http://www.nu.or.id/post/read/71616/gus-ishom-sistem-khilafah-hanya-ilusi

Gus Ishom: Sistem Khilafah Hanya Ilusi
Jumat, 30 September 2016 11:04 Nasional 
Bagikan 


Pringsewu, NU Online
Setelah Rasulullah wafat, para sahabat segera bermusyawarah untuk memilih 
pengganti dan pelanjut estafet kepemimpinan beliau (khalifah) dari suku 
Quraisy. Sebagian orang Islam menjadikan peristiwa bersejarah ini sebagai salah 
satu dalil acuan untuk mewajibkan upaya menegakkan sistem khilafah dan 
kewajiban menunjuk khilafah.

Sebagian dari umat Islam ini juga apriori, tidak mengabsahkan dan bahkan 
berjuang keras untuk meruntuhkan setiap bentuk dan sistem lainnya.

"Saya tidak mengingkari peristiwa bersejarah tersebut, namun itu tidak lagi 
sejalan dan relevan dengan konteks politik kekinian. Misalnya syarat imam harus 
dari suku Quraisy itu sudah tidak mungkin bisa diterapkan lagi sekarang ini 
karena sistem khilafah kini tidak lagi berlaku dan diakui keabsahannya. 
Sedangkan sistem negara dalam dunia politik modern lebih memilih nation state 
apapun bentuknya," tegas Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin, Jumat (30/9).

Karena itu, menurutnya, saat ini tidak ada satu negara pun di dunia yang 
menganut sistem khilafah, apalagi khalifahnya berasal dari suku Quraisy. 
"Nation state dalam bentuk dan sistem pemerintahan apapun kini tidak bisa 
diingkari keabsahannya, sehingga umat Islam tidak lagi perlu berilusi apalagi 
memaksakan diri untuk menerapkan dan memperjuangkan sistem khilafah yang 
bersifat global," tegasnya.

Menurutnya, dapat dipastikan tidak akan ada satu pun negara di belahan dunia 
ini yang mau menyerahkan kedaulatannya secara damai atau cuma-cuma di samping 
tidak ada seorang khalifah yang bisa disepakati.

"Upaya tersebut selalu saja gagal sebagaimana HTI, Khilafatul Muslimin, ‘jihad’ 
ISIS dan lain-lain yang menghabiskan umur secara sia-sia untuk menegakkan 
sistem khilafah. Korban sudah berjatuhan, perpecahan dan kekacauan di beberapa 
negara muslim begitu nyata, namun hasilnya tidak ada alias gagal total," 
ungkapnya.

Lebih lanjut Ia mengingatkan bahwa nilai positif yang mestinya diteladani dari 
sejarah setelah wafat Rasulullah SAW adalah kewajiban untuk memilih pemimpin 
terbaik sehingga tidak boleh ada kevakuman dan pentingnya bermusyawarah untuk 
itu.

"Inilah nilai islami yang senantiasa relevan sepanjang masa untuk segala bentuk 
dan sistem negara dalam konteksnya yang modern," pungkasnya. (Muhammad 
Faizin/Alhafiz K)

Kirim email ke