Tidak akan sukar kalau uang engkongmu, ente mudahkan untuk diberikan sebagai 
ganti rugi!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, October 4, 2016 11:09 AM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: [GELORA45] Ini Penyebab Elektabilitas Basuki Menurun

 

  

Penggusuran se-wenang2 tanpa ganti rugi itu memang akan jadi batu sandungan 
besar, sekian banyak orang yang mendadak sontak kehilangan rumah dan pekerjaan 
luntang lantung, sebagian pulang kampung sebagian tinggal dikolong jembatan; 
sebagian yg ditampung dirusun juga banyak yang diusir karena tidak mampu bayar 
sewa, listril, air, iuran untuk kemudian tinggal dimana tak tahulah.

Sebenarnya memang apa sukarnya untuk memberi ganti rugi?

---

Alasan pertama, akibat isu kebijakan publik yang tak disukai warga. Salah 
satunya, kebijakan penggusuran di beberapa wilayah, seperti Kampung Pulo, 
Kalijodo, Pasar Ikan, Kampung Luar Batang, dan daerah lainnya. Serta kebijakan 
reklamasi pantai utara Jakarta. ....

"Meski di kebijakan itu benar, namun cara melakukan penertiban tidak 
mengedepankan masalah biologis dan mementingkan konglomerat, dinilai warga 
sangat meresahkan," ujarnya.

...

http://www.beritasatu.com/aktualitas/390505-ini-penyebab-elektabilitas-basuki-menurun.html

 

 

Selasa, 04 Oktober 2016 | 19:12

 
<http://www.beritasatu.com/aktualitas/390505-ini-penyebab-elektabilitas-basuki-menurun.html>
    
<http://www.beritasatu.com/aktualitas/390505-ini-penyebab-elektabilitas-basuki-menurun.html>
    
<http://www.beritasatu.com/aktualitas/390505-ini-penyebab-elektabilitas-basuki-menurun.html>
    <http://www.addthis.com/tellfriend.php> 

  
<http://ad.beritasatumedia.com/b1-ads/www/delivery/lg.php?bannerid=0&campaignid=0&zoneid=59&loc=http%3A%2F%2Fwww.beritasatu.com%2Faktualitas%2F390505-ini-penyebab-elektabilitas-basuki-menurun.html&referer=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F&cb=17b97705b0>
 

  <http://img1.beritasatu.com/data/media/images/medium/391474386319.jpg> 


Ini Penyebab Elektabilitas Basuki Menurun


Pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang diusung PDI 
Perjuangan, Basuki Tjahaja Purnama (kiri) dan Djarot Saiful Hidayat (kanan) 
berfoto bersama usai diumumkan di Kantor DPP PDI Perjuangan Jalan Diponegoro, 
Menteng, Jakarta, 20 September 2016. (BeritaSatu Photo/Joanito De Saojoao)

Jakarta - Berdasarkan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI), tingkat 
elektabilitas petahana calon gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) 
semakin merosot. Dari dukungan 59,3 persen pada Maret 2016, kini tergerus ke 
titik rawan selaku incumbent sebesar 31,1 persen pada Oktober 2016.

Peneliti LSI, Adjie Alfaraby mengatakan ada beberapa faktor yang membuat Ahok 
tak terpilih lagi menjadi Gubernur DKI Jakarta. Mulai dari isu kebijakan, isu 
kepribadian, isu agama dan etnis, serta munculnya calon gubernur baru.

"Beberapa faktor itu kami dapat melalui hasil penelitian kami setelah sehari 
pendaftaran calon, jadi sangat faktual dan diinginkan warga. Setidaknya ada 
empat alasan Ahok tak terpilih lagi menjadi Gubernur DKI kembali," kata Adjie, 
di Graha Rajawali LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (4/10).

Alasan pertama, akibat isu kebijakan publik yang tak disukai warga. Salah 
satunya, kebijakan penggusuran di beberapa wilayah, seperti Kampung Pulo, 
Kalijodo, Pasar Ikan, Kampung Luar Batang, dan daerah lainnya. Serta kebijakan 
reklamasi pantai utara Jakarta.

Dua jenis kebijakan ini, memiliki pendukung dan kontranya. Namun kebijakan ini 
yang membuat Ahok tak populer di kalangan wong cilik, yang acapkali menjadi 
korban. Aneka gerakan civil society di bidang terkait ikut membesarkan sentimen 
anti Ahok.

"Meski di kebijakan itu benar, namun cara melakukan penertiban tidak 
mengedepankan masalah biologis dan mementingkan konglomerat, dinilai warga 
sangat meresahkan," ujarnya.

Alasan kedua, terkait isu kepribadian. Karakter Ahok yang kasar dan suka memaki 
orang di publik dianggap bukan tipe pemimpin yang layak diajarkan bahkan 
ditonton anak-anak.

Jika Ahok menang dengan karakter seperti itu, Ahok akan ditiru. Bahkan orang 
tua yang a politisbisa ikut menyebarkan sentimen anti Ahok hanya soal karakter 
suka memaki di depan publik itu.

Belum lagi sikapnya yang dinilai tidak konsisten. Suatu ketika ia mencerca 
partai politik dan hanya ingin maju lewat jalur independen. Namun selanjutnya 
ia berjuang mencari dukungan partai politik.

"Dalam penelitian itu, warga menilai Ahok terlalu banyak memaki pegawai hingga 
warga. Terlebih sosok arogan yang terlihat juga kerap diperlihatkannya," 
terangnya.

Alasan ketiga, adanya isu primordial. Hasil riset LSI menyebutkan terdapat 
sekitar 40 persen pemilih muslim DKI tidak bersedia dipimpin oleh pemimpin yang 
non muslim. Mereka berjuang militan agar Ahok tidak terpilih sebagai bagian 
dari girah agama.

Bahkan, kini etnis Ahok ikut dipersoalkan. Kemenangan Ahok dikhwatirkan menjadi 
stimulus semakin dominannya etnis Tionghoa di bidang ekonomi. Tidak berhenti 
disitu, kemenangan Ahok sudah dikaitkan dengan pertarungan global RRC menguasai 
Asia dan dunia.

Terlepas apakah alasan ini masuk akal ataupun tidak, namun isu ini efektif 
menumbukan sentimen anti Ahok.

"Kita sungguh prihatin dan selalu tak setuju dijadikannya isu primordial 
sebagai basis attacking. Namun hal ini yang kini terpotret dalam pilkada DKI," 
paparnya.

Alasan keempat, hadirnya kompetitor yang fresh seperti Agus Harimurti dan Anies 
Baswedan. Dua figur ini belum dibicarakan dua bulan lalu. Kehadiran mereka kini 
bisa mengambil banyak pemilih yang dulu pro-Ahok, atau yang ragu-ragu.



Kirim email ke