Menurut saya bagusan lahan gambut dan rawa-rawa diperdayakan untuk mengurangi 
penebangan hutan
Seperti astra agro niaga mengembangkan tanaman sawit di lahan rawa rawa di 
Sulawesi tengah.
Jaman Orba pernah menebang hutan 2 juta ha di kalsel untuk sawah, sampai 
sekarang nasibnya gak jelas
Lahan rawa-rawa dan lahan gambut di indonesie tidak sedikit, 100-500 juta ha 
ada, cuma perlu teknologi draenase yang baik
Disamping itu kalau nebang pohon terus entar dunia international memprotes kita


From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Saturday, October 01, 2016 2:24 PM
To: Chan CT; GELORA_In
Subject: [**EXTERNAL**] Re: [GELORA45] Lahan Produktif Berkurang, Lahan 
Transmigrasi Baru Terus Diperluas


Dimana ada lahan buat transmigrasi?

From: mailto:[email protected]
Sent: Saturday, October 1, 2016 4:14 AM
To: GELORA_In<mailto:[email protected]>
Subject: [GELORA45] Lahan Produktif Berkurang, Lahan Transmigrasi Baru Terus 
Diperluas



Lahan Produktif Berkurang, Lahan Transmigrasi Baru Terus Diperluas
Jumat, 30 September 2016 | 15:37

http://id.beritasatu.com/macroeconomics/lahan-produktif-berkurang-lahan-transmigrasi-baru-terus-diperluas/150549
[clip_image001]<http://id.beritasatu.com/>[clip_image002]
Salah satu lahan pertanian di Jawa Timur. Foto ilustrasi: Portal ID/gora kunjana


Berita Terkait
•  Lahan Petani Berkurang, Harga Pangan Tidak 
Stabil<http://id.beritasatu.com/agribusiness/lahan-petani-berkurang-harga-pangan-tidak-stabil/150342>
•  Menkop-Mendes Sinergikan Koperasi dan 
BUMDes<http://id.beritasatu.com/home/menkop-mendes-sinergikan-koperasi-dan-bumdes/150235>
•  Lulusan Sarjana Diminta Jeli Manfaatkan Peluang 
Desa<http://id.beritasatu.com/home/lulusan-sarjana-diminta-jeli-manfaatkan-peluang-desa/149618>
•  Pengawasan Dana Desa Harus Didukung Keterbukaan 
Publik<http://id.beritasatu.com/home/pengawasan-dana-desa-harus-didukung-keterbukaan-publik/149610>
•  Universitas NU Bangun Gedung 
Baru<http://id.beritasatu.com/home/universitas-nu-bangun-gedung-baru/148040>



YOGYAKARTA- Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko 
Putro Sandjojo berkomitmen memperluas lahan transmigrasi baru sebagai 
substitusi lahan pangan produktif di Pulau Jawa yang terus berkurang.

"Kalau lahan baru tidak kita buka lagi maka masalah pangan akan semakin 
meningkat dan semakin menguras devisa negara di masa-masa yang akan datang," 
kata Menteri Eko seusai Focus Group Discussion (FGD) dengan tema "Transmigrasi 
Membangkitkan Industrialisasi Pertanian dari Pinggiran" di Yogyakarta, Jumat.

Eko –seperti dilansir Antara-- mengatakan terkait perluasan pembukaan lahan 
untuk transmigrasi dan pembangunan desa baru di luar Jawa, Kementerian Desa 
masih akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian, serta kementerian 
terkait lainnya. Mengenai hal itu, Presiden Joko Widodo telah meminta 17 
kementerian lainnya untuk memberikan dukungan sepenuhnya.

Menurut dia, program transmigrasi dan pembangunan desa baru di luar Jawa saat 
ini menjadi fokus utama di kementeriannya. Apabila program itu gagal, Eko 
khawatir seiring terus pertumbuhan jumlah penduduk, Indonesia akan menjadi 
negara pengimpor pangan terbesar yang terus-menerus menguras devisa negara.

"Karena Indonesia negara akan menjadi negara maju maka kebutuhan pangannya akan 
naik, bukan hanya karena pertumbuhan penduduk, namun juga karena peningkatan 
taraf hidup," kata dia.

Selain itu, guna mendukung target ketahanan pangan nasional, ia juga berharap 
setiap desa dapat fokus menghasilkan satu produk unggulan yang dicanangkan 
melalui program one village one product (satu desa satu produk). Dengan 
demkian, menurut dia, masing-masing desa dapat menghasilkan satu produk dengan 
skala besar.

"Kalau desa hanya menghasilkan produk komoditas dengan skala kecil dan tidak 
memiliki sarana pascapanen maka akan muncul persoalan klasik yakni harga 
komoditas jatuh saat panen," kata dia.

Mantan Menteri Trasmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan Siswono Yudo Husodo 
mengatakan sesuai pengamatan yang ia lakukan program transmigrasi di Indonesia 
terus mengalami kemerosotan dari tahun ke tahun.

Akibatnya, Indonesia menjadi negara pengimpor pangan seperti gula dan kedelai 
terbesar di dunia sejak 2013. "Kalau ini tidak segera ditanggapi dengan 
tindakan nyata maka impor ini akan terus menguras devisa negara," kata dia. 
(gor)


Kirim email ke