http://www.suara-islam.com/read/index/19578/Ahok-Beringas--Bengis-dan-Rasis

Ahok Beringas, Bengis dan Rasis
Senin, 29/08/2016 09:33:20 | Dibaca : 8037
Facebook Twitter Gplus 
 Ilustrasi: Tolak Ahok harga mati! 
“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka pun 
mencintai kalian, mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. 
Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka pun 
membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (HR. 
Imam Muslim)

Apakah Gubernur DKI Jakarta Ahok masuk dalam kritera pemimpin seperti yang 
disampaikan Rasulullah Saw dalam hadits di atas?. 

Kalau tolok ukurnya Alquran dan hadits, Ahok sama sekali tidak masuk kritera. 
Pertama, menurut Alquran dia termasuk orang yang diharamkan menjadi pemimpin 
karena kekafirannya. Kedua, jika dilihat dari sifat-sifatnya dengan merujuk 
hadits, selain kafir, Ahok terkatagori sebagai munafik. Klop, sudahlah kafir 
munafik pula. 

Ciri munafik adalah jika berkata dusta, dipercaya khianat, dan bila berjanji 
mengingkari. Keseluruhan sifat-sifat itu jika diikuti sejak Ahok menjadi Wagub 
DKI Jakarta hingga menggantikan Jokowi sebagai Gubernur, ada secara sempurna 
pada diri bekas Bupati Belitung Timur itu. Kata-katanya seperti dewa mabuk. 
Dulu dia mengritik keras Fauzi Bowo yang menolak cuti aaat kampanye, sekarang 
dia malah mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi untuk mementahkan 
undang-undang yang dibuat DPR bersama pemerintah tentang kewajiban cuti saat 
kampanye.

Terkait Pilgub DKI, menurut peneliti senior Pusat Penelitian Politik LIPI R 
Siti Zuhro, klaim Ahok yang mengaku telah didukung Megawati Soekarnoputri 
sebagai calon Gubernur DKI Jakarta pada Pilgub 2017 semakin menunjukkan cagub 
petahanan itu inkonsisten. "Ini semakin menunjukkan dia ngepot-ngepot nggak 
karuan, ugal-ugalan," ujar Siti Zuhro, Sabtu (20/08/2016) lalu, seperti dikutip 
Rmol.co.

Zuhro mencoba menurut sikap inkonsisten pada diri Ahok ini. Pada awalnya Ahok 
meminta dukungan kepada Megawati, bahkan memberikan tenggat waktu agar merestui 
dia kembali berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat. Karena tak juga ada 
sinyal positif dari Mega, Ahok memutuskan maju lewat jalur perseorangan dengan 
menggandeng Heru Budi Hartono, Kepala Badan Pengelola Keuangan Aset Daerah 
(BPKAD) DKI. Timnya yang tergabung dalam Teman Ahok pun gencar mengumpulkan KTP 
untuk mengejar persyaratan. Maka dengan pongahnya saat itu ia merasa tidak 
membutuhkan parpol. 

Seiring dengan perjalanan waktu, Ahok ternyata batal menggunakan jalur 
perseorangan. Pengumpulan KTP-nya tidak memenuhi syarat. Gembar-gembor klaim 
telah memiliki sejuta KTP warga DKI hanya untuk meningkatkan nilai jual 
dirinya. Nyatanya hal itu hanya bualan saja, omong kosong. 

Lalu, tanpa merasa berdosa, Ahok pun memutuskan maju lewat jalur partai 
politik. Tiga partai di menyokongnya: Partai NasDem, Hanura dan Golkar menyusul 
di belakang. Seperti diketahui NasDem dan Hanura adalah dua partai pecahan 
Golkar, jadi sejatinya pendukung Ahok hanya satu partai saja. 

"Jadi anti klimaks. Saat pengumuman satu juta KTP, dia malah mengenalkan diri 
akan maju lewat parpol," ungkap Zuhro, doktor ilmu politik dari Curtin 
University, Perth, Australia ini. 

Sekarang, Ahok kembali merapat ke PDIP. Ngemis-ngemis dukungan dan bahkan 
berani mengklaim sudah mendapat restu dari Megawati. Menurut Zuhro, itu sama 
saja Ahok berusaha menggiring opini dan memberikan semacam warning kepada 
Megawati. Namun, melihat manuver politik Ahok selama ini, orang mulai tidak 
percaya. "Karena omongan yang mana yang bisa dipercaya dari Ahok?," tandas 
peneliti asal Blitar itu. 

Beringas dan Bengis

Penilaian tajam dan menohok tentang Ahok juga dilontarkan politisi senior 
sekaligus pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais. Amien menyebut Ahok 
sebagai antek pemodal dan tidak boleh lagi menjadi gubernur. 

"Karena dia beringas, bengis dan hampir-hampir seperti bandit. Saya tahu ini 
akan dikutip, enggak apa-apa," kata Ketua Dewan Kehormatan PAN itu saat 
menyampaikan sambutan dalam pembukaan Kongres V Barisan Muda PAN di Jakarta, 
Sabtu (20/8/2016), seperti dikutip Tribunnews.com.

Amien menegaskan, sebagai pemimpin Ahok tidak pro terhadap rakyat kecil. Ia 
memastikan Ahok harus dilawan karena sudah kelewatan menjalankan tugasnya.

"Saya enggak tahu dia maunya apa. Jangan lupa dia antek pemodal. Jadi tolong 
besok kalau ada calon penantang yang masuk akal, BM PAN harus datang dengan 
massa banyak. Kita tunjukkan rakyat itu mesti menang kalau bersatu," seru 
mantan Ketua MPR itu.

Bukan kali ini saja Amien berkomentar pedas dan keras tentang Ahok. Sebelumnya, 
pada April lalu,  Amien sudah menyebut Ahok sebagai orang yang sangat arogan.

Amien melihat Ahok sebagai sosok yang senang menantang berbagai pihak, bahkan 
terkesan meremehkan lembaga negara, termasuk Badan Pemeriksa Keuangan terkait 
kasus RS Sumber Waras.

"Ini bukan masalah SARA, tetapi dia memang tidak layak menjadi pimpinan. 
Jangankan presiden, gubernur saja bagi saya kurang pantas," kata Amien di 
Temanggung, Ahad (24/4/2016) lalu.

Menurut dia, tidak hanya sikap Ahok yang dinilai keras kepala. Ahok, menurut 
Amien, adalah satu-satunya pemimpin yang merasa paling benar dan ingin 
memboyong kebenaran menurut kacamatanya sendiri. "Kalau saya orang Jakarta, 
pasti akan turun gunung. Sayang, saya orang Yogyakarta," kata dia.

Bukan hanya beringas dan bengis, sejatinya Ahok juga orang yang sangat rasis. 
Tengoklah saat ia masih menjabat sebagai anggota DPR dari Partai Golkar, 2010 
lalu. Saat itu Walikota Tangerang Wahidin Halim dipanggil DPR RI karena hendak 
melakukan penggusuran terhadap warga Cina Benteng, Kampung Sewan, Tangerang.

Saat itu, Ahok yang merupakan anggota Komisi II DPR, mempertanyakan sikap 
Wahidin yang tidak bersedia memberikan ganti rugi kepada warga yang terkena 
gusuran. Ahok memaksa bahkan memaki-maki Wahidin agar menggunakan APBD untuk 
memberi ganti rugi warga. 

Penggusuran warga keturunan etnis Cina ini dikarenakan akan diadakannya 
normalisasi Kali Cisadane, dan Pemkot beralasan jika soal tidak diberikannya 
ganti rugi dikarenakan bantaran kali yang ditempati tidak memiliki IMB. Selain 
itu mata anggaran ganti rugi juga tidak ada dalam APBD 2010 Tangerang. 
Sementara Ahok beralasan, orang-orang China yang tinggal di daerah tersebut 
sudah menempati turun temurun, dan membangun dengan hasil jerih payah.

Sikap yang sama juga perlihatkan Ahok, ketika Wali Kota Jakarta Barat hendak 
melakukan penggusuran Mangga Besar. Karena ternyata mayoritas warga di RW 02 
Kelurahan Mangga Besar, Taman Sari itu adalah keturunan China, Ahok pun 
berbalik memarahi Wali Kota Anas Effendi dan membatalkan rencana penggusuran 
itu. 

Sikap ini jelas sangat berbeda bila dibandingkan dengan penggusuran yang dia 
lakukan terhadap warga pribumi yang justru tidak satupun yang diberikan ganti 
rugi. Penggusuran di Kalijodo, Pasar Ikan, Akuarium dan Luar Batang adalah 
contohnya. 

Atas sikapnya yang beringas, bengis, dan rasis inilah kini Ahok menuai 
hasilnya. Sepanjang perjalanan negara ini, sangat jarang penolakan kedatangan 
pemimpin oleh warganya. Tetapi itu tidak berlaku pada Ahok, saat ini, setiap 
dia berencana mengunjungi atau meresmikan sesuatu di masyarakat, badai 
penentanganpun datang. Jika ia memaksa datang, ratusan personel kepolisian dan 
Satpol PP –yang tentu saja dengan biaya operasional besar—diturunkan. 

Lucu dan menyedihkan, saking takutnya diserang warga, setelah secara singkat 
meresmikan Rruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di Penjaringan Indah, pada 
Jumat (24/06) lalu, Ahok pulang terbirit-birit melewati kebon warga karena 
jalan utama sudah dipenuhi warga dengan batu-batu di tangan. 

Sosok seperti Ahok bukanlah tipologi pemimpin yang dicintai rakyat. Sebaliknya, 
pemimpin model ini tiap hari akan mendapatkan umpatan, makian dan laknat dari 
rakyatnya. Rakyat membencinya dan dia pun membenci rakyatnya. Inilah gambaran 
pemimpin yang buruk. Wallahu a’lam bissawab

Kirim email ke