Hari ini Setengah Abad yang lalu, Marshall Green - US Ambassador di Jakarta 
memberikan 5000 Daftar Nama Pimpinan-Pimpinan PKI diseluruh Republik Indonesia 
yang harus dibununuh, kepada Para Jendral TNI, dibawah Komando Jendral Suharto, 
dan dalam tempo satu Minggu, awal Oktober 1965, Kol.TNI. Sarwo Edhie, Komandan 
RPKAD dengan bangga melaksanakan Tugas Pembunuhan yang diberikan oleh Marshall 
Green - US Ambasador di Jakarta dan dimulai pengklhiananatan para Jendral TNI 
atas Kemerdekaan Republik Indonesia dan pengkhianatan para Jendral TNI dibawah 
Komando Jendral Suharto atas Bangsa Indonesia yang Merdeka dan Berdaulat.

Selanjutnya berlangsung pembunuhan massal/Genocide yang dilakukan oleh TNI 
bersama dengan Ormas-Ormas dan Partai-Partai Islam, yang dipersenjatai oleh 
TNI, untuk perebutan kekuasaan Negara dari Presiden Soekarno; dan Republik 
Indonesia diserahkan oleh kekuasaan para Jendral TNI yang bernama Orde Baru ( 
ORBA ), dibawah Komando Jendral Suharto, kepada kekuasaan Monopolkapital dari 
Perusahaan-Perusahaan Raksasa USA & Co.dan sampai hari ini.

Disini di Publikasi kembali artikel RAKYAT INDONESIA MENGUTUK PEMBUNUHAN 
MASSAL, sebuah researchwork dilapangan, yang disusun secara sistematik, untuk 
generasi Muda sekarang, yang aktif berjuang diberbagai ORMAS dan Partai Politik 
untuk Demokrasi dan Hak-Hak Kemanusiaan memperoleh Informasi dari Pengkhianatan 
para Jendral TNI dengan ORBA terhadap Kemerdekaan R.I. dan terhadap Bangsa 
Indonesia.


                                           RAKYAT INDONESIA MENGUTUK PEMBUNUHAN 
MASSAL
 
Keputusan Militer/para Jendral TNI  pada 5 Oktober 1965 akan menghancurkan 
Partai Komunis Indonesia ( PKI ) dan akan mengambil kekuasaan Negara dari 
Presiden Soekarno dapat ditemukan diantaranya dalam Dokument CIA 8 Oktober 1965 
(Sumber:Gabriel Kolko,"United States Foreign Policy,1945-1980",New York 1988); 
justru itu, pada Tanggal 28 September 1965, dua hari sebelum Peristiwa 
30September1965, datang Pimpinan NU/Wakil Ketua NU-Zainuri Echsan Subchan 
menghadap Jendral A.H.Nasution dengan menyampaikan proposal untuk Kementrian 
Pertahanan, supaya TNI segera mempersenjatai Pemuda Ansor dan seluruh Pemuda 
Islam dan semua yang anti-PKI, untuk menghancurkan PKI dan NASAKOM.

1 Oktober 1965 berlangsung Pertemuan Pimpinan NU dengan 38 Organisasi Massa 
Islam, terutama Ansor,HMI,DII & TII, di Kantor KOTI, dibawah Pimpinan 
Jendralmayor Sutjipto, yang membentuk suatu KOALISI antara para Jendral TNI 
dengan NU dan 38 Ormas Islam lainnya, yang kemudian dinamakan Front-Pancasila, 
yang melahirkan keputusan pokok: Menghancurkan PKI sebagai Partai dan 
melikwidasi/membunuh seluruh Pimpinan-Pimpinan dan Anggota-Anggota PKI dan 
Organisasi Massa, seperti SOBSI, BTI,GERWANI,Pemuda 
Rakyat,CGMI,HSI,etc.,melikwidasi NASAKOM dan menjatuhkan Pemerintahan Presiden 
Soekarno [Sumber: Brian May,"The Indonesian Tragedy",London 1978; Ulf 
Sundhausen, "The Road of Power.Indonesian Military Politics1945-1967",Kuala 
Lumpur 1982; Iwan Gartono Sudjatmiko, "The Destruction of  the Indonesian 
Communist Party (PKI) (a comperative analysis of East Java and Bali),Ph.D 
Thesis,Harvard University,1992; Andre Feillard,"Islam et  Arme dans L'Indonesie
 contemporaine",Paris 1995 ]
 
Wakil Ketua NU-Zainuri Echsan Subchan adalah ex-Pimpinan Partai terlarang 
Masyumi, yang diantaranya membantu dan mengorganisasi Pemberontakan para 
Perwira TNI AD di Provinsi, seperti PRRI,Permesta,etc. dan NU menjadi tempat 
perlindungan semua Pimpinan-Pimpinan dan Anggota-Anggota dan Ormas 
Masyumi,PSI,DII & TII, dimana Zainuri Echsan Subchan memegang hubungan dan 
kerjasama yang erat dengan para Jendral TNI, terutama dengan Jendral 
A.H..Nasution (Sumber: Andre Freillard,"Islam et Armee dans L'Indonesie 
contemporaine",Paris 1995).
 
2 Oktober 1965 Komandan Militer Jakarta, Jendralmayor Umar Wirahadikusuma 
menyampaikan kepada Pimpinan NU-Zainuri Echsan Subchan kesediaan Militer/TNI AD 
segera mempersenjatai Ansor dan semua Pemuda dari Ormas Islam-FrontPancasila, 
dan Komandan RPKAD,Letkol.Sarwo Edhie Wibowo melaksanakan keputusan tsb. dan 
mempersenjatai serta melatih 25 000 Pemuda Ansor,HMI dan Front-Pancasila. 
Jendral A.H.Nasution menyampaikan Amanatnya, dalam kedudukannya sebagai Mentri 
Pertahanan kepada seluruh Aparat TNI dan Front-Pancasila untuk membunuh setiap 
Komunis/Anggota PKI (Sumber:John Hughes, "Indonesian Upheaval",.New York 1967; 
Herman Sulistyo, "The Forgotten Years. The Missing History of Indonesia's Mass 
Slaughter (Jombang-Kediri 1965-1966), Ph.D.thesis, University of Arizona 1997).
 
Trompet NU-Suratkabar Duta Masyarakat dan Suratkabar Militer/TNI-Berita Yudha 
tiaphari melakukan HateCrime, menghimbau Pemuda Ansor dan semua Ormas Islam 
untuk membunuh Anggota-Anggota PKI dan menghancurkan semua PKI dan semua Ormas, 
yang berhubungan dengan PKI secara keseluruhan, walaupn Statement PKI 2 Oktober 
1965 menyatakan, bahwa apa yang dinamakan Gerakan 30September1965 adalah 
masalah intern didalam TNI, tidak ada hubungannya dengan Partai Komunis 
Indonesia (PKI).
(Sumber:Benedict Anderson/Ruth McVey,"A Preliminary Analysis of the October 
1,1965. Coup in Indonesia,Ithaca 1971. Statement PKI 2.10.1965-8.10.1965, 
in:Indonesia,1 April 1966).
 
4 Oktober 1965 pada penggalian mayat para Jendral yang terbunuh oleh Gerakan 
30September-Letkol.Untung, di Lubang Buaya, Jendral Suharto melakukan 
Propaganda Kotor, seolah-olah pembunuhan para Jendral tsb. dilakukan oleh 
GERWANI, dengan menyiksa dan memotong-motong kemaluan mereka, walaupun AUTOPSY 
dari Dr.med.Militer/TNI membuktikan kebohongan Jendral Suharto tsb. membantah 
pernyataan Jendral Suharto yang bohong=>Kebohongan Jendral Suharto untuk 
pembenaran Pembunuhan Massal !
Dan mulai dari 1 Oktober1965 TNI/RPKAD melakukan Penangkapan Pimpinan-Pimpinan 
dan Aktivis PKI di Jakarta dan di Kota-Kota Besar di Jawa-Barat, dan dalam 
waktu satu Minggu telah memenjarakan 5000 Orang Anggota PKI, dan didalam 
Penjara disiksa secara baiadab, ditusuk-tusuk dan dibacok, dipotong-potong 
Telinga para Tahanan dengan Parang oleh Pemuda Ansor dan HMI, dibawah Komando 
RPKAD dan kemudian di "hilangkan" alias dibunuh.(Sumber: Eson R.E., "Suharto", 
Cambridge 2001).
 
Marshall Green - US Ambassador, Jakarta, yang  memberikan 5000 Daftar Nama 
Pimpinan-Pimpinan PKI diseluruh R.I. yang harus dibunuh kepada Militer/para 
Jendral TNI ( Laporan Marshall Green, 10.8.1966 "Foreign Relation of the United 
States 1964-1968, Juilid XXVI,hal.387,Washinghton 2001).
 
5 Oktober 1965 Kantor Comite PKI di Yogyakarta diserang, dirampas dan dibakar 
oleh Ansor, HMI dan Front-Pancasila; dan 8 Oktober 1965 di organisasi oleh 
Komandan Militer Jakarta dan NU penyerangan Kantor CCPKI di Jakarta, perampasan 
dan pembakaran Hakmilik CCPKI, penangkapan dan pembunuhan semua yang berada 
dalam Kantor; dan dalam waktu yang sama, 2000 Orang Anggota Pemuda Rakyat 
dibunuh secara kejam dan biadab oleh Ansor,HMI bersama TNI/RPKAD didaerah 
Pelabuhan Udara Halim. (Sumber:CIA "Indonesia - 1965"; Wartawan ADN-Jakarta, 
21.10.1065; Arnold Beckman,"The Communist Collaps in Indonesia", New York 
1969)..
 
Jendralmayor Ibrahim Adjie-Komandan Divisi Siliwangi mulai mempersenjatai ex-DI 
& TII, Ansor,HMI, untuk melakukan pembunuhan Pimpinan-Pimpinan PKI,SOBSI,BTI 
dan Pemuda Rakyat, terutama di Daerah Cirebon dan Garut, dimana hampir 10 000 
Manusia di jagal dalam waktu hanya Lima Hari, yang kemudian dinamakan oleh para 
Jendral TNI AD "konflik horizontal" dalam Masyarakat. (Sumber:Harold Crouch, 
"The Army and Politics in Indonesia", Ithaca/London 1978 ).
 
Pada wawancara dengan seorang Journalist UPI - H.E.Stannard,24.11.1966, 
Komandan RPKAD-Letkol.Sarwo Edhie menyatakan, bahwa RPKAD telah mempersenjatai 
dan melatih 25 000 Pemuda HMI dan Ansor untuk melakukan pembunuhan  semua PKI 
bersama TNI. Hanya di Solo mereka telah berhasil membunuh 10 000 PKI dan 15 000 
lainnya dimasukkan dalam Tahanan, yang kemudian juga mereka bunuh semuanya ( 
Robert Shaplen: "Time out of Hand.Revolution and Reaction in Southeast Asia", 
New York 1969)
 
TNI/RPKADA dibawah Komando Letkol.Sarwo Edhie Wibowo, Ansor dan HMI merupakan 
kekuatan  Teror utama dalam melakukan pembunuhan massal diseluruh Wilayah R.I.
Seperti di daerah Boyolali, Banyuwangi,Jember sampai ke Denpasar-Bali, 
TNI/RPKAD menembaki,membrondong Penduduk dengan Senapan Mesin, semua, siapa 
saja, Orang Dewasa maupun Anak-Anak, sampai satu Desa habispunah, mati, dan 
Ansor, HMI, memenggal leher para Tahanan dengan Parang, dan dalam waktu pendek, 
taklebih dari 48 Jam, mereka telah membunuh 4000 Manusia, suatu kebiadaban yang 
luarbiasa. ( Sumber: Stanley Kernow,"Mass frency of killing" in Bali, New  York 
Times, 18.4.1966 ).
 
3 Oktober 1965 Jendral Kemal Idris di Sumatra-Utara memberikan Komando 
pembunuhan semua yang berhubungan dengan PKI dan setiap Minggu sekitar 2000 
Manusia yang di jagal secara Sadis dan biadab oleh TNI AD, Ansor dan 
HMI.(Sumber:BRD-Botschaft-Jakarta, "Verluste der indonesischen Bevölkerung seit 
1.Oktober d.J", 14.12.1965; John Hughes, "Indonesian Upheaval",New York 1967).
 
Di Gayo-Aceh atas Instruksi Jendral Ahmad Yunus Mokoginta-Komandan Territorium 
Sumatra, telah melakukan pembunuhan sejumlah 6000 Manusia, November 1965; dan 
seterusnya, setiap Minggu membunuh 3000 Manusia (PKI),  10 500 Tahanan PKI di 
Sumatra-Utara, yang kemudian semua dibunuh. 40 000 Buruh Plantage Teh dan Karet 
Tanjungmorawa dibunuhhabis beserta keluarga mereka, mereka PKI ( Sumber: Ann 
Laura Stoler, "Capitalism and Confrontation in Sumatra's Plantation Belt, 
1970-1979", Ann Arbor 1995).
 
Di Derah Kabupaten Pesisir Selatan-Sumatra-Barat, atas Komando Letkol. Purnomo 
Sipur, lebihdari 300 Tahanan Politik , dibunuh dengan cara yang sangat Sadis 
dan biadab, para Tahanan dikubur Badan sampai Leher dan dibiarkan sampai mati. 
Di Bukitpulai, sekitar 17 KM dari kota Painan, dilakukan oleh Letkol.Purnomo 
Sipur pembunuhan Massal, 45 Orang Tanahan Politik , dibunuh dan dimasukkan 
kedalam satu Lobang. Sejumlah 1037 Orang diseluruh Kabupaten Pesisir Selatan 
yang dihilangkan/dibunuh dan tempat penghilangan/pembunuhan tersebar diseluruh 
Kabupaten Pesisir Selatan (Laporan Bakri Ilyas MBA, Pimpinan PAKORBA Indonesia).
 
Diseluruh Wilayah KODAM di R.I. berlangsung pembunuhan Massal yang dilakukan 
oleh Militer/TNIAD dan KOALISI TNIAD dengan NU, Ansor,HMI, dan Front-Pancasila, 
dan mereka mendapat carte blanche dari para Jendral TNI untuk melakukan Operasi 
Pembunuhan Manusia, semua yang diidentitaskan sebagai PKI, tanpa kehadiran para 
Jendral TNI; dan mereka:Ansor,HMI, melakukan pembunuhan juga terhadap Anak-Anak 
dibawah umur.Sumber: (New York Times, 18.4.1966; "Reign of terror in  Java", 
Time,13.4.1965).
 
10 Oktober 1965 para Jendral TNI mendirikan KOPKAMTIB dibawah Komando Jendral 
Suharto, yang berfungsi Executive dan Yudicative. Penangkapan dan Pembunuhan 
Massal yang diorganisasi oleh Aparat Negara Militer Fasis ORBA-Jendral Suharto.
Wilayah R.I. berubah menjadi Penjara Manusia terbesar di Dunia, dan para 
Tahanan setiap hari diambil oleh Ansor dan HMI, disiksa dengan Sadis dan biadab 
dan kemudian dipotong leher para Tahanan sampai mati (Sumber:"Laporan Politbiro 
SED-GDR", in:Information Nr.6/66,19.1.1966).
Permulaan November 1965, di Flores, di Pulau Roti dekat Pulau Timor, 50 
Keluarga PKI,semua, termasuk Anak-Anak, dibunuh secara Sadis dan biadab oleh 
Ansor dan HMI, bersama TNIAD.(Sumber:Robert Goodfellow, "Forgetting what it was 
remember the Indonesian killing of 1965/1977", in:Ghost at Table of 
Demogracy.London 2002).
 
Pogrom/Teror atas Warganegara R.I. Ethnis China, dilakukan bukan hanya oleh 
Militer/TNIAD atas Komando Mayor Syamsuddin, melainkan lebihbanyak dilakukan 
Ansor dan HMI: di Makasar-Sulawesi 2000 Rumah dirampok, dan penghuninya 
dibunuh, dengan tuduhan-Agen Komunis,RRT. Baperki di Medan, di Jakarta, di 
obrak-abrik, Hakmilik dirampas. Di Jakarta, di Sumatra-Utara,Medan dan 
Sulawesi, hampir 3000 Orang Warganegara R.I.Ethnis China dan diantaranya juga 
Warganegara RRT, dibunuh.
Dari 5 s/d 14 Novemver1965 di organisasi Pogrom/teror terhadap Ethis China di 
Ambon, di Makasar, di Bonthain, di Banjarmasin. Dan 29 November sampai 5 
Desember1965 di Singaraja, di Denpasar; 6 dan 7 Desember1965 Pogrom di 
Klungkung dan Hakmilik dirampas, para Wanita di Perkosa.(Sumber:Charles Coppel, 
"Indonesian Chinese in crisis",Kuala Lumpur 1983; Hsinhua, "Protes Kedutaan 
Besar RRT di Jakarta",4.11.1965
.
Pada Periode Oktober 1965 s/d Pertengahan 1966 menurut Agent CIA, John 
Stockwell, yang mengikuti seluruh proses pembunuhan Manusia (PKI) atas perintah 
Jendral TNI Suharto, terutama di Pulau Jawa, sejumlah 800 000 Manusia ( PKI ) 
telah terbunuh ( US Embassy,Jakarta.Telegramm 21.2.1966,NARA,RGH 59,250/7/s.Box 
2319,POL.2/1/66);
kemudian Jendralmayor Ibrahim Adjie, Komandan Divisi Siliwangi dalam 
wawancaranya dengan Militer Attache Australia memperbaiki Angka tsb. dan 
menyatakan dengan bangga, Dua Juta Manusia ( PKI ) telah dibunuh ( Wawancara 
T.Warren dengan Jendralmayor Ibrahim Adjie 20-22.6.1966, ANA,3034/1/1,Australia 
Embassy,Jakarta);
dan Letkol TNI Sarwo Edhie Wibowo, Komandan RPKAD menyatakan, bahwa Tiga Juta 
PKI telah ditumpashabis,telah dibunuh ( Sarwo Edhie:Wieringa, "Sexual Politics 
in Indonesia", New York 2002; Benedict Anderson "Petrus Dadi Ratu", New Left 
Review, 3.Mail-Juni 2000).
  
Clifford Geertz, seorang penyelidik dari pembunuhan massal yang 
kejam,mengingatkan  dalam Tulisannya "After the Fact" cara pembunuhan Manusia 
yang sangat Sadist dan Biadab, yang dilakukan oleh Pemuda Islam Ansor dan HMI, 
yaitu dengan memotong leher para Korban, atau memotong-motong bagian dari Tubuh 
para Korban dengan Kapak sampai mati, menusuk para Korban dengan benda tajam 
sampai mati, atau memukul para Korban dengan Batu sampai mati, atau mengikat 
para Korban dengan Tali dan diseret-seret sampai mati dan ada yang dikubur 
hidup-hidup.(Clifford Geertz,"After the Fact", Two Centuries, Four Decades, One 
Anthropologist. Cambridge Mass 196)
Malah Anak-Anak bersama seluruh anggota keluarga dibunuh dengan cara Sadist dan 
Biadab. Atas pertanyaan dari Journalist Australia, "kenapa Anak-Anak juga 
dibunuh?", HMI dan Ansor menyatakan "untuk nanti tidak ada yang akan melakukan 
balasdendam". ( Australia Embassy, Jakarta, "Political Savingram", 
No.10.25.2.1966.
J.M.Starey, "Note on anti-PKI Measures in Nusa Tenggara", 25.2.1966.
Stanley Karnow, "Mass frenzy of killing", in Bali, New York Times,18.4.1966.)
 
Secara resmi PNI bukan Anggota "KOALISI" dengan Militer/para Jendral TNI dan 
dengan Front Pancasila, tetapi Geoffrey Robinson mengingatkan dalam Tulisannya 
"Political Violence in Bali", bahwa PNI merupakan Organisator dari pembunuhan 
Massal di Bali, dimana Pemuda Marhaen dengan memakai seragam hitam. dimalam 
hari, bersama RPKAD, menyerang rumah-rumah Anggota-Anggota PKI, SOBSI, BTI, 
GERWANI, PEMUDA RAKYAT dan membunuh semua keluarga, termasuk Anak-Anak, dengan 
memotong leher mereka dengan Parang sampai putus dan mati. Dalam waktu hanya 
satu Bulan, Pemuda Marhaen-PNI telah membunuh sekitar 80 000 sampai 100 000 
Manusia ( PKI ). Hal yang sama mereka lakukan di Jawa-Timur, terutama di Daerah 
Banyuwangi,
dalam seminggu membunuh lebih dari 3000 Manusia ( PKI ). ( Geoffrey Robinson, 
"The Dark Side of Paradise. Political Violence in Bali", Ithaca/London 1965).
 
 Wilayah Repuiblik Indonesia, hasil dari Proklamasi Kemerdekaan R.I. dijadikan 
oleh para Jendral TNI tempat penjagalan/pembantai Jutaan Manusia-Warganegara 
R.I., dan dijadikan Penjara Manusia terbesar di Dunia.Karena jumlah manusia 
(PKI) yang dimasukkan kedalam Penjara Militer/TNI sangat banyak, lebih dari Dua 
Juta Manusia, maka KOALISI Militer/TNI dengan HMI dan Ansor melakukan 
pembunuhan para Tahanan, seperti Tahanan di Penjara Salemba-Jakarta, 1 sampai 4 
Orang Tahanan tiap hari "dihilangkan" alias dibunuh; Tahanan di Nusakambangan 
tiaphari 20 Orang di "hilangkan"; Tahanan di Kalisosok Surabaya 758 Orang di 
bunuh, sekitar Tahun 1966-1969: Malah Tahanan yang dibuang ke Pulau Buru, 
sejumlah 10 000 Orang, 315 Orang dari situ, periode 1969-1975, dibunuh, karena 
"tidak kooperativ" dengan Militer.
Dengan demikian berlangsung pembunuhan para Tahanan politik yang dilakukan oleh 
Militer/para Jendral TNI bersama dengan KOALISI mereka dari Parpol dan Ormas 
Islam, HMI dan Ansor, diseluruh R.I. Dan kemudian sisanya, muncul Angka Resmi 
para Tahanan Militer TNI sejumlah 1,8 Juta Manusia ( PKI ), yang dinamakan 
TAPOL ( Carmel Budiardjo, "Surviving Indonesia's Gulag", London/New York, 
1966.Harold Munthe-Kass, "Indonesia.Gestapu in jail", 
Bulletin,25.11.1967.Stanley Karnow, "Suharto's worry. How to heal the wounds of 
the anti Red holocaust?", Streits Times,Singapore,19.2.1970).
 
"INDONESIA NEGERI YANG GANAS, SADIST,KEJAM DAN BIADAB" komentar yang sangat 
gusar dan mengutuk dari Thomas Lindblat, dalam Tulisannya "Roots of Violenve in 
Indonesia", Singapore 2002.
 
Inilah Pengkhianatan atas Proklamasi Kemerdekaan R.I. yang dilakukan oleh para 
Jendral TNI dibawah Komando Jendral Suharto dan sampai hari ini, setengah abad 
berjalan, Militer/para Jendral TNI masih tetap  memugar KOALISI mereka dengan 
Partai-Partai dan Organisasi-Organisasi Islam, terutama dengan FPI, yang 
dilaksanakan oleh Komandan KESBANGPOL dalam mengintervensi kekuatan Demokratis 
dan melaksanakan Hate'sCrime ditengah-tengah Masyarakat, yang berjuang untuk 
perubahan kekuasaan Negara, sesuai dengan Jiwa Proklamasi Kemedekaaan R.I. dan 
UUD1945 ( Naskah Asli).
 
Teror kekuasaan Militer/para Jendral TNI dalam Negara, yang bernama Orde Baru, 
yang Mahabesar selanjutnya yalah Tahun 1967, ketika kekuasaan Militer/para 
Jendral TNI menerima dan mengUndangkan, Undang-Undang Penanaman ( 
baca:Perampokan) Modal Asing di R.I. Semenjak itu. tidak ada satupun dari 
Cabang Perekonomian R.I., baik Pertambangan, Energie: Gas Bumi dan tenaga 
Listrik, Transport, Infrastruktur, sampai dengan urusan Bahan Makanan dan Air 
Minum, dikuasai semuanya oleh Perusahaan-Perusahaan Raksasa Asing, bersama 
dengan Business TNI, yang tak dikenal dalam Konstitusi 1945 (Naskah Asli). TNI 
merupakan Organisasi Cartel-Business para Jendral TNI dan Penguasa Negara, 
bukan Aparat Negara, dan para Jendral TNI adalah para Managerial penjualan R.I. 
kepada Perusahaan-Perusahaan Raksasa Asing. 
Rakyat dan Bangsa Indonesia hanya budak dinegerinya untuk kepentingan 
pembentukan Akkumulasi Kapital Perusahaan-Perusahaan Raksasa Asing.
Bangsa Indonesia, semenjak hampir setengah Abad ini, kembali berada didalam 
kehidupan kekuasaan Kolonialisme Model Baru/Neokolonialisme.
 
Silihberganti Presiden R.I., dari Jendral Suharto s/d JOKOWI, tidak seorangpun 
dari mereka yang mempunyai Patriotisme Nasional, yang berjuang untuk Republik 
Indonesia yang Merdeka Penuh, Berdaulat dan Demokratis, melainkan, semuanya, 
tanpa kecuali, menjadi para pelaksana keinginan Perusaahaan-Perusahaan Raksasa 
Asing, terutama USA, yang menguasai seluruh kehidupan Perekonomian dan Bangsa 
Indonesia.

Perjuangan Rakyat Indonesia untuk R.I. yang Merdeka Penuh, Berdaulat dan 
Demokratis adalah Perjuangan yang berliku-liku dan perjalanan yang panjang, 
karena musuh-musuh Rakyat Indonesia semenjak Setengah Abad ini bercokol di R.I. 
dan menguasai Uratnadi Perekonomian R.I. secara keseluruhan dan pengkhianatan 
para Jendral-Jendral TNI, sebagai kolaborator dari kekuasaan Asing di R.I. 
dipugarterus oleh Kementerian Pertahanan R.I., diantaranya lewat mekhanisme 
yang lama, yaitu Kementerian Pertahanan, KODAM-KODAM, sampai ke Kabupaten, 
Kecamatan, Kelurahan (BABINSA), semua hubungan sosial Masyarakat dibawah 
kontrol para Jendral TNI. Pemerintahan Sipil, Gubernur, Bupati, Camat, Lurah, 
praktis tidak bisa berbuat apapun untuk kemajuan Masyarakat, tanpa keizinan 
kekuasaan Militer.

Seluruh Pembohongan ORBA s/d antek-antek ORBA kini, yang dikonstatasi oleh Bung 
Suar Suroso adalah usaha antek-antek ORBA untuk menutupi pengkhianatan mereka 
selama Setengah Abad ini terhadap Kemerdekaan Republik Indonesia dan terhadap 
Bangsa Indonesia secara keseluruhan.

dr.tjaniago














--------------------------------------------
Pada Sel, 27/9/16, [email protected] [GELORA45] <[email protected]> 
menulis:

 Judul: [GELORA45] Suar Suroso:  ORBA BOHONG DI SIANG BOLONG [1 Attachment]
 Kepada: "gelora45" <[email protected]>
 Cc: "wuting301" <[email protected]>
 Tanggal: Selasa, 27 September, 2016, 3:53 AM
 
 
  
 
 
 
   
 
 
     
       
       
        
 Suar
 Suroso: 
    
 ORBA
 BOHONG 
 DI SIANG
 BOLONG 
 
   
  
 Sepertiga abad Orba kuasa, Nusantara jadi neraka
 dunia: Ratusan ribu umat tak bersalah dibantai, bertebaran
 makam tanpa nisan, jutaan tersiksa jadi warga negara
 dianggap “tak bersih lingkungan”. Kekuasaan ORBA
 dibangun pakai fitnah dan kebohongan. Dan mau
 diabadikan pakai kebohongan demi
 kebohongan. 
    
 Kebohongan pertama
 adalah mensulap Palu Arit jadi hantu. Palu
 Arit dipakai menakut-nakuti umat. Palu Arit
 dijadikan menakutkan.Pada hal kini di dunia, di banyak
 negeri Palu Arit berkibar bebas engan jaya. Di Ufuk
 Timur bumi raya, di Tiongkok Palu Arit adalah lambang
 mulia. Berkibar di mana-mana dengan jaya. Dengan menjunjung
 tinggi Palu Arit, Tiongkok yang miskin dan
 terbelakang di pertengahan abad ke-XX telah berobah di awal
 abad ke-XXI menjadi negara ekonomi terbesar nomor dua di
 dunia mengungguli Jepang. Telah membebaskan 600 juta rakyat
 dari kemiskinan. Menjadikan Tiongkok negara besar yang kuat
 di bidang ekonomi, tekhnologi, budaya dan militer. Ini
 berarti seperlima penduduk dunia hidup dalam negara yang
 bernaung di bawah lambang Palu Arit. 
    
 Dan di Indonesia,
 Palu Arit adalah lambang mulia yang dikibarkan dalam
 pemberontakan nasional melawan kolonialisme Belanda tahun
 1926. Lambang Palu Arit dikibarkan dan dibela oleh
 pahlawan-pahlawan anti-kolonial Belanda. Dibela sampai tiang
 gantungan oleh pahlawan-pahlawan Egom, Dirdja, Hassan di
 Priangan dan Si Patai serta si Manggulung di Minangkabau.
 Dan dijunjung serta dibela Ali Archam bersama ribuan buangan
 anti-kolonial Belanda di Tanah Merah. 
    
 Kebohongan
 kedua
 mengkeramatkan Pancasila. Pancasila dijadikan sakti.
 Pancasila adalah dasar negara. Mana bisa dasar negara
 dijadikan sakti. Orba membangun tugu Pancasila Sakti
 di Lubang Buaya. Tugu terang-terangan melukiskan kebohongan
 tentang Peristiwa G30S  Wanita
 Gerwani difitnah mensilet kemaluan dan mencungkil
 mata.dalam Peristiwa ini. Tugu Pancasila Sakti adalah
 lambang pengabadian kebohongan orba. Tiap tahun dilakukan
 peringatan di tugu ini. Tugu ini jadi berhala
 kebohongan sejarah yang memalukan 
    
 Kebohongan ketiga
 adalah TAP MPRS No XXV tahun 1966. Dalam
 pertimbangannya dinyatakan: 
 “bahwa paham
 atau adjaran Komunisme/Marxisme-Leninisme pada
 inti-hakikatnya bertentangan dengan Pantjasila” dan
 “bahwa orang-orang dan golongan-golongan di Indonesia yang
 menganut paham atau adjaran Komunisme/Marxisme-Leninisme,
 chususnja Partai Komunis Indonesia telah njata-njata
 terbukti beberapa kali berusaha merobohkan kekuasaan
 Pemerintah Republik jang sah dengan djalan
 kekerasan” 
    
 Pancasila tak bisa
 dinyatakan bertentangan dengan Marxisme. Pencetus Pancasila
 Bung Karno, adalah seorang Marxis. Semenjak remaja beliau
 sudah gandrung akan Marxisme. Bahkan berkali-kali Bung Karno
 menyatakan bahwa Marxisme adalah ilmu yang kompeten untuk
 memecahkan masalah-masalah sosial. Beliau adalah propagandis
 yang menganjurkan orang belajar Marxisme. 
 Jauh sebelum
 mencetuskan Pancasila, di tahun 1926, Bung Karno sudah
 tampil dengan gagasan historisnya kerjasama para penganut
 nasionalisme, Islam dan Marxisme.  Gagasan ini
 di tahun enampuluhan berkembang jadi Nasakom,
 kerjasama penganut nasionalisme, kaum beragama dan penganut
 komunisme. Sampai akhir hayatnya, Bung Karno setia pada
 ajaran Nasakomnya. 
    
 Eksistensi
 kalangan penganut nasionalisme, kaum beragama dan penganut
 komunisme adalah kenyataan sejarah Indonesia. Bertolak dari
 kenyataan inilah Bung Karno mencetuskan gagasan
 Nasakomnya. 
    
 Tapi penguasa orba
 adalah anti  Nasakom, anti-komunis.
 Anti komunis adalah hakekat PERANG DINGIN yang
 dikobarfkan Amerika Serikat di tahun enampuluhan. Inilah
 yang melanda Indonesia di tahun itu, yang melahirkan
 kekuasaan ORBA di bawah jenderal fasis
 Suharto 
    
 Lahirnya ORBA
 pakai kebohongan demi kebohongan. Dan masih
 mau diabadikan oleh sisa-sia orba liwat
 kebohongan-kebohongan. 
    
 Menyatakan
 Pancasila bertentangan dengan Marxisme adalah bohong
 di siang bolong !. 
    
 Menyatakan PKI
 berkali-kali berusaha menggulingkan Pemerintah RI dengan
 kekerasan adalah bohong di siang bolong
 ! 
    
 Maka TAP MPRS No
 XXV 1966 adalah puncak kebohongan ORBA
 yang  jadi halaman hitam sedjarah
 Indonesia. 
    
 Pembohongan yang
 dilakukan ORBA adalah pembodohan bangsa ! 
    
 Pembohongan-pembohongan ORBA
 ini kian telanjang bulat ! 
    
    
 27-9-2016.
 
 
     
      
 
     
     
 
 
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707 --
   #yiv6529333707ygrp-mkp {
 border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
 0;padding:0 10px;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-mkp hr {
 border:1px solid #d8d8d8;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-mkp #yiv6529333707hd {
 color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
 0;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-mkp #yiv6529333707ads {
 margin-bottom:10px;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-mkp .yiv6529333707ad {
 padding:0 0;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-mkp .yiv6529333707ad p {
 margin:0;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-mkp .yiv6529333707ad a {
 color:#0000ff;text-decoration:none;}
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-sponsor
 #yiv6529333707ygrp-lc {
 font-family:Arial;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-sponsor
 #yiv6529333707ygrp-lc #yiv6529333707hd {
 margin:10px
 0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-sponsor
 #yiv6529333707ygrp-lc .yiv6529333707ad {
 margin-bottom:10px;padding:0 0;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707actions {
 font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707activity {
 
background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707activity span {
 font-weight:700;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707activity span:first-child {
 text-transform:uppercase;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707activity span a {
 color:#5085b6;text-decoration:none;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707activity span span {
 color:#ff7900;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707activity span
 .yiv6529333707underline {
 text-decoration:underline;}
 
 #yiv6529333707 .yiv6529333707attach {
 clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
 0;width:400px;}
 
 #yiv6529333707 .yiv6529333707attach div a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv6529333707 .yiv6529333707attach img {
 border:none;padding-right:5px;}
 
 #yiv6529333707 .yiv6529333707attach label {
 display:block;margin-bottom:5px;}
 
 #yiv6529333707 .yiv6529333707attach label a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv6529333707 blockquote {
 margin:0 0 0 4px;}
 
 #yiv6529333707 .yiv6529333707bold {
 font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}
 
 #yiv6529333707 .yiv6529333707bold a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv6529333707 dd.yiv6529333707last p a {
 font-family:Verdana;font-weight:700;}
 
 #yiv6529333707 dd.yiv6529333707last p span {
 margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}
 
 #yiv6529333707 dd.yiv6529333707last p
 span.yiv6529333707yshortcuts {
 margin-right:0;}
 
 #yiv6529333707 div.yiv6529333707attach-table div div a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv6529333707 div.yiv6529333707attach-table {
 width:400px;}
 
 #yiv6529333707 div.yiv6529333707file-title a, #yiv6529333707
 div.yiv6529333707file-title a:active, #yiv6529333707
 div.yiv6529333707file-title a:hover, #yiv6529333707
 div.yiv6529333707file-title a:visited {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv6529333707 div.yiv6529333707photo-title a,
 #yiv6529333707 div.yiv6529333707photo-title a:active,
 #yiv6529333707 div.yiv6529333707photo-title a:hover,
 #yiv6529333707 div.yiv6529333707photo-title a:visited {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv6529333707 div#yiv6529333707ygrp-mlmsg
 #yiv6529333707ygrp-msg p a span.yiv6529333707yshortcuts {
 font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}
 
 #yiv6529333707 .yiv6529333707green {
 color:#628c2a;}
 
 #yiv6529333707 .yiv6529333707MsoNormal {
 margin:0 0 0 0;}
 
 #yiv6529333707 o {
 font-size:0;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707photos div {
 float:left;width:72px;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707photos div div {
 border:1px solid
 #666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707photos div label {
 
color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707reco-category {
 font-size:77%;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707reco-desc {
 font-size:77%;}
 
 #yiv6529333707 .yiv6529333707replbq {
 margin:4px;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-actbar div a:first-child {
 margin-right:2px;padding-right:5px;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-mlmsg {
 font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean,
 sans-serif;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-mlmsg table {
 font-size:inherit;font:100%;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-mlmsg select,
 #yiv6529333707 input, #yiv6529333707 textarea {
 font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-mlmsg pre, #yiv6529333707
 code {
 font:115% monospace;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-mlmsg * {
 line-height:1.22em;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-mlmsg #yiv6529333707logo {
 padding-bottom:10px;}
 
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-msg p a {
 font-family:Verdana;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-msg
 p#yiv6529333707attach-count span {
 color:#1E66AE;font-weight:700;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-reco
 #yiv6529333707reco-head {
 color:#ff7900;font-weight:700;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-reco {
 margin-bottom:20px;padding:0px;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-sponsor #yiv6529333707ov
 li a {
 font-size:130%;text-decoration:none;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-sponsor #yiv6529333707ov
 li {
 font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-sponsor #yiv6529333707ov
 ul {
 margin:0;padding:0 0 0 8px;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-text {
 font-family:Georgia;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-text p {
 margin:0 0 1em 0;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-text tt {
 font-size:120%;}
 
 #yiv6529333707 #yiv6529333707ygrp-vital ul li:last-child {
 border-right:none !important;
 }
 #yiv6529333707 
 

Kirim email ke