Penggusuran se-wenang2 tanpa ganti rugi itu memang akan jadi batu sandungan 
besar, sekian banyak orang yang mendadak sontak kehilangan rumah dan pekerjaan 
luntang lantung, sebagian pulang kampung sebagian tinggal dikolong jembatan; 
sebagian yg ditampung dirusun juga banyak yang diusir karena tidak mampu bayar 
sewa, listril, air, iuran untuk kemudian tinggal dimana tak tahulah.Sebenarnya 
memang apa sukarnya untuk memberi ganti rugi?---Alasan pertama, akibat isu 
kebijakan publik yang tak disukai warga. Salah satunya, kebijakan penggusuran 
di beberapa wilayah, seperti Kampung Pulo, Kalijodo, Pasar Ikan, Kampung Luar 
Batang, dan daerah lainnya. Serta kebijakan reklamasi pantai utara Jakarta. ....
"Meski di kebijakan itu benar, namun cara melakukan penertiban tidak 
mengedepankan masalah biologis dan mementingkan konglomerat, dinilai warga 
sangat meresahkan," ujarnya.
...
http://www.beritasatu.com/aktualitas/390505-ini-penyebab-elektabilitas-basuki-menurun.html


Selasa, 04 Oktober 2016 | 19:12      
Ini Penyebab Elektabilitas Basuki Menurun
Pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang diusung PDI 
Perjuangan, Basuki Tjahaja Purnama (kiri) dan Djarot Saiful Hidayat (kanan) 
berfoto bersama usai diumumkan di Kantor DPP PDI Perjuangan Jalan Diponegoro, 
Menteng, Jakarta, 20 September 2016. (BeritaSatu Photo/Joanito De 
Saojoao)Jakarta - Berdasarkan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI), 
tingkat elektabilitas petahana calon gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama 
(Ahok) semakin merosot. Dari dukungan 59,3 persen pada Maret 2016, kini 
tergerus ke titik rawan selaku incumbent sebesar 31,1 persen pada Oktober 
2016.Peneliti LSI, Adjie Alfaraby mengatakan ada beberapa faktor yang membuat 
Ahok tak terpilih lagi menjadi Gubernur DKI Jakarta. Mulai dari isu kebijakan, 
isu kepribadian, isu agama dan etnis, serta munculnya calon gubernur 
baru."Beberapa faktor itu kami dapat melalui hasil penelitian kami setelah 
sehari pendaftaran calon, jadi sangat faktual dan diinginkan warga. Setidaknya 
ada empat alasan Ahok tak terpilih lagi menjadi Gubernur DKI kembali," kata 
Adjie, di Graha Rajawali LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (4/10).Alasan 
pertama, akibat isu kebijakan publik yang tak disukai warga. Salah satunya, 
kebijakan penggusuran di beberapa wilayah, seperti Kampung Pulo, Kalijodo, 
Pasar Ikan, Kampung Luar Batang, dan daerah lainnya. Serta kebijakan reklamasi 
pantai utara Jakarta.Dua jenis kebijakan ini, memiliki pendukung dan kontranya. 
Namun kebijakan ini yang membuat Ahok tak populer di kalangan wong cilik, yang 
acapkali menjadi korban. Aneka gerakan civil society di bidang terkait ikut 
membesarkan sentimen anti Ahok."Meski di kebijakan itu benar, namun cara 
melakukan penertiban tidak mengedepankan masalah biologis dan mementingkan 
konglomerat, dinilai warga sangat meresahkan," ujarnya.Alasan kedua, terkait 
isu kepribadian. Karakter Ahok yang kasar dan suka memaki orang di publik 
dianggap bukan tipe pemimpin yang layak diajarkan bahkan ditonton 
anak-anak.Jika Ahok menang dengan karakter seperti itu, Ahok akan ditiru. 
Bahkan orang tua yang a politisbisa ikut menyebarkan sentimen anti Ahok hanya 
soal karakter suka memaki di depan publik itu.Belum lagi sikapnya yang dinilai 
tidak konsisten. Suatu ketika ia mencerca partai politik dan hanya ingin maju 
lewat jalur independen. Namun selanjutnya ia berjuang mencari dukungan partai 
politik."Dalam penelitian itu, warga menilai Ahok terlalu banyak memaki pegawai 
hingga warga. Terlebih sosok arogan yang terlihat juga kerap diperlihatkannya," 
terangnya.Alasan ketiga, adanya isu primordial. Hasil riset LSI menyebutkan 
terdapat sekitar 40 persen pemilih muslim DKI tidak bersedia dipimpin oleh 
pemimpin yang non muslim. Mereka berjuang militan agar Ahok tidak terpilih 
sebagai bagian dari girah agama.Bahkan, kini etnis Ahok ikut dipersoalkan. 
Kemenangan Ahok dikhwatirkan menjadi stimulus semakin dominannya etnis Tionghoa 
di bidang ekonomi. Tidak berhenti disitu, kemenangan Ahok sudah dikaitkan 
dengan pertarungan global RRC menguasai Asia dan dunia.Terlepas apakah alasan 
ini masuk akal ataupun tidak, namun isu ini efektif menumbukan sentimen anti 
Ahok."Kita sungguh prihatin dan selalu tak setuju dijadikannya isu primordial 
sebagai basis attacking. Namun hal ini yang kini terpotret dalam pilkada DKI," 
paparnya.Alasan keempat, hadirnya kompetitor yang fresh seperti Agus Harimurti 
dan Anies Baswedan. Dua figur ini belum dibicarakan dua bulan lalu. Kehadiran 
mereka kini bisa mengambil banyak pemilih yang dulu pro-Ahok, atau yang 
ragu-ragu.

Kirim email ke