From: Yoseph T Taher 
Sent: Monday, October 3, 2016 7:57 AM



Pembaca yang terhormat,




Mungkin diantara kita masih ada yang ingat akan pak Ayik Umar
Said, seorang warga Indonesia, seorang wartawan Asia Afrika yang gigih, seorang
yang paspornya dicabut oleh rezim Soeharto, hingga harus kelayaban dinegeri
asing, seorang yang mendapatkan kehormatan dan penghargaan tinggi menjadi warga
Perancis yang dihormati,dan memperoleh bintang jasa dari Pemerintah Perancis,
namun juga seorang yang kini telah tiada. Beliau mendahului kita meninggalkan
dunia yang porak poranda ini beberapa tahun yang lalu. Sebelum meninggal, beliau
menulis suatu catatan, catatan A.Umar Said, yang berjudul “Kesaktian Pancasila
atau kesakitan Pancasila”. Tulisan ini dibuat delapan tahun yang lalu (2008),
namun isinya masih dapat kita jadikan pedoman dalam memandang dan menanggapi
tentang Peringatan “Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober” yang lalu. Semoga
pemuatan kembali tulisan beliau, yang saya ambil dari simpanan dokumen saya,
akan berguna buat kita renungkan kembali. 



Salam dan terima kasih: YTTaher. 








Catatan A. Umar Said




Kesaktian Pancasila atau kesakitan Pancasila ?



Judul tulisan ini mungkin
terasa sebagai cemooh yang tak pantas, atau kelakar yang tidak lucu, atau
ungkapan sembrono yang hanya membikin marah atau jengkel sebagian orang,
terutama para pendukung Suharto beserta rejimnya Orde Baru. Apa boleh buat,
kalau begitu. Sebab, tulisan ini memang sengaja untuk mencemoohkan “Hari
Kesaktian Pancasila”. Bahkan lebih dari itu! Tulisan ini dimaksudkan untuk
menghujat – dan sekeras-kerasnya pula ! -- apa yang dinamakan oleh para
pendukung rejim militer Orde Baru sebagai “hari yang sakti”, yaitu tanggal 1
Oktober. Karena, apa yang dilakukan oleh Suharto dkk dan para pendukung Orde
Baru umumnya selama 32 tahun lebih, adalah pelecehan Pancasila, pemalsuan 
Pancasila,
perkosaan Pancasila, penghinaan Pancasila, penyalahgunaan Pancasila,
penyelewengan Pancasila atau –- bahkan ! --pengrusakan Pancasila. Jadi, seperti
yang sudah disaksikan sendiri oleh banyak orang, selama masa Orde Baru (sampai
sekarang !) Hari Kesaktian Pancasila sama sekali bukanlah sesuatu yang “sakti”
melainkan sesuatu yang “sakit”.




“Hari Kesaktian Pancasila” selama sekitar 40 tahun selalu
diperingati di Lubang Buaya, berdekatan dengan “Monumen Kesaktian Pancasila”,
yang didirikan oleh rejim militer Orde Baru untuk memperingati tewasnya 6
jenderal TNI sebagai akibat peristiwa G30S. Bahwa Suharto dkk memberi
penghargaan kepada perwira-perwira yang menjadi korban dalam peristiwa G30S
adalah suatu hal yang wajar dan kiranya bisa dimengerti oleh banyak orang.
Namun, bahwa peringatan terhadap 6 jenderal yang tewas itu dijadikan ritual
yang - dengan gagah tetapi salah -- diberi nama “Hari Kesaktian Pancasila”
adalah suatu kebohongan atau pemalsuan yang tidak boleh --dan tidak bisa!!! –
ditolerir lagi oleh semua orang yang mempunyai fikiran jernih atau nalar yang
sehat. Kita semua hendaknya tidak membiarkan terus para pendukung Suharto
(rejim militer Orde Baru) berceloteh, atau membual, atau “omong gede” bahwa
mereka menghargai Pancasila tetapi bersamaan dengan itu menjalankan hal-hal
yang sama sekali bertentangan (bahkan, memusuhi !) dengan Pancasila-nya Bung
Karno.




Mereka justru mengkhianlaati
Pancasila




Perlulah kiranya selalu
kita ingat bersama bahwa sejak 1970 sampai jatuhnya Suharto (tahun 1998) 
peringatan
hari lahirnya Pancasila (hari ketika Bung Karno menyajikan kepada seluruh
bangsa Indonesia gagasan besarnya itu) dilarang oleh Kopkamtib. Jadi, lama
sekali. Keterlaluan, bukan? Bagaimana mereka bisa koar-koar menjunjung
tinggi-tinggi Pancasila, tetapi memusuhi penggagasnya, yaitu Bung Karno !
Sebab, kalau dilihat dari berbagai segi sejarah perjuangan bangsa, bisalah
dikatakan bahwa Pancasila adalah satu dan senyawa dengan Bung Karno, atau Bung
Karno adalah Pancasila itu sendiri. Artinya, Pancasila (yang asli !) tidak bisa
dipisahkan dari Bung Karno, apalagi dipertentangkan, seperti yang sudah
dilakukan Suharto beserta para pendukungnya.




Jadi, sekali lagi perlu
diulangi bahwa seperti yang sudah sama-sama kita saksikan selama beberapa puluh
tahun, para tokoh rejim militer Orde Baru sering sekali bicara muluk-muluk atau
bersuara lantang tentang Pancasila dalam pidato-pidato atau tulisan mereka,
tetapi dalam praktek menjalankan hal-hal yang sama sekali berlawanan atau
bahkan bermusuhan dengan jiwa asli atau isi yang sebenarnya menurut gagasan
penciptanya atau perumusnya, Bung Karno. Suharto dkk bicara tinggi-tinggi soal
Pancasila, namun mereka malahan telah mengkhianati pencetusnya, menggulingkan
kekuasaannya sebagai presiden, menahannnya sebagai tapol, dan membiarkannya
sakit parah dan wafat dalam status sebagai tahanan.




Bukan itu saja! Sebagian
terbesar politik dan praktek-praktek rejim militer Orde Baru (dengan penyokong
utamanya Golkar dan militer) selama puluhan tahun tidaklah mencerminkan jiwa
atau isi Pancasila, yaitu : Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan
beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan, dalam permusyawaratan perwakilan, dan Keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia. Dari pengalaman yang berpuluh-puluh tahun, nyatalah
dengan jelas bahwa apa yang dilakukan Suharto dkk selama 32 tahun adalah
penyelewengan (kalau bukan pembunuhan) jiwa agung dan tujuan luhur yang
terkandung dalam Pancasila-nya Bung Karno.


 

Mereka tidak menyelamatkan
negara melainkan “menjerumuskan”-nya




Peringatan “Hari Kesaktian
Pancasila” adalah salah satu di antara banyak sekali praktek-praktek rejim
militer Orde Baru (yang masih diteruskan sampai sekarang oleh para pendukung
setianya) yang dimaksudkan sebagai usaha untuk terus-menerus menjatuhkan citra
Bung Karno beserta para pendukung utamanya, yang terdiri dari golongan kiri
pada umumnya, dan golongan PKI pada khususnya. Secara langsung atau tidak
langsung, dan dengan berbagai jalan dan bentuk, digambarkan bahwa “Pancasila”
mereka yang “sakti” telah menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia dari
kesalahan-kesalahan Bung Karno yang “bersekutu” dengan PKI.




Padahal, seperti yang kita
semua sama-sama saksikan, justru karena mereka telah menyalahgunakan, atau
memalsu, atau melecehkan Pancasilanya Bung Karno itulah keadaan negara bangsa
dan negara kita menjadi sangat semrawut dan bobrok sekali dewasa ini. Justru
karena mereka (Suharto dkk) mengkhianati Bung Karno sebagai presiden dan
Panglima Tertinggi Angkatan Perang dan Pemimpin Besar Revolusi, maka mereka
sama sekali tidak pantas – dan juga sama sekali tidak berhak !!! – untuk
menggembar-gemborkan sebagai golongan yang menjunjung tinggi Pancasila dan
“menyelamatkan bangsa dan negara”. Sebaliknya, seperti yang disaksikan oleh kita
semua, perkembangan situasi di Indonesia sejak kudeta merangkak yang dilakukan
Suharto dkk sampai sekarang menunjukkan dengan jelas bahwa justru mereka itulah
yang telah menjerumuskan bangsa dan negara ke dalam jurang kebobrokan dan
kebusukan.




Karena mereka telah
memusuhi ajaran-ajaran atau gagasan besar Bung Karno, termasuk mencampakkan
jiwa asli atau isi utama Pancasila hasil pemikirannya, maka negara kita
sekarang berada dalam krisis yang multi-dimensional atau bersegi banyak. Di
antara berbagai krisis atau persoalan besar yang dihadapi rakyat dan negara
kita adalah : dikangkanginya asset negara yang penting-penting oleh kekuatan
asing, kelumpuhan negara dan bangsa menghadapi neo-liberalisme, kerusakan moral
atau iman di berbagai kalangan atas, rusaknya persatuan bangsa karena persoalan
agama dan kesukuan, merajalelanya korupsi dimana-mana, hilangnya kepedulian
atau kepekaan rasa terhadap kemiskinan sebagian terbesar rakyat, dibiarkannya
pengangguran sampai beberapa puluh juta orang, merosotnya patriotisme atau
nasionalisme kerakyatan. 




 

“Hari Kesaktian Pancasila” adalah anti-Bung Karno 

Para pendukung Orde Baru menggembar-gemborkan “Hari Kesaktian Pancasila” dengan 
tujuan yang
berlawanan sama sekali dengan gagasan besar dan otentik yang terkandung dalam
Pancasila-nya Bung Karno. “Hari Kesaktian Pancasila” yang diselenggarakan di
Lubang Buaya pada intinya adalah berjiwa atau berorientasi anti-Sukarno,atau
anti-kiri umumnya, termasuk anti-PKI. 




Dalam kaitan ini perlulah
kiranya kita semua (termasuk orang-orang yang masih tertipu oleh Orde Barunya
Suharto bahwa “Hari Kesaktian Pancasila” adalah sesuatu yang luhur dan mulia)
mengerti dengan gamblang bahwa secara keseluruhan, Pancasila-nya Bung Karno
adalah kiri. Dengan mengingat bahwa sejak mudanya ia sudah menerjunkan diri
dalam perjuangan anti-kolonialisme Belanda dengan elan (semangat) revolusioner
dan jiwa NASAKOM, maka jelaslah bahwa ia menggagas Pancasila dalam tahun 1945
pun dengan latar-belakang fikiran kiri dan revolusioner. 




Kalau kita cermati gagasan-gagasan
Bung Karno yang besar dan progresif yang terkandung dalam kata-kata di
Pancasila-nya: Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia,
Kerakyatan, dan Keadilan sosial, maka kita semua bisa melihat bahwa apa yang
dilakukan oleh Suharto dengan Orde Barunya selama 32 tahun adalah betul-betul
pengkhianatan besar-besaran terhadap Pancasila yang asli. Sebab, hanya
orang-orang yang jiwanya tidak sehatlah yang masih bisa -- atau masih berani
!!! -- mengatakan bahwa Orde Baru telah mempraktekkan Kemanusiaan yang adil dan
beradab (harap ingat : pembantaian jutaan orang tidak bersalah dalam peristiwa
65, penangkapan ratusan ribu orang selama puluhan tahun, dan menyengsarakan
terus-menerus, sampai sekarang, keluarga korban 65 yang puluhan juta orang 
jumlahnya).




Juga hanya orang-orang
yang nalarnya rusak-lah yang terus-menerus mengatakan bahwa pemerintahan Orde
Baru (dan semua pemerintahan yang berikutnya) telah dan sedang mentrapkan
Kerakyatan, kalau kita ingat bahwa lembaga-lembaga negara (antara lain : DPR,
DPRD, Mahkamah Agung, dan aparat birokrasi dikuasai oleh anasir-anasir korup
dan bermental anti-rakyat). Dan hanya orang-orang yang imannya sesatlah yang
tidak segan-segan mengatakan bahwa semua pemerintahan pasca-Sukarno menjunjung
tinggi-tinggi prinsip Keadilan sosial, kalau kita saksikan bahwa selama ini
sebagian terbesar rakyat kita hidup di bawah 2 dollar sehari, sedangkan
segolongan orang-orang sebangsa Tommy Suharto dan Tutut bergelimang dengan uang
triliunan Rupiah.




Perlu kita sama-sama renungkan
juga bahwa Bung Karno merumuskan sila pertama Pancasila (Ketuhanan Yang Maha
Esa) dengan pengertian agama (Islam, Katolik, Kristen dll) yang progresif, yang
berkemanusiaan, yang adil dan beradab, yang menjunjung tinggi-tinggi kerakyatan
dan keadilan sosial (jadi sama sekali berlawanan dengan praktek-praktek FPI
atau ajaran golongan Islam fundamentalis Indonesia lainnya). Patutlah kita
semua ingat bahwa Bung Karno sejak masih mahasiswa sudah terjun dalam gerakan
Islam yang progresif atau kiri, anti-kolonialis, dan bersahabat dengan
orang-orang komunis juga, karena ia anggap mereka sebagai kawan seperjuangan. 




Apa yang dikemukakan di
atas itu adalah untuk mengajak kita semuanya melihat bahwa “Hari Kesaktian
Pancasila” yang diselengggarakan di Lubang Buaya itu sebenarnya atau pada
intinya adalah hanya salah satu di antara banyak upaya sebagian golongan
militer pendukung Suharto beserta sisa-sisa kekuatan Orde Baru lainnya untuk
melanjutkan terus-menerus politik mereka yang salah selama ini, yaitu 
memerosotkan
citra Bung Karno dan sekaligus memukul gerakan kiri, dan terutama PKI. Itu
semuanya perlu mereka lakukan, untuk menutupi dosa-dosa mereka yang besar dan
banyak sekali yang telah dilakukan sejak 1965.


 

Pancasila adalah pemersatu bangsa dan juga kiri




Bahwa jiwa asli Pancasila
adalah kiri, baiklah disajikan ulang apa yang dikatakan oleh penggagasnya, Bung
Karno, seperti yang dapat kita baca dalam dua jilid buku “Revolusi belum
selesai”. Dalam buku tersebut dapat dibaca kumpulan pidato-pidato Bung Karno 
sesudah
peristiwa G30S, yang banyak menyinggung masalah Pancasila. Berikut adalah satu
bagian kecil sekali dari pidato beliau dalam sidang paripurna Kabinet Dwikora
di Bogor pada tanggal 6 November 1965 (yaitu kita-kira sebulan lebih setelah
terjadinya G30S, ketika para pembesar militer pendukung Suharto mulai
menggunakan Pancasila untuk menyerang Bung Karno) :




“Jangan kira, Saudara-saudara, kiri is alleen maar (keterangan :
bahasa Belanda, yang artinya : hanyalah ) anti-imperialisme. Jangan kira kiri
hanya anti-imperalisme, tetapi kiri juga anti-uitbuiting (penghisapan). Kiri
adalah juga menghendaki satu masyarakat yang adil dan makmur, di dalam arti
tiada kapitalisme, tiada exploitation de l’homme par l’homme, tetapi kiri. Oleh
karena itu saya berkata tempo hari, Pancasila adalah kiri. Oleh karena apa ?
Terutama sekali oleh karena di dalam Pancasila adalah unsur keadilan sosial.
Pancasila adalah anti-kapitalisme. Pancasila adalah anti-exploitation de
l’homme par l’homme. Pancasila adalah anti-exploitation de nation par nation.
Karena itulah Pancasila kiri” (Revolusi belum selesai, halaman 77).




Dalam sidang pimpinan MPRS
ke 10 di Istana Negara, 6 Desember 1965 (jadi dua bulan sesudah G30S) Bung
Karno mengatakan :” Apakah tidak benar kalau saya berkata bahwa di waktu yang
akhir-akhir ini, Pancasila dipergunakan sebagai satu barang an sich.Aku
Pancasila! Maksudnya apa orang yang berkata demikian ini ? Aku antikomunis.
Perkataan dipakai untuk sebetulnya men-demonstreer anti kepada Kom. Padahal
Pancasila sebetulnya tidak anti-Kom. Kom dalam arti ideologi sosial untuk
mendatangkan di sini suatu masyarakat yang sosialistis. Kalau dikatakan, ya aku
Pancasila, tetapi dalam hatinya anti-Nasakom. Pancasila dipakai untuk
mengatakan aku Pancasila, tetapi aku anti-Nas. Aku Pancasila tetapi aku anti-A.





Pancasila adalah
pemersatu, adalah satu ideologi yang mencakup segala. Dan aku sendiri berkata,
aku ini apa? Aku Pancasila. Aku apa ? Aku perasan daripada Nasakom. Aku adalah
Nasionalis, aku adalah A, aku adalah sosialis, kataku. Tetapi banyak orang
memakai Pancasila ini sebagai hal yang anti.” (Revolusi belum selesai, halaman
217).



Pancasila-nya Bung Karno perlu
kita angkat kembali




Mengingat itu semuanya
nyatalah bahwa « Hari Kesaktian Pancasila » yang diselenggarakan di Lubang
Buaya (dan di tempat-tempat lainnya di Indonesia) adalah sebenarnya
bertentangan sama sekali dengan jiwa asli Pancasila-nya Bung Karno dan
ajaran-ajaran besarnya yang lain. Karena itulah tulisan ini sependapat dengan
usul atau fikiran yang sudah mulai muncul supaya ritual yang hanya menyebar
racun persatuan bangsa ini ditiadakan atau dihapuskan saja untuk selanjutnya.
Tetapi, kalau sisa-sisa Orde Baru masih mau tetap mengadakannya, ada juga
baiknya ! Sebab, seperti halnya diaporama beserta « Monumen Pancasila, » -nya,
akhirnya itu semua akan merupakan boomerang bagi mereka, karena banyak orang
(terutama generasi yang akan datang) akan bisa melihat dengan jelas kebohongan
dan tujuan yang tidak luhur yang dikandungnya. Diaporama dan segala macam
monumen yang didirikan oleh rejim militer ini pastilah akan menjadi “senjata
makan tuan” bagi mereka sendiri.




Jadi, kita semua melihat
bahwa Pancasila sudah dikotori atau dibikin busuk seperti comberan (dan
memuakkan!) oleh Suharto dan konco-konconya selama puluhan tahun dengan
macam-macam praktek (antara lain indoktrinasi paksaan Penataran “Penghayatan
dan Pengamalan Pancasila”, dan cekokan berupa seminar atau rapat-rapat dll).
Karenanya, sudah banyak orang yang bukan saja membenci Suharto dengan Orde
Barunya, melainkan juga tidak menghargai Pancasila lagi.




Karenanya, adalah tugas
kita bersama dewasa ini, dan untuk selanjutnya, untuk mengangkat kembali
Pancasila dari comberan yang dibikin oleh rejim militer Suharto. Pancasila-nya
Bung Karno perlu kita junjung tinggi-tinggi, kita kumandangkan lagi, dan kita
dudukkan di tempat yang luhur dan mulia sebagaimana mestinya, sebagai pemersatu
bangsa yang berjuang untuk masyarakat yang betul-betul demokratis, adil dan
makmur.




Paris, 7 Oktober 2008 









Kirim email ke