http://tekno.kompas.com/read/2016/10/04/08180037/menelisik.alasan.google.ubah.foke.jadi.ahok.di.sungai.bersih.jakarta
http://tekno.kompas.com/read/2016/10/04/08180037/menelisik.alasan.google.ubah.foke.jadi.ahok.di.sungai.bersih.jakarta.
Menelisik Alasan Google Ubah Foke Jadi Ahok di "Sungai Bersih Jakarta" Oik
Yusuf - Kompas Tekno
Selasa, 4 Oktober 2016 | 08:18 WIB
http://tekno.kompas.com/read/2016/10/04/08180037/menelisik.alasan.google.ubah.foke.jadi.ahok.di.sungai.bersih.jakarta.#
16
Shares
GoogleSaat diminta mencari kata kunci sungai bersih karena Foke, Google
menyarankan pengguna untuk mengganti nama Foke dengan Ahok.
KOMPAS.com - Pekan lalu, bakal calon gubernur DKI Jakarta Anies Baswdan
berkomentar bahwa bersihnya sungai di Jakarta sekarang ini merupakan buah dari
program yang dicanangkan mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pada 2008 silam.
Tak semua orang setuju dengan Anies. Sejumlah netizen Tanah Air dengan setengah
bercanda mengatakan bahwa Google pun tidak sependapat.
Sebagai “bukti”, mereka menyodorkan hasil pencarian “sungai bersih karena Foke
(panggilan Fauzi Bowo)” di kolom mesin pencari Google.
Penulisan kata kunci itu langsung disambut Google dengan saran untuk mengganti
nama “Foke” dengan “Ahok” alias Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta
yang kini tengah menjabat.
Saran atau suggestion untuk mengganti keyword yang seolah menunjukkan bahwa
Google ingin membantah pernyataan Anies itu kontan dijadikan guyonan di dunia
maya.
“Bahkan Google Engine bisa protes kalau dibilang sungai bersih karena Foke!,”
canda seorang pengguna Twitter bernama @Mentimoen.
“Hahaha sebagai simbah (sebutan Google), ia tak berbohong,” tulis pemilik akun
Twitter lain bernama @ZuAndreas.
GooglePencarian kata kunci sungai bersih karena Foke (grafik merah) dan sungai
bersih karena Ahol (grafik biru) mengalami peningkatan dalam beberapa hari
terakhir, menyusul pernyataan bakal calon Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Pantauan KompasTekno di Google Trends untuk wilayah Indonesia, pencarian kata
kunci terkait sungai Jakarta mengalami peningkatan pada awal Oktober menyusul
pernyataan Anies di atas.
Kata kunci “sungai bersih karena Foke” mencatat jumlah pencarian tertinggi,
disusul “sungai bersih karena Ahok”.
Tak jelas apakah para pencari kata kunci kedua memang berniat menelusuri “Ahok”
atau mengikuti anjuran Google yang mengganti kata “Foke” dengan “Ahok”.
Cara Google mendata internet
Bagaimana cara search engine Google mencari informasi yang bertebaran di situs
web internet? Perusahaan ini memulai dengan membangun database besar lewat
proses crawling dan indexing.
Crawling adalah mencari dan mencatat aneka situs web dengan program khusus
bernama Googlebot https://support.google.com/webmasters/answer/182072, juga
dikenal dengan sebutan robot, bot, atau spider.
“Googlebot menggunakan proses algoritmik: program komputer menentukan mana
situs yang harus ditelusuri (crawling), seberapa sering, dan sebanyak apa laman
yang diambil dari sebuah situs,” tulis Google dalam laman penjelasannya.
https://support.google.com/webmasters/answer/70897?hl=en
Googlebot dijalankan secara otomatis oleh komputer-komputer powerrful yang
dimiliki oleh Google. Cara kerjanya mirip dengan kegiatan browsing web oleh
pengguna biasa, yakni dengan mengunjungi situs, lalu mengikuti satu tautan ke
tautan lain. Begitu seterusnya sehingga makin lama situs yang didata semakin
banyak dan sebarannya makin luas.
Biasanya mesin crawling Google butuh waktu beberapa lama sebelum menemukan
situs web baru. Pemilik situs web bisa mengatur untuk membatasi kerja Googlebot
dalam menelusuri situs, misalnya dengan menolak kunjungan Googlebot atau
memberikan instruksi khusus soal pemrosesan informasi di dalamnya.
Laman-laman web yang dikumpulkan oleh tadi kemudian diatur melalui proses
indexing.
https://www.google.com/insidesearch/howsearchworks/crawling-indexing.htmlFungsinya
mirip dengan bagian “index” pada sebuah buku, yakni mencatat informasi tentang
tiap kata, judul, dan hal-hal lain berikut lokasinya di dalam database index.
Google juga mengatur indeks laman web ini berdasarkan jenis konten ada. Hal
tersebut diperlukan karena pengguna yang mencari dengan kata kunci “sungai”
mungkin tidak mencari konten teks dengan kata “sungai” saja, melainkan juga
foto atau video dari obyek yang bersangkutan.
Dengan kata lain, saat pengguna melakukan pencarian di Google, sebenarnya ia
tidak menelusuri sendiri seisi jagat maya, melainkan mencari konten yang sudah
terdaftar di database index milik sang raksasa internet.
Tahapan berikutnya setelah crawling dan indexing adalah menyajikan hasil search
pada pengguna. Database Google berukuran luar biasa besar. Jumlah situs web
yang terindeks mencapai 60 triliun
https://www.google.com/insidesearch/howsearchworks/thestory/ dengan besar
ukuran file mencapai 100 juta gigabyte.
Bagaimana Google menelusuri basisdata sebesar itu ketika pengguna memasukkan
keyword di kolom search?
Caranya adalah dengan mengumpulkan semua laman yang berkaitan dengan kata
kunci, lalu menyusun urutannya di laman hasil search berdasarkan lebih 200
kriteria, seperti tingkat kebaruan, kualitas situs, jumlah tautan dari situs
lain yang terhubung, serta kesesuaian dengan konteks permintaan pengguna.
Situs-situs yang dinilai sebagai laman spam atau berbahaya ikut disaring.
Semua proses di atas terjadi dengan sangat cepat. Hanya dibutuhkan waktu 1/8
detik dari penekanan tombol “enter” hingga menyajikan hasil pencarian.
Google selalu ubah Foke jadi Ahok?
Nah, perkara Google yang menyarankan pengguna supaya mengganti nama “Foke”
dengan “Ahok” sebenarnya berakar dari niat Google mempermudah pengguna
sekaligus menyodorkan hasil search yang lebih sesuai dengan kebutuhan.
Google menggunakan beberapa cara seperti mengoreksi salah ketik dan menggunakan
machine learning untuk coba mengerti maksud pertanyaan pengguna.
Satu cara lainnya adalah menyodorkan saran berupa kata kunci alternatif yang
dinilai lebih tepat dan bisa membuahkan hasil pencarian yang lebih mengena.
Dalam hal ini, ketika pengguna coba mencari dengan keyword “sungai bersih
karena Foke”, Google menyarankan untuk mengganti nama “Foke” dengan “Ahok”.
Mungkin pertimbangannya didasarkan pada popularitas kata kunci yang
bersangkutan.
Kata kunci “sungai bersih karena Foke” membuahkan sekitar 199.000 hasil search,
sementara “sungai bersih karena Ahok” menampilkan sekitar 844.000 hasil.
Algoritma Google boleh jadi turut menimbang kesamaan antara “Foke” dengan
“Ahok” yang pernah atau sedang menjabat sebagai kepala daerah DKI Jakarta.
Sedangkan, kata-kata lain di luar "foke" tidak disarankan untuk diganti dan
dibiarkan apa adanya.
"Kedekatan" kata kunci Foke dan Ahok ini terus melekat di sejumlah pencarian di
Google.
Coba saja googling "sungai bandung bersih karena foke", Google akan memberi
saran apakah yang ingin dicari sebenarnya "sungai bandung bersih karena ahok".
Begitu pula dengan pencarian "rumah digusur karena foke" akan disarankan jadi
"rumah digusur karena ahok".
Jadi di sejumlah besar pencarian dengan kata kunci "foke", Google akan memberi
saran ke pengguna ke pencarian kata kunci "ahok".
Fitur "Mungkin maksud Anda?"
Fitur pemberian saran berupa kata kunci alternatif yang dinilai lebih tepat ini
dikenal dengan istilah saran pengejaan (spelling suggestion) dan telah
diimplemetasikan sejak lama oleh Google.
Saran biasanya dimulai dengan pertanyaan “Did you mean?” atau “Mungkin maksud
Anda?” dalam bahasa Indonesia yang diletakkan di bagian atas laman hasil
pencarian.
Bagaimana cara Google mencari saran kata kunci alternatif? Ketika pengguna
memasukkan kata kunci, sebuah algoritma khusus
http://answers.google.com/answers/threadview/id/526503.html akan membandingkan
kata kunci dimaksud dengan kata-kata lain yang mirip.
Faktor-faktor yang dijadikan kriteria perbandingan dalam memberi saran ini
antara lain bahasa yang digunakan, lokasi geografis pengguna, dan popularitas
search tadi.
GooglePerbedaan cara kerja algoritma spelling suggestion Google dalam menebak
maksud pencarian pengguna. Algoritma mesin search engine bisa menyarankan kata
kunci alternatif ke pengguna (gambar kiri) atau langsung menampilkan hasil
berdasar kata kunci tersebut apabila benar-benar yakin bakal membuahkan
pencarian yang lebih relevan.
Dari perbandingan, kalau algoritma tersebut menyimpulkan bahwa sebuah
alternatif kata kunci bisa membuahkan hasil yang lebih relevan ketimbang kata
awal yang diketikkan oleh pengguna, maka alternatif kata kunci itu bakal
ditampilkan di atas hasil search dengan pertanyaan “Did you mean?”
Jika algoritma Google menyakini bahwa kata kunci alternatif pasti bisa
membuahkan hasil lebih relevan, maka kata kunci alternatif tersebut secara
otomatis akan digunakan dalam pencarian, alih-alih kata kunci awal yang diketik
oleh pengguna.
Pengguna masih bisa memilih untuk menampilkan hasil pencarian berdasar kata
kunci awal dengan mengklik opsi berbunyi “Search instead for” yang terpampang
di atas layar.
Cara kerja spelling sugestion Google mirip dengan spell checker di software
kantoran. Hanya saja, karena mengambil data dari seantero internet, spelling
suggestion Google mampu memberi saran dengan lebih tepat dan sesuai konteks.
Bisa ngawur
Pada 2010, Google memasukkan kemampuan spelling correction
https://googleblog.blogspot.co.id/2010/06/this-week-in-search-6610.html?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed:+blogspot/MKuf+(Official+Google+Blog)&utm_content=Google+Reader
ke dalam Google Suggest (fitur untuk menyajikan prediksi kata kunci dan opsi
autocomplete ketika pengguna sedang mengetik di kolom search), masih dalam
rangka memudahkan pengguna dalam mencari hasil search sesuai kebutuhan.
Dengan begitu, mesin pencari Google diharapkan bisa memprediksi apa yang
hendak dicari pengguna dengan akurat, bahkan sebelum pengguna selesai mengetik
kata kunci.
Meski berguna, kerjanya tak selalu mulus. Algoritma prediksi Google sering
membuahkan saran kata kunci yang berpotensi menimbulkan salah pengertian
seperti dalam hal “sungai bersih karena Ahok”.
Ada juga yang mengandung muatan SARA atau pornografi, terdengar aneh atau
konyol. Google secara rutin menyaring dan membuang prediksi-prediksi yang
ngawur ini supaya tidak menjebak pengguna di kemudian waktu.
GoogleFitur Google Suggest kadang memberikan prediksi yang terdengar konyol,
atau bernuansa negatif seperti mengandung konten SARA atau pornografi. Semuanya
tergantung hasil pencarian algoritma software terhadap hal-hal yang paling
banyak dicari di internet.
Sang raksasa internet menambahkan disclaimeruntuk menjelaskan bahwa prediksi
dan saran alternatif kata kunci agar tak disangka sebagai sikap resmi dari
Google. Semua hanya dimunculkan berdasar apa yang sering dicari pengguna
internet lewat layanannya.
“Prediksi search bukan jawaban untuk sesuatu yang Anda cari, bukan pula
pernyataan dari orang lain atau Google mengenai pencarian Anda,” tulis Google
dalamlaman penjelasan
https://support.google.com/websearch/answer/106230?visit_id=1-636111084067330419-803424056&rd=1
terknologi terkait.
Mungkin Google tidak benar-benar ingin membantah pernyataan Anies soal siapa
yang berjasa membersihkan sungai di Jakarta.