JAKARTA, KOMPAS.com -
Suara-suara perlawanan berkumandang di RT 06 RW 12 Bukit  Duri, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu  (28/9/2016) pagi kemarin, saat para petugas Satpol PP dan sejumlah alat berat  hendak merobohkan rumah-rumah warga di sana. Kumandang suara perlawanan itu merupakan bagian dari momen  penertiban permukiman di Buki t  Duri yang berada di bantaran Sungai  Ciliwung. Suasana penertiban dalam rangka menormalisasi Ciliwung itu cukup  tegang. Sebanyak 900 aparat gabungan diturunkan ke lokasi. Di  antara mereka ada yang dipelengkapi peralatan anti huru hara seperti rotan,  tameng dan gas air mata. Namun situasi berlangsung kondusif hingga alat berat  selesai meratakan rumah-rumah warga.  Tidak ada adu kekerasan fisik antara  warga dan petugas. Saat para petugas masuk ke permukiman, warga bahkan  menyambut mereka dengan memberikan bunga. Warga lainnya memilih fokus mengemas  perabotan mereka. Ada pula yang tak segan meminta bantuan petugas Satpol PP  untuk mengemas perabotan. Situasi itu kontras dengan penertiban di Kampung Pulo,  tetangga Bukit  Duri yang hanya dipisah Sungai  Ciliwung. Pada Agustus 2015, penertiban di Kampung Pulo, untuk tujuan  normalisasi Ciliwung juga, diwarnai bentrokan antar aparat dan warga. Para  pemuda, remaja, bahkan orang dewasa, melawan aparat. Sejumlah orang jadi  korban. Tak hanya di Kampung Pulo, dalam semua penertiban  permukiman yang dianggap liar selama ini, selalu diwarnai bentrokan fisik. Yang  paling akhir di Rawajati, Kalibata, Jakarta Selatan. Pada penertiban-penertiban  sebelumnya juga seperti itu, sebut saja di Waduk Pluit, atau di Luar  Batang. clip_image002KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZESProses pembongkaran  rumah warga Bukit Duri, Tebet, Jakarta, Rabu (28/9/2016). Pemerintah Provinsi  DKI Jakarta menggusur bangunan yang berbatasan langsung dengan sungai Ciliwung  dan akan merelokasi warga ke Rusun Rawa Bebek.  
Mengapa  Berbeda?  
Sebagian besar warga Bukit  Duri sudah direlokasi ke Rusun Rawa  Bebek sejak diberikan surat peringatan I dan II. Sementara sebagian lain ada  yang pindah ke kerabat atau memilih menyewa kontrakan. Sampai pertengahan September 2016 tercatat 270 kepala  keluarga (KK) warga Bukit  Duri pindah ke rusun. Total ada 363  rumah yang mesti dibongkar di Bukit  Duri. Hanafi (87) warga Bukit  Duri RT 06 RW 12 mengatakan,  masyarakat setempat pasrah dengan penggusuran itu. "Kalau orang sini sebetulnya sadar, enggak mau melawan  pemerintah," kata pensiunan Bea Cukai itu, kemarin. Warga mengedepankan cara-cara damai menghadapi petugas.  Warga juga sedang menggugat pemerintah di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan  PTUN.
"Kami diusahakan agar dapat penggantian," ujar  Hanafi.
Namun pemerintah hanya akan membayar lahan warga yang  memang punya sertifikat. Asmo, warga RT 06 RW 12 mengatakan hal senada. "Saya  enggak  suka melakukan kekerasan, termasuk melawan aparat," kata Asmo. clip_image003KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGSuasana pembongkaran  rumah warga di Bukit Duri, Tebet, Jakarta, Rabu (28/9/2016). Pemerintah Provinsi  DKI Jakarta menggusur bangunan yang berbatasan langsung dengan Sungai Ciliwung  terkait upaya normalisasi, dan akan merelokasi warga ke Rusun Rawa  Bebek.  
Belajar dari Kampung  Pu lo  
Ketua  Komunitas Ciliwung Merdeka, Sandyawan Sumardi mengatakan, pengalaman kericuhan  tahun lalu di Kampung Pulo saat menolak penggusuran membuat warga  Bukit Duri  belajar. Warga ingin menghadapi kebijakan pemerintah tidak dengan putus asa  tetapi tetap tenang. "Memang iya, warga Bukit  Duri belajar dari pengalaman warga  Kampung Pulo yang rusuh. Kami tidak putus asa meskipun marah tetapi  menghadapinya dengan akal sehat dan jernih," ujar Sandiawan, yang mendampingi  sebagian warga Bukit  Duri. Meski tempat tinggal sudah dengan rata tanah, warga menolak  disebut 'kalah'. Dengan tidak melawan aparat seperti yang ditunjukan kemarin,  warga menilai sudah menang secara moral. "Makanya tidak ada kerusuhan apapun, juga dan itu diakui  aparat keamanan," kata Sandyawan. "Tidak apa-apa secara fisik mungkin kami  kalah, bangunan kami dirobohkan. Tapi jiwa dan harga diri kami menang," kata  dia. Meski demikian, warga sempat menghambat penggusuran dengan  menggelar aksi menabuh peralatan barang bekas. Aksi tersebut cukup mengganggu  karena petugas mesti mendorong mundur warga agar tidak dekat dengan alat berat  yang sedang bekerja. Namun akhirnya, petugas dapat meratakan kawasan permukiman  itu dengan bantuan alat b erat tanpa ada perlawanan fisik dari  warga.      
Penulis      
: Robertus Belarminus      
Editor      
: Egidius Patnistik
 

      
                

                

Kirim email ke