Habis manis sepah dibuang.---
Sandyawan bercerita bahwa saat itu, Kelurahan Bukit Duri menjadi bagian dari 
tim pemenangan pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama yang maju dalam 
pemilihan kepala daerah DKI Jakarta. ...
Jokowi-Ahok akhirnya berhasil memenangkan Pilkada DKI Jakarta. Ini membuat 
harapan warga Bukit Duri untuk memiliki kampung deret yang humanis dan terbebas 
dari banjir, semakin membuncah. ...
Sandyawan mengatakan bahwa ada sekitar 20 KK yang menolak tinggal di rusun, 
secara bersama-sama mengumpulkan uang untuk mengontrak rumah di RW 11. ...
"Ada 20 KK itu pun didatangi, diteror, dan diusir. Yang datang Pak Camat, Pak 
Lurah, Koramil dan polisi. Kami tidak boleh tinggal di situ padahal kami 
ngontrak. Apa ini, negara apa ini?" tuturnya.
...http://www.cnnindonesia.com/nasional/20161002133756-20-162709/janji-manis-jokowi-yang-hilang-di-bukit-duri/
Janji Manis Jokowi yang Hilang di Bukit Duri
Gloria Safira Taylor, CNN IndonesiaMinggu, 02/10/2016 16:14 WIBWarga Bukit Duri 
memindahkan barang-barang dari rumah mereka yang digusur pada Rabu, 28 
September 2016. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)Jakarta, CNN Indonesia -- Warga 
di bantaran Sungai Ciliwung Kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan, pernah 
bermimpi memiliki kampung deret yang humanis dan terbebas dari banjir. Namun 
mimpi itu terkubur seiring dengan pembongkaran yang dilakukan oleh aparat 
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap pemukiman warga, pada Rabu (28/9).

Yang tersisa hanya kenangan warga akan mimpi tersebut. Tokoh masyarakat 
setempat, Ignatius Sandyawan Sumardi, menceritakan kenangan itu kepada 
CNNIndonesia.com. 

Mimpi warga Bukit Duri memiliki kampung deret yang humanis dan terbebas dari 
banjir, bermula pada tahun 2012.Sandyawan bercerita bahwa saat itu, Kelurahan 
Bukit Duri menjadi bagian dari tim pemenangan pasangan Joko Widodo dan Basuki 
Tjahaja Purnama yang maju dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta. 

Jokowi mendatangi Bukit Duri dengan membawa perasaan senasib. Ia mengaku 
berasal dari pemukiman di daerah bantaran sungai saat tinggal di Solo. Rumahnya 
juga pernah mengalami pembongkaran.

"Kami merasakan ada rasa senasib, hingga akhirnya kami merasa punya tempat 
untuk mengadu," kata Sandyawan yang juga penggagas komunitas Ciliwung Merdeka.

Perasaan senasib itu membuat kehadiran Jokowi di Bukit Duri membawa harapan 
bagi warga yang sudah mengalami ancaman pembongkaran sejak zaman Orde Baru.

Kepada Jokowi, Sandyawan menyampaikan solusi Kampung Deret untuk warga Bukit 
Duri.

"Dia (Jokowi) memberikan kesempatan pada kami satu jam untuk presentasi konsep 
kampung susun tanggal 6 Oktober 2012. Pak Jokowi datang membawa aparat 
pemerintahan bahkan Wali Kota Jakarta Selatan. Bahkan, dari ide kami, Jokowi 
waktu itu rencanakan akan bangun di 27 titik di Jakarta berdasarkan tema" 
tuturnya.

"Waktu itu Pak Jokowi dengan yakin dan penuh penekanan berkata, 'kami tidak 
akan merelokasi apa lagi menggusur, kami akan menata kembali, kami akan 
merevitalisasi kampung ini,'" Sandyawan mengenang.

Jokowi-Ahok akhirnya berhasil memenangkan Pilkada DKI Jakarta. Ini membuat 
harapan warga Bukit Duri untuk memiliki kampung deret yang humanis dan terbebas 
dari banjir, semakin membuncah. 

Tahun demi tahun berjalan. Tetapi rencana pembangunan Kampung Deret tak kunjung 
direalisasikan oleh Pemprov DKI Jakarta. 

Rencana tersebut semakin tak menentu saat Jokowi berhasil memenangkan Pemilihan 
Presiden 2014. Sejak saat itu, tak pernah lagi rencana pembangunan Kampung 
Deret dibicarakan, baik oleh Jokowi sebagai Presiden RI dan Ahok, sapaan Basuki 
sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Yang terjadi justru sebaliknya. Wacana penggusuran semakin lantang disuarakan 
oleh Ahok di berbagai media massa. 

Puncaknya terjadi pada Rabu (28/9). 

Hari itu, Pemprov DKI Jakarta kembali menyambangi warga Bukit Duri yang 
bermukim di bantaran Sungai Ciliwung. Tetapi bukan untuk dialog atau mengumbar 
janji seperti dilakukan oleh Jokowi-Ahok ketika kampanye Pilkada 2012. 
Melainkan untuk membongkar secara paksa pemukiman warga. 

Menolak Rusun Rawa Bebek

Mereka yang rumahnya dibongkar adalah warga di RW 09, RW 10, RW 11 dan RW 12. 
Pemprov DKI Jakarta menyediakan Rumah Susun Rawa Bebek di Cakung, Jakarta 
Timur, kepada warga yang menjadi korban penggusuran. 

Sandyawan dan sejumlah warga lain lebih memilih untuk mengontrak ketimbang 
menempati rusun tersebut. Penolakan mereka bukan tanpa alasan. 

Ia mengatakan tinggal di rusun tak sama dengan tinggal di kampung. 

Di rusun tidak ada ruang bersosialisasi, warga dijauhkan dari sumber mata 
pencaharian mereka, anak-anak juga semakin jauh dari sekolah. 

Semua itu, kata Sandyawan, membuat biaya hidup di rumah susun semakin 
membengkak.

"Warga itu bukan orang bodoh, banyak yang punya kecerdasan alamiah. Warga sudah 
3-4 kali survei di Rawa Bebek, biaya di sini hanya Rp 100 ribu sampai Rp 300 
ribu sebulan, sedangkan di sana bisa sampai Rp1 juta sebulan," ucapnya.

Struktur rumah susun juga tak menunjang warga untuk mencari nafkah. Sandyawan 
mengatakan, di Bukit Duri, banyak pemukiman warga dibangun seperti konsep rumah 
panggung. 

Di bagian bawah rumah, warga memanfaatkannya sebagai sebagai tempat usaha. 
Sedangkan, lantai atas dapat digunakan sebagai tempat tidur dan berkumpul 
bersama. 

Warga tak bisa melakukan itu jika tinggal di rumah susun yang ditawarkan 
Pemprov DKI Jakarta. Dengan alasan tersebut, banyak warga memilih bertahan di 
kawasan sekitar rumah mereka. 

Sandyawan mengatakan bahwa ada sekitar 20 KK yang menolak tinggal di rusun, 
secara bersama-sama mengumpulkan uang untuk mengontrak rumah di RW 11. 

Namun, ia mengaku sejak menempati kontrakan itu warga merasa mendapat teror 
dari Pemprov DKI Jakarta, polisi dan tentara.

"Ada 20 KK itu pun didatangi, diteror, dan diusir. Yang datang Pak Camat, Pak 
Lurah, Koramil dan polisi. Kami tidak boleh tinggal di situ padahal kami 
ngontrak. Apa ini, negara apa ini?" tuturnya.

Kini, warga tak tahu harus mengadu kepada siapa. 

Kepercayaan mereka kepada Presiden Jokowi dan Ahok mungkin berada di titik 
nadir seiring aksi penggusuran yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta terhadap 
pemukiman tersebut. 









(wis/asa)

Kirim email ke