ataukah mungkin dipajak tinggi seperti rokok ataukah dilarang dgn ancaman
hukuman mati seperti narkoba.
On Wednesday, September 28, 2016 10:25 PM, ajeg <[email protected]> wrote:
Dalam pandangan kaum neolib, ini peluang untuk berpartisipasi.
Cepat bikin RUU pajak gula! Hehe..
--- jonathangoeij@... wrote:
“Ketika seseorang sedang makan, dimana jika tidak memberinya makanan manis
(makanan yang mengandung gula), maka orang ini akan menjadi mudah marah dan
gugup karena tidak bisa terus menerus menikmati makanan manis. Manifestasi ini
sama persis dengan gejala seseorang yang mudah marah karena berusaha
menghentikan kebiasaan merokok dan keinginannya akan obat (narkoba) untuk
sekadar meringankan gejalanya, kata Amy Reichelt, penelit di Universitas New
South Wales, Australia.
...
http://erabaru.net/2016/09/28/terlalu-banyak-konsumsi-gula-dapat-merusak-gen-otak/
Terlalu Banyak Konsumsi Gula Dapat Merusak Gen Otak
Share on Facebook Tweet on Twitter Menjaga pola makan bening (makanan tak
berlemak), sedikit garam, minyak dan gula itu baik untuk kesehatan.
(Epochtimes)Kita tahu, terlalu banyak konsumsi gula itu dapat membahayakan
tubuh. Sementara itu, penelitian terbaru menyebutkan, bahwa orang-orang terlalu
meremehkan efek berbahaya dari konsumsi gula yang berlebihan, makanan yang
banyak mengandung tambahan fruktosa dapat membahayakan hingga 940 gen otak,
memicu obesitas, tekanan darah tinggi, depresi dan penyakit lainnya.Menurut
penelitian yang dipublikasikan di jurnal The Health and Sciences Academy
Inggris, gen-gen yang rusak ini terdiri dari 734 gen di hipotalamus (pusat
kendali metabolisme utama otak) dan 206 gen dalam hippocampus (yang mengatur
kapasitas memori dan kemampuan belajar), gen-gen ini berhubungan dengan fungsi
dasar yang sangat penting dalam tubuh, seperti metabolisme sel, informasi antar
sel, peradangan dan fungsi otak secara keseluruhan.Konkretnya, gen-gen yang
rusak ini dapat menyebabkan penyakit Parkinson, depresi dan gangguan bipolar
dan penyakit otak lainnya, gangguan leptin resistance yang secara langsung
berhubungan dengan obesitas, dan gejala tekanan darah tinggi, serta sindrom
metabolik.Sumber terkait mengatakan, bahwa penelitian sebelumnya telah
menunjukkan makanan dan minuman tinggi fruktosa memiliki efek yang berbahaya
pada otak, seperti merusak komunikasi informasi antar sel-sel otak,
meningkatkan molekul beracun dalam sel-sel otak dan merusak kapasitas memori
dan kemampuan belajar.Tentu saja kita tidak ingin mengorbankan tubuh kita
ketika sedang menikmati makanan-makanan lezat. Jadi, sehubungan dengan ini, The
Health and Sciences Academy merekomendasikan, aditif makanan-gula (termasuk
fruktosa) yang dikonsumsi jangan lebih dari 25 gr per hari.The Health and
Sciences Academy di Inggris menegaskan, bahwa fruktosa dan buah-buahan itu
tidak sekonsep. Meskipun gula dalam buah-buahan itu adalah fruktosa, namun,
apabila buah itu dimakan utuh, maka nutrisi yang diserap meliputi fruktosa,
serat, air, vitamin dan sebagainya, dimana semua unsur ini merupakan asupan
gizi yang seimbang. Sementara jika hanya mengonsumsi fruktosa buatan dengan
konsentrasi yang tinggi itu memang tidak baik bagi tubuh.Ditilik dari sisi
nutrisi dan kelezatannya, buah-buahan adalah makanan manis yang terbaik.Gula
rentan menyebabkan ketagihanDari hasil studi pada Oktober 2015 lalu, para
ilmuwan di Universitas New South Wales, Australia, menyebutkan, bahwa banyak
makanan tinggi gula dan lemak itu tidak hanya membahayakan kesehatan, tapi juga
mudah menyebabkan ketagihan layaknya morfinis.“Ketika seseorang sedang makan,
dimana jika tidak memberinya makanan manis (makanan yang mengandung gula), maka
orang ini akan menjadi mudah marah dan gugup karena tidak bisa terus menerus
menikmati makanan manis. Manifestasi ini sama persis dengan gejala seseorang
yang mudah marah karena berusaha menghentikan kebiasaan merokok dan
keinginannya akan obat (narkoba) untuk sekadar meringankan gejalanya, kata Amy
Reichelt, penelit di Universitas New South Wales, Australia.Sementara itu, dari
hasil penelitiannya, dokter dari Mount Sinai School of Medicine, Amerika
Serikat, juga menegaskan bahwa makanan tinggi gula memiliki efek samping pada
seseorang secara psikologis. Dan menurut pernyataan dokter Nicole Avena, bahwa
mekanisme fisiologisnya secara konkret saat ini masih belum jelas, namun, hasil
studi ini mengingatkan masyarakat sebaiknya hati-hati terhadap makanan-minuman
tinggi gula, jangan sampai kesehatan Anda menjadi korban karenanya.
(Epochtimes/Jhn/Yant)